Share

Bab 16 - Terkejut

Author: SamL9
last update publish date: 2026-08-06 21:19:55

"Permisi, Pak ... Permisi!" seru salah seorang petugas di cafe tersebut karena Edward sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak memberikan respon padahal pesanan tersebut sudah selesai dibuat.

Edward tersentak. "Eh ... maaf."

Dia terkejut karena bahunya ditepuk oleh salah satu petugas. Edward buru-buru berdiri dari kursinya. "Ya, ada apa?"

"Pesanan yang tadi diorder sudah selesai dibuat. silakan diambil ke meja pengambilan pesanan, Pak," jelas pegawai itu.

"Baik. Terima kasih banyak atas inf
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 19 - Firasat

    Laura memarkir mobilnya di area parkir khusus tamu perusahaan milik Bald. Dia mematikan mesin, tetapi kedua tangannya masih menggenggam kemudi dengan erat.Jantungnya berdegup lebih cepat daripada biasanya. "Aku harus tenang," gumamnya pelan.Dia membuka kaca spion, memastikan riasannya masih tampak rapi. Bibirnya membentuk senyum tipis, lalu segera menghilang."Aku datang untuk menjemput suamiku. Bukan untuk hal lain." Kalimat itu diucapkannya berulang-ulang, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.Laura akhirnya turun dari mobil. Gedung perusahaan yang menjulang tinggi itu tampak sibuk seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang membawa berkas dan laptop, sementara beberapa tamu keluar masuk melalui pintu utama.Begitu Laura memasuki lobi, resepsionis langsung berdiri. "Selamat siang, Nyonya Laura.""Selamat siang.""Apa Ibu ingin langsung ke ruang Tuan Bald?"Laura mengangguk. "Iya.""Silakan, lift khusus direksi sudah siap.""Terima kasih."Laura melangkah menuju lift dengan ten

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 18 - Kangen?

    Sejak pagi, Laura sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Setelah Bald berangkat ke kantor, rumah megah itu terasa jauh lebih lengang dari biasanya. Beberapa kali dia mencoba membaca majalah fashion favoritnya, tetapi baru beberapa halaman, pikirannya kembali melayang.Tatapannya kosong. Sesekali dia mengembuskan napas panjang."Kenapa jadi begini ...." gumamnya lirih.Bayangan wajah Edward kembali muncul di benaknya. Dia masih mengingat bagaimana pria itu bersikap tenang dan sopan setiap kali berbicara dengannya. Semakin dia berusaha mengusir bayangan itu, semakin sulit pula pikirannya menjadi tenang. Namun, bersamaan dengan itu, rasa bersalah perlahan menyusup ke dalam hatinya.Dia memandang cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "Bald ...."Suaminya tidak pernah memperlakukannya dengan kasar. Bahkan beberapa hari terakhir, Bald justru terlihat semakin perhatian. Membawakan makanan kesukaannya. Menanyakan keadaannya. Bahkan membantu biaya pengobatan ibu Faela tanpa dimint

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 17 - Tugas yang Sulit

    Edward berdiri beberapa detik di depan pintu ruang kerja Tuan Bald. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan debaran jantungnya.Tok ...Tok ...Tok ..."Masuk." Suara berat Tuan Bald terdengar dari dalam.Edward segera membuka pintu sambil membawa dua paper bag dan beberapa gelas kopi. "Permisi, Tuan. Kopi dan pastry yang Tuan pesan sudah saya bawakan.""Taruh saja di meja.""Baik, Tuan."Edward meletakkan semua pesanan dengan hati-hati. Setelah selesai, dia berdiri tegak beberapa langkah di depan meja kerja. "Tadi kata salah satu pegawai, Tuan ingin bertemu saya?"Tuan Bald mengangguk pelan. "Iya."Pria paruh baya itu mengambil amplop cokelat yang sejak tadi tergeletak di atas meja. "Aku baru menerima laporan dari bagian administrasi rumah sakit."Edward mengernyit. "Laporan?""Ibumu ... maksudku, ibunya Faela."Edward langsung menegakkan tubuh.."Bagaimana, Tuan?""Katanya kondisinya memang cukup serius hingga harus dirawat di ICU."Edward menundukkan kepala.."Iya, Tuan."Tua

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 16 - Terkejut

    "Permisi, Pak ... Permisi!" seru salah seorang petugas di cafe tersebut karena Edward sudah dipanggil beberapa kali, tetapi tidak memberikan respon padahal pesanan tersebut sudah selesai dibuat.Edward tersentak. "Eh ... maaf." Dia terkejut karena bahunya ditepuk oleh salah satu petugas. Edward buru-buru berdiri dari kursinya. "Ya, ada apa?""Pesanan yang tadi diorder sudah selesai dibuat. silakan diambil ke meja pengambilan pesanan, Pak," jelas pegawai itu."Baik. Terima kasih banyak atas informasinya." Edward langsung berjalan menuju ke meja pengambilan pesanan.EdwardPetugas kafe tersenyum ramah sambil menyerahkan beberapa cup kopi dan dua paper bag besar berisi beberapa pastry. "Pesanan atas nama Tuan Bald sudah lengkap.""Iya, terima kasih." Edward menerima semua pesanan itu dengan kedua tangan. Dia menghela napas pelan setelah membayar, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman kafe.Begitu duduk di balik kemudi, dia tidak langsung menyalakan mesin. Tatapannya justr

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 15 - Lamunan Hot

    Edward saat ini sudah berada di sebuah cafe yang sangat mahal yang biasanya didatangi oleh para pejabat maupun orang-orang penting karena nilai secangkir kopi di sini bisa untuk makan seminggu. "Huh, sungguh takdir yang benar-benar kejam. Meski wajahku ini tampan, tapi dompetku selalu kosong. Disuruh-suruh seperti ini sama Tuan Bald membuatku jadi sadar kalau aku ini tidak lebih dari sekedar sampah di sini," gumam Edward meratapi nasibnya yang masih berada di bawah meski sudah berusaha bekerja keras setiap hari. Saat itu antrian cukup panjang sehingga Edward harus menunggu terlebih dahulu dan duduk di salah satu kursi sudut cafe karena merasa canggung melihat orang kaya yang berlalu-lalang di sana. Menunggu membuat Edward jadi melamun dan teringat tentang kejadian tadi malam. Kejadian yang benar-benar mendebarkan karena seumur hidupnya selalu menjunjung tinggi ikatan pernikahan dan juga janji setia. Namun, semua hal yang dia junjung serta harga diri yang tersisa runtuh seketika dal

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 14 - Keringat Dingin

    Tuan Bald melangkah keluar dari ruang makan lebih dulu. Jas hitamnya telah dikenakan rapi, sementara tas kerja kulit berada di tangan kirinya."Ayo, Edward," panggilnya."Siap, Tuan." Edward segera berjalan mendahului menuju garasi. Begitu sedan hitam mewah itu keluar dari tempat parkir, dia turun lebih dulu untuk membukakan pintu belakang."Silakan, Tuan.""Terima kasih." Bald mengangguk tipis sebelum masuk dan duduk di kursi belakang. Edward menutup pintu dengan hati-hati, lalu kembali ke kursi pengemudi.Mesin mobil dinyalakan. Perlahan kendaraan itu meninggalkan halaman rumah yang megah.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup sunyi. Hanya suara pendingin udara dan alunan musik instrumental yang terdengar pelan.Beberapa menit kemudian, Bald memecah keheningan.."Edward.""Iya, Tuan?""Bagaimana kondisi ibu Faela sekarang?"Edward melirik kaca spion sesaat. "Alhamdulillah, semalam sudah berhasil dibawa ke rumah sakit swasta yang cukup bagus, Tuan.""Syukurlah.""Terim

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status