Share

Bab. 131

Penulis: Bunga Peony
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 11:09:26

Nadira duduk bersandar di lantai kamar, tepat di sudut kaki ranjang. Kepalanya terbaring miring di tepian kasur, sebagian rambut jatuh menutupi wajah pucat yang tampak letih.

Pandangannya kosong, menatap satu titik di lantai seakan berharap jawaban muncul dari sana. Mata itu sayu—mata seorang wanita yang telah terlalu lama menahan beban yang tidak pernah ia minta. Segalanya terasa berat dan gelap, membuat napasnya pelan dan tersengal seperti ada sesuatu yang menekan dadanya tanpa henti.<
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukar Ranjang   Bab. 132

    Seorang lelaki bermasker melangkah masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu luas. Langkahnya terukur, dingin, seolah ia telah menyiapkan mental untuk apa pun yang menantinya. Ia duduk di depan bilik kecil yang dipisahkan oleh sekat kaca tebal. Raut wajahnya tetap tenang meski seorang sipir berdiri tak jauh di belakangnya, mengawasi setiap gerak dengan pandangan tajam.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Lalu pintu besi di sisi lain ruangan berderit pelan. Suara itu memecah ketegangan seperti goresan pisau di permukaan kaca.Masuklah seorang perempuan dengan seragam tahanan—Silvia.Langkahnya pelan, namun tidak goyah. Kepalanya sedikit terangkat, seolah ia menolak untuk terlihat lemah meski keadaan telah merenggut hampir segalanya darinya. Wajah pucatnya mengukir senyuman sinis—senyuman yang tampak dipahat dari sisa-sisa kewarasan yang ia genggam mati-matian.Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali lelaki itu melihatnya. Tulang pipinya m

  • Tukar Ranjang   Bab. 131

    Nadira duduk bersandar di lantai kamar, tepat di sudut kaki ranjang. Kepalanya terbaring miring di tepian kasur, sebagian rambut jatuh menutupi wajah pucat yang tampak letih. Pandangannya kosong, menatap satu titik di lantai seakan berharap jawaban muncul dari sana. Mata itu sayu—mata seorang wanita yang telah terlalu lama menahan beban yang tidak pernah ia minta. Segalanya terasa berat dan gelap, membuat napasnya pelan dan tersengal seperti ada sesuatu yang menekan dadanya tanpa henti.Ia ingin pergi dari semua ini, kabur dari tekanan yang membuatnya hampir tak mengenali dirinya sendiri. Namun setiap kali keinginan itu terlintas, ketakutan menyakiti hati Sartika kembali menahannya. Ia memang lelah, namun di dalam hatinya, ia tetap menyayangi wanita itu seperti ibu kandungnya sendiri. Namun keinginan Sartika yang begitu keras, begitu memaksa—terus menghimpit semua ruang kebebasan yang dimiliki Nadira. Dan Devan … nama itu terus menggema di pikirannya, membuatnya semaki

  • Tukar Ranjang   Bab. 130

    Liliana yang sejak tadi duduk di ruang tamu tampak memandangi taman samping memalui jendela, sambil menggenggam cangkir teh yang sudah lama mendingin. Hatinya tengah meratapi nasib hari tua yang tak sesuai harapannya. Di usianya seharusnya ia sudah bermain dan bercengkrama bersama cucu-cucunya, nyatanya justru ia masih harus menghadapi rumah yang sunyi—terlalu sunyi untuk di sebut sebuah rumah. Liliana mengembuskan napas panjang, seakan keheningan yang menelannya pelan-pelan sudah menjadi teman akrab yang tak pernah ia undang. Kesepian itu menempel di dadanya seperti beban yang tak lagi bisa ia lepaskan. Dan pada momen-momen sunyi seperti ini, bayangan masa lalunya selalu kembali—tajam, jelas, dan menyakitkan. Kesalahan-kesalahan lama hadir seperti tamparan yang tak henti menagih pertanggungjawaban, hingga ia merasa kata penyesalan sendiri pun sudah tak pantas terucap dari bibirnya. "Andai semuanya tak serumit ini," gumamnya lirih. "Andai Nir

  • Tukar Ranjang   Bab. 129

    Nadira frustasi dengan keputusan sepihak yang dilakukan Sartika padanya. Langkah kakinya tertahan, setiap gerak langkahnya dibatasi. Hidupnya kini benar-benar terkekang layaknya burung dalam sangkar emas. Sartika terlihat begitu terobsesi menikahkannya segera dengan Devan, seakan tak ada laki-laki lain yang lebih baik dari pria itu. Nadira memejamkan mata, mencoba meredam gejolak yang memenuhi dadanya. Namun semakin ia mencoba tenang, semakin detak jantungnya terasa menghentak keras, seolah menamparnya dengan kenyataan pahit yang tak bisa dihindari. "Gak! Aku tidak bisa diatur seperti ini." Nadira menghentakkan kakinya dan berjalan menuju balkon sambil kembali bergumam pelan. "Ini hidupku, jika masalahnya hutang budi karena telah menyelamatkan nyawaku, aku akan membayarnya dengan hal lain. Bukan dengan mengorbankan hidupku." Angin sore menyapu wajahnya ketika ia membuka pintu kaca balkon. Udara yang seharus memberikan ketenangan, namun yang i

  • Tukar Ranjang   Bab. 128

    “Apa? Menikah?”Nadira tersentak mendengar pernyataan yang dilontarkan Sartika. Ia baru dua hari keluar dari rumah sakit—dua hari sejak kepalanya tidak lagi terasa seperti labirin yang sulit dipetakan. Ingatannya baru benar-benar pulih, potongan masa lalu kembali menyatu dengan perlahan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia belum siap menghadapi sesuatu sebesar … apalagi perihal pernikahan di saat dirinya sadar akan statusnya sebagai seorang istri.Sartika berdiri di hadapannya, tubuhnya tegap seperti biasa, tetapi sorot matanya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar kekhawatiran seorang ibu. Ada ketegasan. Ada ketakutan. Ada sesuatu yang disembunyikan.“Ya, Nadira. Menikah,” ulang Sartika dengan suara yang lirih tapi tegas. “Mama sudah membicarakannya dengan Devan. Ia setuju. Dan … ini untuk kebaikanmu. Hanya Devan yang bisa menjagamu dengan baik."Nama Devan mengalir seperti air dingin ke sepanjang tulang belakang Nadira. Ia memang be

  • Tukar Ranjang   Bab. 127

    Pagi-pagi aroma antiseptik sudah tercium dari udara yang masuk lewat jendela. Matahari yang perlahan naik menebarkan cahaya hangat ke wajah Nadira. Cahaya itu terpantul di pipinya yang pucat, menegaskan garis halus di bawah matanya akibat malam-malam yang terus ia lalui dalam gelisah. Ia duduk tenang memandang ke taman di lantai bawah, namun ketenangan itu semu—lebih tepatnya, tubuhnya tenang, sementara pikirannya berkecamuk tanpa arah. Beberapa orang tampak berlalu-lalang, memapah keluarga mereka keluar untuk menghirup udara segar. Seorang anak kecil dengan pakaian pasien tertawa lepas saat sang ayah memainkan gerakan ciluk ba, sementara ibunya menyuapi bubur dengan penuh kelembutan. Adegan kecil itu begitu sederhana, begitu biasa, namun bagi Nadira … itu seperti tusukan halus yang menghantam tepat di bagian paling rapuh dari dirinya. Hatinya kembali teriris melihat gambaran keluarga kecil yang bahagia itu. Tanpa sadar ia mengusap

  • Tukar Ranjang   Bab. 123

    Ia melangkah maju satu langkah—gerakan kecil, tetapi penuh gejolak.“Saya akui apa yang terjadi pada Cataleya akibat keteledoran saya sebagai seorang suami.Tapi," suaranya bergetar marah dan terluka sekaligus. “Apa maksud Anda tentang yang terjadi saat ini ada hubungannya dengan saya?” suaran

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Tukar Ranjang   Bab. 122

    Langkah kaki Nirwan pagi ini bukan memasuki gedung kantor seperti biasanya, melainkan gedung bercat putih yang menjadi ciri khas rumah sakit. Aroma antiseptik menyeruak di segala penjuru, walau terasa samar, namun cukup membuat perutnya tak nyaman.Langkahnya terhenti tepat di depan pintu rua

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Tukar Ranjang   Bab. 120

    Lelaki itu tampak gelisah dari balik kemudi mobil. Tubuh tinggi proposionalnya kini tampak kurus dari biasanya. Devan melirik sekilas benda bulat yang ada di pergelangan tangannya. Sudah lima jam yang lalu sejak ia menerima panggilan dari Sartika. Sartika meminta tolong padanya un

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Tukar Ranjang   Bab. 121

    Ia menunduk, mendekat pada wajah Nadira, suaranya hampir tak terdengar. Lirih dan penuh keputusasaan.“Kamu membuatku takut, Nad. Apa kamu tahu, menjauh darimu saja sudah cukup menyiksaku, tapi melihat kondisimu yang seperti ini membuat jiwaku tak bernyawa.”Hujan di luar semakin deras. I

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status