Share

Bab 6 : Kacau

Penulis: Diyah Islami
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-04 16:10:56

Baru Bangun, Aku Dipanggil ‘Nyonya’ dan Disebut Istri Konglomerat! Padahal Aku Hanya Ibu Rumah Tangga Biasa. Apa yang Sebenarnya Terjadi?!

****

6

Sore itu dengan menggunakan uang mahar Tita, lantai satu rumah mulai direnovasi. Sarah yang berada di lantai dua bersama ibu Lukman dan Tita mulai memikirkan ide jahil lainnya. Apalagi saat dengan angkuh Tita memerintahkannya untuk membuat jus jeruk.

Barang-barang elektronik di rumah ini sudah Sarah jual semua, dan dengan mudahnya Tita memerintahkan Sarah untuk memeras jeruk-jeruk itu menggunakan tangannya.

“Dengan tanganku ya,” ucap Sarah geram sembari meremas-remas jeruk yang belum dicuci itu di dalam baskom besar, dengan tangan yang belum juga ia cuci. Meski sedikit menguras tenaga entah kenapa Sarah merasa puas dengan hasil perasan jeruk ala prindavan buatannya.

Ia menyaring air jeruk itu dan mengumpulkan bijinya, lantas menghaluskan biji-biji jeruk itu dengan menggunakan gilingan beras. Mencampurkannya dengan air jeruk yang sudah ia pisahkan, Sarah menambahkan beberapa sendok gula.

“Perfect,” ucapnya dengan senyum merekah. Ia membawa dua cangkir besar jus jeruk itu ke balkon, tempat di mana Tita dan ibu Lukman sedang duduk santai.

“Ini jus jeruknya.”

“Lama banget, bikin ginian doang,” ucap Ibu Lukman dengan tatapan sinis. “Gak ada esnya ini?”

“Ibu, kan, tahu kulkas kita baru aja dicuri, jadi gak ada es di rumah ini.”

“Ya kamu inisiatif beli es batu di mana kek.”

“Maaf Bu, gak kepikiran.”

Ibu Lukman menarik nafas panjang seraya mengambil salah satu dari dua gelas yang dihidangkan Sarah.

“Payah, punya menantu lemot.”

“Cih! Kok pahit banget!” seru Tita sembari memuntahkan jus jeruk yang baru saja ia minum, ibu Lukman yang baru saja menenggak juga kaget.

“Kamu taruh apa Zara? Kamu mau racuni kita ya?” Ibu Lukman meliriknya tajam, Sarah buru-buru menggeleng.

“Gak mungkin, Bu. Jeruknya yang memang pahit kali,” ucapnya asal.

Lukman kemudian datang, menyela di saat ibunya hendak membantah perkataan Sarah.

“Lantai satu akan kembali seperti semula sore ini, barang-barang yang berserakan juga sudah dibereskan. Aku akan menempati kamar utama bersama Tita, ibu seperti biasa di kamar sebelahnya. Sementara Zara, kau akan menempati kamar di lantai dua.”

Sarah mengangkat bahu, merasa tak mempermasalahkan semua itu, baginya justru itu hal bagus ia bisa bebas menempati lantai dua ini sendirian.

“Kau harus sadar diri Zara, Tita lagi hamil jadi dia yang pantas tidur di kamar utama karena harus mendapatkan perhatian lebih.”

“Aku tak masalah, Bu. Aku juga gak protes, kan?” tukas Sarah.

“Ingat, ya, Mbak Zara. Ini udah disepakati, jangan sampe nanti kamu protes dan marah-marah samaku. Aku mau tenang di sini biar bayiku yang akan jadi keturunan pertama Mas Lukman bisa lahir dengan sehat.”

“Terserah, aku bilang tak mempermasalahkannya jadi gak usah khawatir.”

Sarah mengalihkan tatapannya, muak, saat itulah matanya bertemu dengan Lukman yang sedari tadi memperhatikannya dengan pandnagan yang … entah tak Sarah mengerti. Lagipula apa pedulinya?

***

“Yah, biasanya rumah diberesin, pakaian dicuciin, ranjang dibenerin, mandi juga digosokin, sekarang semuanya serba sendiri.” Sarah menghela nafas berat sembari menarik ujung sprei dengan susah payah. Memasangnya sendiri butuh waktu, apalagi ranjang yang akan ia tempati bukan ranjang mewah yang biasa ia tempati di rumah.

Usai merapikan isi kamar yang bahkan tak sampai seperempat kamarnya itu, Sarah merebahkan diri. Ia menghidupkan kipas portable canggih yang bisa mengeluarkan udara dingin seperti pendingin ruangan yang sengaja ia sembunyikan. Keringatnya mengalir deras seolah baru saja olahraga lari sekian kilometer.

“Zara sedang apa, ya, di sana? Apa dia baik-baik saja?” ia menatap langit-langit plafon dengan pandangan menerawang. Sejak bertemu saat Zara hampir mati karena mencoba bunuh diri di sungai kala itu dan Sarah membawanya ke rumah sakit, Sarah sama sekali belum menemui Zara lagi. Entahpun kembarannya tak sadar kalau ia masih punya saudara yang memperjuangkan kebahagiannya seperti Sarah.

Tok! Tok! Tok!

Sarah terlonjak, sadar dari lamunannya. Ia bangkit dari tempat tidur demi melihat siapa orang yang mengganggu istirahatnya di jam dua belas malam ini.

“Mas Lukman?” ucapnya dengan tatapan bingung. Lelaki itu berdiri di depan kamarnya dengan wajah resah seolah ingin menyampaikan sesuatu.

“Zara kamu gak apa-apa, kan? Kamu gak merasa marah karena Tita menempati kamarmu, kan?”

“Kenapa tanya begitu? Menurutmu sendiri gimana? Hari di mana kamu bilang kalau akan menikah lagi menurutmu sehancur apa aku? Sampai aku celaka dan dirawat di rumah sakitpun kamu juga gak peduli sama sekali.”

“Aku minta maaf, Zara. Ini aku lakukan karena terpaksa. Tita itu teman kerjaku, kami gak dekat hanya sekedar saling sapa. Tapi malam itu aku khilaf, gak tahu ujungnya dia bakal mengandung. Tapi bukannya itu kesempatan bagus, kita bisa punya anak, kan? Anak yang dia lahirkan juga bisa jadi anakmu.”

“Gila, aku gak habis pikir sama isi kepalamu, Mas. Coba dibelah, ingin tahu aku apa isinya.”

“Aku masih cinta kamu Zara, itu alasan aku gak ceraikan kamu. Aku harap kamu tetap mau berada di sisiku dan gak akan ninggalin aku.”

Sarah mendelik, seketika merasa mual. Setelah semua yang terjadi Lukman masih cinta katanya? Laki-laki ini mulutnya manis sekali, mungkin ini yang ia lakukan untuk menarik perhatian Zara dahulu.

“Kalau kamu cinta kamu gak akan pernah kepikiran buat main belakang sama wanita lain.”

“Aku nikahi Tita supaya kita punya keturunan, seharusnya kamu juga mikir kesitu.”

Sarah menggeleng, pusing. Lelaki ini berpikir seperti tidak pernah disekolahkan.

“Tergantung ke depannya gimana, entah aku tetap milih bertahan atau kamu yang gak bakalan kuat sama tingkahku nanti.”

“Maksudnya?”

Sarah memijit pangkal hidungnya, hal sesederhana itupun lelaki itu gak bisa mikir. Entah dapat di comberan mana Zara lelaki macam ini, bisa sampai jadi suami lagi.

“Mas Lukman!”

Terdengar suara Tita memanggil dari lantai bawah. Nadanya yang terdengar merengek membuat Lukman seketika lupa apa yang baru saja dikatakannya pada Sarah yang berpura-pura menjadi Zara.

“Aku ke bawah dulu, dia lebih perlu aku sekarang. Aku akan berusaha adil Zara, membagi waktuku untuk dia dan juga untukmu.”

Sarah mendelik tak suka, menatap punggung lelaki yang sedang menuruni tangga itu dengan mual yang ia tahan setengah mati.

“Dih! Siapa elu?” serunya pelan. “Sok kecakepan banget buset dah! Hueeek! Ambil aja Tita, ambil! Zara juga pasti gak sudi make bekas lu! Hihh!”

Sarah bergidik, memeluk dirinya sendiri dan membanting pintu kamar sembari mengucapkan kata amit-amit berulangkali.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tukar Tempat Dengan Kembaranku    Bab 30 : Deep Talk

    "Ya Zara, itu aku."Zara terpaku demi mendengar penuturan Halim.Halim menunjukkan foto masa kecilnya saat di SMP pada Zara. Sekarang keduanya masih berada dalam mobil, tapi Halim inisiatif menghentikannya di pinggir jalan untuk lebih serius mengobrol.“Jadi benar-benar Mas Halim?” ucap Zara tak percaya. Ia menatap foto itu lamat-lamat sembari menutup mulutnya yang terbuka, matanya terbelalak seolah ingin terus memastikan.Ia sangat ingat anak lelaki dengan kacamata segi empat dan perawakan yang sedikit gemuk itu. Pembawaannya begitu ceria dan menyenangkan, tak jarang sering membawakannya dan anak-anak panti makanan. Ia dan anak lelaki itu selalu bermain setiap hari saat anak lelaki itu pulang sekolah. Meski sampai sekarang ia hanya ingat memanggilnya dengan sebutan bubucu."Aku menyesal SMA di luar kota kala itu," tukas Halim membuat Zara menoleh. "Karena aku tak bisa lagi bertemu denganmu dan anak-anak lain.""Aku pikir saat itu kau akan tetap ada di sana. Jadi saat masa SMA ku sele

  • Tukar Tempat Dengan Kembaranku    Bab 29 : Ya, Zara Itu Aku

    “Aku tahu kamu pasti khilaf dan berharap buat balik samaku. Aku bakal maafin kalau kamu minta maaf sekarang.”Zara mendelik, tanpa menjawab ia pergi begitu saja. Sampai keluar dari Halaman rumah ternyata Lukman mngejar.“Kamu minta dibujuk? Kenapa kamu gak jawab perkataanku? Sesusah itu memohon maaf atas kesalahan yang udah kamu buat?”“Salah? Memangnya apa kesalahanku? Terkait hubunganku dengan Arman? Bukannya itu impas atas perbuatanmu dengan Tita. Gak usah playing victim dannminta aku buat minta maaf. Aku gak bakal balik ke kamu, kok. Nikmati aja hidup kamu sekarang!”“Kamu cemburu, kan?”“Gila ya, kok bisa kamu ngomomg gini.”Zara memijit kepalanya yangteassa pusing, baru kali ini ia menyadari Lukman tidak sebaik itu untuk jadi kepala keluarga, entah kenapa bisa ia nikahi. Zara hednak beranjak namun Lukman menghadang dengan menahan tagannya.“Lepas!”“Gak sebelum kamu minta maaf!”“Lepaskan dia!”Zara terkejut, Halim tiba-tiba muncuk dan menariknya ke belakang tubuh lelaki itu. se

  • Tukar Tempat Dengan Kembaranku    Bab 28 : Kembali ke Rumah

    “Bagaimana dengan hal yang kuminta kemarin, Yan?”“Masih kuurus Halim, bersabarlah kau baru memintanya kemarin.”“Aku hanya tak ingin kehilangan kesempatan.”“Kesempatan apa?”“Mengejar Zara.”“Hah?” Yanuar terpaku sesaat, alisnya mengkerut. “Jangan bilang kalau kau mulai suka padanya.?”Halim diam saja dan itu membuat Yanuar makin shock.“Halim aku tahu kau dan Sarah hanya menikah sebatas kertas tapi menyukai kembarannnya itu agak … atau jangan bilang kalau kau mulai suka padanya saat keduanya bertukar peran.”“Kepribadian keduanya berbeda, Yan. Dan kau tahu cinta pertama yang pernah kuceritakan padamu dulu dan mengira itu Sarah ternyata itu tidak benar. Yang kutemukan saat SMP dahulu di panti asuhan adalah Zara. Selama ini aku menyukai dan menikah dengan orang yang salah.”“Apa?” ucap Yanuar kaget untuk kesekian kalinya. “Dan kau menyadari itu saat tahu bahwa Zara menggantikan Sarah?”“Waktu itu saat ia kambuh setelah beberapa saat sadar ia menceritakan ingatannya yang sempat hilang

  • Tukar Tempat Dengan Kembaranku    Bab 27 : Berbaikan

    Bab 27“Di mana Zara.”“Apa maksudmu?” Sarah menghempaskan tangan Halim seketika, ia berbalik cepat menuju kamarnya.“Jangan pura-pura tidak tahu Sarah.”“Kau gila? Siapa Zara? Aku tak kenal dia.”“Kembaranmu? Mustahil kau tidak tahu.”Sarah terpaku, ia yang hendak masuk ke dalam kamarnya jadi mengurungkan niat. Perlahan berbalik, menatap Halim.“Selama ini kembaranmu berpura-pura menjadi dirimu di sini, kan?”“Kau bicara apa? Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.”“Jangan bohong Sarah, aku sudah mencari tahu semuanya. Di mana Zara sekarang?”“Mencari tahu? Maksudmu?”“Sejak awal Zara bangun di rumah ini setelah koma kalian sudah bertukar peran, kan? Aku mulai menyelidiknya karena dia berperilaku hal yang berkebalikan denganmu, apalagi dia tak alergi buah peach seperti dirimu. Sejak itu aku yakin kalau itu bukan kau Sarah.”Sarah diam sesaat, ia tak memikirkan kemungkinan ini. Halim sendiri tahu ia alergi buah itu saat mereka pertama bertemu saat akan dijodohkan. Sarah tak bisa mengela

  • Tukar Tempat Dengan Kembaranku    Bab 26 : Di mana Zara?

    “Jadi wanita yang menarik tanganku saat di dalam sungai itu kau Sarah?”“Tentu saja, kau pikir aku akan membiarkanmu mati sia-sia begitu setelah dikhianati Lukman?” seru Sarah kesal, namun sesaat ia menyadari sesuatu. “Kau sempat melihatku berarti?”“Sesaat sebelum aku tak sadarkan diri, di dalam air aku melihat seorang wanita yang mirip menarik tanganku dengan erat, aku pikir itu cuma halusinasi. Tapi bagaimana bisa kau tahu Lukman mengkhianatiku?”“Aku menyelidikinya, ini berawal saat aku tahu aku bukanlah anak kandung Papa dan Mama. Lalu kutelusuri dan kutemukan aku punya kembaran yang terpisah sejak enam bulan di panti asuhan. Dua minggu sebelum kau terjun ke sungai, aku selalu memperhatikan kehidupanmu dari jauh sampai aku bertemu Lukman yang berduaan dengan wanita lain. Sejak itu aku khawatir dan ingin menemuimu, namun naas malam itu saat keinginanku belum tercapai aku melihatmu berdiri di pinggir jembatan dan hendak terjun. Reflek aku berlari dan ikut terjun juga, untungnya aku

  • Tukar Tempat Dengan Kembaranku    Bab 25 : Bertemu

    Halim berjalan perlahan menuruni tangga dengan tatapan fokus pada layar ponsel. Sebelum datang ke kamar Zara tadi ia baru saja mendapatkan pesan dari Yanuar. Sebuah file berisi hasil tes DNA yang lelaki itu lakukan atas permintaan Halim.[Kau pasti terkejut saat tahu isinya Halim]Isi pesan Yanuar tepat di bawah file yang dikirimkan lelaki itu. Halim hanya bisa menghela nafas berulangkali saat ia membaca isi ddalam file yang sudah ia duga sebelumnya. DNa Sarah dan Zara memiliki kecocokan 99,9% identik. Itu artinya kedua wanita itu memang kembar. Hal yang seharusnya membuat ia terkejut, namun ia tak terkejut sama sekali.Masalah setelah ia membuka file itu muncul saat Halim mulai meragukan Zara yang selama ini hilang ingatan? Mungkinkah wanita itu hanya berpura-pura untuk mengelabui dirinya? Namun perilakunya dan hasil pemeriksaan Hira menunjukkan kalau dugaan Halim tak berlaku, ia juga meminta catatan kesehatan Zara dari sahabatnya itu.Lalu tadi, saat Halim ingin menyelidiki hal ters

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status