Share

Bab 3

Author: Richy
Usai bicara, dia langsung membuka ritsletingku dan memasukkan tangannya.

Aku tak menghalanginya lagi. Terserah, ukur sajalah, aku juga sudah merabanya tadi.

Fiona mengeluarkan bendaku. Aku pikir dia hanya ingin melihatnya sebentar.

Namun, siapa sangka detik berikutnya, dia langsung menggenggamnya.

Seketika, seluruh sel di tubuhku seakan meledak. Rasa geli yang hebat itu terus merangsang saraf otakku.

Aku langsung menginjak rem dan segera menghentikan truk di tepi jalan agar tak terjadi kecelakaan.

Fiona menatap benda itu dengan takjub, sambil memuji,

“Om luar biasa sekali, satu tanganku saja nggak muat menggenggamnya, masih tersisa banyak.”

“Jauh lebih hebat dari pacarku. Punya pacarku kalau digenggam begini sudah tak tersisa.”

Sekian lama menyetir truk, baru kali ini ada orang yang menggenggam benda milikku di dalam truk.

Apalagi gadis muda cantik seperti ini. Tangannya yang halus terasa begitu lembut dan wangi. Genggamannya membuat seluruh tubuhku gemetar tanpa bisa ditahan.

Melihat reaksiku, Fiona tersenyum menggoda.

“Reaksi om lumayan kuat… pasti sangat menginginkannya, ‘kan?”

Aku benar-benar tak menyangka dia akan seinisiatif ini.

Namun, pacarnya masih melihat di samping. Tindakan kami berdua ini sudah sangat melanggar norma.

“Bukannya hanya mau mengukur? Kok malah digenggam begitu?”

Fiona berkata manja, “Kalau nggak digenggam, bagaimana aku bisa mengukurnya?”

Dia bahkan mulai mengocoknya naik turun dengan teknik yang sangat mahir.

Tanpa sadar, aku menegakkan tubuh, kedua tanganku bertumpu pada kursi sambil menikmati belaian yang begitu hebat.

“Hm… kamu berani sekali, nggak takut pacarmu marah?”

“Coba saja kalau dia berani marah,” ujar Fiona sambil mendekatkan wajahnya. Hembusan napas hangatnya menerpa benda milikku, terasa begitu hangat.

Ternyata, Leo benar-benar tidak keberatan. Dia bahkan tampak sangat antusias menyaksikan pemandangan ini.

“Om sudah begitu baik kasih kami tumpangan… Fiona, cepat bantu om sebentar.”

Usai bicara, Leo mendorong Fiona pelan.

Wajah Fiona sampai menabrak benda milikku, membuat gairahku semakin tak tertahankan.

Fiona memanfaatkan kesempatan itu untuk menjulurkan lidahnya dan memainkannya di atas sana.

“Hm….”

Sensasi licin dan lembut itu membuat darahku mendidih, gairah yang bergejolak hampir saja meledakkan tubuhku.

Kedua tanganku menggenggam erat sandaran kursi, seluruh tubuhku menegang.

Sensasi ini… benar-benar terlalu kuat… terlalu merangsang….

Seumur hidupku, baru kali ini aku sampai kehilangan kendali. Gairah yang kupendam bertahun-tahun, seolah terkumpul di satu titik saat ini.

“Nona, aku sudah nggak tahan lagi, tolong berikan padaku sekali saja.”

Aku hampir tak percaya bisa mengucapkan kata-kata itu dan lebih tak percaya lagi kalau Fiona bakal menyetujuinya.

Dia tersenyum menggoda, kedua tangannya memegang bahuku, lalu membuka lebar kedua kakinya dan naik ke atas tubuhku.

“Om, kamu merasa sangat tersiksa, ‘kan? Sangat menginginkannya, ‘kan?”

Aku mengangguk cepat. Kedua tanganku memegang pinggangnya yang ramping, merasakan kelembutan tubuh gadis muda ini.

Kedua kakinya berdiri di atas kursi, mengarahkan bagian dalam roknya tepat di depan wajahku.

“Om, bagian dalam rokku sangat bagus, ‘kan? Kamu pasti sangat penasaran ingin melihatnya tadi, ‘kan?”

Aku agak terkejut. Ternyata aksiku mengintip roknya tadi sudah ketahuan.

“Nggak apa-apa. Kalau mau lihat, biar kuperlihatkan sampai puas.”

Fiona berdiri di atas kursi dengan kaki terbuka, mengarahkan pemandangan indah itu tepat di depanku.

Ternyata, dia memakai stoking model terbuka di bagian tengah. Ini membuat semuanya jadi semakin mudah dilakukan.

Aku hampir mimisan.

Aku sudah tak tahan lagi, lalu mengulurkan tangan dan merabanya.

Sensasi halus dari stoking itu merambat ke telapak tanganku, membuat darahku semakin mendidih.

Fiona berkata, “Om, celana dalamku gampang dibuka kok. Coba kamu buka dulu.”

Aku mengulurkan tangan ke dalam, terasa dia memakai celana dalam thong di dalamnya. Begitu dipinggirkan perlahan, area misterius itu langsung terpampang di depan mataku.

Pemandangan tu membuat kepalaku pening.

“Cepat… cepat berikan padaku,” ujarku nyaris seperti memohon.

Fiona terkekeh, “Aku duduk sekarang, ya!”

Kedua tangannya merangkul leherku, pinggulnya diarahkan ke benda milikku yang tegang itu, lalu dia duduk dengan tekanan yang kuat.

….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 7

    Tak lama kemudian, temanku datang. Saat membuka pintu, dia masih melemparkan senyuman hangat.Fiona menyambutnya dengan senyuman menggoda, sementara matanya menatap tajam bagaikan ular yang siap melilit tubuh temanku.“Kamu temannya? Ternyata beda sekali, ya,” ucapnya sambil menjatuhkan diri ke dalam pelukan temanku.Pakaian Fiona sangat terbuka dengan kain yang sangat minim. Begitu mendekat, kulit mereka saling bersentuhan secara langsung.Seketika, mata temanku berbinar, lalu dia menatapku dengan canggung.Raut wajahku saat ini sama persis dengan ekspresi Leo dulu, seolah-olah menyuruhnya untuk segera menyantap wanita di depannya.Temanku tersenyum canggung, berniat mendorongnya, tapi ragu-ragu.“Sepertinya… ini kurang pantas. Kamu itu istri temanku, mana boleh sedekat ini?”Fiona menoleh melihatku.“Sayang, kamu keberatan nggak kalau aku sedekat ini dengannya?”Aku langsung menggelengkan kepala.“Nggak apa-apa, kalian berdua sama-sama orang yang kupercaya. Yang penting kalian bisa b

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 6

    Mendengar itu, aku langsung paham semuanya.Aku mencoba memancingnya dan bertanya, “Jadi, aku ini juga mangsa yang kalian incar?”Fiona mengangguk.“Emangnya kamu pikir apalagi? Kami melambai di pinggir jalan waktu itu hanya untuk menarik perhatianmu.”“Sopir truk seperti kalian paling mudah dibodohi.”Seluruh tubuhku membeku dan tak bisa bergerak sangking kagetnya, rasanya bagaikan tersambar petir di siang bolong.Pantas saja Leo tak peduli sama sekali, pantas saja dia begitu cepat menyetujuinya.Rupanya dia hanya mau memanfaatkanku sebagai mangsa pengganti untuk menggantikan posisinya.Kebebasan pribadiku kini sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Fiona.Dia mengendalikan kehidupan sosialku, keberadaanku, bahkan jalan pikiranku. Setiap hari aku harus melapor tepat waktu, terlambat sedikit saja langsung mendapat interogasi darinya.Aku seperti dikurung di dalam penjara yang tak terlihat, tak bisa meronta sama sekali.Awalnya, aku masih bisa melarikan diri sebentar karena harus pergi bek

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 5

    “Jack, kamu jijik ya samaku? Emangnya kenapa hal seperti ini? Berani berbuat kok nggak berani mengakui?”Aku begitu emosi sampai kehabisan kata-kata, jadi terpaksa meminta izin pulang pada atasan dan membawa Fiona pergi dari sana.Sepanjang jalan, wajah Fiona tampak muram dan terus mengomel padaku.“Kamu setakut itu mengenalkanku pada orang-orang?”“Kamu merasa sangat malu bersama denganku?”Aku menatapnya dengan kesal dan berkata, “Bukannya kamu punya pacar? Hubungan kita hanya sebatas teman tidur.”Namun, Fiona menjawab, “Leo sudah pergi, sekarang kamu pacarku.”Aku terkejut dan bertanya, “Kapan dia pergi?”“Tadi pagi. Sekarang aku sudah punya kamu, jadi nggak butuh dia lagi.”Hatiku menegang, tak ada rasa senang sedikitpun.Setelah beberapa hari menghabiskan waktu dengannya, aku sudah merasa kalau Fiona ini bukan orang normal. Dia terlalu aneh dan punya obsesi kuat untuk mengendalikan orang lain.Melihat raut wajahku yang semakin muram, Fiona berkata, “Kamu nggak mau jadi pacark

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 4

    Tepat ketika jaraknya tinggal setengah sentimeter lagi, tiba-tiba terdengar suara klakson yang nyaring dari arah belakang.“Tit… tit….”Kami bertiga sama-sama terkejut, mengira ada orang yang memergoki.Begitu melirik melalui kaca spion, ternyata trukku berhenti tepat di tengah jalan dan menghalangi kendaraan di belakang.“Fiona, geser ke samping sebentar, aku mau memindahkan truk dulu.”Dengan berat hati, Fiona beranjak dari atas tubuhku. Barulah aku memasukkan gigi dan menjalankan truk ke tepi jalan agar kendaraan di belakang bisa lewat.Sopir itu sempat menjulurkan kepalanya untuk melihat, karena heran melihat kami berhenti di tengah jalan.Setelah itu, dia pun pergi begitu saja sambil terkekeh.Fiona sudah dikuasai gairah saat ini, dia langsung menarik tanganku dan hendak naik kembali ke pangkuanku.Aku menegakkan pinggang dan akhirnya bisa merasakan kembali sensasi yang sudah lama hilang ini.Menyetir truk dalam waktu lama memang sangat menyiksa dan membosankan. Saat inilah, akhir

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 3

    Usai bicara, dia langsung membuka ritsletingku dan memasukkan tangannya.Aku tak menghalanginya lagi. Terserah, ukur sajalah, aku juga sudah merabanya tadi.Fiona mengeluarkan bendaku. Aku pikir dia hanya ingin melihatnya sebentar.Namun, siapa sangka detik berikutnya, dia langsung menggenggamnya.Seketika, seluruh sel di tubuhku seakan meledak. Rasa geli yang hebat itu terus merangsang saraf otakku.Aku langsung menginjak rem dan segera menghentikan truk di tepi jalan agar tak terjadi kecelakaan.Fiona menatap benda itu dengan takjub, sambil memuji, “Om luar biasa sekali, satu tanganku saja nggak muat menggenggamnya, masih tersisa banyak.”“Jauh lebih hebat dari pacarku. Punya pacarku kalau digenggam begini sudah tak tersisa.”Sekian lama menyetir truk, baru kali ini ada orang yang menggenggam benda milikku di dalam truk.Apalagi gadis muda cantik seperti ini. Tangannya yang halus terasa begitu lembut dan wangi. Genggamannya membuat seluruh tubuhku gemetar tanpa bisa ditahan.Melihat

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 2

    Menyetir truk jarak jauh dalam waktu lama memang membuat tubuh terasa sangat haus.Sekarang malah menyaksikan adegan ini secara langsung, rasa geli itu terasa menusuk sampai ke tulang.Anak muda zaman sekarang benar-benar liar, begitu tak sabaran, bahkan berani melakukannya di depan orang asing sepertiku.Leo terus mengelus kedua gumpalan kenyal itu bergantian, lalu wajahnya menunjukkan raut bingung. “Eh? Kok ukuran keduanya berbeda? Rasanya yang sebelah kiri lebih kecil.”Fiona memegang kedua gumpalan dadanya sendiri dengan kedua tangan, lalu mulai menimbangnya.“Sembarangan saja! Bukannya yang kiri dan kanan ini sama besarnya?”“Yang kiri jelas lebih kecil.”“Sembarangan! Jelas-jelas sama besar.”“….”Lama-kelamaan, mereka berdua malah meributkan hal itu.Aku yang berada di samping tak bisa ikut campur, jadi memilih untuk tetap fokus menyetir.Namun, Fiona tiba-tiba menyenggolku dan berkata, “Om, coba kamu pegang, keduanya sama besar, ‘kan?”Mendengar itu, aku langsung membeku. Ras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status