Share

Bab 2

Author: Richy
Menyetir truk jarak jauh dalam waktu lama memang membuat tubuh terasa sangat haus.

Sekarang malah menyaksikan adegan ini secara langsung, rasa geli itu terasa menusuk sampai ke tulang.

Anak muda zaman sekarang benar-benar liar, begitu tak sabaran, bahkan berani melakukannya di depan orang asing sepertiku.

Leo terus mengelus kedua gumpalan kenyal itu bergantian, lalu wajahnya menunjukkan raut bingung.

“Eh? Kok ukuran keduanya berbeda? Rasanya yang sebelah kiri lebih kecil.”

Fiona memegang kedua gumpalan dadanya sendiri dengan kedua tangan, lalu mulai menimbangnya.

“Sembarangan saja! Bukannya yang kiri dan kanan ini sama besarnya?”

“Yang kiri jelas lebih kecil.”

“Sembarangan! Jelas-jelas sama besar.”

“….”

Lama-kelamaan, mereka berdua malah meributkan hal itu.

Aku yang berada di samping tak bisa ikut campur, jadi memilih untuk tetap fokus menyetir.

Namun, Fiona tiba-tiba menyenggolku dan berkata,

“Om, coba kamu pegang, keduanya sama besar, ‘kan?”

Mendengar itu, aku langsung membeku. Rasanya sungguh sulit dipercaya, hingga aku bertanya dengan suara gemetar,

“Kamu… kamu menyuruhku menyentuhnya?”

Fiona menatapku dengan pandangan tulus.

“Iya, Leo kekeh bilang yang kiri lebih kecil. Coba kamu bantu raba, lihat benar lebih kecil atau nggak?”

Leo pun ikut memanas-manaskan suasana dari samping.

“Om, coba pegang saja, yang kiri lebih kecil, ‘kan?”

Bahkan pacarnya sendiri menyuruhku merabanya. Seketika, otakku berputar cepat dan seluruh gairah di tubuhku langsung terbakar

“Ini… sepertinya kurang pantas.”

“Takut apa?” Fiona langsung menyingkap baju atasan hitamnya, memperlihatkan sepasang gumpalan putih mulusnya.

Seketika, aku langsung tak bisa menahan diri lagi.

“Om, pegang saja, nggak apa-apa.”

Melihat pemandangan indah di depanku, mana mungkin aku bisa menahannya lagi. Aku pun mengulurkan tangan dan merabanya.

Seketika, telapak tanganku merasakan tekstur gumpalan yang lembut dan sangat kenyal. Seluruh tubuhku terasa seperti tersengat listrik, sensasi kesemutan yang nikmat merangsang otakku.

Rasanya sungguh terlalu nikmat, hingga selangkanganku langsung menonjol membentuk tenda yang menjulang tinggi.

Setelah meraba bagian kiri dan kanan, aku menarik tanganku kembali dengan berat hati.

Fiona menatapku dengan antusias.

“Om, dua-duanya sama besar, ‘kan?”

Tadi otakku hanya fokus menikmati sensasinya, sampai-sampai lupa sebelah mana yang lebih besar.

Aku hanya menjawab dengan samar, “Sepertinya dua-duanya sama besar.”

Usai aku bicara, Fiona langsung menatap Leo dengan gaya seorang pemenang.

“Sudah kubilang sama besar, kamu masih kekeh bilang kiri lebih kecil.”

Leo mencibir dan memalingkan wajahnya ke arah lain.

Seluruh tubuhku panas membara, seperti ada ribuan semut yang merayap.

Sambil menahan rasa geli yang menusuk, aku mengumpulkan sisa-sisa pertahananku untuk kembali fokus menyetir.

Namun, tiba-tiba mata Fiona tertuju ke arah celanaku yang membentuk tenda tinggi.

Dia berteriak kaget, “Astaga, om sampai bereaksi! Besar sekali?!”

Barulah aku menyadari bahwa telah mempermalukan diri sendiri, rasanya canggung setengah mati.

Aku terburu-buru menenangkannya dengan tanganku, tapi tonjolan itu tidak mau turun sama sekali.

Wajahku sampai memerah sangking paniknya.

Fiona terkekeh, lalu menyandarkan tubuhnya padaku, hingga gumpalan dadanya langsung menempel di bahuku.

“Om, kok malah malu-malu begitu? Coba biar kupegang, biar kulihat lebih besar punya om atau pacarku?”

Mendengar itu, rasa geli di sekujur tubuhku semakin tak tertahankan. Gairah yang terpendam rasanya ingin meledak.

Mendengar hal itu, Leo juga mendongakkan kepala dan ikut melihat.

Tanpa menunggu persetujuanku, Fiona langsung mengulurkan tangannya hendak membuka ritsletingku.

Aku buru-buru menahan tangannya dan berkata dalam keadaan emosi yang memuncak,

“Jangan! Mana boleh asal dipegang? Aku sudah punya istri, beda dengan kalian.”

Meskipun di dalam hati sangat mendambakannya, area seperti ini terlalu intim. Apa bedanya memegang bagian itu dengan sudah berhubungan intim?

Namun, Fiona malah semakin penasaran dan tetap ingin membuktikannya.

“Om, aku hanya mengukurnya pakai tangan saja, nggak bakal terjadi apa-apa.”

“Lagipula istri om nggak ada di sini, mana mungkin dia tahu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 7

    Tak lama kemudian, temanku datang. Saat membuka pintu, dia masih melemparkan senyuman hangat.Fiona menyambutnya dengan senyuman menggoda, sementara matanya menatap tajam bagaikan ular yang siap melilit tubuh temanku.“Kamu temannya? Ternyata beda sekali, ya,” ucapnya sambil menjatuhkan diri ke dalam pelukan temanku.Pakaian Fiona sangat terbuka dengan kain yang sangat minim. Begitu mendekat, kulit mereka saling bersentuhan secara langsung.Seketika, mata temanku berbinar, lalu dia menatapku dengan canggung.Raut wajahku saat ini sama persis dengan ekspresi Leo dulu, seolah-olah menyuruhnya untuk segera menyantap wanita di depannya.Temanku tersenyum canggung, berniat mendorongnya, tapi ragu-ragu.“Sepertinya… ini kurang pantas. Kamu itu istri temanku, mana boleh sedekat ini?”Fiona menoleh melihatku.“Sayang, kamu keberatan nggak kalau aku sedekat ini dengannya?”Aku langsung menggelengkan kepala.“Nggak apa-apa, kalian berdua sama-sama orang yang kupercaya. Yang penting kalian bisa b

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 6

    Mendengar itu, aku langsung paham semuanya.Aku mencoba memancingnya dan bertanya, “Jadi, aku ini juga mangsa yang kalian incar?”Fiona mengangguk.“Emangnya kamu pikir apalagi? Kami melambai di pinggir jalan waktu itu hanya untuk menarik perhatianmu.”“Sopir truk seperti kalian paling mudah dibodohi.”Seluruh tubuhku membeku dan tak bisa bergerak sangking kagetnya, rasanya bagaikan tersambar petir di siang bolong.Pantas saja Leo tak peduli sama sekali, pantas saja dia begitu cepat menyetujuinya.Rupanya dia hanya mau memanfaatkanku sebagai mangsa pengganti untuk menggantikan posisinya.Kebebasan pribadiku kini sudah sepenuhnya dikendalikan oleh Fiona.Dia mengendalikan kehidupan sosialku, keberadaanku, bahkan jalan pikiranku. Setiap hari aku harus melapor tepat waktu, terlambat sedikit saja langsung mendapat interogasi darinya.Aku seperti dikurung di dalam penjara yang tak terlihat, tak bisa meronta sama sekali.Awalnya, aku masih bisa melarikan diri sebentar karena harus pergi bek

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 5

    “Jack, kamu jijik ya samaku? Emangnya kenapa hal seperti ini? Berani berbuat kok nggak berani mengakui?”Aku begitu emosi sampai kehabisan kata-kata, jadi terpaksa meminta izin pulang pada atasan dan membawa Fiona pergi dari sana.Sepanjang jalan, wajah Fiona tampak muram dan terus mengomel padaku.“Kamu setakut itu mengenalkanku pada orang-orang?”“Kamu merasa sangat malu bersama denganku?”Aku menatapnya dengan kesal dan berkata, “Bukannya kamu punya pacar? Hubungan kita hanya sebatas teman tidur.”Namun, Fiona menjawab, “Leo sudah pergi, sekarang kamu pacarku.”Aku terkejut dan bertanya, “Kapan dia pergi?”“Tadi pagi. Sekarang aku sudah punya kamu, jadi nggak butuh dia lagi.”Hatiku menegang, tak ada rasa senang sedikitpun.Setelah beberapa hari menghabiskan waktu dengannya, aku sudah merasa kalau Fiona ini bukan orang normal. Dia terlalu aneh dan punya obsesi kuat untuk mengendalikan orang lain.Melihat raut wajahku yang semakin muram, Fiona berkata, “Kamu nggak mau jadi pacark

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 4

    Tepat ketika jaraknya tinggal setengah sentimeter lagi, tiba-tiba terdengar suara klakson yang nyaring dari arah belakang.“Tit… tit….”Kami bertiga sama-sama terkejut, mengira ada orang yang memergoki.Begitu melirik melalui kaca spion, ternyata trukku berhenti tepat di tengah jalan dan menghalangi kendaraan di belakang.“Fiona, geser ke samping sebentar, aku mau memindahkan truk dulu.”Dengan berat hati, Fiona beranjak dari atas tubuhku. Barulah aku memasukkan gigi dan menjalankan truk ke tepi jalan agar kendaraan di belakang bisa lewat.Sopir itu sempat menjulurkan kepalanya untuk melihat, karena heran melihat kami berhenti di tengah jalan.Setelah itu, dia pun pergi begitu saja sambil terkekeh.Fiona sudah dikuasai gairah saat ini, dia langsung menarik tanganku dan hendak naik kembali ke pangkuanku.Aku menegakkan pinggang dan akhirnya bisa merasakan kembali sensasi yang sudah lama hilang ini.Menyetir truk dalam waktu lama memang sangat menyiksa dan membosankan. Saat inilah, akhir

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 3

    Usai bicara, dia langsung membuka ritsletingku dan memasukkan tangannya.Aku tak menghalanginya lagi. Terserah, ukur sajalah, aku juga sudah merabanya tadi.Fiona mengeluarkan bendaku. Aku pikir dia hanya ingin melihatnya sebentar.Namun, siapa sangka detik berikutnya, dia langsung menggenggamnya.Seketika, seluruh sel di tubuhku seakan meledak. Rasa geli yang hebat itu terus merangsang saraf otakku.Aku langsung menginjak rem dan segera menghentikan truk di tepi jalan agar tak terjadi kecelakaan.Fiona menatap benda itu dengan takjub, sambil memuji, “Om luar biasa sekali, satu tanganku saja nggak muat menggenggamnya, masih tersisa banyak.”“Jauh lebih hebat dari pacarku. Punya pacarku kalau digenggam begini sudah tak tersisa.”Sekian lama menyetir truk, baru kali ini ada orang yang menggenggam benda milikku di dalam truk.Apalagi gadis muda cantik seperti ini. Tangannya yang halus terasa begitu lembut dan wangi. Genggamannya membuat seluruh tubuhku gemetar tanpa bisa ditahan.Melihat

  • Tumpangan Yang Mendatangkan Malapetaka   Bab 2

    Menyetir truk jarak jauh dalam waktu lama memang membuat tubuh terasa sangat haus.Sekarang malah menyaksikan adegan ini secara langsung, rasa geli itu terasa menusuk sampai ke tulang.Anak muda zaman sekarang benar-benar liar, begitu tak sabaran, bahkan berani melakukannya di depan orang asing sepertiku.Leo terus mengelus kedua gumpalan kenyal itu bergantian, lalu wajahnya menunjukkan raut bingung. “Eh? Kok ukuran keduanya berbeda? Rasanya yang sebelah kiri lebih kecil.”Fiona memegang kedua gumpalan dadanya sendiri dengan kedua tangan, lalu mulai menimbangnya.“Sembarangan saja! Bukannya yang kiri dan kanan ini sama besarnya?”“Yang kiri jelas lebih kecil.”“Sembarangan! Jelas-jelas sama besar.”“….”Lama-kelamaan, mereka berdua malah meributkan hal itu.Aku yang berada di samping tak bisa ikut campur, jadi memilih untuk tetap fokus menyetir.Namun, Fiona tiba-tiba menyenggolku dan berkata, “Om, coba kamu pegang, keduanya sama besar, ‘kan?”Mendengar itu, aku langsung membeku. Ras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status