Home / Romansa / Tunangan Kontrak Sang CEO / Bab 6 — Kencan Publik, Bocoran Lokasi, dan Bayang-Bayang Adela

Share

Bab 6 — Kencan Publik, Bocoran Lokasi, dan Bayang-Bayang Adela

Author: Wildan
last update Last Updated: 2025-08-21 12:13:16

Kafe Menteng meneteskan efeknya ke dunia maya seperti kopi yang merembes melalui kertas filter. Dalam satu jam, tagar #MahendraDate mengambang di trending. Ada yang iri, ada yang sinis, ada yang membuat fan-cam Arga menatap cincin di jari Naya. PR menyebutnya good noise. Bagi Naya, bunyi itu masih terdengar seperti bel alarm.

Di kantor, war room menampilkan sentiment graph yang condong ke hijau. “Kita perlu follow-up narasi,” kata Karina, menunjuk papan ide. “Konten ‘hari kerja bareng tunangan CEO’: humanis, low-key, behind-the-scenes.”

“Bocoran lokasi tadi terlalu cepat,” sela Naya. “Siapa pun yang mengirimkannya, gerakannya langsung dari sistem dalam.”

Arga menatap layar. “Kita nyalakan tripwire. Setiap akses kalender eksekutif dikloning, sistem memberi tanda.”

Luki, yang entah sejak kapan sudah berdiri di pojok ruangan, mengangkat alis. “Ide bagus. Aku akan minta timku—”

“Biar tim IT pusat,” potong Arga. “Konflik kepentingan.”

Senyum Luki tak berubah. “Tentu.”

Sore harinya, Arga menjadwalkan media walk kedua: bukan kafe, melainkan toko buku independen yang punya ruang acara kecil. “Kita butuh ‘cerita normal’,” katanya. “Beli buku, sumbang untuk program literasi. Low controversy, high warmth.”

Naya, yang dua jam terakhir menonton ulang rekaman tali merah, menyetujui. “Boleh. Tapi aku minta dua pengawal tambahan—pintu belakang.”

“Sudah diatur.”

Toko buku itu wangi kertas tua. Lampu kuningnya menghias rambut Naya menjadi madu. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong buku, berhenti di bagian leadership. Arga mengambil sebuah judul tentang crisis communication. “Ironi,” katanya datar.

Naya menggenggam punggung buku tipis berjudul Small Acts of Courage. “Kau harus mulai dari bab satu,” ia menepuk sampul. “Menerima bahwa kamu kadang salah.”

Mata Arga menoleh sekilas—ada humor kecil yang jarang muncul. “Aku sudah sampai bab dua.”

Tawa Naya lahir lebih mudah dari yang ia duga. Kamera ponsel meminta bagian. Mereka melambaikan tangan, santai terukur. Lalu—bunyi ping di ponsel Arga membuat jeda. Pesan muncul di layar, nama pengirim terpampang jelas: Adela.

Naya melihat, bukan mengintip—layar terlalu terang untuk tidak terlihat. “Dia menghubungi?”

Arga menutup ponsel. “Investor rujukan. Akan kubalas nanti.”

Seorang MC mini acara toko memanggil mereka ke panggung kecil. Arga berbicara ringkas tentang literasi dan masa depan tenaga kerja. Naya menambahkan satu paragraf tentang buku-buku yang disediakan bagi anak-anak pabrik. Sederhana, manusiawi. Tepuk tangan hangat.

Setelah acara, di back room sempit, Naya berhadapan dengan Adela—bukan kebetulan. Gaun krem, perhiasan minimal, senyum yang tahu kapan harus tumbuh. “Selamat,” kata Adela lembut, matanya menilai cincin Naya. “Kamu bergerak cepat, Arga.”

“Adela,” sahut Arga datar, “Ini bukan tempat—”

“Tempat apa pun bisa jadi panggung, kalau penontonnya ada,” potong Adela. Ia menoleh ke Naya. “Aku investor rujukan. Itu salah satu alasanku kembali. Yang lain… sejarah.”

“Sejarah tidak menandatangani term sheet,” balas Naya. “Investor rujukan melakukannya.”

Adela tersenyum tipis. “Berani juga.” Ia melangkah lebih dekat pada Arga, suaranya turun setengah oktaf. “Aku masih punya akses ke dua dana Eropa. Mereka suka kepastian. Dan kepastian tidak terlihat seperti—” matanya menelusur cincin “—ini.”

Arga membuka mulut, tapi Naya mendahului. “Kepastian terlihat seperti governance yang tegas. Anda ingin lihat? Hadir saja di rapat dewan berikutnya. Kursi peninjau untuk sponsor tersedia.”

Adela berhenti sesaat—tidak menyangka. “Kau mengundangku menilai pekerjaaanmu?”

“Menilai pekerjaan kami,” koreksi Naya, lalu menatap Arga. “Kalau Pak CEO setuju.”

Arga menahan seperempat detik, lalu mengangguk. “Kirim undangan.”

Adela merapikan tas. “Sampai jumpa, Miss Small Acts of Courage.” Ia pergi, meninggalkan jejak parfum yang terlalu cantik untuk diingat.

Dalam mobil, keheningan duduk di antara mereka. Akhirnya Arga berkata, “Kau tidak harus—”

“Harus,” potong Naya. “Kalau dia mau bermain di panggung, kita tulis naskahnya.”

Malamnya, di apartemen, Naya membuka paket kurir yang tadi ia terima: tali merah tipis, simpul rapi, kartu kecil: Kamu melihatku. Ia membalik kartu. Ada noda tinta—angka 7 seperti kail.

Ia membuka daftar staf keuangan. Rafi—magang—tempat duduk 7B. Ia menelusuri profil internal: kuliah malam, beasiswa internal, mentor: Luki.

Sebelum Naya sempat menelepon Arga, layar ponselnya dipenuhi panggilan. Media alert: “Lokasi tunangan CEO baru bocor—lagi.” Foto dari kamera CCTV gang belakang toko buku—yang hanya staf tahu—muncul di timeline.

“Tripwire kita gagal?” Naya mengirim pesan cepat.

“Tidak,” balas Arga. “Tripwire menyala. Akses kalender eksekutif dikloning dari perangkat: FIN-RAFI-07B.”

Jari Naya mendingin. Ia menekan panggilan.

“Jangan lakukan apa pun sendiri,” suara Arga mendahului salam. “Aku jemput.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 220 — Dukungan yang Naik Senyap, Dua Micro-Fund yang Berpindah, dan Barter Berwangi Ethos

    Pagi hari, IR menyalakan panel consent seperti membuka tirai jendela pada pukul tujuh: cahaya tidak meledak, tetapi masuk. Di layar, conversion ritel menanjak setelah Museum Dokumen menjadi ruang tamu banyak orang. Pertanyaan yang masuk ke Proxy Rescue Desk semakin presisi: “Apakah opt-out saya tercatat?”; “Bagaimana saya menyimpan receipt checksum?”; “Apa kaitan recusal dengan suara saya?” Rendra mencatat: lebih sedikit kebingungan, lebih banyak kehendak. Menjelang siang, kabar kecil yang berat jatuh ke meja: dua micro-fund—keduanya selama ini menghindari sorot—bergeser mendukung paket governance by calendar kalian. Mereka mengirim pernyataan pendek: “Kami tidak berinvestasi pada poster. Kami berinvestasi pada pagar.” Acting CFO tersenyum untuk pertama kali hari itu. “Kalimat yang bisa dicetak pada faktur,” katanya. Di Museum Dokumen, Sinta memperbarui etalase “Arti Akronim”, menambahkan ilustrasi kecil alur persetujuan preset berdasarkan minutes rapat

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 219 — Surat yang Mengunci Laci, Tanggal yang Meminta Disiplin

    Pagi dimulai dengan pekerjaan yang tidak menghasilkan cuplikan dramatis, tetapi menentukan jalur: surat spoliation hold. Laila duduk di meja panjang, lampu neon di atas kepala memantulkan putih yang jujur pada kertas. Ia menulis dua surat utama—satu kepada Aurelia, satu kepada Seraphine—dengan tembusan ke counsel eksternal mereka. Isi inti: segera hentikan penghapusan/pengubahan data terkait proyek dan materi yang relevan; amankan arsip digital/fisik; beku akses admin kecuali untuk tim forensik yang terdaftar; catat setiap interaksi file dalam log; kirim laporan chain-of-custody 24 jam sekali. “Kita tidak menuduh di sini,” katanya pada tim. “Kita mencegah kehilangan jejak. Hilang = mahal.” Bagas menempelkan lampiran: daftar hash berkas yang sudah kalian miliki, agar pihak penerima tahu batas pagar kalian, bukan untuk gertak, melainkan agar tak ada yang berpura-pura lupa. Inez menambah diagram jalur VPS—relay ke relay—dengan tanggal yang terikat pada minutes komite A.D

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 218 — Saksi Tua yang Menekan Tombol, Akronim yang Menjadi Kompas

    Studio independen itu kecil, temboknya dilapisi busa akustik yang mulai menguning, dan lampu softbox menebar cahaya yang tidak berambisi memutihkan siapa pun. Laila memilih tempat ini sengaja—bukan karena murah, melainkan karena netral. “Kita tidak perlu panggung yang mengundang tepuk tangan,” katanya pada kru. “Kita perlu ruangan yang membuat orang mau mendengar.” Saksi tua—mantan editor 1999 yang kemarin membuka kunci cadangan lemari besi—duduk rapi dengan jas abu-abu yang kebesaran setengah nomor. Tangannya bergetar kecil ketika teknisi memasang lav mic, tapi tatapannya jernih. Sinta menyiapkan lower-third sederhana: Saksi Tua (Editor, 1999)—tanpa nama lengkap demi keselamatan.Siaran dibuka tanpa musik. Pembawa acara, yang sengaja dipilih karena gaya bertanyanya datar, memberi salam singkat lalu mundur setengah langkah. “Pak, kami tidak mencari drama,” ujarnya. “Kami mencari urutan.” Saksi mengangguk. Nafasnya pelan, seperti orang yang akan menyebutkan tiga hal penting

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 217 — Museum Dokumen, Kebosanan yang Disengaja, dan Wawancara yang Mengaku Lupa

    Pagi berikutnya, Sinta meluncurkan Museum Dokumen—bukan gedung virtual yang berkilau, melainkan etalase read-only dengan checksum publik di setiap sudut. Tampilan beranda seperti halaman catatan seorang akuntan: kolom tanggal, jenis dokumen, hash, dan tautan verifikasi. Di atas semuanya, sebuah kalimat yang menolak menjadi slogan: “Silakan bosan. Bosan adalah tanda Anda membaca.” Tim tertawa kecil; kemudian sibuk mengirimkan tautan.Koleksi perdana dipilih seperti kurasi pameran fotografi yang menolak warna: tech brief Inez (versi ringkas), recusal log yang disunting untuk kerahasiaan, potongan status page historis, dan appendix saksi yang tidak menampilkan wajah. Di pojok kanan, Sinta menambahkan “Tur Pendek”: tiga langkah untuk warga ritel—membuka dokumen, memindai QR verifikasi, menyimpan receipt digital. “Kalau orang punya receipt,” katanya, “gosip kehilangan gigi.”Respons awal tidak heboh—dan itu bagus. Time on page panjang, bounce rate rendah, komentar sedik

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 216 — Stay Sementara, Mesin Kolektif, dan Ambang Pertama

    Pagi itu, notifikasi yang ditunggu-tunggu turun seperti hujan rintik yang memadamkan debu: stay sementara atas hasil RUPS. Bahasa pengadilan tidak pernah teatrikal; kalimatnya lurus dan dingin, justru karena itu menenangkan. Poin-poinnya jelas: keputusan yang bersandar pada materi manipulatif tidak boleh dieksekusi, operasi perusahaan tetap berjalan sesuai status page, dan fungsi-fungsi setara CEO bisa dijalankan kolektif oleh tim eksekutif hingga pemeriksaan tuntas. Tidak ada mahkota yang kembali terpasang; yang ada adalah runbook yang menjadi raja sementara.Arga membaca dua kali, lalu menutup berkas. “Kursi tunggal tetap kosong di panggung,” katanya, “tapi kursi kerja tidak boleh ada yang kosong.” Ia mengumpulkan para kepala fungsi ke war room. Di papan, ia menggambar tiga lingkaran saling bertumpu: Operasi, Hukum, Suara. “Untuk operasi,” ia menunjuk Acting CFO, “kamu first among equals di signatory matrix—dual sign tetap. Publik hanya melihat jam dinding; kita yang mema

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 215 — Tiga Panel, Satu Jembatan

    Keheningan di ruang sidang terasa seperti kain tebal. Hakim ketua membuka kertas tipis tanpa efek dramatis. “Atas bahan yang diajukan, Pengadilan Banding menyimpulkan bahwa terdapat fakta teknis yang cukup colorable untuk mempertimbangkan interim relief. Kami tidak memutus pokok perkara hari ini, namun kami menetapkan pagar sementara: (1) keputusan yang bergantung pada manipulasi media tidak boleh dieksekusi hingga verifikasi selesai; (2) pelaksanaan operasional perusahaan tetap lanjut sesuai status page; (3) komunikasi kepada pemegang saham harus menyertakan recusal log dan tautan read-only bukti teknis.”Kata-kata itu tidak memukul genderang; kata-kata itu menurunkan suhu. Laila mengangguk kecil. Acting CFO menuliskan tiga butir tersebut ke dalam runbook transisi—distribusi internal siap pukul 16.00. Inez menutup laptop, merasakan lega yang tidak riuh; tiga panel yang ia bawa—splice, LUT & gate, timecode drift—telah cukup untuk menata ulang meja. Sinta mengetik pesan satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status