Home / Romansa / Tunangan Kontrak Sang CEO / Bab 7 — Pabrik, CSR, dan Kartu Undangan ke Perang Kecil

Share

Bab 7 — Pabrik, CSR, dan Kartu Undangan ke Perang Kecil

Author: Wildan
last update Last Updated: 2025-08-21 12:14:07

Keesokan paginya, agenda sudah menunggu: kunjungan pabrik untuk peluncuran tahap pertama GreenShift. Kamera internal dan beberapa media bisnis akan hadir. “Kita butuh cerita lapangan,” ujar Karina. “Orang-orang, bukan hanya angka.”

Naya setuju. Pabrik udara bersih, helikopter kata-kata besar kadang mendarat terlalu lama di langit-langit gedung kaca. Di tanah, cerita lebih jujur. Ia memeriksa daftar peserta, mencari satu nama. Rafi tidak ada—sick leave mendadak. Catatan HR: “Demam.”

Arga menyuruh security mengawasi apartemen Naya selama mereka turun ke lapangan. Lemari kerja yang berantakan sudah didokumentasikan. Tidak ada yang hilang, kecuali selembar post-it dari planner Naya: “B3/02:13 — tali merah.” Kecuali pelakunya ingin meninggalkan pesan bahwa ia selalu satu langkah di depan.

Bus perusahaan meluncur menuju pabrik di pinggiran kota. Saat tiba, bau logam, oli, dan kopi karyawan menyambut. Naya menyapa satu per satu perwakilan serikat. “Program pelatihan ulang akan fokus ke energi terbarukan,” jelasnya. “Ada kelas akhir pekan untuk yang punya anak kecil.”

Seorang perempuan dengan helm biru bertanya, “Ibu yakin tidak ada PHK?”

Naya menatapnya, tidak menutupi jeda. “Yakin bahwa kami akan melakukan ini dengan bermartabat. Kalau ada penyesuaian, itu akan disampaikan jujur dan diberikan jalan alternatif.”

Arga berdiri setengah meter di belakang, mendengarkan. Ketika seorang reporter bisnis melayangkan pertanyaan tentang biaya, Arga menjawab dengan angka; ketika seorang karyawan bertanya tentang transport, Naya menjawab dengan rute. Dua suara, satu pesan.

Di sela walkthrough, seorang pria berpakaian rapi tetapi tidak memakai helm—jelas tamu, bukan pekerja—berdiri di bayang-bayang gudang. Senyum manis, kemeja tanpa cela. Dimas.

“Naya,” sapanya, seolah mereka bertemu di co-working santai, bukan di tengah medan reputasi yang terbakar. “Kau tampak sibuk menyelamatkan dunia.”

“Ada yang harus diselamatkan,” jawab Naya. “Kadang dari orang yang menyalakan apinya.”

Dimas terkekeh. “Tuduhan berat.” Ia beralih ke Arga, sopan, hampir hormat. “Pak Mahendra. Selamat untuk programnya. Kompetitor yang baik selalu saling mendorong untuk lebih baik, bukan?”

“Kompetitor yang baik tidak menguntit stafku,” balas Arga dingin.

Dimas mengangkat tangan, seolah menyerah. “Aku hanya kebetulan diundang oleh rekan serikat untuk melihat. Transparansi itu baik.” Matanya kembali ke Naya. “Ngomong-ngomong, aku menemukan sesuatu di dark corner internet. Bukti kecil tentang skema ghost vendor yang melibatkan… bagian keuangan kalian.”

Naya merasa udara mengeras. “Bukti itu gratis?”

“Tidak ada yang gratis. Tapi untukmu, harga khusus: sebuah kopi di atap gedungmu malam ini.” Senyumnya menyala. “Bawa keadilan, dapatkan kebenaran.” Ia menyelipkan kartu undangan kecil ke tangan Naya—kertas hitam dengan tulisan perak: Rooftop, 22.00.

Arga mengambil kartu itu dari tangan Naya tanpa permisi, merobeknya jadi dua. “Kalau kau punya bukti, kirim ke whistleblower channel kami. Anonim. Audit akan tindak.”

“Aduh,” Dimas menepuk dada, “romantis sekali menjaga. Tapi kau lupa, Pak: kadang kebenaran malu-malu. Ia muncul ketika hanya satu orang yang menunggu.” Tatapannya kembali jatuh ke Naya, sekelebat lebih lembut dari yang pantas. “Aku akan tetap di atap. Kalau tidak datang, aku akan anggap kamu percaya pada sistem yang menggaji para serigalanya.”

Dimas pergi, menyisakan aroma cologne dan rasa ingin melempar kartu undangan yang sudah jadi serpihan.

Siang itu, peluncuran berlangsung mulus. Kamera menangkap senyum jujur para pekerja. Naya merasakan sesuatu yang langka: harap. Ia menuliskan nama-nama untuk dijadikan case study—Suci yang ingin jadi teknisi, Fajar yang ingin pindah ke maintenance solar.

Sebelum pulang, seorang mandor menarik Naya ke samping. “Mbak, ada rumor yang memulai kekacauan pabrik minggu lalu. Katanya dari orang Varuna yang infiltrasi group W******p kami. Nama user ‘RedString’.”

Darah Naya mendingin. “Tali merah,” gumamnya.

Malamnya, di kantor, tim IT mengirim pembaruan: perangkat FIN-RAFI-07B memicu tripwire kedua, mencoba mengakses kalender Arga jam 21.13. Lokasi: guest Wi-Fi lounge lantai 5. Bukan area keuangan.

“Umpan,” kata Arga. “Atau seseorang memegang perangkat Rafi.”

“Rafi masih sakit?” tanya Naya pada HR lewat chat.

“Tidak di rumah. Orang tuanya bilang: ‘dia keluar sebentar beli obat, belum kembali’.”

Naya menatap jam. 21.45. Angin di atap gedung selalu bersekutu dengan orang yang ingin merasa berani. Ia mengetik pesan ke Arga: “Aku akan ke atap. Tapi kita pasang mata di tiga titik.”

Balasannya datang dua detik kemudian. “Aku sudah di lift.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 220 — Dukungan yang Naik Senyap, Dua Micro-Fund yang Berpindah, dan Barter Berwangi Ethos

    Pagi hari, IR menyalakan panel consent seperti membuka tirai jendela pada pukul tujuh: cahaya tidak meledak, tetapi masuk. Di layar, conversion ritel menanjak setelah Museum Dokumen menjadi ruang tamu banyak orang. Pertanyaan yang masuk ke Proxy Rescue Desk semakin presisi: “Apakah opt-out saya tercatat?”; “Bagaimana saya menyimpan receipt checksum?”; “Apa kaitan recusal dengan suara saya?” Rendra mencatat: lebih sedikit kebingungan, lebih banyak kehendak. Menjelang siang, kabar kecil yang berat jatuh ke meja: dua micro-fund—keduanya selama ini menghindari sorot—bergeser mendukung paket governance by calendar kalian. Mereka mengirim pernyataan pendek: “Kami tidak berinvestasi pada poster. Kami berinvestasi pada pagar.” Acting CFO tersenyum untuk pertama kali hari itu. “Kalimat yang bisa dicetak pada faktur,” katanya. Di Museum Dokumen, Sinta memperbarui etalase “Arti Akronim”, menambahkan ilustrasi kecil alur persetujuan preset berdasarkan minutes rapat

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 219 — Surat yang Mengunci Laci, Tanggal yang Meminta Disiplin

    Pagi dimulai dengan pekerjaan yang tidak menghasilkan cuplikan dramatis, tetapi menentukan jalur: surat spoliation hold. Laila duduk di meja panjang, lampu neon di atas kepala memantulkan putih yang jujur pada kertas. Ia menulis dua surat utama—satu kepada Aurelia, satu kepada Seraphine—dengan tembusan ke counsel eksternal mereka. Isi inti: segera hentikan penghapusan/pengubahan data terkait proyek dan materi yang relevan; amankan arsip digital/fisik; beku akses admin kecuali untuk tim forensik yang terdaftar; catat setiap interaksi file dalam log; kirim laporan chain-of-custody 24 jam sekali. “Kita tidak menuduh di sini,” katanya pada tim. “Kita mencegah kehilangan jejak. Hilang = mahal.” Bagas menempelkan lampiran: daftar hash berkas yang sudah kalian miliki, agar pihak penerima tahu batas pagar kalian, bukan untuk gertak, melainkan agar tak ada yang berpura-pura lupa. Inez menambah diagram jalur VPS—relay ke relay—dengan tanggal yang terikat pada minutes komite A.D

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 218 — Saksi Tua yang Menekan Tombol, Akronim yang Menjadi Kompas

    Studio independen itu kecil, temboknya dilapisi busa akustik yang mulai menguning, dan lampu softbox menebar cahaya yang tidak berambisi memutihkan siapa pun. Laila memilih tempat ini sengaja—bukan karena murah, melainkan karena netral. “Kita tidak perlu panggung yang mengundang tepuk tangan,” katanya pada kru. “Kita perlu ruangan yang membuat orang mau mendengar.” Saksi tua—mantan editor 1999 yang kemarin membuka kunci cadangan lemari besi—duduk rapi dengan jas abu-abu yang kebesaran setengah nomor. Tangannya bergetar kecil ketika teknisi memasang lav mic, tapi tatapannya jernih. Sinta menyiapkan lower-third sederhana: Saksi Tua (Editor, 1999)—tanpa nama lengkap demi keselamatan.Siaran dibuka tanpa musik. Pembawa acara, yang sengaja dipilih karena gaya bertanyanya datar, memberi salam singkat lalu mundur setengah langkah. “Pak, kami tidak mencari drama,” ujarnya. “Kami mencari urutan.” Saksi mengangguk. Nafasnya pelan, seperti orang yang akan menyebutkan tiga hal penting

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 217 — Museum Dokumen, Kebosanan yang Disengaja, dan Wawancara yang Mengaku Lupa

    Pagi berikutnya, Sinta meluncurkan Museum Dokumen—bukan gedung virtual yang berkilau, melainkan etalase read-only dengan checksum publik di setiap sudut. Tampilan beranda seperti halaman catatan seorang akuntan: kolom tanggal, jenis dokumen, hash, dan tautan verifikasi. Di atas semuanya, sebuah kalimat yang menolak menjadi slogan: “Silakan bosan. Bosan adalah tanda Anda membaca.” Tim tertawa kecil; kemudian sibuk mengirimkan tautan.Koleksi perdana dipilih seperti kurasi pameran fotografi yang menolak warna: tech brief Inez (versi ringkas), recusal log yang disunting untuk kerahasiaan, potongan status page historis, dan appendix saksi yang tidak menampilkan wajah. Di pojok kanan, Sinta menambahkan “Tur Pendek”: tiga langkah untuk warga ritel—membuka dokumen, memindai QR verifikasi, menyimpan receipt digital. “Kalau orang punya receipt,” katanya, “gosip kehilangan gigi.”Respons awal tidak heboh—dan itu bagus. Time on page panjang, bounce rate rendah, komentar sedik

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 216 — Stay Sementara, Mesin Kolektif, dan Ambang Pertama

    Pagi itu, notifikasi yang ditunggu-tunggu turun seperti hujan rintik yang memadamkan debu: stay sementara atas hasil RUPS. Bahasa pengadilan tidak pernah teatrikal; kalimatnya lurus dan dingin, justru karena itu menenangkan. Poin-poinnya jelas: keputusan yang bersandar pada materi manipulatif tidak boleh dieksekusi, operasi perusahaan tetap berjalan sesuai status page, dan fungsi-fungsi setara CEO bisa dijalankan kolektif oleh tim eksekutif hingga pemeriksaan tuntas. Tidak ada mahkota yang kembali terpasang; yang ada adalah runbook yang menjadi raja sementara.Arga membaca dua kali, lalu menutup berkas. “Kursi tunggal tetap kosong di panggung,” katanya, “tapi kursi kerja tidak boleh ada yang kosong.” Ia mengumpulkan para kepala fungsi ke war room. Di papan, ia menggambar tiga lingkaran saling bertumpu: Operasi, Hukum, Suara. “Untuk operasi,” ia menunjuk Acting CFO, “kamu first among equals di signatory matrix—dual sign tetap. Publik hanya melihat jam dinding; kita yang mema

  • Tunangan Kontrak Sang CEO   Bab 215 — Tiga Panel, Satu Jembatan

    Keheningan di ruang sidang terasa seperti kain tebal. Hakim ketua membuka kertas tipis tanpa efek dramatis. “Atas bahan yang diajukan, Pengadilan Banding menyimpulkan bahwa terdapat fakta teknis yang cukup colorable untuk mempertimbangkan interim relief. Kami tidak memutus pokok perkara hari ini, namun kami menetapkan pagar sementara: (1) keputusan yang bergantung pada manipulasi media tidak boleh dieksekusi hingga verifikasi selesai; (2) pelaksanaan operasional perusahaan tetap lanjut sesuai status page; (3) komunikasi kepada pemegang saham harus menyertakan recusal log dan tautan read-only bukti teknis.”Kata-kata itu tidak memukul genderang; kata-kata itu menurunkan suhu. Laila mengangguk kecil. Acting CFO menuliskan tiga butir tersebut ke dalam runbook transisi—distribusi internal siap pukul 16.00. Inez menutup laptop, merasakan lega yang tidak riuh; tiga panel yang ia bawa—splice, LUT & gate, timecode drift—telah cukup untuk menata ulang meja. Sinta mengetik pesan satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status