LOGINParkiran B3 seperti perut gedung: dingin, lembap, gema langkah memantul seperti napas panjang. Karina berdiri di bawah lampu kuning yang berkelip, memegang flash disk seukuran kuku jempol. Arga berdiri setengah langkah di depan Naya—posisi protektif yang tidak ia sadari, atau pura-pura tidak.
“Dari mana kamu dapat itu?” Arga membuka percakapan datar.
“Teman di keamanan,” jawab Karina, mengangkat flash disk tanpa mendekat. “Aku tahu prosedurnya. Makanya aku tidak pasang ke apa pun. Kita bawa ke forensic saja.”
“Isi?” tanya Naya.
“Potongan log akses ruang PR dan rekaman kamera koridor jam 02.00–02.30.” Karina menatap Naya sepersekian detik. “Kamu tidak sendirian di lantai itu semalam.”
Arga memberi isyarat ke salah satu anggota security detail yang menunggu di bayangan pilar. “Bawa ke lab. Chain of custody mulai dari sini.” Petugas memasukkan flash disk ke amplop bukti, menempelkan segel, meminta tanda tangan Karina. Ketat. Dingin. Nyata.
“Kenapa kamu memanggilnya di sini, Karina? Kenapa bukan lewat kanal resmi?” tanya Arga.
“Karena kanal resmi bocor,” jawab Karina. “Dan karena seseorang di lantai 43 suka memutarbalikkan niat baik.” Tatapannya tidak menuduh, tapi jelas bukan kosong.
Naya maju setengah langkah. “Kamu mencurigai siapa?”
Karina menggeleng pelan. “Yang pasti… pelakunya kidal. Lihat di still image nanti—dia memegang kartu akses di tangan kiri. Dan ada gelang.”
“Gelang?”
“Tali merah tipis di pergelangan. Bukan gelang resmi akses.”
Arga dan Naya bertukar pandang singkat. Tali merah. Naya pernah melihat kilau merah itu di mana? Ingatannya menari di tepi sadar.
Mereka kembali ke lantai 43. Tim IT forensic sudah siap seperti kru film, hanya saja bintang mereka adalah kabel dan hash. Di ruang kecil berlampu putih, analis memproyeksikan rekaman.
Koridor PR, jam 02.08. Sebuah bayangan melintas, hoodie gelap, masker, langkah mantap. Tangan kiri mengangkat kartu akses. Gagang pintu berbunyi klik. Freeze frame. Perbesar. Di pergelangan tangan: tali merah sederhana, simpulnya kecil, menjuntai separuh sentimeter.
“Gelang keberuntungan,” gumam seorang staf. “Banyak yang pakai.”
“Tidak di lantai 43,” potong Arga.
Rekaman kedua: jam 02.13. Kursi Naya. Laci terbuka. Bayangan duduk, menyambungkan sesuatu ke laptop. Wajah tetap dalam bayang. Bahu ramping, tapi bukan jaminan. Freeze.
“Bawa laptopnya,” perintah Arga. Petugas security mengantar laci Naya—seluruhnya—ke lab kecil. Segel dipecah. IT membuka perangkat, memindai port, menemukan bekas gores mikro di USB-A.
“Jejak media eksternal,” kata analis. “Ada implant skrip sederhana—rekam keystroke dan ambil session token. Non-persistent. Pintar.”
“Bisa dilacak?” tanya Naya.
“Sedikit. Kami lihat handshake ke alamat internal sebelum ‘meloncat’ ke luar. Ada kemungkinan pivot lewat mesin lain… bagian keuangan.”
Bahu Naya merosot lalu tegak lagi. “Bagian keuangan? Itu domainnya Luki.”
Seolah dipanggil, Luki muncul di ambang pintu lab, senyum hangat default. “Apa yang bisa kubantu?”
Arga menoleh sepersepuluh detik, cukup untuk memasang pagar tak terlihat. “Kami akan memberi tahu kalau perlu.”
Luki menatap layar—mengangguk lambat. Di pergelangan kirinya, jam besi berkilat. Tidak ada tali merah. “Hati-hati dengan asumsi,” ucapnya tenang, lalu pamit.
Usai pemeriksaan awal, Arga berbalik ke Naya. “Kau ikut denganku.”
“Mau ke mana?”
“Media walk. Kencan publik pertama. Hari ini.”
Naya membatu. “Sekarang?”
“Sekarang. Kita butuh narasi baru untuk menekan rumor APEX. Lokasi akan kita pilih agar aman tapi cukup ‘terlihat’.” Arga menatap jam. “Tigapuluh menit.”
Karina menahan Naya sebelum ia pergi. “Hati-hati di luar. Lokasi kencan seperti itu… kalau sudah bocor sekali, akan bocor lagi.”
“Siapa yang membocorkan?”
“Kalau aku tahu,” Karina menatap lurus, “aku tidak akan memanggil kalian ke parkiran.”
—
Mereka tiba di sebuah kafe tua di Menteng—heritage, jendela besar, tanaman rambat, tempat favorit pasangan yang ingin terlihat tanpa terlihat. Tim kecil security menempati dua meja belakang. Seorang fotografer lifestyle yang “kebetulan” lewat mengambil tempat di trotoar seberang.
“Pegang cangkir dengan tangan kanan,” bisik Arga, suaranya rendah. “Cincin akan terlihat natural.”
“Cincin ini beratnya seperti satu rapat dewan,” balas Naya setengah bercanda.
Sebuah ponsel mengangkat di sudut. Flash kecil. Detik berikutnya, notifikasi meledak di ponsel Naya: spotted: CEO dingin & tunangan misterius di Menteng. Hastag lahir tanpa bidan.
“Tenang,” ucap Arga tanpa menoleh. “Ingat latihan.”
Seorang reporter infotainment, entah dari mana, sudah berdiri di dekat meja. “Pak Arga, Mbak Naya, sedikit komentar? Apa ini cinta lokasi?”
Naya meletakkan cangkir. Tangan tidak gemetar. “Kami berterima kasih atas atensi publik,” katanya, mengulang musik yang sudah ia hafal, tapi ia tambahkan satu nada miliknya: “Namun tolong beri ruang untuk bekerja. Ada ribuan karyawan yang menunggu kabar baik dari merger ini.”
Reporter mencoba menusuk: “Jadi ini demi merger?”
Arga menoleh, tajam namun hangat. “Demi perusahaan. Dan demi masa depan yang kita bangun bersama.” Matanya sebentar jatuh ke cincin di jari Naya. Kamera menangkap itu.
Kencan berakhir sesuai naskah. Mereka kembali ke mobil, kaca gelap menelan bayangan.
Di perjalanan, ponsel Naya bergetar lagi. Email anonim. Subjek: Kontrakmu cantik. Pasal 12 lebih cantik. Lampiran: scan halaman penalti, dengan spidol merah melingkari angka besar.
“Jangan balas,” kata Arga otomatis.
“Aku tidak akan,” gumam Naya. Tapi ada lampiran kedua—foto lama: Arga dan Adela, berdiri di karpet merah sebuah acara amal. Arga mengenakan tuksedo. Adela menatap kamera seolah itu adalah cermin miliknya sendiri.
“Ini…” Naya menahan pertanyaan yang belum memiliki bentuk.
Arga menatap foto sekilas. “Arsip. Tidak relevan.”
“Tapi relevan untuk orang yang ingin memancing.” Naya menyandarkan kepala. Tiba-tiba ingat: tali merah. Ia pernah melihatnya saat briefing kemarin, di pergelangan seorang staff keuangan magang yang membawakan print-out ke ruang rapat. Nama di badge: Rafi. Kid—kid… kidal? Naya melihat kembali potongan memori: Rafi selalu mengapit map di tangan kanan, menyodorkan pen dengan kiri.
“Pak, aku butuh daftar staf keuangan sementara yang bertugas malam—”
“Sudah diminta,” potong Arga. “Dan kita akan bertemu mereka setelah ini.”
Naya menatap pantulan dirinya di jendela mobil—cincin, mata yang menolak redup, dan sebuah tali cerita yang baru saja menarik simpul.
Pagi hari, IR menyalakan panel consent seperti membuka tirai jendela pada pukul tujuh: cahaya tidak meledak, tetapi masuk. Di layar, conversion ritel menanjak setelah Museum Dokumen menjadi ruang tamu banyak orang. Pertanyaan yang masuk ke Proxy Rescue Desk semakin presisi: “Apakah opt-out saya tercatat?”; “Bagaimana saya menyimpan receipt checksum?”; “Apa kaitan recusal dengan suara saya?” Rendra mencatat: lebih sedikit kebingungan, lebih banyak kehendak. Menjelang siang, kabar kecil yang berat jatuh ke meja: dua micro-fund—keduanya selama ini menghindari sorot—bergeser mendukung paket governance by calendar kalian. Mereka mengirim pernyataan pendek: “Kami tidak berinvestasi pada poster. Kami berinvestasi pada pagar.” Acting CFO tersenyum untuk pertama kali hari itu. “Kalimat yang bisa dicetak pada faktur,” katanya. Di Museum Dokumen, Sinta memperbarui etalase “Arti Akronim”, menambahkan ilustrasi kecil alur persetujuan preset berdasarkan minutes rapat
Pagi dimulai dengan pekerjaan yang tidak menghasilkan cuplikan dramatis, tetapi menentukan jalur: surat spoliation hold. Laila duduk di meja panjang, lampu neon di atas kepala memantulkan putih yang jujur pada kertas. Ia menulis dua surat utama—satu kepada Aurelia, satu kepada Seraphine—dengan tembusan ke counsel eksternal mereka. Isi inti: segera hentikan penghapusan/pengubahan data terkait proyek dan materi yang relevan; amankan arsip digital/fisik; beku akses admin kecuali untuk tim forensik yang terdaftar; catat setiap interaksi file dalam log; kirim laporan chain-of-custody 24 jam sekali. “Kita tidak menuduh di sini,” katanya pada tim. “Kita mencegah kehilangan jejak. Hilang = mahal.” Bagas menempelkan lampiran: daftar hash berkas yang sudah kalian miliki, agar pihak penerima tahu batas pagar kalian, bukan untuk gertak, melainkan agar tak ada yang berpura-pura lupa. Inez menambah diagram jalur VPS—relay ke relay—dengan tanggal yang terikat pada minutes komite A.D
Studio independen itu kecil, temboknya dilapisi busa akustik yang mulai menguning, dan lampu softbox menebar cahaya yang tidak berambisi memutihkan siapa pun. Laila memilih tempat ini sengaja—bukan karena murah, melainkan karena netral. “Kita tidak perlu panggung yang mengundang tepuk tangan,” katanya pada kru. “Kita perlu ruangan yang membuat orang mau mendengar.” Saksi tua—mantan editor 1999 yang kemarin membuka kunci cadangan lemari besi—duduk rapi dengan jas abu-abu yang kebesaran setengah nomor. Tangannya bergetar kecil ketika teknisi memasang lav mic, tapi tatapannya jernih. Sinta menyiapkan lower-third sederhana: Saksi Tua (Editor, 1999)—tanpa nama lengkap demi keselamatan.Siaran dibuka tanpa musik. Pembawa acara, yang sengaja dipilih karena gaya bertanyanya datar, memberi salam singkat lalu mundur setengah langkah. “Pak, kami tidak mencari drama,” ujarnya. “Kami mencari urutan.” Saksi mengangguk. Nafasnya pelan, seperti orang yang akan menyebutkan tiga hal penting
Pagi berikutnya, Sinta meluncurkan Museum Dokumen—bukan gedung virtual yang berkilau, melainkan etalase read-only dengan checksum publik di setiap sudut. Tampilan beranda seperti halaman catatan seorang akuntan: kolom tanggal, jenis dokumen, hash, dan tautan verifikasi. Di atas semuanya, sebuah kalimat yang menolak menjadi slogan: “Silakan bosan. Bosan adalah tanda Anda membaca.” Tim tertawa kecil; kemudian sibuk mengirimkan tautan.Koleksi perdana dipilih seperti kurasi pameran fotografi yang menolak warna: tech brief Inez (versi ringkas), recusal log yang disunting untuk kerahasiaan, potongan status page historis, dan appendix saksi yang tidak menampilkan wajah. Di pojok kanan, Sinta menambahkan “Tur Pendek”: tiga langkah untuk warga ritel—membuka dokumen, memindai QR verifikasi, menyimpan receipt digital. “Kalau orang punya receipt,” katanya, “gosip kehilangan gigi.”Respons awal tidak heboh—dan itu bagus. Time on page panjang, bounce rate rendah, komentar sedik
Pagi itu, notifikasi yang ditunggu-tunggu turun seperti hujan rintik yang memadamkan debu: stay sementara atas hasil RUPS. Bahasa pengadilan tidak pernah teatrikal; kalimatnya lurus dan dingin, justru karena itu menenangkan. Poin-poinnya jelas: keputusan yang bersandar pada materi manipulatif tidak boleh dieksekusi, operasi perusahaan tetap berjalan sesuai status page, dan fungsi-fungsi setara CEO bisa dijalankan kolektif oleh tim eksekutif hingga pemeriksaan tuntas. Tidak ada mahkota yang kembali terpasang; yang ada adalah runbook yang menjadi raja sementara.Arga membaca dua kali, lalu menutup berkas. “Kursi tunggal tetap kosong di panggung,” katanya, “tapi kursi kerja tidak boleh ada yang kosong.” Ia mengumpulkan para kepala fungsi ke war room. Di papan, ia menggambar tiga lingkaran saling bertumpu: Operasi, Hukum, Suara. “Untuk operasi,” ia menunjuk Acting CFO, “kamu first among equals di signatory matrix—dual sign tetap. Publik hanya melihat jam dinding; kita yang mema
Keheningan di ruang sidang terasa seperti kain tebal. Hakim ketua membuka kertas tipis tanpa efek dramatis. “Atas bahan yang diajukan, Pengadilan Banding menyimpulkan bahwa terdapat fakta teknis yang cukup colorable untuk mempertimbangkan interim relief. Kami tidak memutus pokok perkara hari ini, namun kami menetapkan pagar sementara: (1) keputusan yang bergantung pada manipulasi media tidak boleh dieksekusi hingga verifikasi selesai; (2) pelaksanaan operasional perusahaan tetap lanjut sesuai status page; (3) komunikasi kepada pemegang saham harus menyertakan recusal log dan tautan read-only bukti teknis.”Kata-kata itu tidak memukul genderang; kata-kata itu menurunkan suhu. Laila mengangguk kecil. Acting CFO menuliskan tiga butir tersebut ke dalam runbook transisi—distribusi internal siap pukul 16.00. Inez menutup laptop, merasakan lega yang tidak riuh; tiga panel yang ia bawa—splice, LUT & gate, timecode drift—telah cukup untuk menata ulang meja. Sinta mengetik pesan satu







