Home / Sci-Fi / Tunangan Nakal Sang Kapten / BAB 1: Sektor Botani

Share

Tunangan Nakal Sang Kapten
Tunangan Nakal Sang Kapten
Author: Narnia

BAB 1: Sektor Botani

Author: Narnia
last update publish date: 2026-09-12 14:00:00

Deru mesin otomatis di ladang Sektor Botani terdengar konstan saat mengolah lahan pertanian yang luas, menggantikan peran manusia yang kian menipis. Di tengah ladang, sebuah bukit batu berlumut tampak seperti gunung kecil yang rimbun oleh rumput dan tanaman merambat. Di balik bukit tersebut, terdapat lubang gua yang menjadi jalan masuk utama markas faksi botani di Sektor Lima.

Cahaya matahari yang dipantulkan panel reflektor termal dari celah gua yang lebar menerangi seluruh instalasi laboratorium botani bawah tanah yang luar biasa indah. Tanaman hijau yang menyegarkan mata tumbuh subur di sekitar air terjun kecil, menciptakan aliran sungai yang bermuara di danau buatan.

Gabriel Alistair berdiri di ambang pintu masuk, menyesuaikan pandangannya. Pakaian taktis militer hitam yang ia kenakan tampak kontras dengan rimbunnya tanaman hijau di sana.

"Harusnya Kak Hugo ikut dengan kita ke sini," ucap Gabriel memecah keheningan di antara pasukannya. Matanya melirik ke arah wanita yang berjalan di sampingnya.

Seraphina Rose tersenyum tipis. Sebagai seorang profesor, ia ikut dalam ekspedisi yang dipimpin oleh Gabriel. Namun, tujuannya sedikit berbeda dari divisi militer. Sera ikut serta dalam ekspedisi khusus untuk meneliti tanaman di Sektor Botani.

"Hugo baru saja memulai kembali penelitiannya dan harus memperhatikan kondisi tubuhnya yang belum pulih total, Gabriel. Kondisi di lapangan tidak bisa diprediksi, aku khawatir dengan psikisnya yang sempat terguncang. Lagi pula... seseorang harus memperhatikan putra kami," jelas Sera.

Gabriel terkekeh pelan dan mengangguk maklum. "Itu benar. Tapi Kak Hugo sempat memaksaku dengan otoritasnya sebagai wakil pemimpin Sektor Utama. Kalau bukan karena kau yang menolaknya mentah-mentah, dia pasti sudah berdiri di sini sekarang dan menjagamu dengan posesif."

"Sudahlah," Sera menggelengkan kepala. Tawa kecil menghiasi wajahnya yang biasanya selalu serius. "Yang terpenting, tugas kita di sini harus selesai dengan cepat."

"Ini juga kampung halamanmu, Sera. Bersenang-senanglah sedikit," ucap Gabriel lembut, menunjukkan perhatian sebagai adik ipar.

"Terima kasih, Gabriel."

Langkah mereka terhenti saat seorang pria paruh baya berjalan mendekat, menyambut rombongan dengan senyum hangat. Ia adalah Albert Rose, Pemimpin Sektor Lima. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda yang mengenakan pakaian dari bahan katun longgar yang kasual, sangat bertolak belakang dengan seragam tempur milik Gabriel dan pasukannya.

Gadis itu adalah Sasha Rose, putri tunggal Albert.

Setelah selesai menyapa rombongan militer, Sasha langsung melangkah mendekati Seraphina. Sera memeluk sepupunya itu dengan haru dan syukur, rasa rindunya pada adik sepupunya yang manis, dan kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.

"Sasha, antarkan Sera langsung ke laboratorium gua. Aku akan mengajak Kapten Gabriel berkeliling," perintah Albert. Sasha mengangguk, lalu menuntun Sera menjauh tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Setelah menyelesaikan inspeksi pada jalur akomodasi, Albert mengajak Gabriel ke sebuah pondok kayu tempatnya bekerja. Namun, begitu pintu dibuka, bagian dalam pondok berbanding terbalik dengan konsep luarnya yang sederhana. Ruangan itu dipenuhi peralatan bertechnologi canggih, monitor holografik, dan sensor genetik yang menyerupai ruang unit utama di dalam Bunker Alistair.

Albert tidak membuang waktu. Begitu pintu tertutup rapat, dia langsung menuju poin utama.

"Sasha akan bergabung dengan kalian sebagai prajurit militer dan ikut ke Sektor Utama saat kalian kembali. Dan... dia yang akan menjadi tunanganmu untuk misi Protokol Genesis, Gabriel."

Gabriel tertegun. Alisnya bertaut rapat. Otak taktisnya langsung memutar kembali memori lembar tugas yang ia terima sebelum berangkat. "Sama sekali tidak ada informasi mengenai hal ini di draf misi saya, Tuan Rose."

Albert berdehem, lalu berjalan mendekati salah satu monitor hologram. "Aku sudah mengonfirmasi hal ini pada ibumu, Profesor Lilia. Beliau yang meminta Sasha untuk segera bergabung. Pertunangan ini sudah kami diskusikan bersama agar kalian bisa saling mengenal lebih dulu sebelum memulai misi, sekaligus agar kalian bisa saling beradaptasi dengan sifat serta karakter masing-masing."

Gabriel terdiam. Pikirannya berputar. *Kenapa Ibu tidak memberitahuku lebih dulu sebelum kami berangkat?*

Albert yang menangkap keraguan di mata kapten muda itu menghela napas pelan. "Hal ini sudah diputuskan sejak kalian masih kecil, Gabriel. Sama seperti Hugo dan Seraphina. Bedanya, Sera masuk ke Bunker saat berusia lima belas tahun dan bergabung sebagai salah satu peneliti muda, sedangkan Sasha baru bisa bergabung di usianya yang kedua puluh agar bisa langsung menjadi bagian dari timmu. Jangan khawatir, dia sudah dilatih untuk menghadapi kondisi paling krusial di luar sana. Dia cukup cakap dalam bertarung dan ahli menembak."

Mengingat perintah ibunya adalah mutlak, Gabriel akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah."

Albert tersenyum puas, lalu memanggil salah satu teknisi lewat komunikatornya. "Panggil Sasha ke sini."

Tak butuh waktu lama sampai pintu pondok bergeser terbuka. Sasha masuk dengan langkah yang nyaris tak terdengar.

Albert berdehem, lalu menjelaskan dengan suara tegas tanpa basa-basi, "Sasha, ini Gabriel Alistair. Mulai hari ini, kau akan ikut serta dalam tim ekspedisi kembali ke Sektor Utama sebagai pasukannya. Dan... dia adalah tunanganmu."

Wajah Sasha mendadak dingin. Tidak ada rona merah khas gadis muda yang baru mendengarkan kabar perjodohan. Sepasang matanya yang tajam langsung menatap Gabriel, mengunci pandangan pria itu.

Kemudian, dengan gerakan yang tenang namun berani, Sasha mulai berjalan mengitari tubuh Gabriel. Matanya bergerak turun-naik, memindai dari pundak tegap sang kapten, lekuk tubuh di balik pakaian taktisnya, hingga ke sepatu lars militernya.

Gabriel tetap berdiri tegak. Melalui sudut matanya, dia memperhatikan pergerakan Sasha dengan tenang meskipun merasa keheranan dengan sikap gadis itu padanya. Dia merasa seolah dirinya sedang dinilai seperti sebuah benda atau senjata baru.

Sasha menghentikan langkah tepat di depan Gabriel. Jarak mereka begitu dekat hingga Gabriel bisa mencium aroma samar tanah segar dan herbal dari tubuh gadis itu. Sasha terdiam menatap lekat-lekat ekspresi wajah Gabriel yang tetap tenang tanpa riak emosi.

Gadis itu mundur satu langkah ke samping ayahnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman yang tidak Gabriel pahami maksudnya. Tatapan matanya yang tadi dingin mendadak melembut dengan kilatan intens yang aneh.

"Lumayan!" ucap Sasha singkat. Suaranya terdengar renyah namun penuh percaya diri.

Gabriel menaikkan satu alisnya dan sedikit menebak apa yang dipikirkan gadis itu. Di era distopia ini, pernikahan bukanlah tentang romansa atau deklarasi cinta yang mendayu-dayu. Bagi Gabriel romantika rumah tangga adalah hal mewah yang mustahil untuk didapatkan di masa ini, semuanya hanya tentang fungsi, kelangsungan hidup, dan kecocokan genetik.

Pemuda itu melemparkan tatapan bertanya pada Albert, mencari penjelasan atas sikap tak biasa dari anak gadisnya. Namun, Albert hanya memiringkan kepalanya sedikit sambil tersenyum kecil, seolah sudah terbiasa dengan keanehan putrinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 10: Temani Aku Tidur Lagi

    Gabriel masih tenggelam dalam tidur lelapnya yang sangat dalam ketika kesadarannya perlahan terusik. Kasur empuk di bawah tubuhnya mendadak terasa bergerak samar. Detik berikutnya, dia merasakan ada sesuatu yang merayap pelan di bawah perutnya, menyelinap di antara sela-sela kain celana tidurnya.Dengan gerakan refleks yang lambat dan setengah sadar, tangan kanan Gabriel terangkat, menepis pelan objek asing tersebut. Pikirannya yang masih berkabut spontan melempar ingatannya jauh ke masa lalu, menganggap bahwa gangguan itu adalah ulah sosok kakaknya yang selalu membangunkannya dengan cara menyebalkan saat mereka masih kecil dan berada di asrama yang sama."Kakak... aku masih mengantuk. Jangan menggangguku," gumam Gabriel pelan dengan suara serak yang parau, lalu membalikkan badannya ke sisi lain untuk mencari posisi yang lebih nyaman.Namun, pergerakan itu ternyata sama sekali tidak berhenti. Malahan, gangguan itu terasa semakin intens. Sebuah benda yang terasa dingin dan lembut kini

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 9: Variabel diatas Ranjang

    Dua puluh menit berlalu, Gabriel sudah selesai membersihkan tubuhnya. Uap hangat nampak menyembul keluar dari celah pintu kamar mandi yang terbuka. Rambut hitam Gabriel masih setengah basah, berantakan namun memberikan kesan kasual yang jauh berbeda dari penampilannya saat berseragam. Dia kini sudah mengenakan baju rumahnya, sebuah kaus putih polos dan celana tidur panjang.Namun, langkah kaki Gabriel mendadak terhenti di ambang pintu kamar mandi. Dia sempat terperanjat kaget saat melihat Sasha ternyata sudah duduk santai di atas kasur besarnya."Kenapa?" tanya Sasha, menaikkan sebelah alisnya melihat respons kaget Gabriel yang mematung di pintu.Gabriel menggelengkan kepalanya cepat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia melangkah lebar ke arah lemari pakaian, meraih jaket militer ringannya yang tergantung di sana. Niatnya untuk melarikan diri ke unit asrama militer, ternyata masih belum surut. Dia butuh ruang aman.Namun, sebelum jemari Gabriel sempat mengenakan jaket tersebut, S

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 8: Obrolan di Meja makan

    Gabriel baru saja menyelesaikan aktivitas memasaknya dan membersihkan peralatan dapur, lalu mengeringkan kedua tangannya menggunakan handuk kering, sebelum pandangannya teralih sepenuhnya pada sosok yang melangkah santai ke arahnya.Sasha nampak sudah menggunakan pakaian rumahan, sebuah kaus longgar dan celana training pendek yang tampak kebesaran di tubuh rampingnya. Gabriel mengernyitkan dahi selama beberapa detik. Setelah memperhatikan potongan kain di bahu dan logo hitam di dada kaos tersebut, dia baru menyadari satu hal."Kau memakai bajuku?" tanya Gabriel, menghentikan gerakan melipat handuknya.Sasha menunduk sekilas, memandangi ujung kaus yang menjuntai longgar hingga setengah pahanya, lalu mendongak dengan wajah tanpa dosa. "Aku memakai apa yang ada di dalam lemari utama."Gabriel menegakkan badannya, meletakkan handuk ke gantungan di dekat wastafel dapur. "Harusnya pakaian khusus untukmu sudah disiapkan di lemari. Ukurannya pasti lebih pas.""Tapi aku nyaman memakai yang ini

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 7: Ayo Kita Makan Malam Dulu

    Pintu hidrolik unit milik Gabriel terbuka dengan desis halus, lalu mengunci otomatis. Sasha melangkah masuk lebih dulu, memindai sekeliling dengan jeli. Ruangan luas itu didominasi perpaduan warna hijau zaitun khas militer dan hitam arang yang tegas. Alih-alih mirip barak tentara yang kaku, tempat ini menyerupai apartemen modern yang cukup nyaman untuk satu keluarga kecil.Di bagian tengah, terdapat ruang santai dengan sofa besar hitam. Di sudut lain, sebuah dapur kecil tampak rapi dan simpel. Dua ruangan tambahan di sisi kiri tampaknya bisa dialihfungsikan sebagai kamar tidur sekunder atau gudang senjata pribadi.Gabriel berdiri di area depan, membungkuk untuk melepaskan lars militernya yang berdebu. Setelah menaruh sepatunya dengan rapi, dia mengambil sepatu Sasha lalu menatanya di rak yang sama. Gabriel kemudian melangkah menuju ruang tengah sambil melepas sarung tangan taktis dengan gerakan lambat. Ada kecanggungan nyata dari gestur tubuhnya."Selamat datang... di rumah," ucap Gab

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 6: Reaksi Kakak Ipar

    Atmosfer di dalam ruangan mendadak menegang akibat adu argumen dua saudara Alistair itu. Sebelum Gabriel sempat membalas hantaman mental berikutnya dari sang kakak, Sasha melangkah maju. Dia berdiri di garis depan, menatap Hugo dengan senyuman tipis yang sarat penilaian. "Kakak ipar, harusnya kau tahu bahwa Kak Sera senang saat bisa kembali melihat kondisi kampung halamannya di luar sana, meskipun tempat itu sudah banyak berubah. Bukankah hal emosional seperti itu yang perlu kau perhatikan sebagai orang terdekatnya?" tanya Sasha telak, memotong kalimat Hugo tanpa permisi. "Apakah kau sudah menanyakan bagaimana perasaannya setelah pulang hari ini? Atau kau hanya peduli pada angka keselamatan yang kau temukan di rincian laporanmu?" Hugo seketika terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Kerutan tipis muncul di dahinya, pertanda bahwa dia tidak siap dengan serangan balik yang menggunakan sudut pandang emosional dari adik iparnya. "Aku yakin kau bahkan belum sempat bertanya soal itu padanya,

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   BAB 5: Reuni Keluarga

    "Oh, ternyata kalian ada di situ," ucap Lilia santai saat memasuki ruang rapat, seolah pemandangan dua orang yang saling tindih di lantai remang adalah hal lumrah. Dia melangkah mantap menuju meja oval di tengah ruangan, mengabaikan atmosfer canggung yang mendadak pekat.Sementara itu, Hugo berdiri kokoh di ambang pintu. Matanya terkunci pada sang adik yang sedang berusaha bangkit. Meskipun gerakannya agak limbung akibat panik, Gabriel dengan cepat merapikan seragam militernya."Kau sedang menyerangnya, Gabriel?" tanya Hugo datar tanpa ekspresi, melangkah masuk dengan ritme konstan.Gabriel mendengus, menekan rasa gugup yang menjalar saat menaikkan ritsleting seragam dan rompi taktisnya. "Tidak! Aku tidak sepertimu, Kak! Jangan mengatakan hal aneh.""Lalu apa yang kalian lakukan di lantai?" Pertanyaan Hugo meluncur tanpa sensor. "Apa kau sedang melakukan pendekatan emosional dengan menindih tubuh pasanganmu di ruang rapat militer?""Kak,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status