LOGINBAB 2
Kebebasan yang Selalu Dijaga Eloise Felicia Ilona berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Matanya tertuju pada sang papa dan mama yang sedang duduk berdampingan di sofa. Papanya sibuk membaca beberapa dokumen, sementara mamanya menikmati secangkir teh hangat. Eloise menarik napas pelan. Sejak pagi, ia sudah menyusun kalimat yang akan diucapkannya. Namun, saat melihat kedua orang tuanya, keberaniannya mendadak menyusut. Hari ini adalah hari yang telah lama ia tunggu-tunggu. Akhirnya, ia menyelesaikan pendidikannya. Tidak ada lagi tugas sekolah, ujian, atau jadwal belajar yang membuatnya harus menghabiskan waktu berjam-jam di depan buku. Ia ingin merayakan kebebasan kecil itu bersama sahabatnya, Laras. Hanya saja, ada satu masalah besar. Dua pengawal yang hampir selalu mengikutinya. “Papa, Mama,” panggil Eloise akhirnya. Gabriel Theodore Ilona menurunkan dokumen yang sedang dibacanya. Pria itu mengangkat wajah, menatap putri semata wayangnya dengan sorot mata yang lembut, tetapi penuh kewaspadaan. “Ya, Sayang? Ada apa?” Helena Marielle Ilona meletakkan cangkir tehnya. “Dari tadi berdiri di sana. Kemarilah, Eloise.” Eloise melangkah mendekat, lalu duduk di sofa kecil di hadapan mereka. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. “Aku mau meminta izin.” Gabriel mengangkat sebelah alis. “Meminta izin untuk apa?” Eloise tersenyum kecil. “Aku ingin pergi keluar bersama Laras. Kami mau merayakan kelulusanku.” “Pergi ke mana?” tanya Helena. “Ke kafe, mungkin. Setelah itu jalan-jalan sebentar.” Eloise buru-buru menambahkan, “Aku tidak akan pulang malam, Ma. Aku janji.” Gabriel tidak langsung menjawab. Ia meletakkan dokumen di atas meja, kemudian menyandarkan tubuhnya. “Kamu boleh pergi. Asalkan ada pengawal yang menemanimu.” Senyum Eloise langsung memudar. “Pa…” “Eloise.” “Aku baru saja menyelesaikan sekolahku.” Gadis itu berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar seperti sedang mengeluh. “Aku cuma ingin merayakannya bersama sahabatku. Apa aku harus selalu membawa pengawal ke mana-mana?” Gabriel terdiam sejenak. “Papa melakukan itu demi keselamatanmu.” “Aku tahu.” Eloise menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. “Tapi terkadang aku ingin merasa seperti gadis biasa, Pa. Gadis yang bisa pergi bersama sahabatnya tanpa harus merasa sedang dikawal ke mana-mana.” Helena memandang putrinya dengan tatapan iba. Ia memahami perasaan Eloise. Sejak kecil, putrinya memang tumbuh dengan perlindungan berlapis. Ke mana pun Eloise pergi, selalu ada seseorang yang memastikan keselamatannya. Awalnya, hal itu dilakukan karena cinta. Namun, Helena tahu bahwa perlindungan yang berlebihan terkadang membuat Eloise merasa kehilangan ruang untuk dirinya sendiri. “Gabriel,” panggil Helena lembut, “mungkin kali ini kita bisa memberinya sedikit kebebasan.” Gabriel menoleh kepada istrinya. “Kamu tahu situasi keluarga kita tidak sesederhana itu.” “Aku tahu.” Helena menggenggam tangan suaminya. “Tapi Eloise juga perlu belajar menjalani hidupnya sendiri.” Eloise mengangkat wajah. Harapan kembali muncul di matanya. “Mama benar-benar mengizinkanku?” Helena tersenyum. “Mama sedang berusaha membujuk Papa.” “Mama!” Tawa kecil Helena memenuhi ruang keluarga. Gabriel mengembuskan napas panjang, seolah sedang menghadapi negosiasi bisnis paling sulit dalam hidupnya. “Baiklah. Kamu boleh pergi bersama Laras.” Mata Eloise berbinar. “Tapi,” lanjut Gabriel sebelum putrinya sempat bersorak, “pengawal tetap ikut.” Senyum Eloise kembali membeku. “Papa!” “Tidak ada tawar-menawar.” “Tapi mereka selalu mengikuti aku! Bahkan waktu aku membeli es krim pun mereka berdiri di belakangku seperti dua patung!” Helena menahan tawanya dengan menutup mulut. Gabriel berusaha mempertahankan wajah seriusnya. “Setidaknya patung itu bisa memastikan kamu pulang dengan selamat.” “Papa tidak adil.” “Papa tahu.” “Papa bahkan mengakuinya!” Kali ini, Helena benar-benar tertawa. Eloise memandangi kedua orang tuanya dengan wajah kesal, tetapi jauh di dalam hatinya ia merasa lega. Setidaknya, ia berhasil mendapatkan izin. Mengenai dua pengawal itu, ia akan memikirkan cara untuk membujuk Laras agar tidak terlalu mempermasalahkannya. Atau mungkin justru Laras yang akan menemukan cara untuk mengusir mereka dari pandangan. Memikirkan sahabatnya saja sudah membuat Eloise tersenyum. “Terima kasih, Pa. Terima kasih, Ma.” Ia bangkit dari sofa, lalu mencium pipi kedua orang tuanya bergantian. “Aku janji akan menjaga diri.” Gabriel mengusap kepala putrinya. “Telepon Papa kalau ada sesuatu yang terjadi.” “Iya.” “Jangan pergi ke tempat yang tidak kamu kenal.” “Iya, Pa.” “Dan jangan mematikan ponselmu.” Eloise berhenti sejenak. “Kalau Papa terus memberikan daftar aturan, sepertinya aku akan sampai di kafe saat Laras sudah menjadi nenek-nenek.” Helena tertawa lagi, sedangkan Gabriel hanya menggelengkan kepala. “Pergilah sebelum Papa berubah pikiran.” Eloise segera berlari kecil menuju tangga. “Aku sayang Papa dan Mama!” Suara cerianya terdengar dari lantai atas. Gabriel menatap putrinya sampai sosok itu menghilang. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya, tetapi perlahan menghilang ketika ia kembali memandang dokumen di atas meja. “Dia semakin dewasa,” ujar Helena pelan. Gabriel mengangguk. “Dan aku tidak bisa terus melindunginya dari segala sesuatu.” Helena memperhatikan perubahan ekspresi suaminya. “Kamu memikirkan hal yang sama lagi?” Gabriel tidak menjawab dengan segera. Ada banyak hal yang tidak pernah mereka ceritakan kepada Eloise. Tentang hubungan keluarga mereka dengan keluarga Evander. Tentang sebuah janji lama yang berakhir tanpa penjelasan. Dan tentang nama seorang pria yang, tanpa sepengetahuan putri mereka, pernah dikaitkan dengan masa depan Eloise. “Suatu hari nanti, dia berhak mengetahui semuanya,” kata Helena. Gabriel menutup dokumen itu. “Suatu hari nanti,” jawabnya. “Tapi bukan sekarang.” Di lantai atas, Eloise sama sekali tidak mengetahui percakapan tersebut. Ia sibuk memilih pakaian terbaik untuk bertemu Laras, membayangkan hari yang menyenangkan tanpa menyadari bahwa ada rahasia masa lalu yang perlahan mendekat ke dalam hidupnya. Ia meraih ponsel, lalu menghubungi sahabatnya. Eloise: Laras! Aku sudah dapat izin! Kita jadi pergi hari ini. Balasan datang beberapa detik kemudian. Laras: SERIOUS?! Akhirnya! Aku sudah siap dari tadi. Tapi tunggu, jangan bilang pengawalmu ikut lagi. Eloise menatap layar sambil menghela napas. Eloise: Jangan bahas itu dulu. Laras: Eloise, apa kamu ingin merayakannya? Tetapi masa ada pengawal? Nggak asyik! Eloise tertawa kecil membaca pesan itu. Eloise: Aku tahu! Makanya kita harus mencari cara supaya hari ini tetap menyenangkan. Laras: Tenang. Serahkan semuanya kepada ahlinya. Eloise mengernyit. Eloise: Ahli dalam hal apa? Laras: Membuat hidupmu sedikit lebih seru, tentu saja. Eloise menggeleng sambil tersenyum. Ia mengenal Laras cukup lama untuk mengetahui bahwa kalimat itu bisa berarti sesuatu yang menyenangkan atau sebuah masalah besar. Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eloise merasa bersemangat menghadapi hari yang menantinya. Ia belum tahu bahwa perayaan kecil itu akan menjadi awal dari serangkaian kejadian yang mengubah hidupnya. Dan bahwa kebebasan yang begitu ia inginkan akan membawanya semakin dekat kepada seseorang yang namanya pernah terikat pada namanya sendiri, jauh sebelum mereka saling mengenal. Seseorang bernama Altair Demian Xavier Evander.Harga Sebuah KepercayaanPagi itu, Eloise sedang duduk di dekat jendela kamarnya ketika ponselnya bergetar.Sebuah pesan dari Laras muncul di layar.**Laras:***Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Kamu bisa bertemu dengan pihak keluarga yang membutuhkan pekerja itu besok.*Eloise segera meraih ponselnya dengan penuh antusias.**Eloise:***Benarkah? Akhirnya! Di mana kita akan bertemu?*Ia menunggu balasan sambil sesekali melirik jam di dinding. Tidak lama kemudian, pesan baru masuk.**Laras:***Aku akan menjemputmu. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan sebelum kamu bertemu mereka.*Eloise tersenyum lebar. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya ia mendapatkan kepastian.Ia membayangkan bahwa pertemuan tersebut akan menjadi langkah pertamanya menuju kehidupan yang selama ini diinginkannya. Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya mampu bertanggung ja
Langkah Menuju Kehidupan BaruPagi itu, Eloise terbangun lebih awal dari biasanya.Sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamarnya, menerangi ruangan yang tertata rapi. Namun, berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, pikirannya sudah dipenuhi berbagai pertanyaan tentang kesempatan yang ditawarkan Laras.Ia meraih ponsel di atas nakas, berharap ada kabar baru dari sahabatnya.Benar saja, sebuah pesan telah masuk beberapa menit lalu.Laras:Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Orang yang kuceritakan kemarin bersedia bertemu denganmu. Bagaimana kalau kita bertemu siang ini?Eloise langsung bangkit dari tempat tidur.Ia membaca pesan tersebut dua kali sebelum mengetik balasan.Eloise:Benarkah? Tentu saja aku mau! Di mana kita akan bertemu?Balasan Laras datang tidak lama kemudian.Laras:Kita bertemu di kafe yang biasa kita datangi. Nanti aku akan menjelaskan semuanya d
Kepercayaan yang DisalahgunakanMalam mulai menyelimuti Aurelia ketika Eloise kembali ke kediaman keluarganya. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama Laras di kafe tadi siang.Ia terus bertanya-tanya tentang kesempatan yang dimaksud sahabatnya. Laras memang belum menjelaskan secara terperinci, tetapi perkataannya berhasil menumbuhkan harapan baru di hati Eloise.Mungkin, untuk pertama kalinya, ia benar-benar bisa melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri.Sesampainya di rumah, Eloise mendapati ibunya sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah. Perempuan itu mengangkat wajah ketika mendengar langkah putrinya.“Sudah pulang, Sayang?”Eloise menghampiri ibunya dan mengecup pipinya sekilas.“Sudah, Ma.”“Bagaimana pertemuanmu dengan Laras? Menyenangkan?”“Menyenangkan sekali.” Eloise menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping ibunya. “Kami mengobrol banyak
Awal dari Sebuah KesalahanHari-hari setelah percakapannya dengan Laras berlalu seperti biasa. Eloise masih tinggal di rumah keluarganya, menjalani rutinitas yang selama ini terasa begitu mengekang. Meski telah menyelesaikan pendidikannya, ia tetap belum benar-benar mendapatkan kebebasan yang selama ini diinginkannya.Setiap kali hendak keluar rumah, dua pengawal yang ditugaskan ayahnya selalu bersiap mengikutinya. Bahkan, untuk sekadar pergi ke toko buku atau berjalan-jalan bersama Laras, Eloise harus menghadapi berbagai pertanyaan mengenai tujuan dan waktu kepulangannya.Bagi orang lain, kehidupan Eloise mungkin tampak sempurna. Ia memiliki keluarga terpandang, rumah yang nyaman, serta segala sesuatu yang dibutuhkan. Namun, bagi Eloise, semua kemudahan itu terkadang terasa seperti dinding tinggi yang membatasi langkahnya.Pagi itu, Eloise sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Laras, membaca kem
Rencana di Balik Senyuman“Eloise, kamu kenapa? Dari tadi melamun terus. Jangan bilang kamu masih memikirkan kedua pengawalmu itu.”Suara Laras membuyarkan lamunan Eloise. Gadis itu melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajah sahabatnya, berusaha menarik perhatian Eloise yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah jendela.Eloise tersentak kecil. Ia mengerjapkan mata, lalu menoleh kepada Laras yang kini sedang menatapnya dengan ekspresi heran.“Eh? Kamu bicara apa tadi?” tanyanya sambil tersenyum canggung.Laras mengembuskan napas panjang, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.“Ya ampun, Eloise! Kamu benar-benar tidak mendengarkanku, ya? Dari tadi aku bicara panjang lebar, tetapi kamu malah melamun sendiri. Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan?”Eloise terkekeh pelan. Ia merapikan rambutnya yang sedikit jatuh ke wajah, kemudian menggeleng ringan.“Tidak ada apa-apa, kok. Aku hanya sed
Pagi itu, Eloise bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena ia memiliki jadwal pemeriksaan, bukan pula karena mamanya memintanya bersiap untuk menghadiri acara keluarga. Ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak semalam.Evander Group.Nama itu berkali-kali muncul di benaknya, disusul ekspresi aneh yang ditunjukkan kedua orang tuanya ketika ia menanyakannya.Eloise bukan anak kecil lagi. Ia tahu bahwa orang dewasa terkadang menyimpan rahasia dengan alasan ingin melindungi seseorang. Namun, ia juga tahu bahwa tidak semua rahasia membuat seseorang merasa lebih aman.Ia duduk di tepi tempat tidur, meraih laptop, kemudian membuka mesin pencari.Jarinya mengetik sebuah nama.**Evander Group.**Dalam hitungan detik, berbagai informasi muncul di layar. Berita bisnis, laporan keuangan, foto gedung perkantoran, hingga artikel tentang keluarga yang mengendalikan salah satu perusahaan terbesar di Aurelia.







