INICIAR SESIÓNSelama 3 tahun menikah dengan Devano Wijaya, pewaris Wijaya Group, Aluna selalu dianggap wanita mandul. Setiap hari, Tante Riana, adik dari mendiang ibu mertuanya yang sudah 15 tahun numpang hidup di rumah Wijaya, menghina dan membawa dokter palsu dengan surat palsu untuk membuktikan Aluna mandul. Puncaknya, Aluna diceraikan secara hina di aula keluarga Wijaya. Di hari yang sama, Devano dengan bangga membawa Belinda, sekretarisnya yang hamil 2 bulan, dan mengklaim Belinda jauh lebih subur daripada Aluna. Hancur, Aluna pingsan di aula itu. Saat terbangun, dia sudah berada di rumah sakit. Di sana, Dokter Wijaya memberinya dua berita yang mengejutkan: Pertama, Aluna TIDAK mandul. Dia justru sedang hamil 6 minggu. Kedua, pria yang setia menunggunya di rumah sakit bukanlah Devano. Melainkan Mahendra Wijaya — ayah kandung Devano sendiri. Duda dingin berusia 45 tahun yang sudah 15 tahun menduda setia setelah istrinya meninggal. Tanpa basa-basi, di depan Devano, Tante Riana, dan Belinda, Mahendra berlutut dan melamar Aluna dengan cincin berlian pusaka mendiang istrinya — cincin Nyonya Besar yang selama 15 tahun diincar Tante Riana. "Menikahlah denganku, Aluna. Jadikan aku ayah untuk anak yang ada di kandunganmu. Dan jadikan aku alat balas dendammu yang paling elegan." Aluna menerimanya. Lusa, pernikahan kilat itu terjadi. Aluna yang kemarin diceraikan sebagai menantu yang mandul, kini kembali ke rumah yang sama sebagai Nyonya Besar, sebagai ibu tiri dari mantan suaminya sendiri. Mulai hari itu, Devano yang berusia 25 tahun harus memanggil mantan istrinya yang berusia 23 tahun dengan sebutan "Mama Aluna". Dan neraka baru untuk Tante Riana dan Belinda pun dimulai.
Ver másAula utama keluarga Wijaya hari itu seharusnya menjadi tempat perayaan ulang tahun pernikahan ku dan Devano, laki-laki yang menikahi ku 3 tahun lalu.
Lilin-lilin kristal menggantung indah. Aroma bunga lili memenuhi ruangan. Semua anggota keluarga besar Wijaya Group berkumpul dengan setelan termahal mereka. sedangkan aku...aku seperti orang lain di acara keluarga besar suamiku, dengan gaun lusuh aku menata makanan dan minuman di atas meja di bantu para pelayan. Tapi bagiku, aula itu terasa seperti ruang pemakaman. Pemakaman pernikahanku sendiri. Setelah selesai aku bergabung bersama mereka di aula. Aku, Aluna, berdiri di tengah ruangan dengan gaun sederhana yang sudah tiga tahun aku pakai. Di depanku, adik dari ibunya Devano, Riana Wijaya, menatapku dengan tatapan jijik seolah aku adalah seonggok sampah yang menempel di sepatu mahalnya. aku tidak peduli dengan tatapan nya sama aku, aku diam dan acuh dengan sikapnya. namun.... "Aluna," suaranya melengking, membuat semua obrolan berhenti. "kamu sudah tiga tahun nikah sama Devano. Tiga tahun Aluna.....kami memberimu kesempatan.tapi hasilnya apa? Nihil. Perutmu kosong terus." tanpa memedulikan perasaanku, padahal aku tahu maksud dia ngomong kek gitu. karena memang dari awal menikah sama Devano Tante Riana terlihat sangat tidak menyukai ku. Melihatku yang hanya diam dan tak membalas ucapan nya. Tante Riana meradang, dia berjalan kearah salah satu meja Lalu mengambil satu buah map berwarna coklat. Dia melemparkan map coklat yang tebal itu ke arahku. Aku tidak sempat menghindar. Map itu mengenai dadaku dan jatuh, isinya berhamburan di lantai marmer yang dingin dan mengkilap. aku melihat ke arah kertas-kertas yang berhamburan itu. namun mataku menangkap gambar dari kertas yang berserakan tersebut. itu adalah foto hasil USG. Foto-foto hasil USG kosong. Surat keterangan dokter. Aku mengambil salah satunya. Tulisan di sana begitu kejam: _Infertilitas primer. Kemungkinan hamil sangat kecil. ( lho, kenapa diagnosa dokter bilang kalau kemungkinan aku untuk hamil itu sangat kecil? padahal belakangan ini aku sering merasa muak dan ngak enak badan. apa benar aku ngak bisa hamil?)aku bermonolog dalam hati agar tidak di dengar oleh orang lain terutama Tante Riana. Dia pasti tidak akan percaya kalau aku bilang hasil diagnosa dokter itu salah. "Ini hasil pemeriksaan dari tiga dokter terbaik di Jakarta, Aluna. Kamu itu mandul," lanjut Riana dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua keluarga mendengar. "Keluarga Wijaya tidak mungkin putus keturunannya hanya karena kamu cacat." Kata itu lagi. Kata yang selalu membuatku menangis kalau lagi sendirian, ditambah lagi sampai sekarang aku memang belum hamil sama sekali. padahal usia pernikahan kami sudah 3tahun. wanita manapun pasti tidak akan terima jika keluarga suaminya selalu menyudutkan nya dengan alasan anak. tapi Tante Riana selalu menghinaku dengan kata-kata pedasnya, mandul dan cacat. Cacat. Tanganku gemetar hebat. Aku menatap satu-satunya orang yang seharusnya membelaku di ruangan ini. Suamiku, sekarang dialah harapan ku untuk membelaku dari fitnah keji dan hinaan Tante nya. tapi, harapan tidak akan selalu jadi kenyataan. Devano. Suamiku. Laki-laki yang semalam masih memelukku dan berkata akan selalu bersamaku. Laki-laki yang aku cintai selama lima tahun sejak kuliah. dia hanya diam, melihat aku di hina oleh Tante nya di depan semua keluarga. aku masih berharap Devano membelaku, dan menenangkan ku. namun saat aku memanggilnya.... "Dev..." Devano Wijaya berdiri dengan setelan jas abu-abu yang sempurna. Wajahnya tampan, seperti biasa. Tapi hari ini, wajah itu tidak menatapku. Matanya tertuju pada wanita yang berdiri manja di sampingnya. sambil mengelus perutnya yang masih rata. Belinda. Sekretaris pribadinya yang baru masuk enam bulan lalu. Dengan gaun ketat yang sengaja menonjolkan perutnya yang sedikit membuncit. dia menggandeng tangan Devano sambil memamerkan perutnya kearahku. Jantungku mencelos. Mual yang sudah aku rasakan dua minggu terakhir ini tiba-tiba naik ke tenggorokan. namun aku tahan, aku tidak boleh muntah-muntah di depan mereka. pasti mereka akan menganggap ku mau bersaing sama Belinda. namun aku berusaha bicara dengan tenang dengan Devano, karena aku tidak mau hanya disalahkan sepihak seperti ini. bagaimana pun juga selama ini aku dan Devano belum pernah cek kesuburan bersama dirumah sakit. "Devano, kamu percaya ini? Kamu percaya aku mandul? Kita belum pernah periksa bersama. Aku... aku akhir-akhir ini mual, Dev. Aku telat dua minggu. Mungkin aku..." "Cukup, Aluna!" Aku hampir jatuh karena terkejut di bentak sama suami yang paling aku cintai selama ini. suami yang selalu berkata lembut dan manis sama aku, tapi sekarang...dia membentak ku hanya karena aku bilang telat dua Minggu! Suara Devano membentakku, dingin dan tanpa emosi. Semua orang di aula terkejut mendengar bentakannya. tapi semuanya hanya diam, tidak ada yang membela. disini aku benar-benar sendirian, bahkan suamiku sendiri pun sudah tidak menganggap ku. "Jangan mengarang cerita bodoh untuk mengasihani diri kamu sendiri Aluna! Kamu pikir dengan berbohong hamil aku akan kasihan? TIDAK! aku tidak peduli dan aku tidak akan pernah kasihan melihat kamu. Dia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat mesra, dia merangkul pinggang Belinda dan menariknya ke dalam pelukannya, tepat di depan mataku. hatiku hancur, namun hatiku lebih hancur saat suamiku sendiri tidak mempercayai ku. dia malah memamerkan kehamilan selingkuhan nya di depan ku. dengan bangga dia berkata... "Belinda sudah hamil dua bulan. Anakku. Darah dagingku. Dia yang akan memberiku pewaris keluarga Wijaya, bukan kamu." Dunia ku seakan berhenti berputar. Jadi ini alasan 2 bulan ini dia lembur! Perselingkuhan itu bukan baru. Sudah dua bulan. saat aku di rumah menunggunya pulang lembur, saat aku menyiapkan makan malam dan dia bilang ada meeting, dia bersama wanita lain. Menanamkan benih di rahim wanita lain. Air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya tumpah. Bukan tangisan pelan, tapi isakan yang pilu. penghianatan yang terlalu rapi di lakukan suami yang selalu aku tunggu kepulangannya. aku seperti orang bodoh disini. ternyata selama ini aku menunggu suamiku pulang dari rumah selingkuhan nya. ya tuhan.... " jadi selama ini kamu... kamu selingkuh di belakangku mas?" Belinda tersenyum miring, penuh kemenangan. Dia mengelus perutnya dengan manja. "Mm sorry ya, Kak Aluna. Namanya juga cinta. Devano butuh wanita yang subur. Wanita yang bisa memberikan dia keturunan, bukan wanita mandul seperti Kakak." Aku ingin menamparnya. Sungguh, aku ingin menampar wajah cantiknya itu. Tapi tubuhku tiba-tiba terasa lemas dan semuanya berputar. Rasa mual itu semakin menjadi-jadi. Devano melepaskan rangkulannya dari Belinda dan mengambil sebuah map hitam dari meja. Dia menyodorkannya padaku dan sebuah pena mahal. dia memberikan nya pada ku dengan gaya angkuh seolah dia tidak akan pernah menyesali atas kejadian hari ini suatu hari nanti. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Surat cerai. Tanda tangan sekarang. Di depan keluarga besar agar semua orang jadi saksi." Aku menatap surat itu. Surat Talak. (jadi seperti kah hubungan kami berakhir? apakah kamu tidak akan menyesal mas? setidaknya walaupun kamu menyesal suatu saat nanti. aku tidak akan pernah mau kembali sama kamu.) lirih hatiku. "Aku akan memberimu kompensasi 50 juta. Itu sudah lebih dari cukup untuk memulai hidup baru. Anggap saja pesangon karena sudah tiga tahun jadi pembantu gratis di rumah ini," katanya dengan tawa merendahkan. Keluarga besar di sekeliling kami mulai berbisik-bisik miring tentang ku, padahal mereka tidak tahu apakah hal itu benar atau cuma diagnosa dokter saja. "Kasihan ya, mandul..." "Untung Devano cepat sadar..." "50 juta itu kebanyakan untuk orang miskin seperti dia..." Harga diriku diinjak-injak. Tiga tahun pengabdianku sebagai istri, sebagai menantu yang berbakti, dibayar dengan 50 juta dan cap mandul. Aku pegang perutku yang masih rata. Perut yang mungkin saja saat ini sedang menyimpan kehidupan. Kehidupan yang bahkan ayahnya sendiri tidak menginginkannya. Apakah aku harus memberitahunya? Apakah aku harus berteriak bahwa aku mungkin hamil? Oh Tidak. Untuk apa? Laki-laki di depanku ini sudah buta. Dengan tangan gemetar yang penuh air mata, aku meraih pena itu. Tinta emasnya terasa begitu berat. "Baik, Devano," bisikku, suaraku serak karena isak tangis. "Aku tanda tangan." Aku menatapnya untuk terakhir kali. Menatap mata lelaki yang pernah aku cintai setengah mati. "Tapi ingat kata-kataku hari ini, Devano Wijaya. Hari ini kamu menceraikan istrimu karena kamu pikir dia mandul. Suatu hari nanti, kamu akan berlutut di hadapanku dan menyesali semua hinaanmu. Kamu akan memohon agar aku kembali, tapi saat itu aku sudah tidak akan menoleh padamu lagi." Devano tertawa sinis. "Halusinasi. Tanda tangan saja." Aku menggoreskan tinta di atas kertas itu. dengan tangan gemetar namun hatiku sudah mantap. Aluna. Tanda tanganku yang mengakhiri segalanya. hari ini pernikahan yang aku banggakan berakhir dengan sangat menyedihkan. Baru saja tinta itu kering, sebuah suara yang sangat keras menggelegar dari pintu utama aula. BRAKK! Pintu kayu jati setinggi tiga meter itu terbuka dengan hentakan keras hingga membentur dinding. Semua orang, termasuk Devano dan Riana, terlonjak kaget dan menoleh bersamaan. Udara di dalam ruangan yang tadinya hangat langsung berubah menjadi dingin dan mencekam. Di ambang pintu, berdiri seorang pria. Tingginya hampir 190 cm. Setelan jas hitamnya dijahit sempurna mengikuti tubuhnya yang tegap dan berotot meski usianya tidak lagi muda. Rambutnya sedikit beruban di pelipis, tapi itu justru membuatnya terlihat semakin berkuasa dan kharismatik. Wajahnya tampan, tegas, dengan rahang yang keras dan mata hitam yang tajam seperti elang. Aura yang dia pancarkan bukanlah aura anak muda seperti Devano. Ini adalah aura seorang Raja. Seorang penguasa yang terbiasa semua orang tunduk padanya. Mahendra Wijaya. Ayah kandung Devano. Pemilik sejati, pendiri, dan pemegang saham terbesar Wijaya Group. Pria yang dijuluki 'The Untouchable King' karena tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun sejak istrinya meninggal 15 tahun lalu. Pria yang sudah lima tahun tidak pernah pulang ke rumah besar ini karena tinggal di luar negeri. Dia sudah kembali. Langkahnya pelan, tapi setiap hentakan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti palu godam yang menghantam jantung semua orang. Matanya menyapu seluruh ruangan, melewati Riana yang pucat, melewati Devano yang tiba-tiba menunduk takut, melewati Belinda yang terpesona. Dan akhirnya, matanya berhenti padaku. Padaku yang masih berlutut di lantai, dengan pipi basah oleh air mata, memegang surat cerai yang baru saja aku tanda tangani. Alisnya yang tebal berkerut dalam. "Siapa..." Suaranya berat, dalam, dan begitu dingin hingga membuat bulu kuduk semua orang merinding. "...yang membuat menantuku menangis dan berlutut di rumah saya?"Jam 9 pagi, di ruang keluarga lantai 2 paviliun utama. Setelah kejadian fitnah DNA palsu kemarin, Aluna, Mahendra, dan Devano sepakat untuk membuka kotak kayu jati tua yang ditemukan Bi Ijah di gudang paviliun belakang. Di dalam kotak itu ada amplop coklat yang sudah sangat menguning, tulisannya sudah agak pudar, tapi masih terbaca: _Untuk Mahendra dan Devano - Dari Ratna Mahendra memegang amplop itu dengan tangan gemetar. Devano duduk di sebelah Papanya, Aluna duduk di tengah mereka, memegang perutnya yang hamil 11 minggu 5 hari. "Mas, buka pelan-pelan ya Mas, kertasnya sudah tua..." kata Aluna. Mahendra membuka amplop itu dengan cutter kecil, takut robek. Di dalamnya ada 2 lembar surat tulis tangan dan 1 flashdisk hitam kecil. Mahendra membaca surat pertama dengan suara bergetar, dibacakan keras agar Devano dan Aluna dengar. *SURAT PERTAMA - UNTUK MAHENDRA:* _"Un
Pagi itu, tepat jam 10.15, gerbang utama Wijaya Estate yang biasanya tertutup rapat dan dijaga 4 security kekar, tiba-tiba terbuka paksa. Sebuah mobil Alphard putih masuk dengan ngebut, klaksonnya ditekan panjang, tidak peduli ada Bi Ijah yang sedang menyapu halaman dan hampir tertabrak. Security yang jaga gerbang tidak berani menghentikan mobil itu, karena mereka kenal plat nomornya. Itu mobil milik Tante Riana. Tante Riana adalah adik kandung dari Almarhumah Ibu Ratna Wijaya, ibu kandung Devano yang sudah meninggal 10 tahun lalu karena kanker. Setelah Ibu Ratna meninggal, Tante Riana memang sering keluar masuk komplek Wijaya Estate dengan alasan menjaga Devano, keponakannya. Di dalam mobil itu ada dua orang: Tante Riana yang memakai kacamata hitam besar, baju bermerek, tas Hermes oranye, dan di sebelahnya ada Belinda, mantan calon tunangan Devano yang dijodohkan Tante Riana, yang wajahnya masih agak bengkak bekas tamparan Aluna dua ming
Pagi itu, tepat di usia kehamilan Aluna 10 minggu, paviliun utama Wijaya Estate kembali heboh. Bukan karena USG, bukan karena Belinda datang lagi, tapi karena Mahendra Wijaya, Tuan Besar yang tidak pernah merayakan hal-hal kecil, tiba-tiba menyuruh semua pelayan menghias paviliun utama dengan bunga-bunga putih dan lampu-lampu kecil kuning hangat. "Bi Ijah, panggil tukang bunga! Saya mau 100 tangkai mawar putih! Dan panggil catering! Saya mau dinner romantis di taman belakang malam ini!" perintah Mahendra jam 7 pagi sambil memakai apron dapur, apron yang tidak pernah dia pakai selama 55 tahun hidupnya. Bi Ijah yang melihat Tuan Besarnya memakai apron dan mengocok telur untuk membuat pancake untuk Aluna, hampir pingsan karena kaget. "Tuan Besar... Tuan Besar masak?" "Iya, saya masak untuk istri saya dan anak saya. Ada masalah?" Bi Ijah menggeleng cepat. "Tidak ada Tuan Besar! Tidak ada! Bi Ijah p
Jam 8 pagi, komplek Wijaya Estate sudah heboh seperti mau ada presiden datang. Bukan presiden, tapi Nyonya Besar Aluna mau USG 4D pertama di usia kehamilan 9 minggu 4 hari. Bi Ijah dari jam 5 pagi sudah menyiapkan bubur kacang hijau untuk Aluna, karena kata orang tua dulu, makan kacang hijau bikin anak rambutnya lebat. Semua pelayan di paviliun utama berdiri berbaris di depan pintu sambil membawa tas-tas perlengkapan bayi yang baru dibeli Mahendra semalam lewat online. Mahendra sendiri, Tuan Besar Wijaya Group yang biasanya bangun jam 5 pagi untuk meeting dengan investor Singapura, hari ini bangun jam 7 pagi dan tidak mandi dengan terburu-buru. Dia memakai kemeja putih lengan panjang yang rapi, celana bahan hitam, dan parfum mahal yang biasanya hanya dia pakai untuk rapat direksi. Tapi hari ini bukan untuk rapat, hari ini untuk menemani istrinya melihat wajah anaknya. "Sayang, sudah siap?" panggil Mahendra dari ruang tamu p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.