LOGINEloise baru saja memasuki kamarnya ketika ponselnya kembali bergetar.
Ia meletakkan tas berisi buku-buku yang dibelinya di atas meja, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Ada satu pesan baru dari nomor tak dikenal yang mengirimkan ucapan selamat atas kelulusannya tadi. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. **Nomor Tak Dikenal:** *Maaf baru membalas. Kamu tidak perlu mengenalku. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu sudah menyelesaikan sekolahmu.* Eloise membaca pesan itu berulang kali. Kalimatnya terdengar sederhana, tetapi justru membuatnya semakin penasaran. **Eloise:** *Kalau begitu, bagaimana kamu tahu namaku dan tahu bahwa aku baru lulus?* Kali ini, balasan datang hampir seketika. **Nomor Tak Dikenal:** *Ada hal-hal tentang keluargamu yang mungkin belum kamu ketahui.* Eloise terdiam. Ia mengetik beberapa kata, menghapusnya, kemudian mengetik lagi. **Eloise:** *Siapa kamu sebenarnya?* Tidak ada balasan. Ia menunggu beberapa menit, tetapi layar ponselnya tetap diam. Akhirnya, Eloise menghela napas dan meletakkan ponsel di meja. "Orang aneh," gumamnya. Ia mencoba mengabaikan pesan itu. Mungkin seseorang sedang bercanda. Mungkin juga ada orang yang sengaja membuatnya penasaran. Namun, satu kalimat terus terngiang di pikirannya. *Ada hal-hal tentang keluargamu yang mungkin belum kamu ketahui.* Eloise tumbuh di tengah keluarga yang penuh kasih sayang. Papanya memang protektif, sedangkan mamanya sering mengingatkannya agar berhati-hati, tetapi ia tidak pernah merasa keluarganya menyimpan sesuatu yang benar-benar penting darinya. Setidaknya, selama ini ia berpikir demikian. *** Makan malam berlangsung seperti biasa. Gabriel duduk di ujung meja, Helena berada di sebelahnya, dan Eloise duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Para pelayan menyajikan hidangan satu per satu sebelum meninggalkan ruang makan. "Bagaimana perayaanmu tadi?" tanya Helena. Eloise tersenyum. "Menyenangkan, Ma. Laras banyak mengeluh tentang pengawalku." Gabriel melirik putrinya. "Apa mereka membuat masalah?" "Tidak, Pa. Mereka menjalankan tugasnya dengan sangat baik." Eloise berhenti sejenak. "Mereka bahkan mengawasi kami ketika sedang memilih buku." "Bagus." "Papa, itu bukan hal yang bagus." Helena terkekeh, sementara Gabriel mengangkat bahu seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Eloise kembali menyantap makanannya. Ia hampir melupakan pesan misterius yang diterimanya, sampai sebuah pertanyaan muncul di benaknya. "Pa, Ma, aku boleh bertanya sesuatu?" "Tentu," jawab Helena. "Apakah keluarga kita pernah memiliki masalah besar dengan keluarga lain?" Gerakan tangan Gabriel berhenti. Hanya sesaat, tetapi Eloise menyadarinya. Helena juga terdiam sebelum meletakkan sendoknya. "Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Gabriel. Eloise mencoba bersikap santai. "Aku hanya penasaran. Maksudku, keluarga kita punya banyak rekan bisnis, kan? Aku ingin tahu apakah pernah ada seseorang yang membuat masalah." Gabriel menatap putrinya cukup lama. "Dalam dunia bisnis, selalu ada perselisihan. Itu hal yang wajar." "Pernah sampai memutuskan hubungan keluarga?" Kali ini, Helena menoleh kepada suaminya. Pertukaran pandangan itu berlangsung singkat, tetapi tidak luput dari perhatian Eloise. Ada sesuatu. Ia tidak tahu apa, tetapi ia yakin kedua orang tuanya baru saja menghindari sebuah pertanyaan. "Setiap keluarga memiliki urusannya masing-masing," jawab Helena akhirnya. "Kalau ada masalah di masa lalu, itu bukan berarti kamu harus ikut menanggungnya." Eloise mengangguk perlahan. "Aku mengerti." Namun, sebenarnya ia belum mengerti sama sekali. "Sudah, habiskan makan malammu," ujar Gabriel dengan suara lembut, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Besok kita bisa membicarakan rencana kegiatanmu setelah lulus." Eloise tidak membantah. Ia menyelesaikan makan malamnya, kemudian meminta izin untuk kembali ke kamar. Begitu pintu ruang makan tertutup di belakangnya, Gabriel mengembuskan napas panjang. Helena menatap suaminya dengan cemas. "Menurutmu, apakah seseorang mulai memberitahunya?" Gabriel tidak segera menjawab. "Aku tidak tahu." "Gabriel, kita sudah berusaha melindunginya selama bertahun-tahun. Tetapi kita tidak bisa menyembunyikan masa lalu selamanya." "Aku tahu." "Kalau dia mengetahui semuanya dari orang lain, dia mungkin akan menganggap kita telah membohonginya." Gabriel menatap meja makan yang kini hampir kosong. "Kalau saatnya tiba, aku sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepada Eloise." Helena menggenggam tangan suaminya. "Pastikan kamu tidak terlambat." *** Di lantai atas, Eloise berjalan melewati lorong menuju ruang kerja kecil milik papanya. Awalnya, ia hanya ingin mengambil buku yang pernah dipinjamnya beberapa minggu lalu. Namun, saat melewati pintu ruang kerja utama, ia melihat pintunya tidak tertutup rapat. Cahaya lampu dari dalam menyinari sebagian lorong. Eloise berhenti. Ia tahu seharusnya ia tidak mengintip. Ruangan itu menyimpan dokumen penting milik papanya, dan ia selalu diajarkan untuk menghormati privasi orang lain. Namun, sebuah nama di atas dokumen yang tergeletak dekat pintu membuat langkahnya tertahan. **EVANDER GROUP.** Eloise mengenal nama perusahaan itu. Hampir semua orang di Aurelia pernah mendengar tentang konglomerat keluarga Evander, salah satu kelompok bisnis paling berpengaruh di kota tersebut. Tetapi mengapa nama itu muncul dalam dokumen milik papanya? Ia mengulurkan tangan, kemudian berhenti sebelum menyentuh kertas tersebut. "Eloise?" Suara Helena membuatnya terkejut. Eloise segera berbalik. "Mama!" Helena berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya beralih dari Eloise ke pintu ruang kerja, lalu kembali kepada putrinya. "Kamu sedang apa di sini?" "Aku mau mengambil buku di ruang kerja kecil Papa." Eloise menunjuk ke arah ruangan di ujung lorong. "Aku tidak sengaja melihat dokumen itu." Helena memandang dokumen yang dimaksud. Untuk sesaat, wajahnya kehilangan warna. Kemudian ia melangkah mendekat, mengambil berkas tersebut, dan menutup pintu ruang kerja dengan hati-hati. "Eloise, ada beberapa dokumen yang tidak boleh dibaca sembarangan." "Aku tahu, Ma. Aku tidak membacanya." Helena mengangguk, tetapi tangannya menggenggam berkas itu terlalu erat. Eloise memperhatikan sikap ibunya. "Mama, kenapa nama Evander Group ada di dokumen Papa?" Helena terdiam. Pertanyaan sederhana itu seolah membuat udara di antara mereka berubah. "Itu urusan bisnis lama," jawab Helena akhirnya. "Bisnis lama?" "Ya." "Apakah Papa mengenal keluarga Evander secara pribadi?" Helena menatap putrinya, seakan sedang mempertimbangkan jawaban yang paling aman. "Dahulu, keluarga kita cukup dekat dengan mereka." Eloise mengerjap. "Cukup dekat sampai sering berkunjung?" "Lebih dari itu." Helena menyadari kesalahannya begitu kalimat tersebut terucap. Eloise langsung menangkapnya. "Lebih dari itu bagaimana, Ma?" Helena mengusap lengan putrinya dengan lembut. "Sekarang sudah malam. Kamu sebaiknya beristirahat. Kita akan membicarakan hal ini pada waktu yang tepat." "Tapi-" "Eloise." Suara Helena tetap lembut, tetapi kali ini lebih tegas. "Percayalah kepada Mama." Eloise menutup mulutnya. Ia menyayangi ibunya. Ia tidak ingin memaksanya menjawab sesuatu yang belum siap diceritakan. Namun, saat Helena berjalan menjauh sambil membawa dokumen itu, Eloise merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Seolah ada sebuah pintu di masa lalunya yang selama ini sengaja dikunci. Dan kini, tanpa sengaja, ia telah melihat celah kecil di baliknya. *** Pada waktu yang sama, di sebuah gedung perkantoran di pusat kota Aurelia, seorang pria berdiri di hadapan jendela besar. Lampu-lampu kota berkilauan di bawahnya. Di atas meja, terdapat sebuah berkas tua dengan sudut-sudut menguning. Pada halaman pertama tertulis nama dua keluarga yang pernah menjalin hubungan dekat. Evander. Ilona. Pria itu membuka halaman berikutnya, memperhatikan salinan dokumen lama, lalu mengangkat sudut bibirnya. "Empat belas tahun," gumamnya. "Dan mereka masih belum mengetahui kebenarannya." Pintu ruangan terbuka. Seorang pria lain masuk membawa map hitam. "Dokumen yang Anda minta sudah ditemukan." Pria di dekat jendela menoleh. "Bagus. Apakah ada yang mengetahui keberadaan dokumen itu?" "Sejauh yang kami ketahui, tidak ada." "Pastikan tetap seperti itu." Pria tersebut meletakkan map hitam di atas meja, lalu ragu-ragu sebelum bertanya, "Bagaimana dengan putri keluarga Ilona?" Senyum di wajah pria itu menghilang. "Jangan menyentuhnya." "Baik." "Untuk sekarang, kita hanya perlu memastikan bahwa keluarga Evander dan Ilona tetap saling curiga. Selama mereka tidak saling percaya, tidak ada yang akan mencari tahu siapa yang sebenarnya memulai semua ini." Ia menutup berkas tua itu. Di sampulnya terdapat sebuah tulisan yang hampir pudar. **PERJANJIAN KELUARGA EVANDER-ILONA.** Pria itu memandang tulisan tersebut cukup lama sebelum memasukkan berkasnya ke dalam laci yang terkunci. Empat belas tahun lalu, sebuah kebohongan telah memisahkan dua keluarga. Kini, seseorang mulai memastikan bahwa kebohongan itu tidak pernah terungkap. Dan tanpa mengetahui apa pun, Eloise Felicia Ilona baru saja mengambil langkah pertama menuju rahasia yang selama ini tersembunyi di balik namanya sendiri.Harga Sebuah KepercayaanPagi itu, Eloise sedang duduk di dekat jendela kamarnya ketika ponselnya bergetar.Sebuah pesan dari Laras muncul di layar.**Laras:***Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Kamu bisa bertemu dengan pihak keluarga yang membutuhkan pekerja itu besok.*Eloise segera meraih ponselnya dengan penuh antusias.**Eloise:***Benarkah? Akhirnya! Di mana kita akan bertemu?*Ia menunggu balasan sambil sesekali melirik jam di dinding. Tidak lama kemudian, pesan baru masuk.**Laras:***Aku akan menjemputmu. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan sebelum kamu bertemu mereka.*Eloise tersenyum lebar. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya ia mendapatkan kepastian.Ia membayangkan bahwa pertemuan tersebut akan menjadi langkah pertamanya menuju kehidupan yang selama ini diinginkannya. Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya mampu bertanggung ja
Langkah Menuju Kehidupan BaruPagi itu, Eloise terbangun lebih awal dari biasanya.Sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamarnya, menerangi ruangan yang tertata rapi. Namun, berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, pikirannya sudah dipenuhi berbagai pertanyaan tentang kesempatan yang ditawarkan Laras.Ia meraih ponsel di atas nakas, berharap ada kabar baru dari sahabatnya.Benar saja, sebuah pesan telah masuk beberapa menit lalu.Laras:Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Orang yang kuceritakan kemarin bersedia bertemu denganmu. Bagaimana kalau kita bertemu siang ini?Eloise langsung bangkit dari tempat tidur.Ia membaca pesan tersebut dua kali sebelum mengetik balasan.Eloise:Benarkah? Tentu saja aku mau! Di mana kita akan bertemu?Balasan Laras datang tidak lama kemudian.Laras:Kita bertemu di kafe yang biasa kita datangi. Nanti aku akan menjelaskan semuanya d
Kepercayaan yang DisalahgunakanMalam mulai menyelimuti Aurelia ketika Eloise kembali ke kediaman keluarganya. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama Laras di kafe tadi siang.Ia terus bertanya-tanya tentang kesempatan yang dimaksud sahabatnya. Laras memang belum menjelaskan secara terperinci, tetapi perkataannya berhasil menumbuhkan harapan baru di hati Eloise.Mungkin, untuk pertama kalinya, ia benar-benar bisa melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri.Sesampainya di rumah, Eloise mendapati ibunya sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah. Perempuan itu mengangkat wajah ketika mendengar langkah putrinya.“Sudah pulang, Sayang?”Eloise menghampiri ibunya dan mengecup pipinya sekilas.“Sudah, Ma.”“Bagaimana pertemuanmu dengan Laras? Menyenangkan?”“Menyenangkan sekali.” Eloise menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping ibunya. “Kami mengobrol banyak
Awal dari Sebuah KesalahanHari-hari setelah percakapannya dengan Laras berlalu seperti biasa. Eloise masih tinggal di rumah keluarganya, menjalani rutinitas yang selama ini terasa begitu mengekang. Meski telah menyelesaikan pendidikannya, ia tetap belum benar-benar mendapatkan kebebasan yang selama ini diinginkannya.Setiap kali hendak keluar rumah, dua pengawal yang ditugaskan ayahnya selalu bersiap mengikutinya. Bahkan, untuk sekadar pergi ke toko buku atau berjalan-jalan bersama Laras, Eloise harus menghadapi berbagai pertanyaan mengenai tujuan dan waktu kepulangannya.Bagi orang lain, kehidupan Eloise mungkin tampak sempurna. Ia memiliki keluarga terpandang, rumah yang nyaman, serta segala sesuatu yang dibutuhkan. Namun, bagi Eloise, semua kemudahan itu terkadang terasa seperti dinding tinggi yang membatasi langkahnya.Pagi itu, Eloise sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Laras, membaca kem
Rencana di Balik Senyuman“Eloise, kamu kenapa? Dari tadi melamun terus. Jangan bilang kamu masih memikirkan kedua pengawalmu itu.”Suara Laras membuyarkan lamunan Eloise. Gadis itu melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajah sahabatnya, berusaha menarik perhatian Eloise yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah jendela.Eloise tersentak kecil. Ia mengerjapkan mata, lalu menoleh kepada Laras yang kini sedang menatapnya dengan ekspresi heran.“Eh? Kamu bicara apa tadi?” tanyanya sambil tersenyum canggung.Laras mengembuskan napas panjang, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.“Ya ampun, Eloise! Kamu benar-benar tidak mendengarkanku, ya? Dari tadi aku bicara panjang lebar, tetapi kamu malah melamun sendiri. Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan?”Eloise terkekeh pelan. Ia merapikan rambutnya yang sedikit jatuh ke wajah, kemudian menggeleng ringan.“Tidak ada apa-apa, kok. Aku hanya sed
Pagi itu, Eloise bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena ia memiliki jadwal pemeriksaan, bukan pula karena mamanya memintanya bersiap untuk menghadiri acara keluarga. Ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak semalam.Evander Group.Nama itu berkali-kali muncul di benaknya, disusul ekspresi aneh yang ditunjukkan kedua orang tuanya ketika ia menanyakannya.Eloise bukan anak kecil lagi. Ia tahu bahwa orang dewasa terkadang menyimpan rahasia dengan alasan ingin melindungi seseorang. Namun, ia juga tahu bahwa tidak semua rahasia membuat seseorang merasa lebih aman.Ia duduk di tepi tempat tidur, meraih laptop, kemudian membuka mesin pencari.Jarinya mengetik sebuah nama.**Evander Group.**Dalam hitungan detik, berbagai informasi muncul di layar. Berita bisnis, laporan keuangan, foto gedung perkantoran, hingga artikel tentang keluarga yang mengendalikan salah satu perusahaan terbesar di Aurelia.







