เข้าสู่ระบบSetahun kemudian, aku pindah dari griya tawang di Lakeview. Aku tidak menjualnya. Aku belum cukup berani melakukan itu sekaligus.Aku mengunci pintunya, menyerahkan kuncinya kepada pengelola properti, lalu pindah ke apartemen yang lebih kecil dengan dinding putih, lantai kayu tua, dan jendela yang membiarkan sinar matahari pagi masuk.Malam pertama di sana, aku tidur dengan gelisah. Malam kedua, tidurku sedikit lebih nyenyak. Menjelang akhir bulan, aku berhenti terbangun hanya untuk memeriksa apakah Luca sudah pulang.Kesembuhan tidak datang seperti sebuah kemenangan. Kesembuhan hadir sedikit demi sedikit.Sepiring makanan yang bisa kuhabiskan, gaun yang bukan lagi berwarna hitam, dan suatu pagi ketika aku bercermin tanpa lagi merasa seperti wanita yang ditinggalkan.Dante tetap berada di sisiku. Dia mengingat jadwal pemeriksaanku, membelikan teh yang selalu kukatakan tidak kusukai, dan menemaniku melewati malam-malam tanpa pernah memaksaku menjadi lebih bahagia daripada yang sanggup k
Dua bulan kemudian, Sofia mengajakku bertemu di sebuah kafe yang tenang di tepi danau. Dia mengenakan mantel longgar berwarna krem. Wajahnya pucat dan lelah, dengan satu tangan bertumpu di atas perutnya.Dia tidak lagi terlihat seperti pengantin wanita yang berbinar bahagia di gereja. Dia lebih tampak seperti gadis yang dulu pernah menangis di sofa rumahku.Saat melihatku, matanya langsung berkaca-kaca. "Kamu datang.""Hanya sebentar."Kami duduk saling berhadapan.Untuk waktu yang cukup lama, tak seorang pun berbicara. Danau di balik jendela tampak kelabu, sementara hujan mengalir membentuk garis-garis tipis di atas kaca. Sofia meremas serbet di tangannya."Aku terus memikirkan setiap kali kamu menangisi dia, sementara aku malah menyuruhmu melanjutkan hidup. Aku sama sekali nggak tahu kalau selama ini aku tidur di samping jawaban yang kamu cari.""Kamu memang nggak tahu," kataku."Aku seharusnya tahu." Suaranya pecah."Kamu sahabatku. Aku seharusnya bertanya lebih banyak. Seharusnya a
Beberapa minggu berikutnya berlalu dalam keheningan yang aneh. Sofia terus mengirim pesan yang tidak sanggup kubalas.[ Aku minta maaf. ][ Kamu sudah makan? ][ Tolong balas. Setidaknya bilang kalau kamu masih hidup. ]Kadang aku mengetik balasan, lalu menghapusnya lagi. Luca tidak pernah datang lagi ke griya tawang. Namun, jejak kehadirannya masih ada di mana-mana.Cincinnya masih berada di mangkuk kecil dekat pintu masuk. Mantelnya masih tergantung di lemari. Namanya masih tercantum di dokumen keadaan darurat lama, formulir asuransi lama, dan serpihan-serpihan kehidupan yang selama ini terlalu kutakuti untuk kubongkar.Aku mulai menyingkirkannya sedikit demi sedikit.Hari pertama aku membuang botol wiski miliknya, aku duduk di lantai dapur sambil menangis tersedu-sedu.Hari pertama aku mengganti seprai abu-abu itu dengan seprai biru pucat, aku merasa bersalah. Seolah-olah aku sedang mengkhianati pria yang telah meninggal.Dante sering datang. Namun, dia tidak pernah memaksakan dirin
Keesokan paginya, Sofia sudah mengemas dua koper. Dia berdiri di dekat pintu dengan mata yang bengkak, menolak membiarkan para pengawal Luca menyentuh kopernya.Luca berdiri tidak jauh darinya, seolah-olah Sofia akan hancur jika dia mengalihkan pandangan sedetik saja.Aku berdiri di seberang ruangan, masih mengenakan gaun yang kupakai semalam. Aku terlalu lelah bahkan untuk berganti pakaian."Kami akan kembali ke rumah Keluarga Rustam," kata Sofia. Suaranya serak. "Kurasa nggak seharusnya kita semua tinggal di bawah atap yang sama sekarang."Aku mengangguk. Dia berjalan satu langkah ke arahku, lalu berhenti. Sebagai gantinya, dia memeluk dirinya sendiri. "Elena, aku bersumpah, kalau saja aku tahu ....""Aku tahu," jawabku lagi.Dia menangis semakin keras. "Itu tetap nggak membuat semuanya menjadi lebih baik."Tidak. Memang tidak.Luca memandangi kami berdua dengan wajah yang begitu tegang hingga tampak menyakitkan. Saat Sofia turun bersama para pengawal, dia tetap tinggal."Aku harus m
Luca menungguku di ruang tamu. Dia duduk dalam kegelapan dengan sebatang rokok yang hampir habis sampai ke filternya.Saat aku melangkah masuk, matanya melirik gaunku, jari manisku yang kosong, dan wajahku yang lelah. Lalu, sebersit emosi yang begitu ganas melintas di wajahnya sebelum kembali dia sembunyikan."Dia yang membuatmu menangis," tanyanya, "Atau bagian itu memang kamu sisakan untukku?"Aku meletakkan tas tanganku dengan jemari yang gemetar. "Nggak terjadi apa-apa.""Kamu pulang menjelang fajar dari suite Dante, lalu bilang nggak terjadi apa-apa?""Nggak terjadi apa-apa," ulangku.Dia berdiri, lalu menghampiriku dengan beberapa langkah cepat. "Kamu berharap aku percaya?"Aku mundur hingga bahuku membentur dinding. "Tiga tahun lalu kamu langsung percaya hanya karena satu panggilan telepon. Kenapa sekarang nggak?"Kata-kataku menghantamnya."Jangan membalikkan semuanya ke aku. Aku kembali untuk mencarimu. Aku mendengar dia mengangkat teleponmu seolah-olah dia memang pantas berad
Pintu lift tertutup sebelum lututku benar-benar kehilangan tenaga. Aku menyandarkan satu tangan pada dinding cermin dan berusaha mengatur napas.Selama beberapa detik, aku hampir saja kembali ke sana. Bahkan setelah semua yang terjadi, masih ada bagian dari diriku yang telah hancur dan tetap berharap dia akan mengejarku lalu memberikan penjelasan.Pintu lift terbuka di lantai privat. Dante sudah menunggu di sana, bersandar di dinding dengan kedua tangan di dalam saku."Dia yang suruh kamu naik ke sini," katanya.Aku mengangguk."Kamu datang karena memang ingin ke sini?"Pertanyaan sederhana itu nyaris menghancurkanku.Selama lima tahun, Luca tidak pernah bertanya apa yang kuinginkan. Tak seorang pun di ruangan tadi melakukannya. Aku menunduk menatap kartu kunci di tanganku lalu berbisik, "Aku nggak tahu harus pergi ke mana lagi."Raut wajah Dante berubah. Dia mengambil kartu itu dari tanganku, membuka pintu suite, lalu menyingkir ke samping tanpa menyentuhku."Kalau begitu masuklah, du







