LOGINLima tahun setelah Luca dari Keluarga Brahmana menghilang, aku bertemu dengannya lagi di pernikahan sahabatku. Dia adalah mempelai pria, sedangkan aku hanya seorang pengiring pengantin. Sofia, sahabat terdekatku sekaligus mempelai wanita, menggandeng lenganku dengan riang sambil terus menceritakan kisah cinta mereka. "Aku yang menyelamatkan Luca setelah kecelakaan mobilnya. Kudengar waktu itu dia sudah punya tunangan, tapi diam-diam kubawa dia ke rumah sakit pribadi milik keluargaku untuk dirawat." "Kamu jangan terus cari tunanganmu yang hilang. Semua pendamping pengantin pria di sini tampan-tampan. Biar aku kenalkan kamu dengan salah satu dari mereka!"
View MoreSetahun kemudian, aku pindah dari griya tawang di Lakeview. Aku tidak menjualnya. Aku belum cukup berani melakukan itu sekaligus.Aku mengunci pintunya, menyerahkan kuncinya kepada pengelola properti, lalu pindah ke apartemen yang lebih kecil dengan dinding putih, lantai kayu tua, dan jendela yang membiarkan sinar matahari pagi masuk.Malam pertama di sana, aku tidur dengan gelisah. Malam kedua, tidurku sedikit lebih nyenyak. Menjelang akhir bulan, aku berhenti terbangun hanya untuk memeriksa apakah Luca sudah pulang.Kesembuhan tidak datang seperti sebuah kemenangan. Kesembuhan hadir sedikit demi sedikit.Sepiring makanan yang bisa kuhabiskan, gaun yang bukan lagi berwarna hitam, dan suatu pagi ketika aku bercermin tanpa lagi merasa seperti wanita yang ditinggalkan.Dante tetap berada di sisiku. Dia mengingat jadwal pemeriksaanku, membelikan teh yang selalu kukatakan tidak kusukai, dan menemaniku melewati malam-malam tanpa pernah memaksaku menjadi lebih bahagia daripada yang sanggup k
Dua bulan kemudian, Sofia mengajakku bertemu di sebuah kafe yang tenang di tepi danau. Dia mengenakan mantel longgar berwarna krem. Wajahnya pucat dan lelah, dengan satu tangan bertumpu di atas perutnya.Dia tidak lagi terlihat seperti pengantin wanita yang berbinar bahagia di gereja. Dia lebih tampak seperti gadis yang dulu pernah menangis di sofa rumahku.Saat melihatku, matanya langsung berkaca-kaca. "Kamu datang.""Hanya sebentar."Kami duduk saling berhadapan.Untuk waktu yang cukup lama, tak seorang pun berbicara. Danau di balik jendela tampak kelabu, sementara hujan mengalir membentuk garis-garis tipis di atas kaca. Sofia meremas serbet di tangannya."Aku terus memikirkan setiap kali kamu menangisi dia, sementara aku malah menyuruhmu melanjutkan hidup. Aku sama sekali nggak tahu kalau selama ini aku tidur di samping jawaban yang kamu cari.""Kamu memang nggak tahu," kataku."Aku seharusnya tahu." Suaranya pecah."Kamu sahabatku. Aku seharusnya bertanya lebih banyak. Seharusnya a
Beberapa minggu berikutnya berlalu dalam keheningan yang aneh. Sofia terus mengirim pesan yang tidak sanggup kubalas.[ Aku minta maaf. ][ Kamu sudah makan? ][ Tolong balas. Setidaknya bilang kalau kamu masih hidup. ]Kadang aku mengetik balasan, lalu menghapusnya lagi. Luca tidak pernah datang lagi ke griya tawang. Namun, jejak kehadirannya masih ada di mana-mana.Cincinnya masih berada di mangkuk kecil dekat pintu masuk. Mantelnya masih tergantung di lemari. Namanya masih tercantum di dokumen keadaan darurat lama, formulir asuransi lama, dan serpihan-serpihan kehidupan yang selama ini terlalu kutakuti untuk kubongkar.Aku mulai menyingkirkannya sedikit demi sedikit.Hari pertama aku membuang botol wiski miliknya, aku duduk di lantai dapur sambil menangis tersedu-sedu.Hari pertama aku mengganti seprai abu-abu itu dengan seprai biru pucat, aku merasa bersalah. Seolah-olah aku sedang mengkhianati pria yang telah meninggal.Dante sering datang. Namun, dia tidak pernah memaksakan dirin
Keesokan paginya, Sofia sudah mengemas dua koper. Dia berdiri di dekat pintu dengan mata yang bengkak, menolak membiarkan para pengawal Luca menyentuh kopernya.Luca berdiri tidak jauh darinya, seolah-olah Sofia akan hancur jika dia mengalihkan pandangan sedetik saja.Aku berdiri di seberang ruangan, masih mengenakan gaun yang kupakai semalam. Aku terlalu lelah bahkan untuk berganti pakaian."Kami akan kembali ke rumah Keluarga Rustam," kata Sofia. Suaranya serak. "Kurasa nggak seharusnya kita semua tinggal di bawah atap yang sama sekarang."Aku mengangguk. Dia berjalan satu langkah ke arahku, lalu berhenti. Sebagai gantinya, dia memeluk dirinya sendiri. "Elena, aku bersumpah, kalau saja aku tahu ....""Aku tahu," jawabku lagi.Dia menangis semakin keras. "Itu tetap nggak membuat semuanya menjadi lebih baik."Tidak. Memang tidak.Luca memandangi kami berdua dengan wajah yang begitu tegang hingga tampak menyakitkan. Saat Sofia turun bersama para pengawal, dia tetap tinggal."Aku harus m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.