공유

Bab 4

작가: Emerald
"Ada perlu apa kamu kemari?"

Dulu, setiap kali Adrian datang menghampiri untuk sekadar berbasa-basi, aku selalu merasa tersanjung. Mungkin karena tidak menyangka aku akan bersikap sedingin ini, dia sempat tertegun sesaat. Raut wajahnya tampak agak canggung.

"Ada satu hal."

"Imelda baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar. Aku berencana menaikkan jabatannya, sekaligus memberi motivasi pada karyawan lain. Menurutmu gimana?"

Adrian menatapku.

Di mulut dia memang bertanya pendapatku, tapi aku tahu betul, kali ini dia hanya memberi tahu, bukan benar-benar meminta opiniku.

Aku tetap mengangguk. "Aku nggak keberatan."

"Tapi penghargaan juga harus disertai hukuman. Kalau nggak, tim akan sulit diatur."

"Kamu sudah cukup lama nggak menyelesaikan proyek apa pun, jadi aku ingin memindahkanmu ke posisi bawah dulu untuk sementara. Nanti kalau sudah waktunya, aku akan memindahkanmu kembali."

"Tenang saja, nggak akan lama. Aku melakukan ini demi kepentingan keseluruhan. Kamu 'kan tunanganku, seharusnya kamu mendukungku."

Di dalam hati aku mencibir. Ternyata sampai sekarang dia sama sekali tidak tahu bahwa aku sudah mengundurkan diri.

Dia bisa menilai suasana hati Imelda hanya dari petunjuk-petunjuk kecil, bisa memahami kesukaan Imelda dari detail sepele. Namun sekarang, surat pengunduran diriku sudah ditandatangani olehnya sendiri saja dia sama sekali tidak menyadarinya.

Memang benar, peduli atau tidak peduli, cukup dari beberapa kalimat sudah terlihat jelas.

Melihat aku diam, Adrian mengira aku akan kembali berdebat dengannya seperti dulu. Wajahnya langsung menggelap.

"Meski kamu nggak setuju, tetap saja nggak ada gunanya. Dokumennya sudah aku edarkan dan kantormu juga sudah aku berikan pada Imelda."

"Pilihannya cuma dua, kamu terima pemindahan posisi ini atau kamu pergi," ancamnya. "Tapi aku sarankan kamu berpikir matang-matang. Perusahaan sedang dalam tahap persiapan go public. Sebelum pergi, sebaiknya kamu pertimbangkan baik-baik."

Nada bicaranya penuh keyakinan bahwa aku tidak akan pergi.

Hal seperti ini sudah terlalu sering terjadi. Dalam setahun singkat, hanya karena beberapa kalimat dari Imelda, posisiku di perusahaan terus merosot.

Saat itu aku masih bisa menahannya. Adrian pun yakin, sekarang aku akan semakin tidak rela untuk pergi. Aku tersenyum pahit.

"Aku nggak bilang nggak setuju."

"Kalau begitu kita putuskan seperti ini saja." Nada Adrian terdengar ringan. Aku tidak mengatakan tidak setuju, berarti aku setuju.

Baru saja hendak pergi, entah menyadari sesuatu atau tidak, dia kembali melangkah mendekat. "Aku ingat dulu di mejamu ada foto kita berdua. Kenapa sekarang nggak ada?"

Baru saat itu aku tersadar. Sebenarnya bukan hanya di meja. Wallpaper ponselku, dinding kamar, dompetku, semuanya penuh dengan foto kami berdua.

Adrian pernah mengejekku, mengatakan pikiranku dipenuhi hal-hal sepele dan berlebihan seperti itu. Dia tidak tahu, foto-foto itu adalah caraku terus mengingatkan diri sendiri bahwa apa pun yang dilakukan Adrian padaku, dia tetap mencintaiku. Namun, belakangan aku baru menyadari betapa konyolnya diriku sendiri.

Setiap foto itu seolah mentertawakanku, mengejek betapa bodohnya aku.

Aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar, hanya berkata datar, "Bingkai fotonya nggak sengaja pecah, jadi aku simpan."

"Kenapa sih kamu selalu ceroboh dalam melakukan apa pun?" Adrian mengernyit dengan nada jijik, lalu segera menunduk mengecek lantai di sekitar kakinya, memastikan tidak ada pecahan kaca.

"Nanti cari waktu untuk membersihkannya dengan benar. Jangan sampai melukai orang."

Mungkin karena melihat aku tidak lagi bersikap tajam, nadanya pun sedikit melunak. Setelah berkata demikian, dia bangkit dan keluar dari ruang kerja.

Menatap punggungnya yang menjauh, aku tak bisa menahan diri untuk mentertawakan diriku sendiri. Dia tentu bukan sedang mengkhawatirkanku. Maksudnya barusan jelas, jangan sampai melukai Imelda.

Ini adalah rumah kami. Segala sesuatu di rumah ini selalu kuurus sendiri. Hingga beberapa bulan lalu, aku menemukan karet rambut kecil di lantai ruang kerjanya dan melihat posisi bantal di kamar tidur berubah. Saat itulah aku tahu, dia sudah membawa Imelda ke sini berkali-kali.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 12

    Mendengar itu, Adrian tertegun."Setelah kita rujuk, perusahaan itu akan menjadi aset bersama kita. Nggak ada alasan untuk ragu dalam melindungi hak yang sah."Aku menyelipkan ponsel itu ke tangannya. Namun, Adrian lama sekali tidak menekannya."Penny, Imelda masih muda. Meskipun dia nggak punya jasa besar untuk perusahaan, setidaknya dia sudah banyak berkorban.""Kalau begitu, gimana denganku?" Aku menatapnya dengan senyuman mengejek. "Jadi, penderitaan dan kerugian yang kualami dulu, kamu anggap nggak pernah terjadi begitu saja?""Lagi pula, sekarang dia masih bebas di luar sana. Gimana aku bisa menjamin kamu nggak terlibat lagi dengannya? Kalau kamu mengirimnya masuk penjara, aku baru bisa bersamamu tanpa rasa khawatir."Aku berbisik pelan di dekat telinganya, seperti bisikan iblis.Adrian membelalak menatapku. Kata-kata itu seolah-olah memberinya keberanian. Dia menarik napas dalam-dalam, menggertakkan gigi, lalu menekan tombol sambung."Halo ...."Namun, tepat saat sambungan terhu

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 11

    "Ngapain kamu ke sini lagi?" Aku memandangnya dengan tenang, seperti sedang melihat orang asing.Adrian tampaknya juga menyadarinya. Dia mengatupkan bibirnya, cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Penny, aku sudah putus dengan Imelda. Aku sudah memikirkannya lagi. Aku bersedia meninggalkan segalanya dan ikut kamu ke luar negeri.""Aku tahu kamu masih marah padaku, tapi aku sudah tahu aku salah. Aku akan cari cara untuk menangani perusahaan di dalam negeri, lalu melupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal."Aku menatap sorot matanya yang terlihat teguh, hanya merasa geli. "Kamu memang mau cari cara menangani, atau perusahaanmu memang sudah akan mengumumkan kebangkrutan dan likuidasi?"Meskipun aku sudah tidak lagi memperhatikan urusan Adrian, rekan kerja yang sebelumnya berteman denganku masih sesekali mengajakku mengobrol. Dia memberitahuku bahwa tidak lama setelah aku pergi, proposal yang ditangani Imelda mengalami masalah serius dan membutuhkan ganti rugi dalam jumlah besar.Karena

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 10

    "Penny, sungguh, aku benar-benar kalah olehmu. Kamu harus tahu, ini pertama kalinya aku mengalah pada seorang perempuan. Kamu boleh bergembira dalam hati. Kesabaranku pada Imelda bahkan nggak sampai sepersepuluh dari kesabaranku padamu ...."Melihat Adrian hendak kembali berbicara dengan penuh semangat, aku menyela, "Kamu salah paham."Aku mengambil dokumen di sampingku, lalu menunjukkannya ke arah kamera. "Aku sudah berimigrasi. Aku nggak akan kembali lagi."Saat telepon ditutup, Adrian di seberang layar tampak seperti belum bereaksi. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, bahkan kotak cincin di tangannya terjatuh ke lantai.Namun, aku tahu dia bisa mencerna semuanya dan juga bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Sejak dia berkali-kali menyulitkanku demi membela Imelda, seharusnya dia sudah memikirkan bahwa hari ini akan tiba.Urusan Adrian kali ini tidak lagi memengaruhiku. Aku menyingkirkan panggilan itu dari benakku dan mencurahkan seluruh perhatian pada penelitian.Mungkin karena meny

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 9

    Seiring berjalannya waktu, minatnya berubah lagi dan lagi. Sementara aku, dalam penelitian yang kulakukan hari demi hari, justru semakin tenggelam dan semakin sulit melepaskan diri.Selama bertahun-tahun ini, meskipun aku selalu berada di perusahaan Adrian, mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan robot, di waktu luang aku tetap memperhatikan perkembangan di bidang itu. Karena itu, saat kembali meneliti, aku tidak merasa terlalu kesulitan.Di tengah waktu itu, Adrian kembali mengirimiku beberapa pesan. Intinya, dia tetap tidak percaya bahwa aku benar-benar akan meninggalkannya dan beberapa kali mencoba menawarkan jalan kembali. Namun, aku tidak membalas.Kemudian, Adrian mengirimiku beberapa foto lagi. Itu adalah surat pemberitahuan mutasi jabatan Imelda."Aku sudah menyelidikinya dengan jelas. Pengajuan pengunduran dirimu bukan aku yang menyetujuinya, tapi kesalahan operasional Imelda. Dia nggak tahu kalau orang yang mengajukan adalah kamu.""Sekarang aku su

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 8

    Kali ini aku tidak lagi dibuat bungkam oleh amarahnya. Aku mengeluarkan ponselku. "Kalau begitu, silakan kamu sampaikan kalimat itu ke polisi."Aku sebenarnya tidak berniat membuat keributan. Namun, aku sudah siap. Kalau dia terus memaksa tanpa alasan, aku akan benar-benar akan memutuskan hubungan dengannya.Melihat aku benar-benar menekan nomor polisi, Adrian langsung pucat. Dia melangkah maju untuk merebut ponselku, lalu memutus panggilan itu."Penny, kamu gila?""Aku nggak gila. Aku hanya ingin tahu, yang kamu katakan itu diakui oleh hukum atau nggak."Mungkin karena belum pernah melihatku berani melawan sejauh ini, Adrian terlihat panik. Dia mengatupkan bibirnya, lalu berkata, "Sudah, Penny, jangan ribut lagi. Aku tahu kamu keberatan soal Imelda. Mulai besok, aku nggak akan lagi bertemu dengannya sendirian, oke?""Soal pernikahan kita, aku akan langsung menjadwalkannya." Dia mengeluarkan ponselnya. "Wedding organizer ini sudah lama aku perhatikan. Setelah pulang dari perjalanan din

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 7

    Tubuh Adrian sedikit menegang.Sebaliknya, mata Imelda justru berbinar sesaat. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman puas. Meskipun dia segera kembali bersikap seperti biasa, aku tetap melihatnya dengan sangat jelas."Kak Penny, ucapanmu barusan agak berlebihan. Bagaimanapun kalian tetap ....""Sudah, Imelda, kamu keluar dulu." Sebelum Imelda sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian memotongnya dengan suara datar.Sisa kata-kata Imelda tertahan di mulut. Dia lalu berpura-pura menasihati Adrian agar tidak marah dan membicarakan semuanya baik-baik sebelum akhirnya turun dengan ekspresi puas.Setelah dia pergi, Adrian menatapku dengan dingin."Penny, kamu makin keterlaluan ya? Aku sudah setuju menikah denganmu, lalu kamu masih ribut apa lagi?""Tarik kembali ucapan putus itu. Surat pengunduran dirimu nggak akan kutandatangani. Sekarang sobek saja, anggap aku nggak pernah lihat."Melihat kepercayaan dirinya, aku merasa geli sekaligus sedih. Aku tahu, sikapnya yang seperti ini

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status