Share

Bab 3

Penulis: Emerald
Belum lama ini, Adrian dan Imelda memanfaatkan alasan perjalanan dinas untuk pergi berlibur. Memanfaatkan kesempatan itu, aku mengajukan surat pengunduran diri. Sesuai dugaan, saat bersama Imelda, perhatian Adrian sepenuhnya tertuju padanya. Dia bahkan tidak melirik sekilas pun, langsung menyetujuinya.

Sekarang, tinggal tiga hari lagi.

Menunggu tiga hari sampai proses serah-terima pekerjaan selesai, aku bisa pergi sepenuhnya.

Setelah berpikir sejenak, aku menelepon dosen pembimbingku di lembaga riset luar negeri.

Begitu lulus, aku diterima di institut tersebut sebagai lulusan berprestasi, menikmati fasilitas dan gaji yang sangat tinggi. Namun ketika Adrian mengatakan bahwa mendirikan perusahaan membutuhkan orang kepercayaan, aku tanpa ragu mengundurkan diri dari pekerjaan itu.

Meski sang dosen berulang kali membujukku untuk berpikir ulang, aku tetap bersikeras pulang ke tanah air dan menemaninya merintis dari nol. Sekarang kalau dipikir-pikir, diriku yang dulu benar-benar bodoh.

Perasaan bisa berubah kapan saja, hanya usaha dan kemampuan diri sendiri yang tidak akan mengkhianati.

Setelah telepon tersambung, aku menjelaskan maksudku.

Kupikir aku akan dimarahi habis-habisan, tapi siapa sangka sang dosen justru menghela napas dan mengatakan bahwa dia sebenarnya sudah lama mengetahui keadaanku, dan sejak awal memang berniat memintaku kembali.

"Tapi kali ini, apa kamu benar-benar sudah memikirkannya dengan matang?"

Aku mengangguk. "Sudah. Urusan pengunduran diri juga sudah beres."

"Pengunduran diri? Pengunduran diri apa?"

Seruan terkejut terdengar.

Aku menoleh ke belakang dan melihat Adrian mendorong pintu lalu masuk.

....

Aku menunduk melirik layar, menyadari bahwa panggilan dengan dosen sudah terputus. Dengan tenang, aku mematikan layar ponsel.

Aku sedang berpikir bagaimana harus menjelaskannya, ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pesan dari Imelda. Dia mengatakan bahwa di perjalanan pulang dia bertemu seekor anak kucing liar, lalu sengaja mampir ke toko untuk membeli sebatang sosis.

[ Adrian: Lucu sekali. ]

Pesan balasan datang seketika.

[ Imelda: Anak kucingnya yang lucu atau aku yang lucu? ]

Tak lama kemudian, terkirim sebuah swafoto Imelda yang sedang menggendong anak kucing, memonyongkan bibir sambil membentuk tanda dua dengan jarinya.

Sudut bibir Adrian tanpa sadar terangkat membentuk senyum.

[ Anak kucingnya lucu, tapi kamu lebih lucu. ]

Sepertinya dia baru menyadari aku masih ada di sana. Adrian menahan senyumnya dan mengerutkan dahi, lalu menatapku. "Bukannya aku suruh kamu istirahat lebih awal? Kenapa masih berdiri di sini?"

Nada bicaranya dingin, sama sekali berbeda dengan sikapnya saat menghadapi Imelda. Ucapanku tentang pengunduran diri barusan pun seolah sudah dilupakannya begitu saja.

Aku terkekeh ringan, memilih tidak menjelaskan. "Masih ada beberapa hal yang belum selesai."

"Sudah larut begini, memangnya pekerjaan rumah apa lagi yang belum beres? Kenapa nggak diatur dari awal? Penny, aku nggak ingin menegurmu, tapi kebiasaan menundamu sudah keterlaluan," keluh Adrian sambil mengernyit.

Aku tidak menjelaskan bahwa kebiasaan menundaku disebabkan oleh pengaturannya yang sering mendadak. Aku juga tidak lagi berdebat sampai wajah memerah demi menjelaskan kesulitanku.

Melihat aku diam, Adrian pun tidak berkata apa-apa lagi dan langsung masuk ke kamar tidur.

Tak lama kemudian, dari dalam kamar terdengar tawa riangnya. Aku jarang sekali melihatnya tertawa seperti itu. Hanya saat bersama Imelda dia bisa tertawa sebahagia itu.

Aku tidak memedulikannya. Aku duduk di meja dan mengeluarkan materi bahasa asing yang belum sempat kuselesaikan sebelumnya.

Setelah lima tahun berlalu, arah riset di lembaga penelitian sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Jika ingin kembali, meski ada bantuan dosen, kemampuanku sendiri juga harus benar-benar kuat. Untungnya, dasar kemampuanku masih kokoh. Mengulanginya kembali tidak akan memakan waktu terlalu lama.

"Kamu sedang baca majalah berbahasa asing?"

Saat aku tengah fokus menelaah, entah sejak kapan Adrian tiba-tiba masuk ke ruangan. Dia mengangkat tangan dan mengambil majalah itu, membaliknya sekilas dua halaman lalu melemparkannya kembali.

Dengan dengusan ringan, dia berkata, "Untuk apa kamu baca beginian? Memangnya kamu mengerti?"

"Hanya sekadar melihat-lihat," jawabku dengan nada datar sambil merapikan kembali berkas.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 12

    Mendengar itu, Adrian tertegun."Setelah kita rujuk, perusahaan itu akan menjadi aset bersama kita. Nggak ada alasan untuk ragu dalam melindungi hak yang sah."Aku menyelipkan ponsel itu ke tangannya. Namun, Adrian lama sekali tidak menekannya."Penny, Imelda masih muda. Meskipun dia nggak punya jasa besar untuk perusahaan, setidaknya dia sudah banyak berkorban.""Kalau begitu, gimana denganku?" Aku menatapnya dengan senyuman mengejek. "Jadi, penderitaan dan kerugian yang kualami dulu, kamu anggap nggak pernah terjadi begitu saja?""Lagi pula, sekarang dia masih bebas di luar sana. Gimana aku bisa menjamin kamu nggak terlibat lagi dengannya? Kalau kamu mengirimnya masuk penjara, aku baru bisa bersamamu tanpa rasa khawatir."Aku berbisik pelan di dekat telinganya, seperti bisikan iblis.Adrian membelalak menatapku. Kata-kata itu seolah-olah memberinya keberanian. Dia menarik napas dalam-dalam, menggertakkan gigi, lalu menekan tombol sambung."Halo ...."Namun, tepat saat sambungan terhu

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 11

    "Ngapain kamu ke sini lagi?" Aku memandangnya dengan tenang, seperti sedang melihat orang asing.Adrian tampaknya juga menyadarinya. Dia mengatupkan bibirnya, cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Penny, aku sudah putus dengan Imelda. Aku sudah memikirkannya lagi. Aku bersedia meninggalkan segalanya dan ikut kamu ke luar negeri.""Aku tahu kamu masih marah padaku, tapi aku sudah tahu aku salah. Aku akan cari cara untuk menangani perusahaan di dalam negeri, lalu melupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal."Aku menatap sorot matanya yang terlihat teguh, hanya merasa geli. "Kamu memang mau cari cara menangani, atau perusahaanmu memang sudah akan mengumumkan kebangkrutan dan likuidasi?"Meskipun aku sudah tidak lagi memperhatikan urusan Adrian, rekan kerja yang sebelumnya berteman denganku masih sesekali mengajakku mengobrol. Dia memberitahuku bahwa tidak lama setelah aku pergi, proposal yang ditangani Imelda mengalami masalah serius dan membutuhkan ganti rugi dalam jumlah besar.Karena

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 10

    "Penny, sungguh, aku benar-benar kalah olehmu. Kamu harus tahu, ini pertama kalinya aku mengalah pada seorang perempuan. Kamu boleh bergembira dalam hati. Kesabaranku pada Imelda bahkan nggak sampai sepersepuluh dari kesabaranku padamu ...."Melihat Adrian hendak kembali berbicara dengan penuh semangat, aku menyela, "Kamu salah paham."Aku mengambil dokumen di sampingku, lalu menunjukkannya ke arah kamera. "Aku sudah berimigrasi. Aku nggak akan kembali lagi."Saat telepon ditutup, Adrian di seberang layar tampak seperti belum bereaksi. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, bahkan kotak cincin di tangannya terjatuh ke lantai.Namun, aku tahu dia bisa mencerna semuanya dan juga bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Sejak dia berkali-kali menyulitkanku demi membela Imelda, seharusnya dia sudah memikirkan bahwa hari ini akan tiba.Urusan Adrian kali ini tidak lagi memengaruhiku. Aku menyingkirkan panggilan itu dari benakku dan mencurahkan seluruh perhatian pada penelitian.Mungkin karena meny

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 9

    Seiring berjalannya waktu, minatnya berubah lagi dan lagi. Sementara aku, dalam penelitian yang kulakukan hari demi hari, justru semakin tenggelam dan semakin sulit melepaskan diri.Selama bertahun-tahun ini, meskipun aku selalu berada di perusahaan Adrian, mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan robot, di waktu luang aku tetap memperhatikan perkembangan di bidang itu. Karena itu, saat kembali meneliti, aku tidak merasa terlalu kesulitan.Di tengah waktu itu, Adrian kembali mengirimiku beberapa pesan. Intinya, dia tetap tidak percaya bahwa aku benar-benar akan meninggalkannya dan beberapa kali mencoba menawarkan jalan kembali. Namun, aku tidak membalas.Kemudian, Adrian mengirimiku beberapa foto lagi. Itu adalah surat pemberitahuan mutasi jabatan Imelda."Aku sudah menyelidikinya dengan jelas. Pengajuan pengunduran dirimu bukan aku yang menyetujuinya, tapi kesalahan operasional Imelda. Dia nggak tahu kalau orang yang mengajukan adalah kamu.""Sekarang aku su

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 8

    Kali ini aku tidak lagi dibuat bungkam oleh amarahnya. Aku mengeluarkan ponselku. "Kalau begitu, silakan kamu sampaikan kalimat itu ke polisi."Aku sebenarnya tidak berniat membuat keributan. Namun, aku sudah siap. Kalau dia terus memaksa tanpa alasan, aku akan benar-benar akan memutuskan hubungan dengannya.Melihat aku benar-benar menekan nomor polisi, Adrian langsung pucat. Dia melangkah maju untuk merebut ponselku, lalu memutus panggilan itu."Penny, kamu gila?""Aku nggak gila. Aku hanya ingin tahu, yang kamu katakan itu diakui oleh hukum atau nggak."Mungkin karena belum pernah melihatku berani melawan sejauh ini, Adrian terlihat panik. Dia mengatupkan bibirnya, lalu berkata, "Sudah, Penny, jangan ribut lagi. Aku tahu kamu keberatan soal Imelda. Mulai besok, aku nggak akan lagi bertemu dengannya sendirian, oke?""Soal pernikahan kita, aku akan langsung menjadwalkannya." Dia mengeluarkan ponselnya. "Wedding organizer ini sudah lama aku perhatikan. Setelah pulang dari perjalanan din

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 7

    Tubuh Adrian sedikit menegang.Sebaliknya, mata Imelda justru berbinar sesaat. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman puas. Meskipun dia segera kembali bersikap seperti biasa, aku tetap melihatnya dengan sangat jelas."Kak Penny, ucapanmu barusan agak berlebihan. Bagaimanapun kalian tetap ....""Sudah, Imelda, kamu keluar dulu." Sebelum Imelda sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian memotongnya dengan suara datar.Sisa kata-kata Imelda tertahan di mulut. Dia lalu berpura-pura menasihati Adrian agar tidak marah dan membicarakan semuanya baik-baik sebelum akhirnya turun dengan ekspresi puas.Setelah dia pergi, Adrian menatapku dengan dingin."Penny, kamu makin keterlaluan ya? Aku sudah setuju menikah denganmu, lalu kamu masih ribut apa lagi?""Tarik kembali ucapan putus itu. Surat pengunduran dirimu nggak akan kutandatangani. Sekarang sobek saja, anggap aku nggak pernah lihat."Melihat kepercayaan dirinya, aku merasa geli sekaligus sedih. Aku tahu, sikapnya yang seperti ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status