Share

Bab 5

Penulis: Emerald
Aku tak tahan mempertanyakan hal itu. Seolah sudah menebak apa yang akan kutanyakan, Adrian langsung melemparkan bukti, membuktikan bahwa mereka hanya berurusan soal pekerjaan. Sekaligus, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalahkanku, menuduhku pencemburu dan berpikiran sempit. Demi "membalas" prasangka dan kecurigaanku, dia sengaja dan terang-terangan membawa Imelda pulang ke rumah.

Aku samar-samar bisa merasakan sikap menantang dan permusuhan Imelda saat berhadapan denganku. Namun, hubungan mereka tampak wajar, tidak ada sedikit pun pelanggaran batas.

Seiring waktu berlalu, aku malah terjebak dalam keraguan terhadap diri sendiri.

Setiap hari aku merenung, bertanya-tanya apakah akulah yang salah. Sekarang kupikir-pikir, dengan waktu yang kugunakan untuk mengorek-ngorek itu, aku sebenarnya bisa berhasil melakukan apa pun.

Keesokan paginya, Adrian mengumumkan kabar kenaikan jabatan Imelda, sekaligus pengumuman bahwa aku diturunkan ke posisi paling bawah.

Saat mengumumkannya, dia masih terlihat waspada. Hingga dia mendapati sejak awal sampai akhir aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, barulah dia percaya bahwa aku benar-benar menerimanya.

Suasana hatinya sangat baik. Suasana hatiku pun tidak buruk.

Hari-hari berikutnya saat Adrian mengadakan pesta perayaan untuk Imelda, aku mengurus visa.

Saat mereka berdua pergi ke taman hiburan untuk melepas penat, aku membersihkan barang-barang. Barang yang akan kubawa pergi pada akhirnya bahkan tidak memenuhi satu koper.

Saat mereka pergi ke klub untuk jamuan, lalu digoda untuk minum anggur dengan sambil bersilangan tangan, aku menyelesaikan seluruh serah-terima pekerjaan.

....

Dua hari kemudian, di hari terakhirku di perusahaan, aku menyelesaikan prosedur terakhir di bagian HRD.

"Sebelum pergi, kamu ke ruang direktur dulu. Pak Adrian mencarimu," kata petugas HRD tanpa mengangkat kepala.

Awalnya aku ingin menolak, tetapi kemudian terpikir, malam ini aku akan benar-benar pergi. Jika Adrian pergi bersama Imelda dan tidak pulang seperti biasanya, maka ini akan menjadi pertemuan terakhir kami.

Bagaimanapun juga, kami telah bersama selama lima tahun. Perpisahan seharusnya tetap memiliki sebuah penutup. Dengan pikiran itu, aku naik ke lantai atas menuju ruang direktur.

Baru hendak mendorong pintu dan masuk, aku melihat lewat dinding kaca. Adrian bersandar ke belakang duduk di sofa, sementara Imelda mengenakan gaun panjang dan berbaring menyamping dengan kepala bersandar di pangkuannya. Sikap mereka begitu intim.

Entah apa yang dikatakan Adrian, Imelda menutup mulutnya sambil tertawa tak henti-henti.

Langkah kakiku terhenti.

Aku sedang mempertimbangkan apakah sebaiknya menghindar, tetapi Imelda malah lebih dulu melihatku dan berteriak kecil kaget, lalu buru-buru duduk tegak.

"Kak Penny, kenapa kamu datang?"

Di wajah Adrian juga muncul secercah kepanikan. Dia tergesa-gesa merapikan jas kasualnya yang agak berantakan, lalu langsung membentakku dengan marah, "Penny, siapa yang mengizinkan kamu masuk?!"

"Bukankah sudah kukatakan, tanpa izinku, kamu nggak boleh naik ke atas dan menggangguku?"

Aturan itu memang pernah diucapkan Adrian.

Namun, kalimat aslinya adalah, selain Penny, tidak seorang pun boleh naik ke atas untuk mengganggunya tanpa izin.

Dulu aku hanya merasa Adrian memperlakukanku secara istimewa. Baru sekarang aku mengerti, ternyata maksudnya seperti ini. Namun karena sudah akan pergi, aku juga tidak merasa aneh lagi.

Aku menjawab datar, "HR bilang kamu mencariku."

Adrian mendengus dingin dan melangkah lebar ke meja kerjanya, lalu dengan kesal menekan telepon internal. Tak sampai dua menit, staf HR sudah naik ke atas.

"Apakah kamu yang bilang pada Penny bahwa aku mencarinya?" tanya Adrian dengan suara dingin.

Staf HR itu jelas merasakan suasana yang tidak beres. Dia menatap wajah Adrian yang membeku, lalu melirik Imelda di samping yang tampak teraniaya. Karena gugup, dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Saya ... saya tidak ingat."

"Heh."

Mendengar itu, Adrian tampak seperti baru memenangkan pertempuran. Dia melirikku dengan tatapan sinis dan berkata dengan penuh sindiran, "Menarik ya, Penny?"

"Aku kira kamu benar-benar sudah jadi lebih dewasa. Nggak kusangka kamu masih penuh perhitungan begini. Kalau memang kamu sebegitu nggak percaya sama aku, gimana kalau sekalian saja kamu pindah ke lantai atas, mengawasiku setiap saat?"

"Atau pasang saja kamera di tubuhku, supaya rasa ingin tahumu benar-benar terpuaskan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 12

    Mendengar itu, Adrian tertegun."Setelah kita rujuk, perusahaan itu akan menjadi aset bersama kita. Nggak ada alasan untuk ragu dalam melindungi hak yang sah."Aku menyelipkan ponsel itu ke tangannya. Namun, Adrian lama sekali tidak menekannya."Penny, Imelda masih muda. Meskipun dia nggak punya jasa besar untuk perusahaan, setidaknya dia sudah banyak berkorban.""Kalau begitu, gimana denganku?" Aku menatapnya dengan senyuman mengejek. "Jadi, penderitaan dan kerugian yang kualami dulu, kamu anggap nggak pernah terjadi begitu saja?""Lagi pula, sekarang dia masih bebas di luar sana. Gimana aku bisa menjamin kamu nggak terlibat lagi dengannya? Kalau kamu mengirimnya masuk penjara, aku baru bisa bersamamu tanpa rasa khawatir."Aku berbisik pelan di dekat telinganya, seperti bisikan iblis.Adrian membelalak menatapku. Kata-kata itu seolah-olah memberinya keberanian. Dia menarik napas dalam-dalam, menggertakkan gigi, lalu menekan tombol sambung."Halo ...."Namun, tepat saat sambungan terhu

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 11

    "Ngapain kamu ke sini lagi?" Aku memandangnya dengan tenang, seperti sedang melihat orang asing.Adrian tampaknya juga menyadarinya. Dia mengatupkan bibirnya, cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Penny, aku sudah putus dengan Imelda. Aku sudah memikirkannya lagi. Aku bersedia meninggalkan segalanya dan ikut kamu ke luar negeri.""Aku tahu kamu masih marah padaku, tapi aku sudah tahu aku salah. Aku akan cari cara untuk menangani perusahaan di dalam negeri, lalu melupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal."Aku menatap sorot matanya yang terlihat teguh, hanya merasa geli. "Kamu memang mau cari cara menangani, atau perusahaanmu memang sudah akan mengumumkan kebangkrutan dan likuidasi?"Meskipun aku sudah tidak lagi memperhatikan urusan Adrian, rekan kerja yang sebelumnya berteman denganku masih sesekali mengajakku mengobrol. Dia memberitahuku bahwa tidak lama setelah aku pergi, proposal yang ditangani Imelda mengalami masalah serius dan membutuhkan ganti rugi dalam jumlah besar.Karena

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 10

    "Penny, sungguh, aku benar-benar kalah olehmu. Kamu harus tahu, ini pertama kalinya aku mengalah pada seorang perempuan. Kamu boleh bergembira dalam hati. Kesabaranku pada Imelda bahkan nggak sampai sepersepuluh dari kesabaranku padamu ...."Melihat Adrian hendak kembali berbicara dengan penuh semangat, aku menyela, "Kamu salah paham."Aku mengambil dokumen di sampingku, lalu menunjukkannya ke arah kamera. "Aku sudah berimigrasi. Aku nggak akan kembali lagi."Saat telepon ditutup, Adrian di seberang layar tampak seperti belum bereaksi. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, bahkan kotak cincin di tangannya terjatuh ke lantai.Namun, aku tahu dia bisa mencerna semuanya dan juga bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Sejak dia berkali-kali menyulitkanku demi membela Imelda, seharusnya dia sudah memikirkan bahwa hari ini akan tiba.Urusan Adrian kali ini tidak lagi memengaruhiku. Aku menyingkirkan panggilan itu dari benakku dan mencurahkan seluruh perhatian pada penelitian.Mungkin karena meny

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 9

    Seiring berjalannya waktu, minatnya berubah lagi dan lagi. Sementara aku, dalam penelitian yang kulakukan hari demi hari, justru semakin tenggelam dan semakin sulit melepaskan diri.Selama bertahun-tahun ini, meskipun aku selalu berada di perusahaan Adrian, mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan robot, di waktu luang aku tetap memperhatikan perkembangan di bidang itu. Karena itu, saat kembali meneliti, aku tidak merasa terlalu kesulitan.Di tengah waktu itu, Adrian kembali mengirimiku beberapa pesan. Intinya, dia tetap tidak percaya bahwa aku benar-benar akan meninggalkannya dan beberapa kali mencoba menawarkan jalan kembali. Namun, aku tidak membalas.Kemudian, Adrian mengirimiku beberapa foto lagi. Itu adalah surat pemberitahuan mutasi jabatan Imelda."Aku sudah menyelidikinya dengan jelas. Pengajuan pengunduran dirimu bukan aku yang menyetujuinya, tapi kesalahan operasional Imelda. Dia nggak tahu kalau orang yang mengajukan adalah kamu.""Sekarang aku su

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 8

    Kali ini aku tidak lagi dibuat bungkam oleh amarahnya. Aku mengeluarkan ponselku. "Kalau begitu, silakan kamu sampaikan kalimat itu ke polisi."Aku sebenarnya tidak berniat membuat keributan. Namun, aku sudah siap. Kalau dia terus memaksa tanpa alasan, aku akan benar-benar akan memutuskan hubungan dengannya.Melihat aku benar-benar menekan nomor polisi, Adrian langsung pucat. Dia melangkah maju untuk merebut ponselku, lalu memutus panggilan itu."Penny, kamu gila?""Aku nggak gila. Aku hanya ingin tahu, yang kamu katakan itu diakui oleh hukum atau nggak."Mungkin karena belum pernah melihatku berani melawan sejauh ini, Adrian terlihat panik. Dia mengatupkan bibirnya, lalu berkata, "Sudah, Penny, jangan ribut lagi. Aku tahu kamu keberatan soal Imelda. Mulai besok, aku nggak akan lagi bertemu dengannya sendirian, oke?""Soal pernikahan kita, aku akan langsung menjadwalkannya." Dia mengeluarkan ponselnya. "Wedding organizer ini sudah lama aku perhatikan. Setelah pulang dari perjalanan din

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 7

    Tubuh Adrian sedikit menegang.Sebaliknya, mata Imelda justru berbinar sesaat. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman puas. Meskipun dia segera kembali bersikap seperti biasa, aku tetap melihatnya dengan sangat jelas."Kak Penny, ucapanmu barusan agak berlebihan. Bagaimanapun kalian tetap ....""Sudah, Imelda, kamu keluar dulu." Sebelum Imelda sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian memotongnya dengan suara datar.Sisa kata-kata Imelda tertahan di mulut. Dia lalu berpura-pura menasihati Adrian agar tidak marah dan membicarakan semuanya baik-baik sebelum akhirnya turun dengan ekspresi puas.Setelah dia pergi, Adrian menatapku dengan dingin."Penny, kamu makin keterlaluan ya? Aku sudah setuju menikah denganmu, lalu kamu masih ribut apa lagi?""Tarik kembali ucapan putus itu. Surat pengunduran dirimu nggak akan kutandatangani. Sekarang sobek saja, anggap aku nggak pernah lihat."Melihat kepercayaan dirinya, aku merasa geli sekaligus sedih. Aku tahu, sikapnya yang seperti ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status