"Kak Penny, Pak Adrian butuh proposal proyek ini segera, jadi mohon merepotkan kamu ya. Harus selesai sebelum jam pulang kerja."Asisten Adrian, Imelda, tersenyum manis sambil melempar setumpuk dokumen tebal ke meja kerjaku.Aku menerimanya dengan sikap yang sudah terbiasa. "Baik."Namun, Imelda seolah belum puas. Dia kembali tersenyum dan berkata, "Nanti malam aku dan Pak Adrian masih ada jamuan. Setelah selesai, Kak Penny tinggal taruh saja di meja Pak Adrian. Oh iya, sebelum pulang jangan lupa sekalian bantu bersihkan kantor Pak Adrian."Setelah itu, dia melangkah pergi dengan sepatu hak tinggi, punggungnya dipenuhi suasana hati yang begitu gembira. Tatapan rekan-rekan kerja padaku penuh rasa iba, bahkan mereka tampak tidak tahu bagaimana harus menghiburku.Semua orang tahu, Adrian adalah tunanganku, tetapi dia sangat memihak asistennya, Imelda.Dulu, dia bukan hanya merekrut Imelda dari perusahaan lain dan langsung menempatkannya sebagai kepala divisi proyek. Bahkan, proyek bernila
Baca selengkapnya