Share

Bab 4

Author: Jena
Stanley keluar bersama Tasya, wajahnya tampak penuh amarah.

"Pak polisi, itu orangnya. Dia itu hanya sampah dari daerah kumuh yang menipu tunanganku dan membawanya ke hotel. Dia melakukan pemerkosaan dan penipuan harta dalam jumlah besar. Tindakannya sangat keji, cepat tangkap dan hukum dia!"

Aku pun tak bisa menahan diri dan menjerit, "Omong kosong apaan?! Kok kamu bisa tahu aku ada di sini?!"

Stanley mencibir, "Kamu lupa? Pelacak di aplikasi mobilmu masih terhubung atas namaku."

Aku ingin memakinya, tapi melihat polisi hendak membawa Alex pergi, aku segera mengulurkan tangan menghalangi mereka.

Jangan sampai polisi membawa Alex pergi!

"Tunggu dulu! Aku sangat sadar, nggak ditipu! Bukti apa yang kalian punya untuk membawanya pergi?"

"Benar, tadi malam aku dan Alex memang menginap di hotel ini, tapi kami pesan dua kamar yang berbeda. Mereka sengaja memfitnah kami! Kami berdua nggak bersalah!" ucapku pada polisi sambil menatap tajam ke arah Stanley.

Stanley sengaja memanggil polisi. Sebagai mantan tuan muda mafia yang sudah dibuang dari keluarga, kalau Alex dibawa ke kantor polisi dan diselidiki, dia pasti akan dijatuhi hukuman berat! Keluarga Rozee pasti tidak akan lagi berbelas kasihan padanya!

Tasya menutup mulutnya, berpura-pura cemas dengan sangat munafik.

"Dua kamar belum tentu tidurnya pisah."

"Kak Stanley juga mengkhawatirkanmu. Nona Alice, kamu nggak perlu begitu panik dan merasa bersalah hanya karena keperawananmu sudah hilang."

Aku tertawa sinis.

"Aku nggak butuh perhatian kalian. Bicara soal keperawanan? Aku dan Alex itu memang suami istri yang sah. Justru kamu, Stanley, berani menyebutku tunangan, tapi malah bermesraan dengan wanita lain. Mau menikmati dua-duanya tapi gagal, lalu mengira semua pria di dunia ini sama bajingannya denganmu?"

"Lagipula, sekalipun kami tidur bersama, kami juga sudah menikah. Itu sah dan sangat wajar!"

Wajah Stanley langsung memerah. Dia menunjukku, jarinya gemetar sangking marahnya.

Para polisi tampak ragu setelah mendengar ucapanku dan melihat akta pernikahan yang kutunjukkan.

Namun, tepat saat amarah Stanley mencapai puncaknya, dia malah tertawa.

"Pak polisi, lihat. Dia bahkan sudah ditipu, tapi masih membela gelandangan miskin seperti itu. Jelas-jelas otaknya sudah nggak jernih."

Dengan gerakan anggun, Stanley merapikan manset kemejanya yang berhias batu permata, menampakkan jam tangan edisi terbatas di pergelangan tangannya. Dia bahkan sengaja menunjukkan mobil mewah di belakangnya.

Sebagai tuan muda keluarga mafia, dia tak bisa membongkar identitasnya secara terang-terangan, tapi siapapun yang melihatnya pasti tahu dia berasal dari keluarga konglomerat yang sangat berkuasa.

"Meninggalkan pertunangan denganku, demi kawin lari dengan pria miskin. Kalau bukan penipuan, lalu apa namanya?"

Seketika, polisi di tempat itu pun termakan omongannya.

Polisi yang memimpin untuk mengangguk "Meninggalkan tuan muda kaya raya demi pria miskin seperti ini, kelihatannya memang kasus penipuan."

"Tangkap dia."

"Tidak!" Aku mencoba menarik polisi itu, tapi orang-orang suruhan Stanley segera menahanku.

"Alice, ini pria yang kamu pilih? Pemerkosa yang akan masuk penjara sebentar lagi!"

Stanley berjongkok dan menepuk-nepuk pipiku.

"Kamu masih sempat menyesal sekarang! Berlutut dan mohon padaku, mungkin aku akan mempertimbangkan keluargaku untuk nggak ikut campur, paling-paling dia hanya masuk penjara."

Melihat wajahnya yang penuh keyakinan itu, aku merasa muak.

Aku tak sanggup menyaksikan Alex diborgol. Karena aku terus meronta, pergelangan tanganku tergesek aspal hingga berdarah, membasahi lantai.

Alex yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengerutkan alisnya. Dia menatapku dan berkata, "Berhenti, jangan meronta lagi."

Aku terdiam, mengira dia sudah menyerah. Hatiku pun dipenuhi rasa bersalah.

Aku yang telah menyeret Alex.

Polisi mendorong Alex maju ke depan, hendak memasukkannya ke dalam mobil. Tapi, Alex menatapku dengan tajam, sambil menepis tangan mereka.

Para polisi itu mulai geram dan hendak membentaknya.

Detik berikutnya, suara raungan mesin meledak!

Beberapa mobil mewah melaju kencang, melakukan manuver tajam dan langsung memblokir jalan.

Polisi dan kami semua tercengang.

Pintu mobil terdepan terbuka perlahan, seperti sayap kupu-kupu. Sepatu kulit hitam pun menginjak lantai.

Di bawah pengawalan para pengawal, seorang pria tua kekar dengan rambut memutih turun dengan langkah yang sangat tenang dan berwibawa.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 10

    Saat Alex menjatuhkan pistolnya, dia tidak melemparnya jauh, melainkan membiarkannya jatuh lurus ke bawah, ke posisi yang tidak jauh dariku.Dia sengaja memancing emosi Stanley, menggunakan tubuhnya sebagai tameng sekaligus mengalihkan perhatian Tasya.Tatapan matanya bertemu denganku dan aku langsung memahami maksudnya.Dia sedang mencari kesempatan untukku!Aku yang terabaikan pun diam-diam mengambil pistol itu dan dalam sekejap, situasi pun berbalik."Sebagai calon nyonya Keluarga Zavi, aku nggak akan membiarkan suami masa depanku mati begitu saja di sini."Aku menjilat bibirku dan tersenyum liar.Alex memanfaatkan kelengahan Stanley, melayangkan satu pukulan penuh tenaga ke wajahnya, membuatnya terlempar dan menghantam deretan meja hingga pingsan.Setelah dua orang itu diselesaikan, Alex pun berjalan mendekat, langsung menggendongku, lalu mengecup pipiku, "Kerja bagus, memang calon nyonya Keluarga Zavi."Anak buah Keluarga Zavi pun tiba. Jenazah Tasya dibawa pergi.Stanley ditangka

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 9

    "Jangan bergerak!"Itu Tasya. Dia mengangkat pistol dan menempelkannya di punggung Alex."Buang senjatamu atau kubunuh kamu sekarang juga?!"Stanley yang dari tadi muram di samping, mendadak tertawa terbahak-bahak, menyemangati Tasya dengan wajah penuh semangat, "Benar, bunuh dia! Dia yang menghancurkan Keluarga Rozee dan Keluarga Tosa sampai jadi seperti ini! Dia pantas mati!" Alex sama sekali tidak meliriknya. Dia berkata dengan dingin, "Biarkan aku dan Alice pergi. Aku janji Keluarga Zavi nggak akan menyentuh keluarga kalian lagi. Tapi, kalau kalian berani melukai pewaris Keluarga Zavi, konsekuensinya nggak sanggup ditanggung Keluarga Tosa."Suasana hening sejenak. Namun, tiba-tiba Tasya malah tertawa.Ekspresinya sangat gila, persis seperti Stanley, "Konsekuensi? Apalagi yang harus kutakuti? Hidupku sudah hancur!"Setelah dikepung dan diserang oleh keluarga-keluarga lain, Keluarga Rozee dan Keluarga Tosa memang masih sempat mempertahankan fondasi. Namun, saat mereka mengira semu

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 8

    Dia terihat jauh lebih kurus, matanya cekung, rambutnya berantakan dan setelan jas yang dulunya rapi, kini penuh kerutan. Tidak ada lagi kegagahan seorang tuan muda Keluarga Rozee.Begitu melihatku, matanya berbinar. Dia menerjang ke arahku, tanpa memedulikan pelayan yang mencoba menghadangnya.Pengawal di sampingku segera maju dan menghentikannya."Alice!" teriaknya dengan suara serak di balik pengawal. "Aku sudah tahu salah! Aku benar-benar sudah tahu salah! Aku nggak seharusnya membiarkan Tasya mempermainkanmu. Tapi, orang yang kucintai dari dulu sampai sekarang tetap kamu, nggak pernah berubah!""Kita sudah bersama selama lima tahun! Kembalilah bersamaku! Asal kamu kembali bersamaku, aku akan menuruti apapun. Kita mulai dari awal lagi, semuanya akan kembali seperti dulu, ya?""Dulu?" Aku tertawa, "Dulu yang mana?""Yang saat kamu di kantor catatan sipil, menjadikanku bahan lelucon demi menghibur Tasya di depan semua orang?""Atau saat kamu membiarkan Tasya tinggal di rumah kita, l

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 7

    Entah karena mobilnya terlalu mewah atau sopirnya yang terlalu ahli, orang yang duduk di dalam mobil sama sekali tak menyadari berlalunya waktu. Tanpa terasa, kami sudah tiba di tujuan.Di sisi jalan yang lebar terbentang hutan pribadi yang luasnya luar biasa lebar. Aku menatap ke depan dan melihat sebuah kastil raksasa yang berdiri megah.Dengan hormat, Seto berkata, "Nona Alice, selamat datang di Keluarga Zavi. Tuan Roy dan Nyonya Lydia sudah sangat ingin bertemu denganmu."Aku turun dari mobil dengan linglung dan masuk ke dalam kastil itu dengan perasaan campur aduk.Begitu sampai di aula utama, aku langsung ditarik oleh seorang wanita paruh baya yang cantik."Kamu yang namanya Alice? Benar-benar cantik sekali. Maaf ya, putraku sudah merepotkanmu.""Sejak kecil, dia sudah hidup terpisah dari keluarga. Saat dia ditinggalkan Keluarga Rozee dan berada di titik terendah hidupnya, kamu masih memilih untuk tetap bersamanya.""Seluruh Keluarga Zavi sangat berterima kasih padamu."Ucapan it

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 6

    "Tuan... Tuan Alex...."Stanley akhirnya menemukan kembali suaranya. Dia buru-buru memasang senyuman kaku sambil melambaikan tangan, "Ini semua salah paham, hanya salah paham! Tuan muda Keluarga Zavi tinggal di Keluarga Rozee sebagai tuan muda selama dua puluh tahun, bisa dibilang kita ini saudara. Mana mungkin aku mencelakainya? Semua ini ide perempuan ini! Aku juga tertipu!"Tasya menatap Stanley dengan wajah tak percaya. Dia bahkan tak sempat memedulikan pipinya yang masih terasa perih, langsung berlari ke depan dan berlutut."Tuan Alex, dia bohong! Semuanya ulah Stanley! Dia yang menyuruhku! Dia iri padamu, dia ingin membalas dendam pada Alice, makanya memikirkan cara sekejam ini. Ini nggak ada hubungannya denganku!"Stanley panik, "Tasya, jangan asal bicara di depan Tuan Alex! Jelas-jelas ini idemu!""Kamu fitnah!" teriak Tasya."Sejak kapan aku bilang begitu? Kamu punya bukti?"Keduanya langsung saling menjatuhkan, memperlihatkan keburukan masing-masing.Alex bahkan malas melirik

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 5

    Dia mengenakan setelan jas potongan rapi, tubuhnya terlihat kurus, tapi memiliki aura yang luar biasa kuat.Begitu melihat sosok ini muncul, wajah Stanley dan Tasya langsung berubah."Itu Pak Seto, penasihat Keluarga Zavi? Aku nggak salah lihat?"Suara Stanley bahkan terdengar bergetar.Keluarga Zavi.Di antara keluarga mafia, mereka adalah puncak piramida.Satu dari lima besar yang bahkan jika Keluarga Rozee dan Tosa digabungkan pun, hanya bisa memandang mereka dari jauh tanpa pernah punya kesempatan untuk berhubungan.Stanley segera memasang senyuman semringah dan bergegas menyambutnya."Pak Seto, aku sudah lama mendengar nama besarmu. Aku tuan muda dari Keluarga Rozee. Kerja sama kami dengan Keluarga Zavi sebelumnya sangat menyenangkan. Entah angin apa yang membawamu kemari hari ini?"Tasya pun segera mendekat, suaranya terdengar manis yang memuakkan."Pak Seto, salam kenal. Aku Tasya, putri Keluarga Tosa. Ayahku sering menyebutmu. Ada apa kamu ke sini hari ini? Kalau butuh bantuan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status