Share

Bab 3

Author: Jena
Aku mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Kamu tinggal di mana? Aku bakal pindah bersamamu, kamu nggak keberatan, 'kan?"

Alex menjawab dirinya tak keberatan, bahkan menemaniku pulang untuk mengambil koper.

Begitu sampai di rumah dan membuka pintu, suara musik menggelagar dari ruang tamu.

Ternyata Tasya dan teman-temannya sedang mengadakan pesta di sana.

Begitu melihat kami masuk, tiba-tiba musik berhenti.

Seorang gadis berteriak dengan nada berlebihan.

"Bukannya ini Nona Alice? Kok cepat sekali baliknya?"

"Setelah ke sana kemari, baru sadar Tuan Stanley yang terbaik? Jadi, balik untuk minta maaf?"

Aku tertawa dingin, "Aku hanya kembali untuk mengemas barang, lalu pindah ke tempat suamiku."

Sekeliling langsung hening. Aku malas menanggapi mereka dan langsung menuju kamar tidur di lantai dua.

Alex mengikutiku di belakang.

"Alice, berhenti!" terdengar suara Stanley dari belakang yang penuh amarah, seolah bisa membakar orang hidup-hidup.

"Ini rumahku, beraninya kamu membawa orang asing ke kamar lantai dua?"

Aku menghentikan langkah dan menoleh melihatnya.

"Aku sudah menikah keluar, jadi termasuk orang asing juga."

"Jadi, apa masalahnya kalau suamiku menemaniku mengambil koper?"

"Suami?" Teman-teman Tasya tertawa terbahak-bahak.

"Kalian dengar, nggak? Dia benar-benar menganggap dirinya istri dari anak haram itu!"

"Memang orang kampungan, seleranya rendahan sekali."

Tasya berjalan mendekat sambil memegang gelas alkohol dengan anggun, tatapannya menunjukkan rasa kasihan yang penuh kepalsuan.

"Jangan asal bicara karena emosi sesaat. Aku tahu kamu sakit hati, tapi kamu juga nggak boleh benar-benar pergi dengan Alex."

"Dia itu palsu, kamu malah ikut dengannya. Kalian berdua siap-siap mau tidur di jalanan?"

Belum sempat Alex sempat menjawab, teman Tasya sudah menyela, "Nona Tasya, kamu nggak tahu?"

"Mereka nggak akan tidur di jalanan. Alex tinggal di kawasan lampu merah Tamso. Hahaha, di sana sangat ramai, lho!"

"Tamso? Pemukiman kumuh yang penuh kecoa dan tikus itu?"

"Alice, kamu seriusan mau tinggal di tempat seperti itu? Kamu sanggup?"

Di tengah gelak tawa mereka, wajah Stanley semakin muram. Dia merasa aku mempermalukannya dan sangat marah.

"Alice, kuberi kesempatan terakhir."

"Naik sendiri ke atas sekarang dan aku akan menganggap kejadian hari ini nggak pernah terjadi."

"Kalau nggak, saat kamu sudah nggak sanggup lagi nanti dan berlutut memohon padaku...."

Saat dia berbicara, matanya yang dulu hanya tertuju padaku, kini penuh dengan penghinaan.

"Sanggup atau nggak, itu bukan urusanmu."

Aku tidak meladeni mereka lagi dan menarik Alex naik ke atas.

Aku berkemas dengan cepat, karena memang tidak ada banyak barang.

Sejak ikut Stanley ke sini, aku selalu berusaha menyesuaikan diri. Aku tak mampu beli barang mewah, takut dianggap kampungan. Akhirnya, selain pemberiannya, aku bahkan tak berani membeli apapun.

Aku datang hampir tak membawa apa-apa.

Kini, setelah meninggalkan semua yang pernah Stanley berikan, aku juga pergi tampa membawa apapun.

Saat kami turun, orang-orang di ruang tamu masih ada.

Melihat koper kecil yang kesepian itu, Tasya tersenyum menghina.

"Katanya mau pindah, tapi hanya bawa barang segini? Ternyata benar hanya drama karena cemburu."

"Kak Stanley, sudah kubilang Alice hanya main-main. Dia pasti nggak rela meninggalkanmu."

Ekspresi wajah Stanley agak melunak. Dia mengira aku hanya sedang gengsi.

Dia pun maju dan hendak mengambil koper dari tanganku.

"Baguslah kalau sudah tahu salah. Naiklah ke atas dan letak barangnya, jangan...."

Aku menghindari tangannya.

"Kamu terlalu percaya diri."

"Aku hanya membawa semua barang milikku. Barangmu nggak ada kuambil. Aku nggak sepertimu yang masih menyimpan barang mantan."

Usai bicara, aku menarik Alex dan pergi tanpa menoleh.

Di belakangku, terdengar teriakan marah Stanley.

"Pergi! Pergi sana!"

"Sekali kamu keluar, jangan harap bisa kembali lagi!"

Sambil menyetir, aku bertanya alamat pada Alex.

Dia menyebutkan sebuah alamat, itu adalah hotel paling mewah di pusat kota.

Aku agak terkejut.

"Rumahku sekarang belum nyaman untuk membawamu ke sana," ujar Alex menjelaskan.

Mendengar itu, aku pun menghela napas lega.

Sejujurnya, aku tidak takut hidup susah, tapi tinggal dengan pria yang baru kukenal, meski sudah sah secara hukum, itu tetap terasa canggung.

Melihatku mulai rileks, Alex mengirim pesan singkat, [Perintahkan semua orang untuk bersikap biasa saja, anggap saja nggak mengenalku], lalu mematikan ponselnya.

Tak lama kemudian, kami pun tiba di hotel.

Barangku tidak banyak, tapi bellboy tetap bersikeras memberikan troli. Sambil menolak dengan sopan, aku meminta Alex mengambil kartuku dan membantu memesan kamar di resepsionis.

Begitu bellboy pergi, Alex menyerahkan kartu kamar padaku.

Aku mengikuti nomor kamar itu dan mendapati sebuah president suite yang mewah.

Aduh, berapa harganya?

Aku menggenggam dompetku, menghibur diri untuk menganggap ini perayaan karena sudah lepas dari Stanley.

Anehnya, aku tak menerima notifikasi pemotongan saldo. Tapi karena terlalu melelahkan hari ini, aku nggak memikirkan lebih jauh dan menganggap sistem sedang bermasalah.

Aku pun mulai membereskan barang.

Setelah semuanya selesai, aku menatap pria di sampingku, lalu berpikir sejenak dan berkata,

"Hari ini benar-benar merepotkanmu. Waktu sudah sangat malam, kamu istirahat saja di sini semalam."

Alex terdiam sejenak, lalu melirik sekilas ke arah ranjang besar di kamar.

Aku langsung sadar ucapanku terdengar ambigu dan buru-buru menjelaskan, "Maksudnya buka kamar lain! Aku yang bayar!"

Melihat kepanikanku, Alex tertawa.

"Nggak perlu. Biaya untuk kamar hotel aku masih punya. Aku tinggal di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa, panggil saja."

Malam itu, aku tidur nyenyak.

Keesokan paginya, aku berniat membicarakan soal pernikahan dengan Alex.

Namun, begitu kami keluar dari lobi hotel, beberapa mobil polisi melaju kencang dan mengepung kami.

Sekelompok polisi turun dan langsung menekan Alex ke lantai.

Aku terkejut dan buru-buru melangkah maju.

"Apa yang kalian lakukan? Kok malah menangkap orang?"

Polisi yang memimpin menatapku, wajahnya tampak serius.

"Kamu Nona Alice? Kami menerima laporan bahwa kamu telah menjadi korban penipuan dalam jumlah besar dengan kedok pernikahan oleh pria ini."

Penipuan?

Kepalaku berdengung.

"Mana mungkin? Siapa yang melapor?"

Tiba-tiba, terdengar suara yang familiar.

"Aku."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 10

    Saat Alex menjatuhkan pistolnya, dia tidak melemparnya jauh, melainkan membiarkannya jatuh lurus ke bawah, ke posisi yang tidak jauh dariku.Dia sengaja memancing emosi Stanley, menggunakan tubuhnya sebagai tameng sekaligus mengalihkan perhatian Tasya.Tatapan matanya bertemu denganku dan aku langsung memahami maksudnya.Dia sedang mencari kesempatan untukku!Aku yang terabaikan pun diam-diam mengambil pistol itu dan dalam sekejap, situasi pun berbalik."Sebagai calon nyonya Keluarga Zavi, aku nggak akan membiarkan suami masa depanku mati begitu saja di sini."Aku menjilat bibirku dan tersenyum liar.Alex memanfaatkan kelengahan Stanley, melayangkan satu pukulan penuh tenaga ke wajahnya, membuatnya terlempar dan menghantam deretan meja hingga pingsan.Setelah dua orang itu diselesaikan, Alex pun berjalan mendekat, langsung menggendongku, lalu mengecup pipiku, "Kerja bagus, memang calon nyonya Keluarga Zavi."Anak buah Keluarga Zavi pun tiba. Jenazah Tasya dibawa pergi.Stanley ditangka

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 9

    "Jangan bergerak!"Itu Tasya. Dia mengangkat pistol dan menempelkannya di punggung Alex."Buang senjatamu atau kubunuh kamu sekarang juga?!"Stanley yang dari tadi muram di samping, mendadak tertawa terbahak-bahak, menyemangati Tasya dengan wajah penuh semangat, "Benar, bunuh dia! Dia yang menghancurkan Keluarga Rozee dan Keluarga Tosa sampai jadi seperti ini! Dia pantas mati!" Alex sama sekali tidak meliriknya. Dia berkata dengan dingin, "Biarkan aku dan Alice pergi. Aku janji Keluarga Zavi nggak akan menyentuh keluarga kalian lagi. Tapi, kalau kalian berani melukai pewaris Keluarga Zavi, konsekuensinya nggak sanggup ditanggung Keluarga Tosa."Suasana hening sejenak. Namun, tiba-tiba Tasya malah tertawa.Ekspresinya sangat gila, persis seperti Stanley, "Konsekuensi? Apalagi yang harus kutakuti? Hidupku sudah hancur!"Setelah dikepung dan diserang oleh keluarga-keluarga lain, Keluarga Rozee dan Keluarga Tosa memang masih sempat mempertahankan fondasi. Namun, saat mereka mengira semu

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 8

    Dia terihat jauh lebih kurus, matanya cekung, rambutnya berantakan dan setelan jas yang dulunya rapi, kini penuh kerutan. Tidak ada lagi kegagahan seorang tuan muda Keluarga Rozee.Begitu melihatku, matanya berbinar. Dia menerjang ke arahku, tanpa memedulikan pelayan yang mencoba menghadangnya.Pengawal di sampingku segera maju dan menghentikannya."Alice!" teriaknya dengan suara serak di balik pengawal. "Aku sudah tahu salah! Aku benar-benar sudah tahu salah! Aku nggak seharusnya membiarkan Tasya mempermainkanmu. Tapi, orang yang kucintai dari dulu sampai sekarang tetap kamu, nggak pernah berubah!""Kita sudah bersama selama lima tahun! Kembalilah bersamaku! Asal kamu kembali bersamaku, aku akan menuruti apapun. Kita mulai dari awal lagi, semuanya akan kembali seperti dulu, ya?""Dulu?" Aku tertawa, "Dulu yang mana?""Yang saat kamu di kantor catatan sipil, menjadikanku bahan lelucon demi menghibur Tasya di depan semua orang?""Atau saat kamu membiarkan Tasya tinggal di rumah kita, l

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 7

    Entah karena mobilnya terlalu mewah atau sopirnya yang terlalu ahli, orang yang duduk di dalam mobil sama sekali tak menyadari berlalunya waktu. Tanpa terasa, kami sudah tiba di tujuan.Di sisi jalan yang lebar terbentang hutan pribadi yang luasnya luar biasa lebar. Aku menatap ke depan dan melihat sebuah kastil raksasa yang berdiri megah.Dengan hormat, Seto berkata, "Nona Alice, selamat datang di Keluarga Zavi. Tuan Roy dan Nyonya Lydia sudah sangat ingin bertemu denganmu."Aku turun dari mobil dengan linglung dan masuk ke dalam kastil itu dengan perasaan campur aduk.Begitu sampai di aula utama, aku langsung ditarik oleh seorang wanita paruh baya yang cantik."Kamu yang namanya Alice? Benar-benar cantik sekali. Maaf ya, putraku sudah merepotkanmu.""Sejak kecil, dia sudah hidup terpisah dari keluarga. Saat dia ditinggalkan Keluarga Rozee dan berada di titik terendah hidupnya, kamu masih memilih untuk tetap bersamanya.""Seluruh Keluarga Zavi sangat berterima kasih padamu."Ucapan it

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 6

    "Tuan... Tuan Alex...."Stanley akhirnya menemukan kembali suaranya. Dia buru-buru memasang senyuman kaku sambil melambaikan tangan, "Ini semua salah paham, hanya salah paham! Tuan muda Keluarga Zavi tinggal di Keluarga Rozee sebagai tuan muda selama dua puluh tahun, bisa dibilang kita ini saudara. Mana mungkin aku mencelakainya? Semua ini ide perempuan ini! Aku juga tertipu!"Tasya menatap Stanley dengan wajah tak percaya. Dia bahkan tak sempat memedulikan pipinya yang masih terasa perih, langsung berlari ke depan dan berlutut."Tuan Alex, dia bohong! Semuanya ulah Stanley! Dia yang menyuruhku! Dia iri padamu, dia ingin membalas dendam pada Alice, makanya memikirkan cara sekejam ini. Ini nggak ada hubungannya denganku!"Stanley panik, "Tasya, jangan asal bicara di depan Tuan Alex! Jelas-jelas ini idemu!""Kamu fitnah!" teriak Tasya."Sejak kapan aku bilang begitu? Kamu punya bukti?"Keduanya langsung saling menjatuhkan, memperlihatkan keburukan masing-masing.Alex bahkan malas melirik

  • Tunanganku Menyesal Setengah Mati   Bab 5

    Dia mengenakan setelan jas potongan rapi, tubuhnya terlihat kurus, tapi memiliki aura yang luar biasa kuat.Begitu melihat sosok ini muncul, wajah Stanley dan Tasya langsung berubah."Itu Pak Seto, penasihat Keluarga Zavi? Aku nggak salah lihat?"Suara Stanley bahkan terdengar bergetar.Keluarga Zavi.Di antara keluarga mafia, mereka adalah puncak piramida.Satu dari lima besar yang bahkan jika Keluarga Rozee dan Tosa digabungkan pun, hanya bisa memandang mereka dari jauh tanpa pernah punya kesempatan untuk berhubungan.Stanley segera memasang senyuman semringah dan bergegas menyambutnya."Pak Seto, aku sudah lama mendengar nama besarmu. Aku tuan muda dari Keluarga Rozee. Kerja sama kami dengan Keluarga Zavi sebelumnya sangat menyenangkan. Entah angin apa yang membawamu kemari hari ini?"Tasya pun segera mendekat, suaranya terdengar manis yang memuakkan."Pak Seto, salam kenal. Aku Tasya, putri Keluarga Tosa. Ayahku sering menyebutmu. Ada apa kamu ke sini hari ini? Kalau butuh bantuan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status