แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Juwita
Aku menatap Devan lekat-lekat, nyaris tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Setelah dia menarikku keluar dari neraka itu, aku sempat berada dalam keadaan linglung yang cukup lama.

Dia sangat paham, menyaksikan kedua orang tuaku tewas terbakar di depan mata adalah trauma yang hampir mustahil untuk kulalui.

Selama masa itu, dia tidak berusaha menasihatiku atau memaksaku bangkit, hanya menemaniku pergi ke pemakaman setiap hari.

Saat itu, rumor di luar sana yang mengatakan orang tuaku mati karena balasan atas perbuatan mereka sendiri begitu merajalela.

Ada yang bilang Ayah menggelapkan dana secara ilegal, ada pula yang menuduh Ibu terlibat dalam eksperimen terlarang.

Aku nyaris hancur. Bukan hanya karena kata-kata itu menghina nama baik orang tuaku, tetapi juga karena hal itu menggoyahkan satu-satunya keyakinan yang tersisa dalam diriku.

Jika orang sebaik Ayah dan Ibu saja dianggap pantas mendapat balasan setimpal, lalu apa lagi di dunia ini yang masih bisa kupercaya?

Devan-lah yang berdiri di sisiku dan berkata, "Aku pernah bertemu Ayahmu. Dia adalah seorang pengusaha yang sangat baik. Begitu juga ibumu, dia adalah peneliti yang patut dihormati."

Aku memercayainya.

Akan tetapi, kini, dia berdiri tepat di hadapanku, memintaku memfitnah ayahku sendiri.

Memintaku mengucapkan dengan mulutku sendiri bahwa ketidakmampuan ayahkulah yang menyebabkan segala penderitaan setelahnya, semata-mata untuk memberi Farah jalan keluar.

Aku tersadar, bahkan rasa kecewa pun tak lagi tersisa.

"Kalau aku ngelakuin ini, apa untungnya buatku?"

Devan sama sekali tidak terkejut dengan responsku.

Di matanya, aku selalu menuruti segala keinginannya.

"Sebagai gantinya …." ucapnya, memberikan tawaran. "Aku bisa pura-pura nggak baca pesanmu soal putus itu. Kamu tetap pacarku."

Dia berhenti sejenak. Seolah merasa tawarannya kurang meyakinkan, dia menambahkan, "Atau kalau mau, kamu juga bisa menjadi tunanganku."

Dia menatapku, seolah menunggu reaksiku.

Lagi pula, status tunangan ini adalah sesuatu yang dulu sangat aku impikan.

Aku tertawa kecil, suara itu terdengar dingin.

"Kalau aku nggak mau, gimana?"

Tatapan Devan sedikit berubah, tetapi suaranya tetap datar. Tidak ada nada ancaman, dia hanya berbicara dengan tenang, "Kalau begitu, aku bisa aja mencari Salma palsu untuk tampil."

"Selama aku bilang dia yang asli, ya dia yang asli."

Aku memejamkan mata. Dalam gelap, kenangan bertahun-tahun itu berputar seperti potongan film.

Diriku yang berusia 19 tahun, dipukuli habis-habisan di klub malam, tetapi tak pernah mau tunduk. Dirinya yang datang bagai dewa penolong dan membawaku pergi dari sana. Serta punggungnya yang tegap dan sunyi saat menemaniku ke pemakaman selama sepuluh tahun setelahnya.

"Devan." Aku membuka mata. "Urusan di surat itu, aku akan menyelidikinya sampai jelas."

"Kalau Keluarga Prameswara memang benaran lakuin itu semua, aku nggak bakal nutupin mereka. Tapi, kalau ini nggak ada hubungannya sama mereka, aku juga nggak bakal fitnah siapa pun."

"Jadi, soal permintaanmu itu ...." Aku menatapnya, mengucapkan setiap kata dengan tegas.

"Aku menolak."

Saat melihat Farah berdiri angkuh di depan pintu rumah, aku sama sekali tidak terkejut.

Lagi pula, lima tahun lalu aku sudah melihat sendiri betapa pintarnya dia berakting. Pura-pura lemah lembut untuk menipu Devan adalah hal yang mudah sekali baginya.

Waktu itu, dia baru kembali dari luar negeri dan seluruh kota heboh membicarakan bahwa putri sulung Keluarga Prameswara telah kembali dan sepertinya akan kembali menjalin hubungan dengan pewaris Keluarga Pratama.

Tidak ada yang peduli kalau waktu itu aku adalah pacarnya Devan.

Akan tetapi, aku tidak khawatir.

Aku sangat yakin hubungan kami selama ini cukup kuat untuk menghadapi cewek yang kabur dari pernikahannya lima tahun lalu.

Sampai akhirnya di acara makan malam di kediaman Keluarga Pratama, Farah menarik tanganku dan berkata antingnya longgar, meminta bantuanku untuk memeriksanya. Baru saja aku menunduk, dia malah jatuh terguling dari tangga putar.

Sejak saat itu, dia tidak bisa menari balet lagi.

Dan ketika dia siuman, dia hanya bilang, "Nona Salma, kenapa kamu mendorongku?" yang membuatku kehilangan kata-kata untuk membela diri.

Tatapan penuh tuduhan dari orang-orang di sekitarku seakan menenggelamkanku. Aku mencengkeram baju Devan erat-erat, seperti berpegangan pada harapan terakhir, tetapi dia hanya berkata, "Minta maaf ke Farah."

Kini, Farah kembali berkata, "Salma, kita bikin kesepakatan, ya. Kamu rekam video klarifikasi, aku kasih 160 miliar. Gimana?"

Kata “kesepakatan” yang keluar dari mulutnya terdengar seperti sebuah sedekah yang dia anggap sudah sepatutnya kuterima.

Aku menatapnya.

"Lima tahun lalu, aku dipaksa pengawal untuk berlutut di depan gerbang selama tiga hari, tapi aku tetap nggak mau minta maaf buat tuduhan yang nggak pernah kulakukan."

"Sekarang, atas dasar apa kamu pikir 160 miliar bisa membeli nama baik orang tuaku?"

Saat kami berpapasan, terdengar suara Farah di belakangku. "Kalau begitu, jangan menyesal nanti."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya   Bab 21

    Alvin berdiri di belakangku."Kok kamu datang?" tanyaku. "Bukannya kamu bilang males hadapin acara kayak gini?""Sebenarnya males." Dia menyesap minumannya, tatapannya tertuju padaku. "Tapi, aku mikir, kamu sendirian ngadepin orang sebanyak ini, pasti capek.""Makanya kamu datang?""Iya."Aku menatapnya, lalu tiba-tiba terkekeh."Kenapa ketawa?" tanyanya."Ketawain kamu," jawabku. "Kamu ini ya, ngasih perhatian ke orang aja caranya kaku banget."Dia mengangkat sebelah alis, tidak membantah.Hening selama dua detik, tiba-tiba dia bertanya, "Tadi di balkon, kamu ngobrolin apa sama orang itu?"Aku tertegun sejenak, lalu tersadar.Dia melihatku dan Devan di balkon tadi."Kamu lihat semuanya?" tanyaku."Iya," jawabnya. "Dari ruang VIP lantai dua."Aku tidak berkata apa-apa.Angin malam berembus masuk dari jendela, menerpa anak rambut di dahinya.Dia berdiri di hadapanku, seluruh tubuhnya diselimuti cahaya hangat dari lampu ruang perjamuan, membuatnya terlihat begitu tampan hingga seolah tid

  • Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya   Bab 20

    Mataku seketika merah."Foto ini … kamu temukan di mana?""Di brankas Keluarga Prameswara," jawab Devan, nadanya datar. "Dulu Doni menggeledah rumahmu dan menyita banyak barang lain. Naskah asli ayahmu, catatan eksperimen, catatan riset ibumu, semuanya ada di sana.""Aku sudah menyuruh orang merapikannya. Minggu depan akan ada yang mengantarkannya ke tempat tinggalmu di Kota Marvelle."Aku menggenggam erat foto itu, hingga buku-buku jariku memutih.Setelah sekian lama, aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak menatapnya."Kenapa kamu melakukan semua ini?""Karena ini adalah peninggalan ayahmu," jawabnya. "Sudah seharusnya dikembalikan padamu.""Bukan itu yang kutanyakan," ujarku kata demi kata, seolah mewakili diriku di masa lalu."Kenapa kamu mengambil barang-barang ini dari Keluarga Prameswara? Bukannya kamu masih bekerja sama dengan mereka? Bukannya kamu ingin melindungi Farah?"Dia terdiam beberapa detik, lalu mengucapkan sesuatu. Suaranya sangat lirih, saking lirihnya hingga

  • Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya   Bab 19

    Saat pesawat mendarat di Kota Bandar, hari sudah menjelang malam.Di luar jendela kabin, kota yang telah kutinggalkan selama satu setengah tahun ini terselimuti warna keemasan hangat oleh cahaya senja. Gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang, lalu lintas kendaraan padat merayap, semuanya sama persis seperti saat aku pergi.Akan tetapi, aku tahu, yang berbeda adalah diriku sendiri.Rapat evaluasi proyek diadakan di Pusat Konvensi Internasional Kota Bandar. Proyek riset dan pengembangan obat ADC dari Susilo Biomedis telah lolos persetujuan uji klinis fase III untuk kawasan regional. Ini berarti kami selangkah lebih dekat menuju peluncuran obat ke pasar.Perjamuan perayaan dijadwalkan pukul tujuh malam, di ruang perjamuan lantai tiga Hotel Shangrila ….Aku mengenakan gaun panjang beludru berwarna hijau gelap, rambutku disanggul rapi, memperlihatkan tulang selangka dan sepasang anting mutiara kecil di daun telingaku.Wanita di dalam cermin dan wanita yang berlari terhuyung-huyung m

  • Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya   Bab 18

    Aku menatapnya, yang dengan lancar memesan makanan dan mengobrol dengan pemilik restoran dalam bahasa asal negeri tersebut, merasa agak tercengang.Pria ini bagaikan sebuah buku. Setiap halaman yang kubuka selalu menyimpan kisah baru.Selesai makan, dia mengantarku kembali ke apartemen.Mobil berhenti di depan gedung. Dia tidak langsung mematikan mesin, melainkan mengambil sebuah amplop dari laci dasbor dan menyerahkannya padaku."Apa ini?" Aku menerimanya dan membukanya.Isinya adalah sebuah proposal proyek, riset dan pengembangan tahap awal untuk obat ADC. Pihak inisiatornya adalah Susilo Biomedis, dengan mitra dari Institut Medis Kota Bandar dan sebuah firma modal ventura di Negara Apura.Di kolom pemimpin proyek, tertera namaku.Aku mendongak menatapnya, mulutku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Untuk proyek ini, kamu yang jadi pemimpinnya," ucapnya. "Tim sudah dibentuk. Peneliti utamanya adalah murid Profesor Murdoch dan untuk studi praklinis, ada tim dari GlaxSmith yang

  • Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya   Bab 17

    Bagaimana mungkin orang seperti dia membiarkan dirinya mabuk?Akan tetapi, aku tidak banyak bertanya, langsung mengambil kunci mobil dan berangkat.Sesampainya di Soubank, Alvin sedang duduk di sebuah bangku di tepi sungai.Angin malam terasa dingin. Dia hanya mengenakan kemeja tipis, lengan digulung hingga ke lengan bawah, dan kerahnya terbuka longgar.Aku belum pernah melihatnya seperti ini."Pak Alvin." Aku melangkah mendekat dan berdiri di hadapannya.Dia mendongak menatapku.Cahaya lampu jalan menyinari wajahnya. Di dalam sepasang matanya yang sipit itu, terpancar sebuah emosi yang belum pernah kulihat sebelumnya.Tatapan kosong yang hampa."Kamu kok minum sebanyak ini?" Aku berjongkok, hendak mengambil gelas dari tangannya.Dia menghindari tanganku, suaranya terdengar berat. "Hari ini hari kematian ayahku."Gerakanku seketika terhenti."Tiap tahun di hari ini …." Dia menatapku, tatapannya agak menerawang. "Aku selalu ke sini buat duduk sebentar.""Dia pergi di sungai ini."Aku me

  • Tunas Baru yang Bertumbuh, Perpisahan Selamanya   Bab 16

    Mata Profesor Murdoch seketika berbinar. "Andre Wijaya? Yang dari Kota Bandar itu?"Aku mengangguk, merasakan kehangatan samar di dada.Tidak menyangka nama Ayah, di Kota Marvelle yang berjarak ribuan mil, masih ada yang mengingatnya.Sepanjang pagi, Alvin mengajakku berkeliling ke berbagai ruang seminar.Dia hampir tidak mengobrol denganku, hanya saat aku tertinggal, dia akan tiba-tiba memperlambat lajunya, atau menggunakan tatapan matanya untuk memberi isyarat agar aku memperhatikan pembicara tertentu.Aku mengikutinya seperti bayangan, mengamati cara dia berinteraksi dengan orang-orang.Dia tidak pernah membuang waktu untuk basa-basi. Berjabat tangan, memperkenalkan diri, menyampaikan gagasan, dan bertukar informasi, semuanya berjalan mulus bagai air mengalir, tanpa satu kata pun yang berlebihan.Saat istirahat siang, dia akhirnya membuka suara."Bagaimana menurutmu?""Informasinya terlalu padat," jawabku jujur. "Ada beberapa istilah teknis yang bahkan belum pernah kudengar."Dia me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status