Home / Romansa / UTANG DIBAYAR CINTA? / Bab 2 – Satu Malam untuk Menimbang Harga Diri

Share

Bab 2 – Satu Malam untuk Menimbang Harga Diri

Author: Agnes
last update Last Updated: 2025-04-18 10:42:21

 

Rumah itu sunyi. Hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan di sudut ruang tamu. Di meja kecil, kontrak dari Aqil tergeletak seperti monster tak kasat mata—menunggu untuk diterima atau ditolak.

Ayuna duduk di lantai, bersandar di sofa yang busanya sudah mulai menipis. Kertas-kertas kontrak itu terbuka di hadapannya, dengan lampu redup menggantung di atas kepala. Di sebelahnya, Hana tertidur pulas. Napas kecil keponakannya terdengar lembut, seperti pengingat bahwa hidup terus berjalan meski ia sendiri rasanya ingin berhenti.

Matanya tak bisa lepas dari tulisan di halaman terakhir kontrak:

Durasi: 12 bulan.

Kompensasi: seluruh utang lunas, rumah aman dari penyitaan.

Kewajiban: mengikuti perintah profesional dan personal sebagai pendamping klien dalam urusan yang ditentukan.

Batasan: tidak bersifat seksual atau fisik tanpa persetujuan tertulis.

Denda pelanggaran: pengembalian penuh nilai utang dan tambahan penalti.

Ayuna menghela napas panjang. Ini gila. Ini tidak masuk akal. Tapi... ini nyata.

“Saya tetap punya batas,” katanya sendiri, mengulang kata-kata yang ia ucapkan di kantor Aqil tadi siang. Ia harus tetap berpegang pada itu, kalau tidak, dia akan kehilangan dirinya sendiri.

Dia bangkit perlahan, menuju dapur. Membuka lemari dan hanya menemukan setengah bungkus mi instan. Listrik bulan ini sudah menunggak, dan tadi sore ia sudah dapat surat peringatan. Kakak iparnya, Arman, belum juga pulang sejak dua hari lalu. Tidak ada kabar, tidak ada uang.

Ia kembali ke ruang tamu, duduk menatap wajah kecil Hana yang tampak damai dalam tidur.

“Maaf ya, Hana,” bisiknya lirih. “Tante nggak tahu harus gimana lagi. Tapi yang pasti, tante nggak akan biarin kita kehilangan rumah ini.”

Air mata menetes tanpa suara. Ayuna bukan orang yang mudah menangis, tapi malam itu terasa seperti titik nadir. Ia muak merasa selalu dalam posisi terpojok. Tapi di saat yang sama, dia sadar... kadang pilihan yang kita benci adalah satu-satunya jalan keluar yang tersisa.


Pagi itu, Ayuna mengenakan baju yang sama seperti kemarin. Tidak sempat mencuci karena air PAM juga sedang bermasalah. Tapi dia berdiri tegak di depan gedung Mahendra Corp dengan ekspresi yang tak berubah. Dingin. Tegas. Meski dalam hati tetap gemetar.

Wulan kembali menyambutnya, kali ini dengan senyum simpati yang samar. “Pak Aqil sudah menunggu, Mbak Ayuna. Silakan masuk.”

Di ruangan yang sama, Aqil berdiri dengan tangan di saku. Tanpa jas hari ini, hanya kemeja putih dengan lengan digulung. Wajahnya tetap sama: tanpa emosi, tanpa basa-basi.

“Kau kembali,” katanya singkat.

Ayuna menatap langsung ke matanya. “Saya setuju. Dengan semua batas yang saya sebutkan kemarin.”

Aqil tidak tersenyum. Tapi ada satu hal yang berbeda dari tatapannya: pengakuan. Seolah ia menghormati keputusan itu, meski tak mengatakannya.

“Bagus. Maka kita mulai hari ini.”

Ayuna menahan napas. “Apa peran saya, tepatnya?”

“Anggap saja kamu... bagian dari hidup saya yang terlihat. Tapi tidak menyentuh yang pribadi. Kita berdua tahu ini kesepakatan dingin. Jangan dibawa ke hati.”

Ayuna tersenyum tipis, getir. “Saya tidak berniat bawa hati dalam urusan seperti ini, Pak Aqil.”

Aqil menatapnya lama, lalu berjalan ke mejanya dan mengambil ponsel. “Hari ini kamu ikut saya ke sebuah acara. Gala dinner. Mulai saat ini, kamu bukan hanya Ayuna. Kamu partner saya. Tapi tetap ingat—ini semua ilusi. Jangan berharap lebih.”

Ayuna mengangguk. Dalam hati, ia menegaskan hal yang sama pada dirinya sendiri.

Jangan berharap lebih. Jangan terluka. Ini hanya tentang lunas.

Tapi ia tak sadar—kata "jangan" adalah hal pertama yang akan ia langgar dalam cerita ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • UTANG DIBAYAR CINTA?    Bab 29 — Antara Sorotan dan Suara Hati

    Ponsel Ayuna terus bergetar sejak pagi. Notifikasi dari media sosial, pesan dari nomor tak dikenal, dan mention yang tak berhenti di X membuatnya ingin membuang semua perangkat elektronik ke luar jendela. Sejak gosip kedekatannya dengan Aqil tersebar di beberapa akun gosip, hidupnya yang tenang berubah total.“Ayuna, kamu trending nomor dua di X,” kata Vina dengan suara tegang di telepon. “Kamu udah lihat?”“Aku nggak berani buka medsos, Vin. Aku takut makin pusing,” jawab Ayuna lemas, menatap layar ponsel yang penuh notifikasi.“Orang-orang pada ngira kamu pelakor. Terus... ada yang bilang kamu cewek simpanan. Mereka dapet foto kalian dari cafe waktu itu. Dan kayaknya ada yang sebarin juga pas kalian bareng di parkiran kantor.”Ayuna menelan ludah. Itu artinya bukan hanya media, tapi juga orang-orang di sekitar mereka yang jadi mata-mata. Siapa yang merekam? Kenapa sekarang, setelah kontrak mereka selesai, justru gosip makin liar?“Kamu baik-baik aja, Yun?” suara Vina mulai melembut.

  • UTANG DIBAYAR CINTA?    Bab 28: Di Antara Tatapan Dunia

    Tiga hari setelah kontrak itu berakhir, Ayuna duduk sendiri di kafe kecil langganannya bersama Vina. Secangkir cappuccino sudah dingin, nyaris tak tersentuh. Tatapannya kosong, meski bibirnya mencoba tersenyum di antara canda sahabatnya.“Lo yakin nggak mau cerita?” Vina meletakkan sendok kecil di atas piring. “Ayun, sekarang nama lo mulai banyak dicari di media. Ada akun gosip yang nyebutin lo... sebagai cewek simpanan CEO Mahendra Group.”Ayuna menghela napas pelan. Ia sudah menduga hal ini akan datang, tapi tetap saja rasanya seperti tamparan keras di pipi. Beberapa akun media sosial mulai menyebarkan foto-foto lamanya dengan Aqil—beberapa saat mereka datang bersama ke acara amal, atau bahkan momen kebetulan di lobi kantor Mahendra Group. Belum lagi komentar pedas yang membanjiri akun Instagram miliknya.“Gue nggak ngerti, Vin... Kenapa rasanya makin hari makin susah napas? Padahal hubungan itu udah selesai,” gumam Ayuna lirih. “Kontraknya udah selesai, rasa-rasa... harusnya juga s

  • UTANG DIBAYAR CINTA?    Bab 27 – Ujian Setelah Kesepakatan

    Pagi itu, udara terasa segar di balkon kecil kosan Ayuna. Burung-burung gereja berkicau, langit mendung tipis seakan malu-malu, dan Ayuna... sedang tersenyum sendiri di depan cermin.Ia menatap pantulan dirinya, rambut diikat rapi, wajah polos tanpa riasan berlebihan, tapi sinar matanya jauh lebih hidup dari sebelumnya. Hari ini, bukan hanya tentang kerja. Tapi tentang hati yang terasa lebih ringan, meski tak sepenuhnya bebas dari beban.Vina mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban.“Nah, ketauan juga senyumnya kenapa udah beda dua minggu terakhir ini!” Vina meletakkan tasnya, lalu menatap sahabatnya dengan curiga yang dibalut kepedulian. “Yun, lo udah nggak nginep di kosan dua malam. Jangan bilang... lo balik sama mantan?”Ayuna tergelak pelan. “Ngaco. Bukan mantan.”“Terus?”Ayuna tak langsung menjawab. Ia meraih secangkir teh dari meja, duduk di ujung kasur.“Gue emang tinggal sementara di tempat... seseorang. Tapi bukan cuma karena alasan itu. Gue pengen nunjukin

  • UTANG DIBAYAR CINTA?    Bab 28: Di Antara Tatapan Dunia

    Tiga hari setelah kontrak itu berakhir, Ayuna duduk sendiri di kafe kecil langganannya bersama Vina. Secangkir cappuccino sudah dingin, nyaris tak tersentuh. Tatapannya kosong, meski bibirnya mencoba tersenyum di antara canda sahabatnya.“Lo yakin nggak mau cerita?” Vina meletakkan sendok kecil di atas piring. “Ayun, sekarang nama lo mulai banyak dicari di media. Ada akun gosip yang nyebutin lo... sebagai cewek simpanan CEO Mahendra Group.”Ayuna menghela napas pelan. Ia sudah menduga hal ini akan datang, tapi tetap saja rasanya seperti tamparan keras di pipi. Beberapa akun media sosial mulai menyebarkan foto-foto lamanya dengan Aqil—beberapa saat mereka datang bersama ke acara amal, atau bahkan momen kebetulan di lobi kantor Mahendra Group. Belum lagi komentar pedas yang membanjiri akun Instagram miliknya.“Gue nggak ngerti, Vin... Kenapa rasanya makin hari makin susah napas? Padahal hubungan itu udah selesai,” gumam Ayuna lirih. “Kontraknya udah selesai, rasa-rasa... harusnya juga s

  • UTANG DIBAYAR CINTA?    Bab 26 – Tanpa Kata Kontrak

    Ruang konferensi di lantai 15 terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu temaram, dan hanya dua cangkir kopi yang tersisa di meja panjang yang belum dibereskan. Ayuna dan Aqil duduk berseberangan. Di antara mereka, kotak kecil yang tadi dibawa Ayuna.Aqil menatapnya, matanya tak melepaskan pandangan sejak mereka duduk. “Kamu mau mulai duluan atau aku?”Ayuna menarik napas panjang. “Aku dulu.”Ia membuka kotak, mengeluarkan kertas kontrak pertama yang dulu ia tandatangani. “Kita mulai dari ini. Selembar kertas yang mengikat semuanya. Tapi juga… yang merusak banyak hal.”Aqil mengangguk pelan. “Aku tahu. Dan aku nyesel.”“Aku juga salah karena menyetujui itu tanpa benar-benar mikir jauh. Tapi saat itu aku butuh... terlalu butuh jalan keluar,” ucap Ayuna. “Aku nggak pernah sangka, dalam prosesnya, aku bakal kehilangan banyak bagian dari diriku sendiri.”Aqil bersandar, tangan dikepal di pangkuan. “Ayuna, aku nggak pernah anggap kamu hanya bagian dari solusi. Aku tahu sejak awal kamu lebih d

  • UTANG DIBAYAR CINTA?    Bab 25 – Rahasia yang Terkubur

    Suara notifikasi ponsel berdering bertubi-tubi sejak pagi. Ayuna duduk di tepi tempat tidur, menatap layar dengan ekspresi kosong. Banyak pesan masuk, sebagian dari rekan kerja lama, sebagian dari orang asing yang menyebar simpati sekaligus sindiran.Satu pesan dari Vina membuatnya benar-benar bangkit dari tempat tidur:"Yun, kamu harus lihat ini. Ada video wawancara ibu kandung Aqil di kanal berita gosip. Kayaknya ada hal besar yang dia sembunyiin selama ini."Ayuna membuka tautan yang dikirimkan. Video itu memperlihatkan seorang wanita elegan, berusia sekitar enam puluhan. Wajahnya masih cantik meski dihiasi garis-garis usia. Dialah Bu Arlina, ibu kandung Aqil yang selama ini jarang muncul ke publik.“Aqil selalu anak yang keras kepala,” ucap Bu Arlina di video. “Dan dia punya trauma yang tak semua orang tahu. Ketika ayahnya pergi dari rumah—bukan karena perceraian, tapi karena memilih perempuan lain—Aqil yang menyaksikan semuanya. Usianya baru delapan tahun saat itu.”Ayuna membeku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status