Masuk
Hujan turun deras di luar, memukul-mukul atap seng warung kopi yang biasa Ayuna datangi untuk bekerja. Hawa sore yang seharusnya tenang justru terasa semakin menyesakkan. Tangannya bergetar saat membuka email terakhir dari kantor hukum yang mengurus sisa utang mendiang ayahnya. Kalimatnya singkat, padat, dan menghantam.
Jika tidak ada pembayaran atau kesepakatan dalam tujuh hari, kami akan menempuh jalur hukum dan menyita aset terakhir keluarga Anda.
Aset terakhir.
Yang dimaksud bukan rumah besar, bukan tanah warisan. Yang mereka maksud adalah satu-satunya rumah mungil peninggalan almarhumah ibunya—tempat ia tinggal bersama keponakannya, Hana, dan kakak iparnya yang lebih banyak lepas tangan daripada membantu.
Ayuna meneguk habis kopinya yang sudah dingin. Dadanya penuh sesak oleh emosi yang tak bisa ditumpahkan. Di antara suara hujan, dering telepon memecah lamunan. Sita.
“Aku dapat info dari klienku, Nay. Ada seseorang yang bersedia membantu... tapi syaratnya agak aneh,” suara Sita terdengar ragu.
“Aku nggak butuh bantuan yang bikin aku kehilangan harga diri,” jawab Ayuna cepat.
“Tapi dia bukan sembarang orang. Namanya Aqil Wicaksono. CEO Mahendra Corp. Dia yang... secara teknis, punya kendali atas kasus keuangan ayahmu sekarang.”
Ayuna terdiam. Nama itu bukan asing. Ayahnya dulu pernah menyebut-nyebut tentang pemuda cerdas yang terlalu cepat naik ke puncak. Yang terlalu percaya data, terlalu logis, dan tak pernah peduli pada manusia di balik angka-angka.
“Apa maksudnya... dia yang bisa bikin semua ini selesai?” tanya Ayuna akhirnya.
“Ya. Tapi dia minta kamu datang langsung. Ada tawaran khusus. Dan kamu harus dengar langsung darinya.”
Dua hari kemudian, Ayuna berdiri di depan gedung pencakar langit tempat Mahendra Corp berkantor. Langkahnya mantap, meski jantungnya nyaris pecah. Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana bahan hitam—pakaian terbaik yang ia punya untuk terlihat layak di hadapan orang seperti Aqil Wicaksono.
Lobi kantor itu seakan dunia lain. Terlalu dingin, terlalu mahal, dan terlalu asing. Sekretaris bernama Wulan mengantarnya ke ruang meeting di lantai tertinggi.
Dan di sanalah dia.
Aqil Wicaksono. Pria itu duduk tenang di balik meja panjang dari kayu mahal. Jas hitamnya terlihat rapi tanpa cela. Tatapannya tajam, ekspresinya dingin. Tak ada senyum, tak ada basa-basi.
“Ayuna Paramita,” ucapnya, suaranya berat dan dalam. “Terima kasih sudah datang.”
“Langsung saja,” jawab Ayuna, berusaha terdengar tegas meski tangannya mencengkeram tas di pangkuan. “Saya datang karena ingin tahu apa syarat Anda.”
Aqil membuka map di depannya dan mendorongnya ke arah Ayuna. "Kontrak ini. Satu tahun."
Ayuna membaca sekilas. Matanya membesar saat menyadari isi dari kesepakatan itu. “Anda ingin saya... bekerja untuk Anda? Secara eksklusif?”
“Bukan pekerjaan biasa,” kata Aqil datar. “Saya butuh seseorang yang bisa saya ‘kendalikan’ untuk proyek pribadi. Formalitas, pendamping, asistensi luar, dan... menjaga citra tertentu.”
“Jadi saya... properti yang bisa Anda sewa?” Ayuna balas dengan nada tajam, dadanya terbakar.
“Tidak. Tapi itu satu-satunya cara Anda bisa lunasi utang ayah Anda tanpa kehilangan rumah.” Ia menatap Ayuna lurus. “Saya hanya tawarkan jalan keluar. Pilihan tetap di tangan Anda.”
Ayuna menatap pria di depannya. Wajahnya dingin, tenangnya menusuk. Ia benci betapa logisnya Aqil berbicara seolah ini cuma angka-angka. Tapi bagian paling menyakitkan adalah... dia tahu pria ini benar.
Ayuna menelan ludah. “Saya punya syarat.”
Aqil mengangkat alis. “Silakan.”
“Saya tetap punya batas. Saya bukan pengikut Anda. Dan kalau ini hanya mainan buat Anda, saya pergi sekarang.”
Mata Aqil sedikit menyipit. “Deal. Tapi saya juga punya batas: jangan mencoba lari. Dan jangan anggap ini sebagai tempat berlindung. Ini kontrak. Bukan pelarian.”
Ayuna bangkit berdiri, mengambil kontrak itu dengan tangan sedikit bergetar. “Berikan saya waktu satu malam. Saya akan jawab besok pagi.”
Dan saat ia melangkah keluar dari ruang itu, satu hal mulai tumbuh dalam dirinya: rasa sebal yang nyaris tak bisa ditahan—pada pria dingin bernama Aqil Wicaksono.
Namun entah kenapa, rasa sebal itu tidak pergi begitu saja. Ia tinggal, diam-diam, dan mulai mengendap dalam pikirannya.
Ponsel Ayuna terus bergetar sejak pagi. Notifikasi dari media sosial, pesan dari nomor tak dikenal, dan mention yang tak berhenti di X membuatnya ingin membuang semua perangkat elektronik ke luar jendela. Sejak gosip kedekatannya dengan Aqil tersebar di beberapa akun gosip, hidupnya yang tenang berubah total.“Ayuna, kamu trending nomor dua di X,” kata Vina dengan suara tegang di telepon. “Kamu udah lihat?”“Aku nggak berani buka medsos, Vin. Aku takut makin pusing,” jawab Ayuna lemas, menatap layar ponsel yang penuh notifikasi.“Orang-orang pada ngira kamu pelakor. Terus... ada yang bilang kamu cewek simpanan. Mereka dapet foto kalian dari cafe waktu itu. Dan kayaknya ada yang sebarin juga pas kalian bareng di parkiran kantor.”Ayuna menelan ludah. Itu artinya bukan hanya media, tapi juga orang-orang di sekitar mereka yang jadi mata-mata. Siapa yang merekam? Kenapa sekarang, setelah kontrak mereka selesai, justru gosip makin liar?“Kamu baik-baik aja, Yun?” suara Vina mulai melembut.
Tiga hari setelah kontrak itu berakhir, Ayuna duduk sendiri di kafe kecil langganannya bersama Vina. Secangkir cappuccino sudah dingin, nyaris tak tersentuh. Tatapannya kosong, meski bibirnya mencoba tersenyum di antara canda sahabatnya.“Lo yakin nggak mau cerita?” Vina meletakkan sendok kecil di atas piring. “Ayun, sekarang nama lo mulai banyak dicari di media. Ada akun gosip yang nyebutin lo... sebagai cewek simpanan CEO Mahendra Group.”Ayuna menghela napas pelan. Ia sudah menduga hal ini akan datang, tapi tetap saja rasanya seperti tamparan keras di pipi. Beberapa akun media sosial mulai menyebarkan foto-foto lamanya dengan Aqil—beberapa saat mereka datang bersama ke acara amal, atau bahkan momen kebetulan di lobi kantor Mahendra Group. Belum lagi komentar pedas yang membanjiri akun Instagram miliknya.“Gue nggak ngerti, Vin... Kenapa rasanya makin hari makin susah napas? Padahal hubungan itu udah selesai,” gumam Ayuna lirih. “Kontraknya udah selesai, rasa-rasa... harusnya juga s
Pagi itu, udara terasa segar di balkon kecil kosan Ayuna. Burung-burung gereja berkicau, langit mendung tipis seakan malu-malu, dan Ayuna... sedang tersenyum sendiri di depan cermin.Ia menatap pantulan dirinya, rambut diikat rapi, wajah polos tanpa riasan berlebihan, tapi sinar matanya jauh lebih hidup dari sebelumnya. Hari ini, bukan hanya tentang kerja. Tapi tentang hati yang terasa lebih ringan, meski tak sepenuhnya bebas dari beban.Vina mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban.“Nah, ketauan juga senyumnya kenapa udah beda dua minggu terakhir ini!” Vina meletakkan tasnya, lalu menatap sahabatnya dengan curiga yang dibalut kepedulian. “Yun, lo udah nggak nginep di kosan dua malam. Jangan bilang... lo balik sama mantan?”Ayuna tergelak pelan. “Ngaco. Bukan mantan.”“Terus?”Ayuna tak langsung menjawab. Ia meraih secangkir teh dari meja, duduk di ujung kasur.“Gue emang tinggal sementara di tempat... seseorang. Tapi bukan cuma karena alasan itu. Gue pengen nunjukin
Tiga hari setelah kontrak itu berakhir, Ayuna duduk sendiri di kafe kecil langganannya bersama Vina. Secangkir cappuccino sudah dingin, nyaris tak tersentuh. Tatapannya kosong, meski bibirnya mencoba tersenyum di antara canda sahabatnya.“Lo yakin nggak mau cerita?” Vina meletakkan sendok kecil di atas piring. “Ayun, sekarang nama lo mulai banyak dicari di media. Ada akun gosip yang nyebutin lo... sebagai cewek simpanan CEO Mahendra Group.”Ayuna menghela napas pelan. Ia sudah menduga hal ini akan datang, tapi tetap saja rasanya seperti tamparan keras di pipi. Beberapa akun media sosial mulai menyebarkan foto-foto lamanya dengan Aqil—beberapa saat mereka datang bersama ke acara amal, atau bahkan momen kebetulan di lobi kantor Mahendra Group. Belum lagi komentar pedas yang membanjiri akun Instagram miliknya.“Gue nggak ngerti, Vin... Kenapa rasanya makin hari makin susah napas? Padahal hubungan itu udah selesai,” gumam Ayuna lirih. “Kontraknya udah selesai, rasa-rasa... harusnya juga s
Ruang konferensi di lantai 15 terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu temaram, dan hanya dua cangkir kopi yang tersisa di meja panjang yang belum dibereskan. Ayuna dan Aqil duduk berseberangan. Di antara mereka, kotak kecil yang tadi dibawa Ayuna.Aqil menatapnya, matanya tak melepaskan pandangan sejak mereka duduk. “Kamu mau mulai duluan atau aku?”Ayuna menarik napas panjang. “Aku dulu.”Ia membuka kotak, mengeluarkan kertas kontrak pertama yang dulu ia tandatangani. “Kita mulai dari ini. Selembar kertas yang mengikat semuanya. Tapi juga… yang merusak banyak hal.”Aqil mengangguk pelan. “Aku tahu. Dan aku nyesel.”“Aku juga salah karena menyetujui itu tanpa benar-benar mikir jauh. Tapi saat itu aku butuh... terlalu butuh jalan keluar,” ucap Ayuna. “Aku nggak pernah sangka, dalam prosesnya, aku bakal kehilangan banyak bagian dari diriku sendiri.”Aqil bersandar, tangan dikepal di pangkuan. “Ayuna, aku nggak pernah anggap kamu hanya bagian dari solusi. Aku tahu sejak awal kamu lebih d
Suara notifikasi ponsel berdering bertubi-tubi sejak pagi. Ayuna duduk di tepi tempat tidur, menatap layar dengan ekspresi kosong. Banyak pesan masuk, sebagian dari rekan kerja lama, sebagian dari orang asing yang menyebar simpati sekaligus sindiran.Satu pesan dari Vina membuatnya benar-benar bangkit dari tempat tidur:"Yun, kamu harus lihat ini. Ada video wawancara ibu kandung Aqil di kanal berita gosip. Kayaknya ada hal besar yang dia sembunyiin selama ini."Ayuna membuka tautan yang dikirimkan. Video itu memperlihatkan seorang wanita elegan, berusia sekitar enam puluhan. Wajahnya masih cantik meski dihiasi garis-garis usia. Dialah Bu Arlina, ibu kandung Aqil yang selama ini jarang muncul ke publik.“Aqil selalu anak yang keras kepala,” ucap Bu Arlina di video. “Dan dia punya trauma yang tak semua orang tahu. Ketika ayahnya pergi dari rumah—bukan karena perceraian, tapi karena memilih perempuan lain—Aqil yang menyaksikan semuanya. Usianya baru delapan tahun saat itu.”Ayuna membeku







