LOGINBersambung... Bab Utama : 3/3 Selesai. Bab Utama Tertunda : 196 Bab.
“Cih! Buat apa kau membela gembel tak berguna macam dia?” Suara Steven memecah udara panas di depan restoran.Udin yang sejak tadi menahan malu mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Namun, sebelum sempat membalas, Steven kembali tertawa.“Kau bilang tadi gembel ini sahabatmu?”Steven menunjuk Udin dengan dagunya, lalu menatap Ujang dari ujung kepala sampai kaki. Tawa kerasnya menggema di bangunan restoran yang masih setengah jadi.“Pacar kakakku ternyata pria yang suka dengan pengemis!”Kailen langsung maju selangkah. “Steven... jaga bicaramu!”Nada suaranya dingin, tetapi kemarahan terlihat jelas di matanya.Steven malah menyeringai. Baginya, tidak ada yang perlu ditakuti.Sejak kecil, uang dan nama besar Keluarga Winata membuatnya terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Orang miskin, orang kampung, bahkan orang yang dianggap tidak berguna menurutnya pantas dihina sesuka hati.“Aku cuma mengatakan kenyataan,” jawab Steven santai. “Kenapa kalian tersinggung?”Udin mengusap wa
“Aku yang menghentikan proyek tidak berguna ini!”Suara keras tiba-tiba menggema dari dalam bangunan restoran.Kailen yang baru saja hendak membuka pintu langsung berhenti.Ujang mengangkat kepala. Udin yang berada di belakangnya ikut mengernyit.Langkah kaki terdengar semakin dekat.Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap keluar dari dalam bangunan yang belum selesai direnovasi itu. Kemeja mahal yang dikenakannya tampak sedikit kusut, tetapi jam tangan mewah di pergelangan tangannya berkilau terkena cahaya matahari.Wajahnya menunjukkan kesombongan. “Mulai sekarang, akulah pemilik restoran ini!”Pria itu berdiri di ambang pintu. “Bukan bocah kemarin sore dari kampung yang tidak tahu apa-apa!”Kailen langsung mengenalinya. “Steven?”Pria itu adalah Steven Winata. Putra angkat Keluarga Winata sekaligus adik angkat Kailen.Steven dikenal sebagai pemuda yang gemar hidup mewah. Uang keluarga dihabiskannya untuk pesta, mobil, perjalanan, dan berbagai kesenangan lainnya. Selama bertah
“Kamu jadi menemaniku ke malam lelang amal barang antik di Balai Kota?”Suara Kailen membuyarkan lamunan Ujang.Pemuda itu masih berdiri di halaman kediaman Keluarga Winata dengan tatapan kosong, sementara pikirannya melayang jauh setelah mendengar tawaran lima puluh triliun untuk satu mustika merah delima kuno.Lima puluh triliun. Angka itu seperti menempel di kepalanya.“Jang?” panggil Kailen lagi.Ujang berkedip. “Hah?”Kailen menghela napas. “Kamu dari tadi melamun tingkat dewa.”“Maaf, Kak Kailen. Tadi aku sedang menghitung.”“Menghitung apa?”“Kalau lima puluh triliun dikali dua...”“Sudah!” Kailen langsung memotong. “Jangan sampai kamu pingsan sebelum menemukan mustikanya.”Ujang terkekeh. “Jadi, Kak Kailen... aku jadi menemani.”“Nah, begitu.”Ujang kemudian teringat sesuatu. “Tapi kita ajak Udin juga?”Kailen mengangkat alis. “Udin?”“Iya. Kasihan anak itu kalau ditinggal lagi.”Kailen langsung tertawa. “Hihihi... kita ajak saja.”Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Biar d
“Aku tidak bisa memberikan mustika merah delima kuno ini.”Suara Brahma terdengar tenang, tetapi dingin. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari Aurora. “Berapa pun harganya.”Ruang tamu yang sebelumnya dipenuhi percakapan mendadak senyap.Aurora yang sejak tadi berdiri penuh harap, perlahan mengangkat wajah. Senyum tipis yang sempat menghiasi bibirnya menghilang.“Kakek…” suaranya terdengar pelan.Brahma menggeleng.“Mustika ini bukan sekadar benda berharga bagiku.” Jari-jarinya mengepal perlahan. “Benda ini juga menyangkut hidup dan mati Keluarga Winata.”Aurora terdiam. Dia sudah datang dengan penawaran yang sulit ditolak… lima puluh triliun ditambah lima puluh persen saham Grup Setiawan. Namun, semua itu ternyata masih belum cukup.Aurora menatap mustika merah delima yang terbaring di atas meja. Cahaya merahnya masih berkilau tenang, seolah tidak peduli dengan pertarungan kepentingan dua keluarga besar di ruangan itu.Akhirnya Aurora menarik napas panjang. “Kalau begitu… aku men
“Batu merah delima...”Kailen menatap benda merah yang baru saja terbuka dari dalam Batu Kusam. Kilau merahnya memantul di permukaan meja marmer, membuat benda itu tampak seperti menyimpan bara api di dalam tubuhnya.“Jadi benar dugaan Kakek!” Kailen mendekat beberapa langkah. “Ini batu merah delima.”Ujang ikut memperhatikan. Dari luar, benda itu memang terlihat indah. Merahnya pekat, jernih, dan memiliki kilau yang berbeda dari batu permata biasa.Namun, Brahma justru menggeleng. “Ini bukan sekadar batu merah delima.” Suaranya terdengar berat.Aurora langsung menyahut dengan penuh antusias. “Benar, Kek!”Tatapan wanita itu tidak beranjak sedikit pun dari batu merah tersebut. “Ini mustika merah delima kuno dari zaman kerajaan!”Ujang mengangkat alis. “Mustika?”Aurora mengangguk. “Benda seperti ini bukan sekadar perhiasan.”Dia menunjuk bagian tengah batu yang memancarkan kilau merah.“Pada zaman kerajaan kuno, raja-raja dipercaya menggunakan mustika merah delima untuk meningkatkan ke
“Apa batu kusam ini memang sepenting itu?”Ujang masih memandangi benda yang terletak di atas meja.Batu itu kini terlihat jauh lebih bersih setelah permukaannya dibersihkan. Namun, sejujurnya, Ujang tetap tidak melihat sesuatu yang istimewa.Bentuknya tidak beraturan. Warnanya masih kusam. Tidak ada ukiran, tulisan, ataupun tanda khusus yang menunjukkan bahwa benda tersebut memiliki nilai luar biasa.Kalau dilempar ke pinggir sungai, mungkin tidak akan ada seorang pun yang merasa ingin mengambilnya.“Batu seperti ini banyak sekali di kampung,” gumam Ujang. “Di pinggir sungai juga banyak. Dekat sawah malah lebih banyak lagi.”Kailen meliriknya. “Kamu memang selalu menganggap benda aneh sebagai benda biasa.”“Karena memang kelihatannya biasa.”Brahma tersenyum tipis.“Kakek sudah bertahun-tahun mencarinya,” kata Kailen. “Tapi ternyata batu itu malah ditemukan ada di rumahmu.”Ujang mengangkat kedua bahu. “Namanya juga kebetulan.”“Bang Ujang menemukan batu ini di mana?” Pertanyaan Auror
Juminten mendecak pelan lalu melirik jalan depan rumah. Dari kejauhan terdengar suara emak-emak sedang mengobrol sambil menampi beras. Di desa kecil seperti itu, suara sendok jatuh saja bisa berubah jadi gosip tiga hari tiga malam.“Ujang tahu sendiri gimana tetangga di sini,” katanya sambil memuta
Ujang masih terdiam dengan tubuh gemetaran melihat pemandangan indah di depannya , tak mampu bergerak sedikit pun.Maisaroh langsung menarik tangan Ujang dan diletakkannya di bagian tubuh atasnya yang seperti pualam. ‘Mbak akan melayanimu sampai puas, asalkan kau tidak mengungkit lagi masalah Mbak
Di depan rumah Ujang berdiri Maisaroh… bukan Juragan Baskoro atau tukang pukulnya.Janda kembang itu tampak segar di bawah cahaya pagi. Kali ini ia hanya memakai kaos oblong ketat dan celana pendek… sangat jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya.Di tangannya ada kotak plastik bening berisi kue b
Ujang mengusap mata dan berpura-pura.“Oh iya, Juragan… saya sih nggak lihat apa-apa… cuman mata saya ini agak gatal, agak buram… kayaknya butuh obat tetes mata…” katanya, lalu menyodorkan telapak tangan dengan ekspresi lugu.Juragan Baskoro menatapnya tajam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud an







