LOGINBersambung... Bab Utama : 2/3.
Ujang mengangkat sebelah alis. “Bukan aku. Temanku yang melakukannya.”“Temanmu?” tanya Mat Codet sambil melirik tak percaya.“Benar.” Ujang hanya menjawab singkat tanpa penjelasan tambahan.Mat Codet mengamati sekeliling. Ia tidak melihat siapa pun yang bisa dianggap sebagai teman Ujang selain beberapa orang yang sejak tadi berdiri di belakangnya. “Jangan berbohong! Aku tidak melihat siapa-siapa!”“Memangnya teman harus selalu terlihat?” Ujang tersenyum tipis. “Kalau ingin membunuh mereka, baginya itu semudah menginjak semut. Sayangnya, nyawa kedua orang itu bahkan tidak cukup berharga untuk membuatnya repot-repot turun tangan.”Ucapan itu terdengar ringan, tetapi hawa dingin seolah merayap di sepanjang tulang punggung Mat Codet.Membunuh semudah menginjak semut? Jika pemuda ini hanya menggertak, mengapa Dukun Karta dan Juragan Broto bisa dibuat babak belur tanpa seorang pun menyentuh mereka?Meski demikian, Mat Codet tidak ingin menunjukkan ketakutannya di hadapan anak buahnya. “Cih
“Karta! Jangan main-main denganku!”Suara menggelegar Juragan Broto mengguncang ruangan utama markas Bandit Awan Hitam. Wajahnya merah padam, sementara urat-urat di lehernya menegang. Ia menatap Dukun Karta seolah-olah ingin menelan pria itu bulat-bulat.“Sia-sia aku membayarmu mahal untuk melindungi tempat ini! Katanya kau dukun sakti yang ditakuti banyak orang! Katanya kau punya peliharaan jin yang bisa membunuh siapa saja!” Broto menunjuk wajah Karta dengan telunjuk gemetar. “Tapi sekarang kau malah berdiri seperti orang bodoh! Sampah tidak berguna!”Dukun Karta mengatupkan rahangnya. Harga dirinya sebagai orang yang selama ini dikenal memiliki ilmu gaib terasa diinjak-injak.“Aku tidak sedang main-main!” bentaknya. “Sudah kubilang, ada sesuatu yang menamparku! Kau pikir aku sengaja mempermalukan diri sendiri di depanmu?”Juragan Broto mendengus kasar. “Omong kosong! Mana mungkin seseorang bisa menamparmu tanpa memperlihatkan wujudnya? Jangan-jangan kau cuma mencari alasan karena k
Mat Codet belum juga mengayunkan goloknya. Pemimpin Bandit Awan Hitam itu mengamati Ujang dari ujung kepala hingga kaki, mencoba menilai apakah pemuda di hadapannya benar-benar berbahaya atau sekadar pandai menggertak.Namun, kesabarannya bukan satu-satunya hal yang mulai menipis di halaman markas tersebut.“Codet, jangan lupa tujuan kita menculik nenek itu!” desis Juragan Broto. Cerutu mahal di antara jarinya hampir remuk akibat cengkeramannya. “Aku tidak membayarmu untuk berdiri seperti patung!”Dukun Karta mengangguk penuh kekesalan. Matanya masih sesekali melirik ke arah lapisan pelindung yang telah dihancurkan Kandita.“Terus terang, aku juga tidak mengerti bagaimana bocah kampung itu bisa merusak pelindung energi jin yang kudapatkan dengan susah payah,” gerutunya. “Tapi mungkin dia hanya sedang beruntung. Tidak mungkin pemuda seperti itu memiliki kekuatan yang jauh melampaui kemampuanku!”Ujang mengembuskan napas kasar. Kesabarannya sudah habis.“Aku masih punya banyak urusan,” k
“Jangan ikut campur urusan kami, bocah sialan! Kau tidak punya hak untuk menanyakan apa pun tentang urusanku!”Juragan Broto membentak sambil menjepit cerutu mahal di antara dua jarinya. Asap putih mengepul dari bibirnya, menyebarkan aroma tembakau yang menyengat di tengah udara pegunungan yang dingin.Pria bertubuh gemuk itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Bahkan, ia menyandarkan punggungnya dengan santai, seolah kedatangan Ujang dan rombongannya hanyalah hiburan tambahan untuk malamnya.Di sebelahnya, Dukun Karta melangkah maju dengan wajah merah padam.“Bocah kampung sialan! Kenapa kau selalu saja mengacaukan urusanku?” raungnya. Tongkat kayu di tangannya dihentakkan ke tanah hingga debu beterbangan. “Apa kau memang sudah bosan hidup?”Puluhan bandit yang memenuhi halaman markas segera mengangkat senjata. Kilatan golok, pedang, dan tombak terlihat di bawah cahaya obor. Sebagian mengepung dari depan, sementara yang lain bergerak menutup jalan keluar.Dalam sekejap, Ujang da
“Ada yang mencariku?”Sebuah suara perempuan yang familier tiba-tiba terdengar dari belakang Ujang. Suaranya ringan, bahkan terdengar sedikit jahil, sangat kontras dengan suasana tegang yang menyelimuti rumah nenek Juleha.Ujang segera berbalik. “Kandita! Kau sudah kembali?”Di hadapannya berdiri jin cantik itu dengan senyum penuh percaya diri. Rambutnya bergerak lembut tertiup angin malam, sementara matanya memancarkan kilatan nakal.“Bagaimana dengan Nona Kartika?” tanya Ujang cepat.“Beres, Bos!” Kandita mengangkat ibu jari. “Nona Kartika sudah berhasil diselamatkan. Sekarang, tugas apa lagi yang harus kuselesaikan?”Ujang mengembuskan napas lega. Setidaknya, satu masalah besar telah selesai. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk merayakan keberhasilan tersebut. Bayangan nenek Juleha yang mungkin sedang berada dalam bahaya kembali memenuhi pikirannya.“Bagus. Sekarang ada masalah di Gunung Awan Hitam,” kata Ujang. “Kirana merasakan energi jin yang sangat kuat melindungi sebuah ma
“Hati-hati, Tuan Muda!”Seruan Mahika menggema ketika Ujang mendorong pintu rumah nenek Juleha hingga terbuka. Engselnya berderit panjang, mengusik kesunyian malam yang sejak tadi terasa tidak wajar.Ujang segera meraih sakelar di samping pintu.Klik!Lampu ruang tamu menyala, menerangi perabot kayu sederhana, meja kecil, dan beberapa keranjang sayuran yang tersusun di sudut ruangan. Bau tanah dan daun bambu yang lembap tercium samar dari jendela yang sedikit terbuka.Namun, tidak ada seorang pun di sana.Ujang menelusuri ruangan dengan tatapan tajam. Tidak terlihat tanda-tanda perkelahian, tetapi sebuah kursi tergeser dari tempatnya. Di lantai dekat pintu belakang, beberapa jejak tanah membentuk garis samar menuju halaman.Juleha menerobos masuk, lalu memanggil dengan suara bergetar. “Nenek?”Ia memeriksa kamar tidur, dapur, bahkan kamar mandi kecil di belakang rumah. Ketika kembali ke ruang tamu, wajahnya telah pucat.“Lho, nenekku ke mana?” Suaranya meninggi. “Masa sudah tengah mala
Di depan rumah Ujang berdiri Maisaroh… bukan Juragan Baskoro atau tukang pukulnya.Janda kembang itu tampak segar di bawah cahaya pagi. Kali ini ia hanya memakai kaos oblong ketat dan celana pendek… sangat jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya.Di tangannya ada kotak plastik bening berisi kue b
Ujang mengusap mata dan berpura-pura.“Oh iya, Juragan… saya sih nggak lihat apa-apa… cuman mata saya ini agak gatal, agak buram… kayaknya butuh obat tetes mata…” katanya, lalu menyodorkan telapak tangan dengan ekspresi lugu.Juragan Baskoro menatapnya tajam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud an
“Aah… Terus, Juragan… jangan berhenti!”Langkah Ujang tiba-tiba terhenti di tengah jalan pintas kebun pisang yang remang.Ada suara lain. Samar-samar dan tertahan. Seperti erangan.“Jangan-jangan… kuntilanak lagi?” bisiknya. Tenggorokannya kering. “Tapi masa ada kuntilanak keluar sebelum magrib?”T
Juminten mendecak pelan lalu melirik jalan depan rumah. Dari kejauhan terdengar suara emak-emak sedang mengobrol sambil menampi beras. Di desa kecil seperti itu, suara sendok jatuh saja bisa berubah jadi gosip tiga hari tiga malam.“Ujang tahu sendiri gimana tetangga di sini,” katanya sambil memuta







