Share

79. Siapa Sebenarnya, Kailen?

Author: Zhu Phi
last update publish date: 2026-07-13 22:21:05
Kailen melirik Udin yang masih menggenggam ponsel di tangannya.

"Masukkan alamatnya ke GPS. Jangan sampai kita malah muter-muter satu kota gara-gara salah belok."

"Siap!" jawab Udin sambil mengetuk layar dengan cekatan. Titik lokasi langsung muncul. Senyum usil mengembang di wajahnya. "Eh, habis ini aku boleh ngelamar jadi sopir pribadi Kak Kailen, nggak?"

Kailen terkekeh pelan. Tawanya ringan, tetapi cukup membuat suasana di dalam Fortuner terasa lebih santai.

"Boleh saja kalau memang kamu mau.
Zhu Phi

Bersambung... Bab Utama : 2/3.

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    224. Perang Dingin Keira dan Kailen

    “Temenin aku ke sana, Din!” Keira langsung meraih tangan Udin.Udin refleks menarik tangannya. “Eh, jangan!”Keira menatapnya bingung. “Kenapa?”“Aku enggak mau.” Udin menggelengkan kepalanya.“Kenapa enggak mau?” tanya Keira sambil menatap Udin dengan bibir manyun.Udin melirik ke arah aula utama. Dari tempat mereka berdiri, ia masih bisa melihat Ujang dan Kailen di antara kerumunan tamu.“Kalau aku jalan berduaan sama kamu, nanti orang-orang mengira aku pacarmu.”Keira mendengus. “Memangnya kenapa?”“Masalahnya aku bukan pacarmu.”“Memangnya aku mau menjadikanmu pacar?”“Bukan itu masalahnya.”“Lalu?”Udin menunjuk dirinya sendiri. “Lihat penampilanmu. Kamu seperti model. Aku seperti orang yang baru selesai membantu parkir mobil.”Keira menahan tawa. “Jadi kamu malu berjalan denganku?”“Bukan malu.”“Lalu?”“Takut salah paham.”Keira memutar bola mata. “Udin, aku cuma minta ditemani.”“Cari orang lain.”“Tidak mau.”“Kenapa?”Keira melirik ke arah Ujang. “Karena aku mau menemui Ujan

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    223. Teman Masa Sekolah

    “Dia datang bersamaku!”Perempuan itu segera mengeluarkan sebuah undangan dari tas kecilnya. Kartu berwarna hitam dengan tulisan emas itu disodorkan kepada petugas.Petugas memeriksanya sekilas. Ekspresinya langsung berubah menjadi ramah.“Selamat datang, Nona Keira. Silakan masuk.”Keira mengangguk-angguk. “Terima kasih.”Ia kemudian melangkah melewati pintu utama bersama Udin.Namun, baru beberapa langkah, Udin berhenti. Ia menatap perempuan di sampingnya dari ujung kepala sampai kaki.“Sebentar.”Keira menoleh. “Apa?”“Kamu Keira?” tanya Udin ragu-ragu.Perempuan itu mengernyit. “Iya.”Udin menyipitkan mata. “Apa enggak salah?”Keira langsung tertawa kecil. “Kenapa?”Udin masih memandangnya seolah sedang berusaha mencocokkan wajah di depannya dengan kenangan belasan tahun lalu.Keira yang sekarang benar-benar berbeda.Rambut panjangnya tergerai rapi. Wajahnya terlihat lebih tirus, kulitnya bersih dan bercahaya di bawah lampu kristal Balai Kota. Gaun elegan yang dikenakannya membuat

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    222. Malam Lelang

    Malam itu, Balai Kota Samudera tampak seperti istana yang baru saja dinyalakan.Lampu-lampu keemasan menghiasi bagian depan bangunan megah tersebut. Pilar-pilar tinggi memantulkan cahaya terang, sementara karpet merah membentang dari pintu utama hingga area drop-off.Suara mesin mobil mewah bersahut-sahutan.Deruman mesin sport car bercampur dengan suara pintu mobil yang dibuka dan ditutup. Para tamu berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Jas hitam, gaun malam, perhiasan berkilauan, hingga jam tangan mewah terlihat di antara kerumunan.Malam itu memang bukan acara biasa.Sebuah lelang barang antik dan pusaka kuno digelar untuk amal. Seluruh hasil lelang akan disumbangkan kepada berbagai kegiatan sosial.Acara tersebut diselenggarakan Balai Kota Samudera bekerja sama dengan Kartika Chandra, salah satu kolektor barang antik terkenal yang secara khusus menyumbangkan sejumlah koleksi berharga miliknya.Karena itu, para tamu yang hadir bukan orang sembarangan.Mobil Rubicon milik Ujang

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    221. Ancaman Steven Winata

    Satu demi satu tubuh para preman bergelimpangan di halaman restoran.Ada yang tersungkur di atas tanah berdebu. Ada yang menabrak tumpukan material bangunan. Beberapa lainnya terduduk sambil memegangi dada dan perut, wajah mereka meringis menahan nyeri. Tidak ada satu pun yang mampu berdiri untuk melanjutkan perlawanan.Ujang berdiri di tengah halaman dengan napas tetap teratur. Keringat hanya membasahi sedikit pelipisnya.Energi panas dari Cincin Akik Merah masih berdenyut di tubuhnya. Aliran hangat itu bergerak melalui jaringan energinya, membuat otot-ototnya terasa ringan dan penuh tenaga.Ia menatap tangannya sendiri sebentar. Sejujurnya, Ujang juga sedikit heran.Biasanya, menghadapi belasan orang sekaligus tetap membutuhkan konsentrasi. Namun, kali ini semuanya terasa terlalu mudah.Ia mengangkat kepala. Di depannya, Steven berdiri kaku.Wajah pemuda itu merah padam. Mulutnya terbuka, tetapi tidak segera mengeluarkan suara.Sementara itu, Udin masih menatap Ujang seperti melihat

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    220. Membela Sahabat

    “Cih! Buat apa kau membela gembel tak berguna macam dia?” Suara Steven memecah udara panas di depan restoran.Udin yang sejak tadi menahan malu mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Namun, sebelum sempat membalas, Steven kembali tertawa.“Kau bilang tadi gembel ini sahabatmu?”Steven menunjuk Udin dengan dagunya, lalu menatap Ujang dari ujung kepala sampai kaki. Tawa kerasnya menggema di bangunan restoran yang masih setengah jadi.“Pacar kakakku ternyata pria yang suka dengan pengemis!”Kailen langsung maju selangkah. “Steven... jaga bicaramu!”Nada suaranya dingin, tetapi kemarahan terlihat jelas di matanya.Steven malah menyeringai. Baginya, tidak ada yang perlu ditakuti.Sejak kecil, uang dan nama besar Keluarga Winata membuatnya terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Orang miskin, orang kampung, bahkan orang yang dianggap tidak berguna menurutnya pantas dihina sesuka hati.“Aku cuma mengatakan kenyataan,” jawab Steven santai. “Kenapa kalian tersinggung?”Udin mengusap wa

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    219. Pemilik Baru Restoran

    “Aku yang menghentikan proyek tidak berguna ini!”Suara keras tiba-tiba menggema dari dalam bangunan restoran.Kailen yang baru saja hendak membuka pintu langsung berhenti.Ujang mengangkat kepala. Udin yang berada di belakangnya ikut mengernyit.Langkah kaki terdengar semakin dekat.Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap keluar dari dalam bangunan yang belum selesai direnovasi itu. Kemeja mahal yang dikenakannya tampak sedikit kusut, tetapi jam tangan mewah di pergelangan tangannya berkilau terkena cahaya matahari.Wajahnya menunjukkan kesombongan. “Mulai sekarang, akulah pemilik restoran ini!”Pria itu berdiri di ambang pintu. “Bukan bocah kemarin sore dari kampung yang tidak tahu apa-apa!”Kailen langsung mengenalinya. “Steven?”Pria itu adalah Steven Winata. Putra angkat Keluarga Winata sekaligus adik angkat Kailen.Steven dikenal sebagai pemuda yang gemar hidup mewah. Uang keluarga dihabiskannya untuk pesta, mobil, perjalanan, dan berbagai kesenangan lainnya. Selama bertah

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    01. Kepergok Basah

    “Aah… Terus, Juragan… jangan berhenti!”Langkah Ujang tiba-tiba terhenti di tengah jalan pintas kebun pisang yang remang.Ada suara lain. Samar-samar dan tertahan. Seperti erangan.“Jangan-jangan… kuntilanak lagi?” bisiknya. Tenggorokannya kering. “Tapi masa ada kuntilanak keluar sebelum magrib?”T

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    05. Tergoda Janda Muda

    Juminten mendecak pelan lalu melirik jalan depan rumah. Dari kejauhan terdengar suara emak-emak sedang mengobrol sambil menampi beras. Di desa kecil seperti itu, suara sendok jatuh saja bisa berubah jadi gosip tiga hari tiga malam.“Ujang tahu sendiri gimana tetangga di sini,” katanya sambil memuta

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    04. Panasnya Janda Kembang

    Ujang masih terdiam dengan tubuh gemetaran melihat pemandangan indah di depannya , tak mampu bergerak sedikit pun.Maisaroh langsung menarik tangan Ujang dan diletakkannya di bagian tubuh atasnya yang seperti pualam. ‘Mbak akan melayanimu sampai puas, asalkan kau tidak mengungkit lagi masalah Mbak

  • Ujang Hoki Sang Penakluk Gadis dan Janda Kembang Desa    02. Awal Keberuntungan Atau Musibah?

    Ujang mengusap mata dan berpura-pura.“Oh iya, Juragan… saya sih nggak lihat apa-apa… cuman mata saya ini agak gatal, agak buram… kayaknya butuh obat tetes mata…” katanya, lalu menyodorkan telapak tangan dengan ekspresi lugu.Juragan Baskoro menatapnya tajam. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud an

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status