INICIAR SESIÓNLiana nunca pidió un trono, pero se le exigió un sacrificio. Con veintitrés años, pensó que había escapado del oscuro legado de su familia. Pero cuando una deuda de sangre la pone cara a cara con el hombre más temido de la ciudad, su vida se convierte en una moneda de cambio. Lucifer D'Angelo no es solo el Don de la mafia más despiadado; es el mal con traje de sastre, el hombre cuya reputación de crueldad solo es superada por su carisma. Para él, Liana no es solo una mujer, es la última pieza que necesita para consolidar su poder. El precio por la vida de su ser querido: convertirse en su esposa, su reina, y vivir en una jaula de oro. Ella acepta el trato con una única promesa: no perder su alma. Atrapada en un mundo de pactos de sangre, traiciones silenciosas y lujos que esconden una violencia brutal, Liana debe jugar el papel de consorte perfecta, mientras lucha contra el odio que siente por su captor... y contra la fascinación innegable que su oscuridad ejerce sobre ella. Pero la guerra por el trono está lejos de terminar. Los rivales de Lucifer ven a la nueva reina como su debilidad. Y cuando la tensión explote en pasión prohibida, Liana deberá decidir: ¿Seguir luchando por la libertad que ha perdido, o se rendirá al fuego y se convertirá en la única mujer digna de gobernar a su lado? En el infierno de la mafia, la lealtad es un lujo y el amor es el arma más letal. ¿Podrá una reina domar al diablo... o él consumirá su luz para siempre?
Ver másSeorang lelaki paruh baya turun dari mobilnya menuju sebuah gedung bertingkat sepuluh untuk pertama kalinya. Tidak terlalu besar memang, tapi gedung yang berfungsi sebagai kantor ini memiliki design dan interior yang menarik dan juga elegan. Tidak heran mengingat siapa pemiliknya. Seorang pria muda yang menjadi rival bisnisnya.
"Ada apa gerangan sampai seorang Bramantyo Nugraha tiba-tiba mau berkunjung ke kantor saya yang sederhana ini?" Tanya Anggara Wijaya sang pemilik tempat itu dengan nada angkuh. "Jangan berlebihan, saya kesini bukan untuk bersitegang." Bram memulai pembicaraan dengan tenang, karena setiap bertemu dengan laki-laki di depannya ini yang ada hanya aura permusuhan. Bukan tanpa sebab mereka seperti ini, ini semua berawal saat dulu Angga baru memulai bisnisnya, ia menaruh mata-mata di kantor Bram untuk mencurangi perusahaan Bram saat akan mendapatkan tender. Tidak berlangsung lama karena Bram mengetahuinya dan membuat Angga hampir bangkrut kala itu. Akan tetapi karena kualitas perusahaan Angga yang bagus dirinya mampu bangkit dan menandingi perusahaan Bram, hingga sampai saat ini mereka menjadi seteru abadi. Saling bersaing untuk mendapatkan tender-tender besar. "Oh anda mulai sadar usia rupanya?" "Turunkan nada bicaramu kalau kamu sadar saya orang yang lebih tua. Saya punya penawaran menarik untukmu, Pak Angga." "Wah! Apa itu? Jarang-jarang anda memberikan saya penawaran, biasanya hanya berusaha merebut apa yang sedang saya usahakan." "Dengarkan dulu, dan ada beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab!" "Silahkan." Angga mengalah dan memberikan Bramantyo kesempatan berbicara. "Untuk apa kamu mendatangi sekolah TK Bunga Bangsa kemarin?" "Apa itu penting?" tanya Angga merasa pertanyaan yang di ajukan Bram padanyapadanya sedikit aneh. "Jawab saja!" "Ck, anak saya bersekolah disana." "Apa kau mengenal guru pengajarnya?" Angga mengernyit bingung, ia tak pernah datang ke sekolah anaknya, Jeosano, hanya mengantarnya sampai gerbang sekolah saja. Jadi, ia sama sekali tidak mengenal siapa guru pengajar di sana. "Tidak, karena Ibu saya yang mendaftarkan dan memenuhi panggilan sekolah setiap ada pertemuan. Kenapa?" "Pak Angga, apa kau masih menginginkan proyek pembangunan stadion itu?" tanya Bramantyo lagi. "Saya sedang berjuang untuk mendapatkannya kalau Anda lupa." "Saya akan memberikan proyek itu secara cuma-cuma kalau kau mau memenuhi syarat dariku." "Terdengar menarik, apa syaratnya tidak terlalu sulit?" "Seharusnya tidak, kau cukup tampan, kaya dan menarik." "Tolong katakan dengan jelas!" Angga tidak sabar untuk mengetahui syarat dari orang di depannya ini. "Kamu harus menikahi seorang wanita bernama Seruni Larasati yang menjadi guru pengajar di sekolah puteramu itu!" "Menikah??? Tapi saya belum berencana untuk menikah lagi. Saya juga tidak punya banyak waktu untuk sekedar mendekati atau berpacaran." Angga sudah pernah menikah, dan setelah rumah tangganya kandas, sama sekali belum keinginan untuk menikah lagi. "Tidak akan memakan banyak waktu, saya tidak menyuruhmu untuk berpacaran karena pasti dia akan menolak. Wanita itu mempunyai kekasih. Dia kekasih putera saya, tapi saya tidak menginginkanya jadi menantu." "Apa dia wanita yang buruk?" tanya Angga. "Tidak, hanya saja saya tidak bisa menerimanya. Saya beri waktu kamu satu bulan untuk menikahi perempuan itu, maka saya pastikan proyek besar itu akan jatuh ketanganmu." "Saya akan memikirkannya, beri saya waktu." "Baiklah, saya butuh jawaban besok." Menaklukkan seorang wanita bukan perkara yang sulit bagi Angga, ia mantan playboy. Asal wanita itu tidak buruk rupa dan mampu membangkitkan hasratnya, ia punya seribu cara untuk membawanya ke atas ranjang. Semoga saja wanita bernama Seruni itu menarik, ia benar-benar menginginkan proyek itu ada di tanganya. *** Keesokan paginya Anggalah yang mengantarkan sang anak kesekolah. Dia menyuruh sopirnya tidak berangkat hari ini, karena Angga yang akan mengantar dan menjemput Ano di sekolahnya. Angga serius saat mengatakan ingin bertemu dengan guru anaknya. Ya, dia ingin melihat bagaimana rupa wanita bernama Seruni itu, akan jadi pertimbangan saat akan mengambil keputusan menerima atau tidak tawaran dari Bramantyo, karena yang dia tawarkan disini adalah sebuah pernikahan, tidak mungkin dia menikah dengan seseorang yang tidak menarik di matanya. Angga tidak munafik akan kecantikan seorang wanita, ia juga tidak berencana mempermainkan lembaga pernikahan. Masalah wanita itu orang baik atau tidak, sepertinya Angga tidak terlalu khawatir wanita itu pasti menyukai anak-anak karena bekerja di bidang itu, setidaknya puteranya aman. Sekarang dia harus segera menemui wanita itu, waktunya tidak banyak. Angga turun dan berjalan bergandengan dengan Jeosano, anaknya. Pemandangan sempurna itu tentu saja menjadi perhatian sebagian ibu-ibu muda yang mengantarkan anaknya ke sekolah pagi itu. "Ini Yah, ruangan kepala sekolahnya." Tunjuk anak laki-laki berusia lima tahun yang biasa di panggil Ano. "Oke, terimakasih, kamu ke kelasmu sana biar Ayah masuk sendiri." Ano mengangguk dan langsung berlari menuju ruang kelasnya. Angga mengetuk pintu itu beberapa kali demi kesopanan meski pintunya terbuka. "Silahkan masuk, apa benar anda orang tua dari Jeosanno Abrian Wijaya?" Tanya seorang wanita berumur hampir seperti Ibunya Angga setelah dia di persilahkan duduk. Karena sebelumnya dia sudah menelepon pihak sekolah kalau ada orang tua dari Jeosanno akan datang ke sekolah itu. "Iya benar." "Apa ada masalah dengan pelajaran di sekolah kami?" "Tidak Bu, tapi kalau bisa saya ingin bertemu dengan pengajar dari Jeosanno anak saya yang bernama Seruni. Saya ingin bertanya tentang Jeosanno saat di sekolah serta ingin mengucapkan terimakasih." " Oh... kalau begitu sebentar saya panggilkan, beliau ada di kelas." "Silahkan Bu, terimakasih." Entah mengapa jantung Angga berdebar hanya karena menunggu seorang bernama Seruni datang keruangan ini. Mungkin karena niatnya yang kurang baik. "Permisi, selamat pagi. Apa benar bapak mencari saya?" Angga di kejutkan oleh suara wanita yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Oh, ternyata tadi dia melamun sehingga tidak mendengar saat ada orang masuk keruangan ini. Seorang wanita dengan blouse putih dan rok berwarna mocca sepanjang lutut berdiri di depannya. Dengan wajah berkulit putih dan kuncir ekor kuda wanita ini terlihat bersih, rapi juga cantik. Memiliki wajah bak aktris korea tetapi badan yang lumayan berisi di tempat tertentu membuat wanita ini enak di pandang. Pantas anak dari Pak Bram terpikat dengan wanita di depannya ini. "Pak......" "Oh iya, maaf. Anda Ibu Seruni?" "Iya betul, ada yang bisa saya bantu?" Wanita itu bertanya dan tersenyum manis. "Perkenalkan saya Anggara Wijaya, ayah dari Jeosanno salah satu murid Anda." Angga mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Serunipun menerimanya dengan baik. "Apa anak saya Jeosanno berkelakuan baik selama di sekolah?" tanya Angga. "Iya pak, sangat baik, sama sekali tidak ada masalah. Apa ada sesuatu saat dia di rumah?" "Tidak, tapi dia bilang beberapakali meminta makanan Anda." "Oh, Ano tidak memintanya pak Angga, setiap hari jumat memang saya membawa makanan untuk di bagikan kepada anak-anak. Bukan hanya kepada Ano." "Oh begitu, maaf merepotkan dan terimakasih. Ano suka sekali, katanya masakan Ibu Seruni sangat enak padahal dia sangat pemilih soal makanan." "Terimakasih Pak, saya sangat senang mendengarnya." " Ya sudah Bu, terimakasih dan maaf sekali sudah menggangu waktunya." " Tidak apa-apa, kami pihak sekolah dengan terbuka menerima semua saran, kritik juga curhatan wali murid terkait putera-puterinya yang bersekolah disini," jawab Seruni. "Terimakasih Bu, kalau begitu saya permisi." Seruni mengangguk mempersilahkan ayah dari salah satu muridnya itu keluar dari ruangan ini. Dia tersenyum tanpa tahu apa yang akan terjadi antara dirinya dan laki-laki itu di kemudian hari. Angga segera mengambil telepon genggamnya dan memberi pesan kepada seseorang. "Tidak buruk, saya menerima tawaranmu."Varios meses después de su regreso de las Maldivas, la vida en el palazzo D’Angelo había encontrado un ritmo inesperado: la coreografía rigurosa de una corte de poder mezclada con la tierna rutina de una familia nueva. Liana no solo era la Reina, era también la madre. El imperio prosperaba. La limpieza de la Casa había cimentado la posición de Liana con el Estado, y las operaciones en las sombras, dirigidas con la sabiduría de Lucifer y la estrategia de Liana, eran más eficientes y seguras que nunca. Lucifer continuaba siendo el temido hombre de poder ante el mundo: frío, implacable, y con una mirada que podía congelar la voluntad de cualquier rival. Pero esa severidad terminaba en el umbral de su suite privada. Su hijo, Alessandro, había llegado al mundo tres meses atrás, llenando su vida de un amor que Liana no sabía que le faltaba. El bebé era una mezcla perfecta de ambos: los ojos oscuros y profundos de Lucifer, pero el temperamento inquisitivo y la curiosidad tranquila d
El segundo matrimonio de Liana y Lucifer no fue un evento para la prensa, ni un espectáculo para cimentar alianzas. Fue una ceremonia silenciosa, profunda y absolutamente sincera, celebrada seis meses después de la propuesta. La primera boda había sido un contrato de papel firmado en una oficina fría, con un vestuario negro y miradas llenas de desconfianza. Esta vez, el evento se celebró en una villa histórica que poseía la Casa en la Toscana, rodeada de cipreses y con el sol filtrándose entre las colinas. Era un lugar sagrado para su paz, lejos del bullicio de Milán. Liana había insistido en la simplicidad, pero la opulencia de la Casa era inevitable. El vestido que eligió no era el blanco prístino de la Reina Reformadora, sino un suave color marfil, con encaje que abrazaba su figura, simbolizando su vulnerabilidad y su fuerza. En su tocador, Elena ajustaba el velo, su rostro por primera vez completamente en paz. —Tu padre estaría orgulloso. No solo del poder que has forj
Un año había transcurrido desde la mañana en que Lucifer, con sangre en las manos y el alma herida, regresó de Como para salvar el imperio de Liana. Un año fue suficiente para reescribir la historia. El escándalo de las antigüedades era ahora un capítulo cerrado, atribuido oficialmente a la ambición desmedida de Dante Rossi y la red criminal de Petrov. Liana Vespera-D’Angelo era aclamada por la prensa como la Reina Purgadora, la joven líder que había limpiado la corrupción en una de las familias más poderosas de Italia. Lucifer, bajo un perfil rigurosamente bajo, se había transformado en el discreto esposo y filántropo. Él supervisaba las operaciones de la Casa desde las sombras, moviendo piezas con precisión, pero el rostro público, la voz y la autoridad eran indiscutiblemente de Liana. La reforma no era solo una narrativa; era una realidad. La relación de Liana y Lucifer había evolucionado de una alianza estratégica a un matrimonio de respeto y entendimiento mutuo. Ya no eran
Lucifer abandonó el palazzo a toda velocidad, dejando atrás el caos de los medios y la amenaza de arresto. Había cedido el control legal a Liana, pero el control de la venganza era suyo. Su figura, armada y tensa, era la encarnación del Diablo que había intentado enterrar. La ciudad era su coto de caza. En el Museo Cívico, Liana, a salvo pero hirviendo de rabia, se comunicó con él a través del canal cifrado que Bruno había activado. Ella sabía que su hombre estaba operando en las sombras, y para protegerlo, debía convertirse en su inteligencia. —Bruno rastreó un pago de dos millones de euros realizado hace tres horas a una cuenta anónima en Zurich —informó Liana, su voz firme y sin temblor, a pesar de la adrenalina—. La cuenta fue creada por un intermediario que trabajó para Isabella en el pasado, un experto en logística de evasión. —¿La ruta? —preguntó Lucifer, conduciendo por las carreteras secundarias hacia el norte. —Isabella no usará un aeropuerto comercial. Necesita una












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reseñas