Share

BAGIAN 3: SEMAKIN TERTARIK

“Oh tentu, namun sayangnya aku sudah membeli itu melalui toko lain kemarin,” ujar Anna sambil memaksakan senyumnya, lalu pelayan itu segera pergi.

“Ayo kita pergi dari sini, ada tempat yang ingin aku kunjungi,” ujar Anna masih dengan nada ngesoknya itu, ia berpikiran untuk mengajak Brandon pergi ke pasar malam di Jakarta. Setelah gagal membuatnya kesal di toko tadi, Anna pun memutuskan untuk memakai ide terakhirnya.

Sesampainya di pasar malam, Anna segera berlari menuju wahana bianglala lalu segera masuk ke dalam wahana itu diikuti dengan Brandon.

“Hahaha, mana ada CEO yang mau harga dirinya direndahkan dengan menaikki bianglala, setelah ini ku jamin dia akan menyesal dan segera pergi!” pikir Anna.

Angin tertiup lembut dari segala sisi, membuat rambut Anna beterbangan perlahan. Brandon yang berada di depannya seketika membenarkan sehelai rambut dan menyelipkannya pada telinga gadis tersebut.

Anna terpaku, ia diam seribu bahasa. Lalu segera menyandarkan kepalanya ke sisi bianglala untuk menjauhi tangan Brandon, begitu juga Brandon segera menarik tangannya kembali, ia khawatir Anna tak akan merasa nyaman dengan kehadirannya.

Mata Anna perlahan-lahan menelusuri pemandangan Kota Jakarta malam itu, sejak lama ia tak pernah memanjakan dirinya seperti ini akibat tugas kuliah dan skripsi yang menumpuk selama masa kuliahnya, sehingga saat ini ia bisa merasakan kesenangan meskipun dengan orang yang baru ia temui

Tiba-tiba Anna memperhatikan bianglala yang berada tepat di sampingnya, sepertinya ada sosok yang ia kenal.

“Astaga! Itu Jasmine? Ahhh…pasti dia sedang berpegian dengan teman SMAnya, d-dia tak boleh melihat aku di sini berduaan dengan Brandon,” pikir Anna sambil menyipitkan matanya, berusaha memastikan jika benar gadis yang ada di situ merupakan Jasmine, teman satu kuliahnya yang berasal dari Jakarta.

Seketika bianglala yang dinaiki Anna dan Brandon berhenti, Anna tanpa menunggu lama segera berlari menjauhi Jasmine yang akan turun dari bianglala tepat setelah dirinya.

Brandon kebingungan melihat Anna yang tiba-tiba pergi meninggalkannya begitu saja.

“Reva tunggu!” ujar Brandon sambil mengejar Anna dari belakang.

Dengan sepatu hak tinggi yang belum biasa ia pakai, Anna tetap memaksakan diri untuk berlari sejauh mungkin dari kerumunan, ia tak ingin jika citra Brandon turun hanya karena berita mengenai dirinya yang sedang mengencani seorang gadis biasa sepertinya.

“BRUKKK!!!”

Tanpa Anna sadari di depannya terdapat batu besar yang membuat sepatu haknya tersangkut hingga kaki kanannya terkilir.

“AW!!!” ujar Anna yang mencoba menahan suaranya dengan paksa agar suaranya tak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Reva!” suara Brandon terdengar memanggil Anna.

“Sini biar aku bantu,” ujar Brandon sambil membantu Anna bangkit.

“Tak perlu, aku bisa sendiri,” ujar Anna yang segera kembali memakai hak tingginya itu lalu berusaha berjalan pergi sambil tergopoh-gopoh.

Brandon semakin bingung sekaligus semakin tertarik dengan tingkah laku Anna, entah mengapa sosok yang ia lihat pagi ini dapat berubah seratus delapan puluh derajat seperti saat ini. 

Brandon kembali mengikuti Anna dari belakang lalu segera mengangkat gadis itu. Anna terkejut dengan perlakuan baik Brandon padanya. Ia kira laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya, namun rupanya ia masih bersikeras ingin melanjutkan kencan tersebut bahkan mengangkatnya untuk masuk ke dalam mobil, dia adalah seorang CEO perusahaan yang tak akan pernah bisa kau baca jalan pikirannya.

Dengan lembut Brandon melepaskan hak tinggi di kedua kaki Anna, dan menaruh kedua sepatu tersebut di bagian belakang mobil.

“Tunggu di sini sebentar,” ujar Brandon sebelum ia menutup sisi pintu mobil Anna.

Sambil menunggu Brandon kembali, Anna memutuskan untuk memperhatikan keadaan di sekitar mobil. Sepi, tidak ada orang di area tersebut. Akhirnya ia bisa menghela napas dengan tenang.

Beberapa menit kemudian Brandon kembali dengan membawa obat pertolongan pertama dan juga sebuah sandal yang entah dia dapatkan dari mana.

“Sini berikan padaku, aku bisa sendiri,” ujar Anna yang sudah tidak asing melihat obat-obatan tersebut di rumah sakit setiap harinya.

Brandon memperhatikan gadis di sampingnya membalut lukanya dengan baik.

Saat Anna hendak membersihkan luka lecetnya menggunakan alkohol.

“AUW!!!” tiba-tiba Anna mengernyit akibat rasa perih yang baru ia rasakan sejak lama. Brandon yang ada di sampingnya langsung mengambil alkohol tersebut dan memutuskan agar dirinya saja yang mengobati luka itu.

Anna memandangi wajah Brandon, ia berpikir jika sikap laki-laki itu tak terlalu buruk juga untuk seorang CEO yang biasa dikenal atas sikap angkuhnya.

“M-Mengapa kau selalu sabar dan bersedia membantuku?” tanya Anna tiba-tiba, ia mendadak lupa berbicara dengan nada ngesoknya itu.

“Tentu, mana mungkin aku membiarkan calon istriku terluka begitu saja,”

“Tetapi kau bisa saja pergi dan memilih gadis lain yang tak merepotkan sepertiku bukan?” tanya Anna yang masih berusaha keras agar Brandon membatalkan perjodohan itu.

“Tidak, kau tak merepotkan sama sekali, saat kita sudah menikah nanti, biaya yang ku keluarkan untuk gaya hidupmu tak akan sebanyak wanita-wanita di luar sana pada umumnya,” ujar Brandon sambil tersenyum, ia terpaksa harus berpura-pura menganggap gadis di depannya adalah Reva dan bukannya Anna, ia tak peduli, selama Anna berada di sisinya ia tak akan pernah memikirkan mengenai perjodohannya dengan Reva yang asli.

“Oh astaga aku lupa, tentu kau tak keberatan sama sekali secara kau akan mendapatkan banyak keuntungan setelah kita menikah nanti,” ujar Anna, sambil memperhatikan Brandon kini telah selesai menutupi lukanya dengan perban dan saat ini pria tersebut sedang memakaikan sandal pada kedua kaki Anna.

Usai Brandon mendengar perkataan Anna, ia pun menatap gadis itu, keduanya kini saling bertatapan, suasana hening seketika membuat jantung Brandon berdegup dengan kencang tanpa dirinya sadari.

“Reva, aku ingin kamu tahu, entah kau berasal dari keluarga paling kaya di Indonesia atau bahkan kau tak memiliki keluarga sekalipun, aku tak peduli, selama aku merasa nyaman dengan keberadaanmu, perjodohan ini akan terus berlangsung,” ujar Brandon lalu segera menutup sisi pintu mobil Anna perlahan.

Anna yang mendengar perkataan Brandon seketika terdiam, jauh dalam hatinya ia bingung apakah ia harus senang atau sedih setelah mendengarnya.

Selama perjalanan Anna hanya terdiam, ia terus-menerus mengingatkan dirinya sendiri untuk cepat-cepat mencari cara agar ia tak perlu bertemu dengan Brandon lagi, cepat atau lambat demi kelangsungan hidup keluarganya, ia harus mendapatkan uang tersebut.

Tak terasa ternyata mobil yang dikendarai oleh keduanya kini telah sampai di depan rumah Reva.

“Terima kasih,” ujar Anna singkat tanpa menatap Brandon yang berada di sebelahnya, ia masih ingin memberikan kesan buruk pada pria tersebut, namun Brandon malah tersenyum melihat tingkah laku gadis itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status