LOGINHow long will you wait for the person you loved? Alva was a smart, positive, and a yes-girl Business Administration student. She was always there for someone, it doesn't matter if it was a friend or a colleague. She always secured that no one was left behind, that there was someone, who can hear them out. Joaquin, his bestfriend, was an Engineering student. He always have Alva's back, a friend that always stays through ups and downs. Little did he know, Alva was hiding something, it was her promise to herself when they were in highschool. How long will Alva hide it? How many days, months, and years will passed for her to tell him the truth?
View More"Aku harus bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup!"
Hanya ada dua kemungkinan di ruang yang kejam ini. Serupa antara hidup dan mati bagi seorang manusia. Entah apa yang membuatnya begitu kuat menghadapi dunia. Ruang yang dingin ini, kini mencekik seorang gadis dalam kesunyian. Aisha Nasywah Willow duduk tegak di kursi putar berlapis kulit hitam. Kedua tangan Aisha tertaut sempurna di atas lutut. Dia telah berperang dengan jantungnya sendiri selama lima menit, waktu yang cukup lama untuk memahami bahwa jendela kokoh yang berada di belakang meja bukanlah sekadar hiasan. Itu adalah batas tak bertelak, antara dirinya dengan dunia yang belum sepenuhnya dapat dia pahami. Di luar sana, Kota Valemont tampak membisu dengan segala kemegahannya. Gedung-gedung tinggi nan mewah terlihat seperti miniatur, ribuan kendaraan yang saling memacu menjelma menjadi titik-titik kecil, serta tak sedikit manusia yang terlalu sibuk hingga tak sempat untuk bersuara. Aisha mengeratkan tautan tangannya, melirik pintu yang masih tertutup dengan perasaan tak beremosi. Gadis muda itu menghela napas, tidak merasakan gugup seperti biasanya. Tubuh Aisha menolak untuk gemetar, meski dalam situasi yang menegangkan. Yang ada hanya seonggok perasaan asing yang mampu menekan dada Aisha, memahami bahwa begitu pintu di sampingnya terbuka, maka tak ada lagi sekat untuk mundur. Hanya ada dua kemungkinan, gugur atau bertahan. Gadis berambut panjang itu mengingat betul kalimat terakhir dari HRD tadi, "Tidak ada lagi toleransi lain, ini adalah tahap terakhir." Tak ada basa-basi, hanya sikap profesional HRD-lah yang membuat Aisha semakin terpacu. Pintu samping terbuka. Serupa bom waktu yang telah menemukan momen yang tepat! Seorang pria berwajah tegas masuk dengan langkah teratur, tanpa menoleh apa pun. Jas gelap jatuh sempurna di tubuhnya yang menjulang tenang, menciptakan kesan profesional yang terstruktur matang. Rambut hitam pria itu tampil dengan rapi, memperlihatkan wajah terkendali yang justru memancarkan aura otoritas alami. Aisha menatap sang pria sekilas, lalu buru-buru fokus ke tujuan intinya. Dia telah mempersiapkan diri. Dalam hitungan menit, hidup Aisha akan terkunci. Apakah akan berjalan baik, atau runtuh seketika. Suara kursi bergeser mengiringi gerakan mantap sang pria saat duduk. Aisha berdiri secara refleks. "Duduklah," ucap sang pria singkat. Suaranya rendah dan datar. Tidak dingin, tapi juga jauh dari kesan ramah. Hanya ... final. Aisha tak membantah, dia kembali duduk dengan patuh sembari menggigit bibirnya. Pria itu merentangkan tangan, meraih map tipis berwarna coklat, lalu menahannya di udara. Tatapan sang pria yang tajam langsung menguliti sebaris nama yang terpampang di sampul map itu. Sang pria membuka map dan melihatnya dengan acuh tak acuh. Bukan tak peduli, melainkan karena telah terbiasa menilai semua hal berdasarkan harga dan fungsinya. "Anda Nona Aisha Nasywah Willow?" tanya sang pria dengan suara kaku. Sorot matanya melesat ke arah gadis di hadapan. Aisha menjawab lugas, "Ya, Tuan." Sang pria mengangguk samar, arah matanya langsung turun ke arah berkas. "Usia?" tanya sang pria lagi. Kali ini tanpa mengalihkan fokus dari berkas lamaran yang terbuka. "Sembilan belas tahun," jawab Aisha. Sang pria menggerakkan alisnya sedikit, gerakan yang nyaris tak terlihat. Bukan karena terkejut, hanya sedang mencatat hal penting di kepalanya. "Masih mahasiswi." Suara meremehkan sang pria terdengar, serupa pisau tajam yang hampir mengiris kepercayaan diri Aisha. Di tempatnya, Aisha sama sekali tak goyah. Punggungnya malah semakin tegak, bersiap untuk menghadapi permainan hidup hingga babak akhir. "Ya!" Aisha berseru dengan percaya diri. Rambut panjangnya ikut bergetar, hingga tersingkap ke belakang bahu. "Jurusan apa?" Sang pria kembali bertanya dengan datar, tanpa menunjukkan emosi apa pun. "Kedokteran." Aisha menjawab apa adanya. Saat ini, sang pria berhenti membaca berkas. Ada suatu hal yang menarik tatapannya ke sorot mata indah milik Aisha. Tanpa sadar, sang pria menatapnya lebih dalam, lebih lama. "Kedokteran," ulang sang pria dengan tawa kecil yang terasa menyakitkan. Suaranya terdengar seperti nada mengejek yang terasa menusuk. "Benar." Aisha masih bertahan dan duduk dengan tegak. "Lalu, Anda melamar sebagai sekretaris paruh waktu ...." Sang pria memiringkan bibir, memutar jari telunjuknya, menimbang hal setimpal yang layak diputuskan untuk sang gadis. "Anda benar, Tuan." Aisha masih cukup menguasai emosinya. Gerak-gerik gadis itu terlihat stabil dan tenang, tak terpengaruh dengan sikap sang pria yang dingin dan mengintimidasi. Sunyi mengendap begitu saja tanpa berkompromi, menaungi dua manusia yang sama-sama kukuh di tempatnya. Aisha memilih bungkam, membiarkan semesta bekerja dengan ritme yang semestinya. Banyak orang yang langsung berbicara dengan banyak kalimat tak penting, yang justru membuat orang itu terkesan terlalu mudah. Akan tetapi, tentu saja Aisha tak sudi masuk ke kategori itu. Gadis itu terdiam sekarang karena dia mengerti. Kapan harus unjuk suara, dan kapan harus menunggu. Sang pria menyandarkan tubuh ke kursinya, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Perkenalkan, saya adalah Cakrawala Agnibrata Pierce," kata sang pria akhirnya. "CEO dari perusahaan yang Anda lamar, Pierce Holdings. Orang-orang terbiasa memanggil nama singkat saya, yaitu Cakra." Aisha menatap sang pria sejenak, mengangguk kecil dengan bibir yang terkatup rapat. Tentu saja dia tahu. Semua orang di Kota Valemont pun mengenalnya. CEO muda yang merajai dunia Bisnis dan Manajemen di negeri ini, dengan segala kuasanya. Cakra mengelus dagunya yang bersih, lalu lanjut berkata, "Saya sudah membaca Curriculum Vitae dari Anda." Dia menghela napas sejenak. "Saya akui, memang sangat rapi. Bahkan terlalu rapi untuk wanita seusia Anda." Pandangan Aisha sedikit goyah. "Terima kasih, Tuan. Itu sudah terbiasa saya lakukan," jawab Aisha, menunjukkan kepolosan gadis sembilan belas tahun yang terlihat natural. Alis kanan Cakra sedikit terangkat. "Kebiasaan?" "Benar sekali." Aisha membusungkan dada dengan bangga. "Dari mana?" Cakra kembali bertanya. Aisha menjawab tegas, "Dari rumah." Cakra menatap Aisha lagi, menebak hal apa yang dapat membentuk kebiasaan seperti itu. "Posisi ini," jelas Cakra. "Bukan pekerjaan yang ringan. Bukan tempat untuk belajar, dan nggak ada waktu untuk berkompromi." "Saya tentu tahu, dan sudah mempertimbangkannya dengan matang," sahut Aisha tenang. "Waktu Anda terbatas," timpal Cakra dengan sorot mata yang gelap. "Saya mengerti." Aisha tetap kukuh dengan keyakinan yang dipegang. "Tapi, fokus Anda seharusnya di kedokteran." "Benar." Aisha tak pernah mengelak kebenaran. Cakra menutup map dengan gerakan cepat. Pandangan Aisha sedikit bergetar. "Kalau begitu, saya nggak menemukan alasan untuk menerima Anda!"[Chapter 12] tw: death I opened my eyes, I feel heavy this time. Hindi ko maiangat ang ulo ko, at mahapdi rin ang mukha ko. Hindi ko na rin maiangat ang kaliwang kamay ko dahil sa pagkamanhid. I saw the stars shining in the dark sky. My eyesight becomes blurry, the colors of red and blue is alternating, reflecting in the sky, I raise my head and tears started to form when I saw my one and only treasure. Nakadagan kay Lia ang pinto ng kotse, at talagang nayupi ito, para lang maipit ang kaliwa kong paa at ang kamay kong nakayakap sa kaniya, I saw blood stains in my dress, nagkalat din ang mga bubog sa paligid. Wala akong nagawa kundi maiyak na lang dahil sa sinapit ng kapatid ko. Her head is already bleeding, dahil ang taas na part ng pinto at parang nakadikit na sa kaniya. I cried harder when I realize, that she wouldn’t survive her injuries, but I pray to God silently for her to recover, she’s too young, she
[Chapter 11]4 years later..."Good morning, Alva!" Irene screamed when she saw me walking towards her direction."Shh! Baka mapagalitan tayo!" ani ko sa kaniya sabay tawa ng marahan."Dedma 'yang mga 'yan! Palibhasa wala silang kaibigan!" bwelta pa niya sabay tawa ng malakas, kaya pinagtitinginan kami ng ibang tao.Wala akong ginawa kundi tumawa na lang dahil hindi ko talaga siya mapipigilan. Hinaplos ko ang buhok ko at kahit walang salamin, ay patuloy ko pa rin itong inaayos. Inilalagay ko ang mga nahulog na hibla ng buhok sa likod ng tainga."Girl, maganda ka
[Chapter 10]The day of the concert came, I was wearing a simple oversize t-shirt, a pair of maong pants ang white rubber shoes. May kahabaan na rin ang buhok ko kaya maayos kong naitali iyon.I put some light make-up, alam kong pagpapawisan ako roon dahil sa dami ng tao at mainit na rin. Joaquin said that the concert will start at 9:00 p.m. and it is already 8:00. Tumingin ako ulit sa salamin at nakita ko namang maayos ang itsura ko. I even wear the necklace Joaquin gave me. Ngumiti pa ako sa salamin, saka kinuha ang bag ko.Me:where r you?Halos wala pang limang minuto ay biglang tumunog ang cellphone ko.Love:In
[Chapter 9]"'Wag na 'wag mo ng ulitin 'yon ha!" suway ko sa kaniya ng itigil niya ang sasakyan sa tapat ng gate ng bahay namin."Did I do anything wrong?" patay-malisya niyang sagot sa akin, narinig ko pa siyang natawa."Yes! Paano kung may nakakita sa'tin? Mapapatawan pa tayo ng violation e'!" pagmamaktol ko pa habang hawak ko ang bag ko.I heard him laughed this time, biglang nanlambot ang puso kong nagagalit kanina. Oh my gosh, Alora.Ganito ka ba karupok kay Joaquin? Hindi ito tama!"'W-wag ka ngang t-tumawa! Hindi kaya nakakatuwa 'yon!" ani ko sa kaniya at hinampas siya sa braso ng marahan.
reviews