Home / Fantasi / VALYZARYON Pedang Naga Hitam / BAB 8 Kedatangan Elvian

Share

BAB 8 Kedatangan Elvian

Author: Scorpio_san
last update Last Updated: 2025-12-11 19:04:59

Keesokan paginya, suasana SMA Senin sudah seperti arena gladiator. Kami semua mengenakan jubah tempur khusus yang sudah disiapkan. Btw bukan sekadar seragam sihir biasa, ini semacam pakaian taktis yang bisa menyesuaikan dengan elemen sihir masing-masing.

Bahkan gelang sihir yang melingkar di pergelangan kami juga berbeda. Bukan hanya itu, tongkat yang biasa kami gunakan, lambat laut berubah mejadi sebilah pedang.

Aku sampai terkejut ketika melihat pedangku yang berukuran besar dengan cahaya hitam mengelilingi setiap bagiannya.

“Wah! Serius ini punya gue? Kenapa kayak di film-film?” aku terus berdecak kagum melihat keistimewaan pedang ku sendiri.

Pedang ku berbeda dari yang lain. Aku melihat pedang yang lain tidak sebesar milik ku. Dan cahaya mereka juga tidak sepekat punyaku.

“Itu pedang Naga Hitam,” kata Samuel membuat aku terlonjak kaget. Karena entah sejak kapan dia ada dibelakangku.

Mendengar ucapan Samuel, teman-teman yang lain berlarian untuk kemudian mengerumuni kami.

“Serius ini pedang legend itu?” Tanya Ataya dengan wajah takjub yang tidak bisa di sembunyikan.

“Gila keren banget!”

“Kenapa harus si Kae yang dikasih pedang itu?”

“Dia baru aja gabung, tapi udah langsung dikasih pedang keramat kayak gitu,”

Aku mendengus malas. Oke aku sadar siapa diriku. Hanya anak baru yang belum bisa mengendalikan kekuatan sihir apapun.

Tapi bukan aku yang meminta pedang ini. Lagi pula pedang itu sudah terukir namaku, seolah memang ini diciptakan hanya untukku. Aku juga tidak tahu kalau pedang ini adalah pedang legend, pedang keramat atau semacamnya.

“Udah gak usah dipikirin,” bujuk Alana. Rupanya gadis itu sadar akan perubahan wajah ku. “Mereka iri aja sama lo,”

Aku mengangguk samar.

“ITU SIAPA LAGI?!” teriakan salah satu dari teman ku membuat kami menoleh seketika.

Disana sudah ada Elvian yang berjalan mengenakan jubah perak keemasan dengan ikat kepala perak senada. Tak lupa, dibelakang Elvian, ada Yuzi.

Kedua manusia itu sudah seperti satu level. Sama-sama kuat. Sama-sama gagah. Dan sama-sama tampan.

“Ngapain dia kesini?” gumam ku pelan.

“Lo kenal dia Kae?” tanya Samuel. “Dia pemilik darah tegas yang pediam itu. Lo kenal dia?” desak Samuel.

Aku hanya mengangguk malas, tanpa menoleh kearahnya. Kekesalanku masih tertanam sempurna untuk bocah songong itu.

Hal yang pertama kali Elvian lakukan ketika datang adalah menarik aku untuk ikut berdiri disampingnya.

“Apaan sih lo?!" amukku, seraya menepis cengkeraman Elvian.

“Tempat lo disini. Bukan sama anak-anak lemah itu.” Bisiknya.

Aku hanya mendengus malas, lantas membuang muka dengan kedua tangan sudah terlipat didepan dada.

Yuzi kembali berdiri di tengah-tengah. Dia mulai menjelaskan sesi latihan ini dari mulai hal yang paing sepele yang sering disepelekan dan hal yang paing berbahaya yang harus diwaspadai.

“Kamu bersama dengan Elvian hari ini—”

“Hah?!” pekik ku tak percaya. “Di-dia?!” aku tak terasa menunjuk Elvian yang masih tanpa ekspresi ditempatnya.

“Dia sama dengan mu. Jadi berlatihlah dengannya.” Sambung Yuzi.

Aku menghela napas berat. Aku tidak bisa membayangkan betapa tertekannya aku disesi latihan kali ini.

Kami langsung diarahkan untuk masuk kedalam hutam dengan tim yang menyebar disetiap sudutnya. Aku berdiri di depan gerbang besi tua yang mengarah ke sebuah tempat bernama Hutan Fuchigami di Zona Latihan Terkutuk.

Elvian berdiri di sebelahku. Tatapannya tenang seperti sudah terbiasa dengan latihan mengerikan ini. Aku satu kelompok dengan Elvian Samuel dan Alana. Masih beruntung sekali karena ada Alana dan Samuel bersama ku. Setidaknya, aku tidak terlalu bosan kala harus berdua dengan manusia sombong seperti Elvian.

Yuzi Takahiro kembali, kemudian berdiri didepan kami. Tidak seperti biasanya dengan tangan kosong, kali ini dia membawa tongkat yang bentuknya seperti bilah pedang.

“Selamat datang di tempat, di mana kalian akan mengenal kekuatan kalian sendiri,” ucapnya. “Dan juga, rasa takut terdalam kalian.”

Aku langsung menarik napas berat. Telapak tangan mulai berkeringat dan jantung sudah berdegup kencang.

“Di hutan ini,” lanjut Yuzi, “energi gelap masih tersisa. Tapi jangan khawatir. Kalian tidak akan sendirian_”

“Sensei, apa makhluk-makhluk dari gerbang masih aktif di sini?” tanya Samuel dengan tangan yang ia angkat.

Yuzi tersenyum, kemudian mengangguk samar. “Beberapa dari mereka, masih mencari celah.” Jelas Yuzi dengan wajah serius.

Seketika, suasana menjadi lebih tegang. Suara gesekan dedaunan yang tertiup angina sudah seperti teriakan orang minta tolong. Aku tidak tahu bahaya apa yang akan kami hadapi nanti. Tapi aku cukup yakin, kalau latihan ini akan lebih mengerikan dibandingkan dengan latihan sebelumnya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   56. Signum Aberrans

    Yuzi menatap Arvas sebentar, lalu tersnyum. Ia menggaruk kepala belakangnya. Sedikit merasa bersalah karena terlalu berlebihan. Tak lama, sebuah sinar biru muncul dari jari telunjuknya. Ia mengarahkan sinar itu padaku dan juga Arvas. Dan seketika. Tubuh kami kembali bugar. Bahkan lebih bugar dari sebelumnya. Kami juga bisa berdiri lebih tegak lagi. Merasa tenaganya sudah pulih, Arvas langsung berjalan dan berhenti tepat di sampingku. Arvas mulai menarik napas. Cahaya yang memantul dari tubuhnya, aku merasakan kalau dia sedang berusaha fokus dan menahan amarahnya. Mata yang semula berwarna perak, kini kembali coklat. sebuah simbol samar, muncul dari penglihatannya. Aku bisa melihat kalau pelipis Arvas sedikit berkedut. “Signum Aberrans.” Ucapnya, sembari menggenggam erat pedang Naga Perak miliknya. Udara di sekeliling kami langsung menyusut. Seolah ruang di sekitar kami di tarik paksa ke dalam satu titik. Simbol samar di mata Arvas, kini menyala lebih jelas, berputar per

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   55. Segel Penghabisan

    Getaran hebat yang membuat langit dan bumi ikut menjerit datang bersamaan dengan hembusan angin yang menusuk setiap pori-pori kulit kami. Awan terbelah secara paksa. Cahaya turun lurus seperti tombak raksasa, menghantam tepat di tengah tubuh virmort. Tanah meledak, seolah dunia sedang berusaha menelan dirinya sendiri. “Segel Tingkat Tinggi.” Gumam Yuzi lagi. SLASHHH! RAAAAAAAAA! Jeritan virmort terpotong. Tubuhnya terangkat, terjepit di antara pilar cahaya dan tekanan gravitasi yang tak masuk akal. Kulit kerasnya retak, satu per satu. Memercikkan cahaya hitam yang langsung menguap sebelum menyentuh tanah. Aku masih berdiri di belakang Yuzi dan Arvas. Sedikit memiringkan kepala untuk bisa melihat Yuzi lebih jelas. Dia tampak gagah dengan jubah yang mengepak sempurna. Virmort di depan kami, kini mulai melebur, di paksa masuk ke dalam segel debu yang Yuzi sebarkan. Aku menganga. Menyaksikan kehebatan demi kehebatan Yuzi. Aku semakin tidak percaya kalau dia ternyata kakak

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   54. Dominion Draconis

    Di sana, Haruka dan Livo sudah mulai bertarung. Mode penyebaran Pedang Sakura mulai menyala. Dentuman dan teriakan mereka menggema. Kilatan dari mode pernapasan Livo juga sudah menghantam tubuh virmort dan juga pepohonan yang ada di sekelilling mereka. Bukan hanya mereka berdua, tapi Yuzi dan Arvas juga sudah mulai mengeluarkan serangan-serangan mereka. Sedangkan aku, masih saja ada di bawah pelukan Yuzi. Dia bertarung dengan menggunakan sebelah tangan saja. Karena saru tangannya membopongku layaknya sebuah karung beras. Void merah menyebar. Menjadi satu dengan void perak milik Arvas. Dentuman demi dentuman saling bersahutan, seolah tidak membiarkan situasi senyap barang sekejap. “Sekarang Caesar! Keluarkan sekarang!” bisikan Naga hitam kembali terdengar. “Jangan!” pekik Yuzi di tengan pertarungannya. “Jangan pernah di ambil alih oleh Naga Hitam. Jangan pernah memakainya ketika dia yang meminta.” Walau samar oleh su

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   53. Tetesan Darah Aliester

    Jubah ku sudah berubah sempurna. Ku genggam pedang yang masih bertengger di samping. Ku fokuskan pandanganku pada sekeliling. Tak ada satupun dari kami yang tidak waspada. Angina yang semula berhembus bagaikan penghantar badai, mendadak berhenti. Sunyi namun jauh dari kata tenang. Seolah seluruh udara di sekitar SMA Sanin diam-diam di telan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Daun-daun yang semula bergoyang, kini membeku di udara untuk beberapa saat, kemudian jatuh satu per satu, dengan sangat perlahan. “Ini bukan Aliester.” Gumam Yuzi pelan. “Dia tidak akan mau repot-repot datang menemui kita.” Kalau memang ini bukan Aliester, lalu apa? Siapa? Mengapa energinya terasa mencekam. Kalau energi sebesar ini bukan energi Aliester, lalu sebesar apa energi dia yang sebenarnya? Tengkukku semakin dingin. Genggaman ku di ujung pedang yang semula kuat, perlahan melemah akibat getaran yang sulit ku kendalikan.

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   52. Kewaspadaan

    Aku mengerjapkan mata sebentar. Menarik napas yang sempat terlupakan beberapa detik yang lalu. Yuzi sekarang sudah membelakangiku. Dia mendongak menatap siluet gunung yang semakin tertutup awan hitam. “Kamu bukan hanya pemilik darah tegas murni. Kamu juga memiliki darah yang selalu dia incar.” Jelas Yuzi. Suaranya pelan. Namun cukup jelas di indera runguku. “Ayah berusaha menjauhkanmu dari dunia ini. Mengirim saya kesini untuk di jadikan umpan yang bisa mengalihkan perhatiannya. Tapi akhirnya, ayah dan ibu tetap mati di tangan bajingan itu.” "Jadi kematian mereka juga salah gue?" tanya ku dengan suara bergetar. "Bukankah kita sudah lelah mencari siapa yang benar dan siapa yang salah?" tanya Yuzi. "Bahkan saya sudah menerima, kalau selama ini saya di jadikan umpan dan di asingkan dari kalian. Saya sudah menganggap ini adalah jalan takdir yang harus saya jalani." Yuzi berbalik badan. Menat

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   51. Pukulan Telak

    Matahari sudah mulai tergelincir. Kegagahan sinarnya, kini sudah mulai memudar. Di gantikan oleh cahaya jingga yang temaram. Aku menatap langit dengan tubuh terlentang di lapangan yang tadi menjadi tempat terakhir Gio menghembuskan napas terakhirnya. Sisa energi sihir dari Gio, sudah hilang sepenuhnya. Aroma keberadaanya juga sudah tidak bisa di rasakan lagi. Aku juga dapat kabar, kalau setelah insiden tadi, Alexa sempat marah dan mengamuk pada para juri dan semua petinggi perihal kesepakatan mereka dengan Gio sebelum pertarungan berlangsung. Aku memejamkan mata, kala semilir angin datang menyapa. Menghirupnya dalam-dalam. Berusaha menghilangkan rasa sesak dari sisa kekecewaan yang tertanam. Tapi tetap tidak bisa. Rasa kecewaku tetap sama. Aku kecewa karena mereka yang sudah menyetujui keputusan gila Gio. Aku kecewa karena ujian pertarungan ini masih di pertahankan. “Cukup memikirkan hal yang tidak seharusnya kamu fikir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status