Home / Fantasi / VALYZARYON Pedang Naga Hitam / BAB 7. Elvian Ardelas

Share

BAB 7. Elvian Ardelas

Author: Scorpio_san
last update Last Updated: 2025-12-09 22:05:46

Langit malam di SMA Senin terasa sunyi tapi penuh dengan tekanan. Bulan merah pucat menggantung malas di atas atap sekolah. Angin berembus pelan, membawa aroma rumput dan dupa. Aku menggenggam kalung berliontin salib yang melingkar di leherku.

Air mataku tiba-tiba mengalir bersama dengan sesak yang membuat dadaku terasa seperti terhimpit bongkahan batu besar.

Entah sudah berapa lama aku disini. Jujur, aku merindukan tempat asalku. Merindukan ibu dan ayah. Rindu dengan kehidupan normal yang aku jalani sebelumnya.

Wajahku mendongak. Menatap rembulan indah itu. Aku tetap membiarkan lelehan air mata membasahi kedua pipiku. Aku juga tidak peduli kalau ada yang melihat dan menganggap aku cengeng. Persetan dengan hal itu.

Sedang asyik menikmati malam seorang diri, tiba-tiba terdengar langkah yang semula pelan, kini menjadi lebih keras. Menandakan kalau orang yang sedang berjalan itu, kini sudah lebih dekat denganku.

Aku menoleh ke arah kedatangannya. Seorang laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda denganku. Atau mungkin sebaya dengan ku.

Dia sedang berjalan menggunakan celana pendek dan juga jaket hoodie biru dengan penutup kepala yang terpasang rapi, sampai membuat wajahnya tak terlihat.

Di tangan kanannya ada sebuah tongkat kecil dengan bola api melingkar di atas tongka itu.

Semakin dekat, aku bisa melihat wajahnya. Dia tampak begitu dingin dan misterius. Bahkan melebihi misteriusnya seorang Yuzi Takahiro.

Tanpa perintah, dia duduk disampingku. Dia ikut menatap langit dengan senyum simpul yang dipenuhi dengan berbagai macam rahasia.

“Lo siapa?” tanyaku.

Dia tidak menjawab. Dia justru langsung menatap ku, dengan kepala yang sudah ia miringkan, seolah sedang memperhatikan aku lebih lekat.

Rambut hitam legam, kulit pucat, dan bola mata berwarna perak terang, membuat dia terlihat berbeda dari teman-teman yang ku jumpai sebelumnya.

“Jadi ini Darah Tegas yang baru ditemukan itu?” senyum menyeringai yang membuat aku bingung sekaligus merinding.

Aku belum pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Di sekolah, di kantin ataupun ditempat latihan. Dia tidak pernah terlihat. Tapi jujur, aurannya sangat pekat. Aku sampai bisa langsung menebak, kalau dia kuat. Aura yang dia milliki tidak jauh berbeda dengan Yuzi.

Bedanya, ketika bersama Yuzi, aku merasa lebih tenang. Tapi saat ini, rasa takut justru mendominasi.

“Gue Elvian Ardelas,” katanya sembari menjulurkan tangan. “Pemilik darah tegas, sama kayak lo.” Sambungnya.

Kedua mataku membulat. “Lo juga?” tanya ku dengan mulut yang sedikit menganga.

Dia mengangguk, untuk kemudian kembali mendongak menatap rembulan yang mulai tertutupi awan hitam yang tiba-tiba datang.

“Apa yang membuat lo memutuskan untuk datang kesini? Kehilangan? Balas dendam? Atau mengincar seseorang untuk lo bunuh?” tanya Elvian. Dia kembali menatapku. Wajahnya benar-benar penuh misteri.

“Gue gak pernah lihat lo disekolah. Gue juga gak perah lihat lo ditempat latihan_”

“Untuk apa? Gue udah menguasai semua sihir itu. Bergabung dengan kalian hanya membuat kemampuan gue melemah,” ujarnya.

Aku menggigit bibir bawah. Oke, aku tahu dia hebat. Aku tahu dia kuat. Tapi bukan berarti dia bisa mencelakan kami seenaknya. Lagi pula, aku yakin kalau yang lain juga belum tentu tahu dia.

“Apa tujuan lo kesini?” tanya Elvian lagi. “Gak mungkin seorang pemilik Darah Tegas datang tanpa tujuan yang jelas.”

Kali ini, aku seolah tidak mau kalah. Aku membalas tatapan dingin itu tanpa rasa takut sedikitpun. “Tujuan atau apapun itu, lo gak berhak tahu. Karena itu bukan urusan lo.”

Elvian kembali terkekeh pelan. Ia merentangkn kedua tangannya, untuk kemudian mengubah posisi dari duduk menjadi berbaring dengan kedua tangan dijadikan bantalan.

“Lo salah. Dari tujuan, kita bisa tahu orang itu lawan atau kawan,” gumamnya.

“Dan lo? Siapa lo sebenarnya? Lawan atau kawan?”

Elvian terdiam. Senyum simpul masih bertahan diwajahnya. “Setelah lo menyembunyikan tujuan lo, apa gue harus menjawab pertanyaan itu?” tanya Elvian. “Dengan cuma-cuma?”

Hening. Hanya suara gesekan dedaunan yang tertiup angina yang terdengar malam ini. Tentang Elvian, aku bingung dia seperti apa. Dia terlalu abu-abu. Tidak seperti Samuel yang terang-terangan mengaku teman. Tidak seperti Alana yang terang-terangan kalau sedang marah. Elvian justu membentangkan tabir keraguan dipertemuan pertama kami.

Kalau memang dia jahat dan lawan, kenapa Yuzi dan para petinggi SMA Senin tidak mengsirnya. Tapi kalau dia kawan, kenapa dia tidak mau membuka diri seperti yang lain.

“Lo harus berlatih dengan keras untuk mendapatkan bola mata seperti ini,” katanya tiba-tiba. Telunjuknya, mengarah pada matanya sendiri.

Aku langsung menoleh dan memperhatikan langsung bola matanya. Mata Elvian sama seperti mata Yuzi. Yang membedakan hanya warna. Kalau Yuzi ada semburat merah di matanya. Sedangkan mata Elvian berwarna perak dengan bintik keemasan.

“Dan lo juga pasti latihan dengan keras sebelumnya,” cela ku, membuat Elvian tertawa seketika.

“Latihan? Latihan hanya untuk orang-orang lemah, Caesar!” katanya.

Tunggu. Dia sudah tahu nama ku? Darimana dia mengetahui namaku? Apa aku memang sepopuler itu.

“Gue terlahir dengan mata ini,” katanya. Tatapan Elvian beralih pada tongkat sihir milikku yang sudah tergelatak disamping kiri.

“Pedang Naga Hitam,” sambungnya dengan suara yang terdengar seperti orang mencemooh. “Apa lo bisa menjinakkan pedang keras kepala itu?” ledeknya lagi.

Aku mendengus malas. Ingin rasanya aku menimpuk orang sombong ini, lalu ku hempaskan dia kehutan dengan banyak makhluk aneh didalamnya.

Saking tidak nyamannya, aku memutuskan untuk kembali kekamar. Muak rasanya kalau harus berlama-lama dengan orang menyebalkan ini.

“Hati-hati dengan mereka,” perkataanya membuat langkah ku terheti.

Aku menoleh malas. “Maksud lo?”

Elvian lansung berdiri dan berjalan mendekatiku. Ia menyentuh pudakku dan menatap lama liontin salib milikku kemudian ia sentuh dengan jemarinya yang dingin.

“Darah Tegas sering dimanfaatkan. Jadi berhati-hatilah.” Pungkasnya, kemudian melesat pergi seperti hembusan angin yang tidak bisa kulihat pergerakkanya.

Aku masih bergemim dengan mata yang belum sempat berkedip. Ada getaran aneh yang bergejolak didalam dadaku.

“Dan gue lebih menginginkan hidup normal seperti sebelumnya,” gumamku. “Bukan kayak gini.” Lantas aku menoleh tongkat yang harus kubawa kemana-mana ini.

Kesendirian kembali mendatangkan rasa rindu yang tadi sepat samar. “Ibu, Kae kangen sama Ibu,” gumamku lirih, dengan tarikan napas berat yang berusaha kembali menyamarkan sesak.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   56. Signum Aberrans

    Yuzi menatap Arvas sebentar, lalu tersnyum. Ia menggaruk kepala belakangnya. Sedikit merasa bersalah karena terlalu berlebihan. Tak lama, sebuah sinar biru muncul dari jari telunjuknya. Ia mengarahkan sinar itu padaku dan juga Arvas. Dan seketika. Tubuh kami kembali bugar. Bahkan lebih bugar dari sebelumnya. Kami juga bisa berdiri lebih tegak lagi. Merasa tenaganya sudah pulih, Arvas langsung berjalan dan berhenti tepat di sampingku. Arvas mulai menarik napas. Cahaya yang memantul dari tubuhnya, aku merasakan kalau dia sedang berusaha fokus dan menahan amarahnya. Mata yang semula berwarna perak, kini kembali coklat. sebuah simbol samar, muncul dari penglihatannya. Aku bisa melihat kalau pelipis Arvas sedikit berkedut. “Signum Aberrans.” Ucapnya, sembari menggenggam erat pedang Naga Perak miliknya. Udara di sekeliling kami langsung menyusut. Seolah ruang di sekitar kami di tarik paksa ke dalam satu titik. Simbol samar di mata Arvas, kini menyala lebih jelas, berputar per

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   55. Segel Penghabisan

    Getaran hebat yang membuat langit dan bumi ikut menjerit datang bersamaan dengan hembusan angin yang menusuk setiap pori-pori kulit kami. Awan terbelah secara paksa. Cahaya turun lurus seperti tombak raksasa, menghantam tepat di tengah tubuh virmort. Tanah meledak, seolah dunia sedang berusaha menelan dirinya sendiri. “Segel Tingkat Tinggi.” Gumam Yuzi lagi. SLASHHH! RAAAAAAAAA! Jeritan virmort terpotong. Tubuhnya terangkat, terjepit di antara pilar cahaya dan tekanan gravitasi yang tak masuk akal. Kulit kerasnya retak, satu per satu. Memercikkan cahaya hitam yang langsung menguap sebelum menyentuh tanah. Aku masih berdiri di belakang Yuzi dan Arvas. Sedikit memiringkan kepala untuk bisa melihat Yuzi lebih jelas. Dia tampak gagah dengan jubah yang mengepak sempurna. Virmort di depan kami, kini mulai melebur, di paksa masuk ke dalam segel debu yang Yuzi sebarkan. Aku menganga. Menyaksikan kehebatan demi kehebatan Yuzi. Aku semakin tidak percaya kalau dia ternyata kakak

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   54. Dominion Draconis

    Di sana, Haruka dan Livo sudah mulai bertarung. Mode penyebaran Pedang Sakura mulai menyala. Dentuman dan teriakan mereka menggema. Kilatan dari mode pernapasan Livo juga sudah menghantam tubuh virmort dan juga pepohonan yang ada di sekelilling mereka. Bukan hanya mereka berdua, tapi Yuzi dan Arvas juga sudah mulai mengeluarkan serangan-serangan mereka. Sedangkan aku, masih saja ada di bawah pelukan Yuzi. Dia bertarung dengan menggunakan sebelah tangan saja. Karena saru tangannya membopongku layaknya sebuah karung beras. Void merah menyebar. Menjadi satu dengan void perak milik Arvas. Dentuman demi dentuman saling bersahutan, seolah tidak membiarkan situasi senyap barang sekejap. “Sekarang Caesar! Keluarkan sekarang!” bisikan Naga hitam kembali terdengar. “Jangan!” pekik Yuzi di tengan pertarungannya. “Jangan pernah di ambil alih oleh Naga Hitam. Jangan pernah memakainya ketika dia yang meminta.” Walau samar oleh su

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   53. Tetesan Darah Aliester

    Jubah ku sudah berubah sempurna. Ku genggam pedang yang masih bertengger di samping. Ku fokuskan pandanganku pada sekeliling. Tak ada satupun dari kami yang tidak waspada. Angina yang semula berhembus bagaikan penghantar badai, mendadak berhenti. Sunyi namun jauh dari kata tenang. Seolah seluruh udara di sekitar SMA Sanin diam-diam di telan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Daun-daun yang semula bergoyang, kini membeku di udara untuk beberapa saat, kemudian jatuh satu per satu, dengan sangat perlahan. “Ini bukan Aliester.” Gumam Yuzi pelan. “Dia tidak akan mau repot-repot datang menemui kita.” Kalau memang ini bukan Aliester, lalu apa? Siapa? Mengapa energinya terasa mencekam. Kalau energi sebesar ini bukan energi Aliester, lalu sebesar apa energi dia yang sebenarnya? Tengkukku semakin dingin. Genggaman ku di ujung pedang yang semula kuat, perlahan melemah akibat getaran yang sulit ku kendalikan.

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   52. Kewaspadaan

    Aku mengerjapkan mata sebentar. Menarik napas yang sempat terlupakan beberapa detik yang lalu. Yuzi sekarang sudah membelakangiku. Dia mendongak menatap siluet gunung yang semakin tertutup awan hitam. “Kamu bukan hanya pemilik darah tegas murni. Kamu juga memiliki darah yang selalu dia incar.” Jelas Yuzi. Suaranya pelan. Namun cukup jelas di indera runguku. “Ayah berusaha menjauhkanmu dari dunia ini. Mengirim saya kesini untuk di jadikan umpan yang bisa mengalihkan perhatiannya. Tapi akhirnya, ayah dan ibu tetap mati di tangan bajingan itu.” "Jadi kematian mereka juga salah gue?" tanya ku dengan suara bergetar. "Bukankah kita sudah lelah mencari siapa yang benar dan siapa yang salah?" tanya Yuzi. "Bahkan saya sudah menerima, kalau selama ini saya di jadikan umpan dan di asingkan dari kalian. Saya sudah menganggap ini adalah jalan takdir yang harus saya jalani." Yuzi berbalik badan. Menat

  • VALYZARYON Pedang Naga Hitam   51. Pukulan Telak

    Matahari sudah mulai tergelincir. Kegagahan sinarnya, kini sudah mulai memudar. Di gantikan oleh cahaya jingga yang temaram. Aku menatap langit dengan tubuh terlentang di lapangan yang tadi menjadi tempat terakhir Gio menghembuskan napas terakhirnya. Sisa energi sihir dari Gio, sudah hilang sepenuhnya. Aroma keberadaanya juga sudah tidak bisa di rasakan lagi. Aku juga dapat kabar, kalau setelah insiden tadi, Alexa sempat marah dan mengamuk pada para juri dan semua petinggi perihal kesepakatan mereka dengan Gio sebelum pertarungan berlangsung. Aku memejamkan mata, kala semilir angin datang menyapa. Menghirupnya dalam-dalam. Berusaha menghilangkan rasa sesak dari sisa kekecewaan yang tertanam. Tapi tetap tidak bisa. Rasa kecewaku tetap sama. Aku kecewa karena mereka yang sudah menyetujui keputusan gila Gio. Aku kecewa karena ujian pertarungan ini masih di pertahankan. “Cukup memikirkan hal yang tidak seharusnya kamu fikir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status