LOGINTugas kami, menjelajahi Hutan Fuchigami adalah untuk mencari kristal energi sihir yang tersembunyi, dan kembali sebelum matahari tergelincir. Sederhana? Mata lo jebol. Aku sampai keringat dingin sepanjang latihan.
Kalian tahu, Hutan Fuchigami, ternyata benar-benar seperti dunia lain. Akar menggantung seperti tali-tali makhluk hidup yang siap menjerat siapapun yang lewat. Kabut hitam samar membelai tanah, udara terasa seperti merayap menyapa permukaan kulit dan berbisik di telinga, membuat bulu kuduk berdiri sempurna. Kami berjalan pelan. Elvian di depan, Alana dan Samuel di tengah, sedangkan aku di belakang sambil sesekali menatap ke segala arah seperti anak hilang yang sedang mencari sinyal ditengah hutan. “Lo oke, Caesar?” bisik Alana tanpa menoleh. “Masih bisa napas, sih,” jawabku pelan, “walau kaki gue kayak jalan di kuburan raksasa.” Celoteh ku. "BZZZZTT!" Suara tajam dari balik semak, membuat Elvian langsung berhenti mendadak. Dari dalam kabut, muncul sesuatu yang sulit dijelaskan. Sosok tinggi hitam seperti arang, tanpa wajah. Tubuhnya terpecah-pecah, melayang, seperti dikendalikan benang tak kasat mata. Alana dan Samuel mencabut pedang mereka. Elvian membentangkan tangannya seraya bersiap. Makhluk itu mulai bersuara, atau lebih tepatnya, berbisik di dalam kepala kami. “Darah tegas harus kembali..., Grrrrrrrkkkk!!” Aku mematung, berusaha mendengar semua ucapannya dengan sangat teliti. “Dia, dia bicara di pikiran gue. Serius, gue gak ngadi-ngadi!” celoteh ku heboh. “Makhluk bayangan,” gumam Elvian. “Mereka mata-mata dari Gerbang Dimensi Hitam. Tapi kayaknya ini beda. Ini lebih kuat.” Timpalnya. Aku bisa melihat wajah Elvian yang sudah berubah tegang. Baru kali ini Elvian terlihat begitu tegang. Tanpa aba-aba, makhluk itu langsung melesat ke arah kami. “CAESAR, JANGAN DIEM AJA!” teriak Alana. Refleks, aku arahkan pedangku, sambil kusalurkan energy pada bilah pedang itu secara peralahan sesuai instruksi Yuzi saat sesi latihan. "BlaaAARR!!" Ledakan kecil, tapi beruntungnya karea cukup akurat. Makhluk itu terdorong mundur beberapa meter dari tempatku berdiri. Elvian melompat ke depan, menarik sihir dari tanah, dan mengubahnya menjadi rantai cahaya yang mengikat makhluk itu. "CRAK!" Rantai itu langsung putus. Makhluk kuat itu tertawa pelan, kemudian, mata merah menyala muncul dari tubuhnya. Bukan satu. Tapi lima. Ada lima mata merah menyala menatap kearah kami. “Apa-apaan ini?” bisikku gemetar. Dan dari mulut makhluk itu, muncul suara manusia yang tidak asing ditelinga kami. “Halo Caesar Atala Raharja.” “Di-dia tau gue!” pekik ku frustasi. “Akhirnya, aku bisa melihatmu dari dekat. Pemilik darah terakhir yang belum ternoda.” Elvian berdiri di depanku, tongkat sihirnya sudah berubah menjadi tombak petir. Benar-benar keren si Elvian itu. “Siapa kamu?! Tunjukkan wajahmu!” pekik Elvian dengan rahang yang sudah mengeras. Makhluk itu tersenyum dan pelan-pelan tubuhnya mencair, membentuk wajah samar. Dan ketika kami bisa melihat, kedua mata kami langsung membulat sepenuhnya. “Sensei,” gumamkutak percaya. “Yuzi! Itu wajah YUzi!” teiakky, Karena aku lebih dulu bisa melihat wajahnya dengan jelas. “APA?!” Elvian mundur setengah langkah. Alana mulai menegang ditempatnya. Dia sering memusnahkan makhluk terkutuk. Tapi yang model seperti itu, ternyata baru sekarang. Makhluk itu kembali tertawa. Gelak tawa yang membuat telinga kami berdenging. Samuel yang menyadari pergerakan Alana yang mulai tdak stabil, langsung menopang tubuh gadis itu dari belakang. “Aku bukan Yuzi. Aku hanya menyimpan kenangan tentang dia. Tentang semua yang dia sembunyikan.” Makhluk itu mulai meleleh dan berubah menjadi kabut hitam pekat yang menyelimuti seluruh hutan. “Ayo, Caesar kejar aku. Kalau kau ingin tahu siapa sebenarnya penyebab kematian orang tuamu!” "ZRAAASHH!!" Makhluk itu menghilang ke dalam kabut. Membuat suasanya menjadi hening dalam sesaat. Semua sudah menatapku. Termasuk Elvian. “Lo denger itu kan?” bisikku pelan. “Vi, dia tahu siapa gue. Dan dia juga tahu siapa yang bunuh keluarga gue.” Elvian mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Matanya menyala-nyala. Begitupun dengan Alana. Tubuh gadis itu sudah di penuhi dengan cahaya putih dengan mata putih kemerahan. Itu pertama kalinya aku melihat Alana dalam mode ini. “Perburuan kita baru saja dimulai!” Seru Elvian, dengan senyum menyeringai. ***“Apa yang siap?” balasku tanpa sadar. Tiba-tiba aula itu retak, bersamaan dengan cahaya merah menyusup dari langit-langit. Aku melihat bayangan lain muncul di sisi kanan. Sosoknya berjubah dengan simbol Ordo bayangan di dadanya. Di sampingnya ada seorang anak kecil dan wajah anak itu juga masih terlihat samar, tapi matanya mirip sekali dengan mata milikku. Sosok itu menyentuk puncak kepala sang anak, seraya tersenyum simpul. “Wadah cadangan,” bisiknya. Dan tepat ketika itu, aku tersentak, membuat menara kembali terlihat bersamaan dengan lingkaran keenam yang mulai menyala dengan ledakan kecil. “Caesar! Tetap di sini!” pekik Yuzi dengan mata naga yang sudah menyala. “Ta-tapi ada anak kecil,” gumamku terbata. “Gue lihat ada anak kecil.” Yuzi langsung menegang, rahangnya mengeras dengan pupil yang menyusut. “Kamu lihat apa?” tanya Yuzi tak percaya. Aku berusaha mengingat apa yang baru saja sosok itu katakana. “Itu katanya… wadah cadangan,” jelasku. Suasanya sunyi dal
Langit di atas menara timur kembali berwarna kelabu saat kami tiba. Menara itu jarang dipakai. Terlihat dari batu-batunya yang lebih tua dari bangunan utama sekolah. Simbol-simbol kuno juga terikir rapi di setiap dindingnya, beberapa bahkan sudah tak lagi dipahami oleh generasi sekarang, terlebih itu aku. Di sinilah Ujian Darah akan dilakukan. Ini bukan bagian dari keputusan Dewan, melainkan keputusan Arvas dan juga Yuzi. Mereka hanya berjaga, takutnya tubuhku tidak bisa dikendalikan seperti sebelumnya. “Aku tidak akan menunggu sampai mereka memutuskan nasibmu,” kata Arvas tadi pagi. “Kalau kau memang garis utama, kita harus tahu seberapa dalam resonansinya dengan inti.” Sekarang aku sudah berdiri di tengah ruangan bundar, dengan lantai membentuk lingkaran sihir besar berlapis tujuh. Tempat ini sedikit lebih ringan, dari tempat-tempat SMA Sanin yang sudah ku kunjungi. Di sebelah timur, Yuzi sudah bediri tegak, di sebelah barat ada Livo, dan tepat di depanku, Arvas sudah berd
“Segel Darah Tegas berarti memutus aliran energinya,” sahut Arvas. “Itu bukan sekadar mengurung kekuatan. Itu bisa merusak inti jiwanya. Dan kalau kalian lupa, dia adalah manusia. Dia lahir di dunia manusia bahkan energi manusianya lebih besar dibandingkan dengan energi sihirnya.” Aku meremas sisi bajuku dengan dada yang semakin bergetar. Jadi mereka bukan hanya ingin mengurung kekuatanku? Mereka juga ingin melenyapkanku. Lalu untuk apa selama ini aku dibawa kesini? Kenapa mereka tidak melenyapkanku di dunia manusia bersama ayah dan ibu. Setidaknya, kalau aku lenyap disana, mungkin aku masih bisa mati sebagai manusia. Bukan seperti ini. Livo menyentuh pundakku yang bergetar. Sentuhannya sedikit berat, seolah berusaha untuk membantuku supaya lebih kuat lagi. “Kalau kalian menyegel dia sekarang, kalian justru mempercepat kebangkitan inti.” “Ordo tidak menyerang karena dia lemah,” lanjut Yuzi. “Mereka menyerang karena mereka tahu waktunya hampir tiba. Segel akan memicu reaksi bali
Aula Dewan tidak pernah terasa seramai ini sebelumnya. Biasanya ruangan setengah lingkaran itu sunyi, dan hanya diisi oleh lima kursi batu tinggi dengan simbol kuno yang menyala redup di lantai. Tapi hari ini, seluruh kursi terisi penuh. Bahkan guru-guru senior yang jarang terlihat juga sekarangikut berdiri di sisi ruangan dengan mata yang sama tajamnya. Mereka seperti hendak melakukan sebuah persembahan yang sakral. Aku berdiri di tengah lingkaran itu dengan wajah sedikit tertunduk. Jujur perasaanku tidak enak sekarang. Semenjak kemunculan sosok itu, ekspresi para Dewan dan guru-guru senior itu agak aneh padaku. Arvas dan yang lainnya berdiri beberapa langkah di belakangku. Mereka juga tidak banyak bicara. Mereka seperti sudah paham kalau ini bukan lagi masalah yang mudah yang bisa mereka selesaikan dengan negosiasi biasa. Mungkin bisa dibilang, kalau ini lebih mirip sebuah persidangan. “Energi yang dilepaskan semalam melampaui ambang batas aman,” ujar salah satu anggota Dew
Tiba-tiba sesuatu di dalam dadaku meledak, bersamaan dengan suara berat dan bergema dari ruang paling dalam kesadaranku. “Cukup!” suara itu seperti menghardikku dalam sekejap. Suara yang keluar dari tubuhku, tapi itu jelas bukan suaraku. Yuzi berusaha untuk mengentikannya. Dia mengejarku yang tanpa sadar terus meliuk menghindar. “Tidak… jangan sekarang. Jangan sekarang Caesar!” Namun semuanya sia-sia. Kalungku sudah pecah total. Retakannya melebar dan menjadi serpihan kecilyang berhamburan ke lantai. Dan dari celahnya, cahaya hitam pekat menyembur keluar. Namun anehnya, cahaya itu tidak membuatku kesakitan, tapi justru membuatku melayang dan lebih ringan. Udara di ruangan langsung berubah. Tekanan energi dari penyerang mendadak goyah dan menghasilkan banyak cela, dan orang berjubah itu langsung mundur tergesa. Wajahnya tegang dengan mata yang membulat sempurna. Tak berselang waktu lama, bayangan besar muncul di belakangku. Bayangan yang awalnya hanya berbentuk kabut hitam,
Dentuman berikutnya berhasil menghancurkan separuh pintu arsip. Debu batu berhamburan ke udara. Rak-rak kayu tua, kursi dan meja semuanya runtuh, gulungan dan buku beterbangan seperti burung yang kehilangan arah. Orang berjubah hitam itu melangkah masuk perlahan. Seolah ia memang tahu kalau tidak akan ada yang bisa menghentikannya sekarang. Artefak di tangannya pecahan lingkaran hitam kebiruan yang berdenyut selaras dengan kalung di dadaku. Setiap denyutnya membuat dadaku terasa ditekan dari dalam. Arvas mengangkat tangannya, berusaha membuat lingkaran sihir besar yang mulai terbentuk di udara. Cahayanya merah gelap membawa hawa dingin yang memekakan. “Semua keluar, kecuali penyihir tingkat tinggi!” bentaknya. "Kalian hanya mengganggu kalau tetap di sini." Tak ada yang membantah ucapannya. Alana, Elvian, Angel dan juga Alexis langsung keluar dengan bantuan Livo yang menghalangi sisi kanan ruangan itu. "Cepat!" seru Livo. Yuzi tetap di tempatnya dengan tatapan yang sudah me







