LOGIN“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.
Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesangon, hanya diberi upah dua minggu kerja saja.
Rahma makin terpuruk, sudah punya anak cacat, ditambah semua langkahnya selalu saja bisa bocor.
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa begitu mencekik.Nadia masuk dan menutup pintu mobil itu dengan hentakan pendek. Aroma pengharum mobil langsung menyengat indra penciumannya, dengan wangi kopi nan lembut. Aroma kesukaan Nayaka.Nadia duduk dengan punggung tegak, menolak untuk bersandar, seolah enggan membiarkan tubuhnya menyentuh apa pun di dalam kendaraan pria yang telah membuangnya."Aku beri waktu lima menit," jelas Nadia, suaranya jernih namun sedingin es, langsung memotong udara sebelum Nayaka sempat menoleh.Nayaka mencengkeram kemudi dengan erat, matanya berkaca-kaca menatap wanita yang kini berjarak begitu dekat namun terasa ribuan mil jauhnya."Tak bisa, Nad, sejak salah
“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesangon, hanya diberi upah dua minggu kerja saja.Rahma makin terpuruk, sudah punya anak cacat, ditambah semua langkahnya selalu saja bisa bocor.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈“Maaf, Bu Nadia sibuk, sampai dua minggu ke depan. Kampus sedang ujian semester,” jelas resepsionis yang Rahma temui siang ini.“Yaka, urus pelacvrmu, tak perlu datan
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah untuk Narendra dan Nareswari.Nayaka diam terpaku mendengar kalimat yang mamanya gunakan. Bukan kalimat dari seorang ibu untuk anaknya.“Apa aku tak boleh melakukan kewajiban ku Ma?” rengek Nayaka.“Bukannya Nadia sudah katakan, sejak Anda lebih mementingkan Rahma, anak-anak Anda sudah măti. Jadi mereka yang ternyata bisa diselamatkan itu bukan anak-anak Anda lagi,” jelas Fitri santai, dia berupaya tak tergoyahkan, sebab semua kesalahan Nayaka yang tak bisa memilah mana yang lebih penting antara istri dan adik temann
“Ini Pa,” ucap Rahma pada Achmad saat papanya tiba di rumah sakit sepulang beli obat yang ternyata tak tersedia di apotek rumah sakit. ‘Kamu ganti ponsel karena merasa ada pelacak di pesawat ponselmu, atau ganti nomor ribuan kali, serta pindah kerja ratusan kali bahkan pindah rumah puluhan kali, aku pasti akan tahu,’ kembali ada pesan masuk saat Rahma membeli dua nasi bungkus untuknya dan mamanya.Rahma merasa tak sanggup akan teror ini, dia laporkan semua pada Achmad . “Lalu Papa harus bagaimana?” “Itu kan resiko dari segala perbuatanmu dan mamamu,” ucap Achmad penuh penyesalan. “Mau sewa detektif guna menemukan pelakunya?” “Lalu bayar pengacara buat menuntutnya?” “Uang dari mana?” Achmad memberitahu Rahma, kalau mereka tak akan sanggup melakukan hal yang demikian. Achmad membuka ponsel Soraya, dan memperlihatkan teror yang Soraya dapatkan sebelum dibawa ke rumah sakit guna di rawat. Satu minggu penuh Soraya mendapat teror active sebelum dia terpaksa di rawat. ‘Jadi ….’
“Siapa sebenarnya Nadia, mengapa bisa setegar itu?”“Saat pertama datang tiga bulan lalu, aku memang melihat duka teramat dalam di matanya yang selalu dia tutup dengan senyum.”“Apa karena itu dia tak pernah datang bersama suaminya?”“Apa suaminya meninggal, sebab hubungan dia dengan mertuanya sangat akrab, ibu dan bapak yang dia perkenalkan sebagai mertua juga terlihat sangat mengasihinya, tak mungkin dia bercerai, bila kedua mertuanya tetap baik.”“Dan hubungan mertuanya dengan besan, atau orang tua kandung Nadia juga terlihat akrab,” Aditya terus bergumam sendiri dalam mobil yang dia lakukan di tol menuju Bandung, tempat pertemuan dengan para sohibnya di kampus dulu.
“Anak sialaaaan, bisanya nangis aja!” teriak Rahma kala dia dengar Rani putrinya menangis tak henti.Rahma sekarang kembali bekerja, sebagai staff administrasi di sebuah mall. Dan hari ini di mall tersebar selebaran kalau dia pelakor, juga pelacvr, karena hamil entah dengan siapa, sebab suaminya mandvl.Pulang kerja, Rahma tambah kesal mendengar tangisan Rani.“Diaaaaam!” Teriak Rahma membanting tasnya hampir mengenai Rani.Pembantu rumah tangga yang double job sekalian bertugas menjaga Rani segera menggendong bayi tak berdosa tersebut.“Apa Nadia ya yang melakukan semua ini?”“Nadia membalas dendam?&rdq







