LOGIN“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry.
“Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.”
“Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pondasinya.”
“Seperti pondasi hidupku, yang telah roboh luluh lantak akibat rindu padamu,” Yaka memperhatikan galery di ponselnya, galery yang mayoritas hanya terisi wajah Nadia dalam beragam pose dan banyak yang candid.
Saat Nadia masak, ketika istri sedang berkebun, atau membuat tugas bagi para mahasiswa, atau mengoreksi lembar kerja mahasiswanya, semua lengkap.
Bahkan saat Nadia tidur lelap dan ada iler di ujung bibirnya, semua tetap Yaka anggap super cantik. Tak pernah ada cela dari wajah manis Nadia.
“Apa hanya aku yang menumpuk rindu, sedang kamu sama sekali tak pernah merindukan aku Yank?” bisik Yaka malam ini. Dia sungguh sangat merindukan semua aspek diri Nadia, senyumnya, tawanya, harum tubuhnya, marahnya saat lihat Yaka asal menaruh handuk basah. Semua tentang Nadia.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Astagfirullaaaaah,” ucap Yaka pelan, masuk bulan ke lima dari kepergian Nadia, tanpa sengaja Yaka mendengar dari teman-teman yang dia hubungi untuk menanyakan lowongan kerja, teman itu menceritakan kalau adik Bagas sudah melahirkan bayi cacat, mereka memprediksi kalau bayi itu cacat akibat pernah dicoba untuk digugurkan.
Yaka merasa bisa saja pendapat itu benar, setelah Lucky menyampaikan fakta kalau dia tak mungkin punya anak, Rahma kalang kabut sendiri dan mencoba menggugurkan namun tak berhasil.
Alhasil bukan bayi gugur, melainkan bayi cacat yang dia peroleh.
Kehamilan Rahma memang dua bulan lebih dulu dari kehamilan Nadia yang gugur itu. Andai masih ada, tentu kehamilan Nadia saat ini memasuki usia 7 bulan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Alhamdulillaaaaah,” ucap Galih Bachruddin Cayapata, ayah Nadia, Ikhsan Caturangga, papa Yaka, Hanum Suryawijaya bunda Nadia dan Fitriyani Bramatyo mama Yaka saat operasi caesar berhasil sukses.
Lima bulan lalu, dokter di RSIA AYAH BUNDA Jakarta berhasil mempertahankan kehamilan Nadia. Dokter bilang Nadia harus bedrest total sampai tiba waktunya melahirkan, itu sebabnya Nadia mengambil cuti diluar tanggungan agar janinnya bisa selamat.
Ikhsan dan Galih langsung mengeksekusi dimana Nadia tinggal, dan merancang skenario untuk Yaka kalau janin Nadia keguguran!
Hanum dan Fitri memboyong Nadia pindah ke Singapore, dan menjalani bedrest selama lima bulan disana, sampai waktunya tiba, melahirkan melalui operasi caesar.
Dua hari sebelum jadwal operasi caesar, dua pasang orang tua tiba di Singapore.
“Allahu Akbaaaar, kalian menyimpan rahasia ini sangat rapat,” protes Fitri saat tahu cucunya KEMBAR!
Sejak awal hanya Hanum, Nadia dan dokter kalau janin dalam rahim Nadia adalah kembar.
“Bahkan, sejak periksa pertama Nadia kan sudah diberi tahu oleh dokter di Jakarta, tapi Nadia tak memberitahu Yaka, dia bilang biar nanti Yaka akan lihat sendiri di monitor. Nadia bilang entah nanti bulan keberapa Yaka akan sadar kalau bayi mereka tak hanya satu.”
“Sayang, hanya dua kali Yaka pernah mengantar Nadia kontrol, sebelum akhirnya tragedi keguguran itu,” jelas Hanum tenang.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ayok kita adzani cucu-cucu kita,” untuk mengalihkan duka tragedi, Galih ayah Nadia mengajak
Ikhsan papa Yaka, masuk ke lokasi babies yang sedang dibersihkan.
Mereka berbagi bayi, agar tak ada iri.
Galih sebagai pihak perempuan mengadzani bayi lelaki, yang sesuai kesepakatan akan mendapat nama keturunan pihak lelaki yaitu Caturangga.
Ikhsan mengadzani bayi perempuan yang nanti menyandang nama Cayapata, sesuai dengan nama keluarga Nadia.
Nadia memilih nama Narendra Dewangga Caturangga untuk bayi lelakinya,dan Nareswari Pradnya Cayapata untuk bayi perempuannya.
Anya bayi perempuan adalah kakak, dan Naren bayi lelaki adalah adik.
Galih dan Ikhsan melakukan hal yang seharusnya dilakukan ayah bayi-bayi itu yaitu Nayaka.
Sedih, haru, geram, bahagia bercampur jadi satu dalam dada Galih dan Ikhsan, walau mereka berupaya fokus melakukan adzan dan iqamat pada dua cucu mereka.
Sementara Hanum dan Fitri menantu di luar, sebab Nadia sedang diberi sentuhan akhir, sebelum melakukan IMD saat bayi sudah siap.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Silakan saja, aku tak mau kita ribut, terlebih aku di pihak yang salah,” ucap Ikhsan lembut ketika mereka berembug aqiqah akan diadakan kapan dan dimana.
“Yang aku tahu, secara umum, bayi sudah diperbolehkan terbang pada usia 7 hingga 8 hari setelah lahir menurut aturan sebagian besar maskapai.” Hanum yang dari dunia medis memberitahu kapan cucu-cucu mereka bisa dibawa terbang ke Indonesia.
“Walau, dari sisi medis, banyak dokter menyarankan untuk menunggu hingga bayi berusia 2 sampai 3 bulan,” jelas Hanum yang seorang perawat lebih rinci.
“Jadi rencananya kita terbang ke Jakarta kapan? Aku sih tak tergantung cuti, jadi anytime bisa, mbak Hanum kan harus izin,” Tanya Fitri memastikan, dari ke 4 orang tua disana memang hanya Hanum yang bekerja di bawah institusi formal. Ikhsan dan Galih punya usaha sendiri, dan Fitri kapan pun bebas, sebab dia hanya mengurus rumah kost miliknya.
“Aku siapkan dokumen babies dulu,” balas Ikhsan. Dia tahu babies harus punya akta kelahiran dan paspor untuk penerbangan itu. Besok dia akan urus semua di KBRI.
“Kalau begitu, aku akan mulai packing semua barang di apartemen Nadia dan dikirim pulang ke Indonesia lebih dulu, nanti kita pulang tinggal bawa koper saja,” Galih mengambil tanggung jawab bidang lain yang belum ditangani besannya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Aku tetapkan, aqiqah di rumah Bunda saja, biarkan kalau Yaka tahu,” tandas Nadia tenang. Saat malam, dua baby kembar hangat dalam pelukan eyang putri dan neneknya.
“Sehabis itu, aku akan cari rumah sendiri. Biar bagaimana pun aku tak mau menumpang di rumah Bunda atau Mama,” Nadia tegas memilih jalur hidupnya. Tak mau dibawah payung empat orang tuanya.
“Seperti papa bilang tadi, Mama tak akan mempersulit. Kami bisa melihat dan mengakui Naren dan Anya saja sudah berkah, sebab Mama tahu, anak Mama yang salah,” balas Fitri dengan sabar.
“Iya Ma, bukan aku tak mau dibawah perlindungan kalian, tapi itu tak membuatku dewasa, padahal aku sudah punya dua anak.”
“Kalian tak perlu takut, Yaka tak akan bisa menyentuh anak-anakku,” tegas Nadia. Dia sekarang tak menyebut Yaka dengan panggilan BANG seperti sejak mereka pacaran.
Ikhsan dan Fitri tahu perubahanan itu, tapi tentu tak bisa memaksakan seseorang. Apalagi seseorang yang pernah terluka oleh kelakuan anak mereka.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Teman-teman satu angkatan dan rekan-rekan sejawat mendiang Bagas yang biasanya secara berkala memberikan bantuan finansial, perhatian, atau sekadar kunjungan kehormatan pada keluarga Achmad, kini mulai menarik diri secara serentak. Mereka merasa dikhianati dan tertipu oleh drama air mata yang selama ini dimainkan oleh Rahma. Di mata mereka, Bagas tetaplah seorang pahlawan yang gugur dengan terhormat, namun keluarganya kini dipandang tidak lebih dari sekelompok "hama" yang merusak nilai-nilai luhur dari kepahlawanan itu sendiri.Bahkan ikatan dărah pun tidak mampu menahan terjangan bola salju ini. Keluarga besar dari jalur Achmad maupun jalur Soraya yang turut menerima kiriman tautan video tersebut mulai merasa sangat malu memiliki pertalian dărah dengan mereka. Kerabat-kerabat dekat yang di masa lalu mungkin sempat membela Rahma secara membabi buta karena alasan "kasihan pada adik seorang pahlawan", kini berbalik arah menjadi pihak yang paling keras menghujat.Mereka tidak ingin nam
"Buka saja, kenapa malah tanya Papa," sahut Achmad ketus seraya menekan tombol pada layarnya.Rahma memberanikan diri membuka tautan tersebut. Detik berikutnya, begitu video itu termuat dan menampilkan gambar wajah pembicara di podium, seluruh persendian Rahma terasa melosos. Wajahnya mendãdak putih pucat bagai mãyat.Di layar itu, tampak orang yang paling ditakuti oleh seluruh keluarga mereka : Profesor Ikhsan Caturangga.Ayah dari Nayaka, pria yang sejak zaman Rahma masih berseragam SMA selalu memikat hatinya dengan segala wibawa dan kekayaannya.Pria yang demi mengejarnya Rahma rela mengambil salah langkah yang fatal. Langkah nekat yang disarankan oleh Soraya dulu, yang kini justru berakhir dengan membuat hidupnya hancur lebur dan 'ngeblangsak' di rumah BTN pinggiran kota.Gara-gara gelap mata mengejar Nayaka dan merusak rumah tangga Nadia, kini dia menderita, ditinggal suami, ibunya gila, anaknya cacat, dan
"Bayangkan ada seorang ‘pahlawan’. Sebut saja namanya misal Bagas ya, maaf dan mohon izin bila ada hadirin di ruangan ini yang memiliki nama yang sama, ini hanya sebuah umpama semata.” “Misalkan Bagas meninggal karena menyelamatkan nyawa orang lain.”“Itu adalah sebuah pengorbanan yang suci. Sebuah kehormatan tertinggi bagi seorang manusia."Ikhsan terdiam sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam benak para pendengar, sebelum akhirnya melanjutkan dengan penekanan yang menusuk."Namun, apa yang terjadi jika keluarga yang ditinggalkan oleh almarhum justru menggunakan 'dărah' sang pahlawan sebagai alat pemerasan emosional yang keji?” “Apa jadinya ketika seorang adik, dengan sengaja dan penuh kesadaran, menggunakan kemâtian kakaknya untuk merongrong, mengusik, dan menghancurkan rumah tangga orang lain yang sebenarnya adalah korban yang diselamatkan?"Suara Ikhsan terdengar makin berat dan mengintimidasi. "Sang adik ini, hadirin sekalian, sebenarnya tidak sedang menghormati ingat
Nayaka duduk membeku di sofa ruang tamu rumah minimalis mewahnya. Rumah satu lantai yang cukup mewah itu terasa terlampau luas dan sunyi, hanya dihuni oleh kesendiriannya. Di luar, aplikasi taksi ‘online’di ponselnya sengaja dia matikan.Hari ini, dia sama sekali tidak mengambil orderan.Energi jiwanya telah terkuras habis, menyisakan tubuh yang lemas dilingkupi penyesalan yang tak bertepi.Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan notifikasi pesan masuk dari Fitri, mama kandungnya. Sebuah video berdurasi beberapa menit mendarat di sana.Dengan jantung yang berdebar perih, Nayaka menyentuh tombol ‘play’.Detik berikutnya, layar ponselnya menampilkan suasana hangat di ruang keluarga Nadia. Nayaka tersenyum miris, sebuah senyuman yang teramat getir dan menyayat hati, menyaksikan acara kumpul bersama yang begitu bersahaja.Tidak ada tiup lilin, tidak ada potong kue tart
"Aaamiiiin, aaamiiiin ya rabbal alamiiiin," kalimat penutup doa bergema serempak di dalam ruangan.Begitu doa selesai, kehebohan kembali berlanjut. Kali ini agenda utamanya adalah sesi foto bersama. Aditya menyetel kamera ponselnya dengan mode otomatis, lalu berlari kecil untuk bergabung dengan formasi besar yang sudah diatur oleh Ibu Ima.Di tengah-tengah karpet, duduklah formasi lengkap yang begitu indah, Galih dan Hanum yang tersenyum penuh wibawa, Ikhsan dan Fitriyani yang memancarkan binar keharuan, Byantara dan Ima yang tersenyum lebar penuh kebanggaan, serta di posisi sentral ada Aditya dan Nadia yang masing-masing memangku Angga dan Anya.‘Cekrek!’Satu kilatan cahaya mengabadikan momen magis itu. Sebuah potret perayaan satu tahun yang sangat sederhana, tanpa kemewahan materi yang berlebihan, namun menjadi pesta doa yang teramat kaya akan limpahan kasih sayang dari enam orang kakek dan nenek.Bagi Nadia, hari ini
Ruang keluarga di kediaman Aditya dan Nadia pagi ini diselimuti kehangatan yang tak biasa. Tidak ada balon-balon lateks beraneka warna yang memenuhi langit-langit, tidak ada badut sewaan yang bertingkah jenaka, pun tidak ada dentum musik anak-anak yang bising.Sesuai dengan prinsip yang dipegang teguh oleh Nadia, hari lahir pertama si kembar tidak perlu dirayakan dengan pesta pora yang megah. Baginya, esensi dari bertambahnya usia Narendra Dewangga Caturangga dan Nareswari Pradnya Cayapata bukanlah riuhnya tepuk tangan orang asing, melainkan ketulusan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang terdekat yang benar-benar mencintai mereka.Maka, perayaan hari itu dikemas dalam sebuah syukuran yang teramat sederhana. Hanya ada karpet bulu tebal yang digelar di tengah ruangan, jejeran bantal besar yang nyaman, serta hidangan tumpeng nasi kuning mini beserta kudapan tradisional yang ditata apik di atas meja rendah.Namun, kesederhanaan itu justru melahirkan keh
Kembali dari kebingungan, Yaka memilih kembali ke rumah, ingin istirahat sambil memikirkan langkah apa yang akan dia tempuh, dan melempar lamaran kemana setelah ini.“Mengapa rumah kosong seperti ini?” Yaka kaget ketika masuk ke rumahnya semua furniture sudah tidak ada.Tidak ada sofa tidak ada nak
“Silakan masuk,” Soraya Caraka, mama Rahma mempersilakan Fitriyani sahabatnya semenjak SMA, sekaligus mama Yaka untuk masuk ke rumahnya.“Tak perlu, suruh saja Yaka keluar sebentar,” Ikhsan Caturangga, papa Yaka bersuara sangat keras, sehingga Yaka yang ada di ruang makan mendengar itu. Dan past
“Ada apa?” tanya Fitriyani Bramantyo atau Fitri, mama Yaka kepada Hanum Suryawijaya bunda Nadia, besannya. Tumben siang, jam kantor besannya menghubungi. Dia tahu besannya sebagai suster punya jam kantor, beda dengan dirinya yang tak punya jam kantor, sebab dia hanya mengelola rumah kost.“Aku tak
“Maaf pak Yaka, Anda dipecat tak hormat atas perintah CEO,” saat esok paginya masuk kantor dengan wajah lusuh karena tak tidur, Yaka mendapat kejutan dari satpam. Bahkan bukan dipanggil ke HRD, atau setidaknya resepsionis, ini satpam yang langsung menghampiri saat dia turun dari mobil!Yaka sadar,







