LOGIN
“Ada apa?” tanya Fitriyani Bramantyo atau Fitri, mama Yaka kepada Hanum Suryawijaya bunda Nadia, besannya. Tumben siang, jam kantor besannya menghubungi. Dia tahu besannya sebagai suster punya jam kantor, beda dengan dirinya yang tak punya jam kantor, sebab dia hanya mengelola rumah kost.
“Aku tak bisa bicara by phone. Aku tunggu kamu aja di sini, di RSIA AYAH BUNDA tempat kerjaku, langsung ke ruang rawat paviliun anggrek kamar 207,” jawab Hanum
Fitriyani dan Ikhsan Caturangga suaminya segera ke rumah sakit ibu dan anak AYAH BUNDA dan seperti yang Hanum pesankan, tak boleh bilang pada Yaka lebih dulu sebelum mereka tiba di rumah sakit.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ada apa ini, kamu kenapa Nad?” Teriak Fitriyani histeris melihat Nadia menantu mereka terbaring lemas diinfus dan ….
DITRANFUSI!!!!
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Lama Nadia hanya memandang mama mertuanya, sebelum akhirnya dia buka mulut.
“Aku nyerah Ma, ini batas kesabaranku, bang Yaka lebih peduli pada Rahma daripada kepadaku istri sah dan calon bayi kami,” balas Nadia lirih.
“Mama tahu sendiri, ini bukan yang pertama, namun selama ini aku masih toleransi.”
“Namun kali ini tidak Ma, aku tak sanggup.”
Ikhsan Caturangga memukul pintu kamar mandi dalam ruang rawat, sementara Fitriyani tak bisa berkata-kata lagi mendengar Nadia Swastika Cayapata sang menantu menyerah sebab tak tahan akan perlakuan Nayaka Dirgantara Caturangga, anak kandungnya.
“Pertama, saat anniversary pernikahan pertama kami, Mama tahu sendiri, begitu Rahma telepon dan bilang jatuh terpeleset di kamar mandi, bang Yaka meninggalkan pesta, membuat aku seperti ditampar.”
“Untung saat itu ada Mama dan papa, sehingga orang tak menuduhku dibuang keluarga suami, padahal kami baru menikah satu tahun.” Nadia ingat awal kejadian kelam yang dia alami.
“Kedua, saat aku memastikan kalau aku hamil, moment besar, puncak kebahagian kami dua bulan lalu,” Nadia menjeda kalimatnya, dia sungguh tak sanggup mengingat moment kedua, saat puncak kebahagiaannya sebagai perempuan terbukti.
“Bang Yaka lebih mementingkan lari karena Rahma yang sedang hamil dua bulan kram perut, padahal saat itu, kami baru tahu aku hamil. Bisa bayangkan betapa pentingnya moment itu bagi kami, setelah satu tahun lebih kami menanti kehadiran baby, saat aku teramat bosan dan sakit bila ditanya orang, koq belum hamil?”
“Seakan, kalau aku belum hamil, itu adalah aibku, itu adalah kesalahanku, itu adalah kelemahanku.”
“Dan saat aku terlepas dari kutukan itu, bang Yaka lebih memilih meninggalkanku demi Rahma!”
Dua pasang orang tua di ruang itu diam. Menanti keterangan Nadia selanjutnya.
“Yang ketiga sampai kelima , selalu saja Rahma mengganggu ditengah malam, telepon, dan bang Yaka langsung meluncur tak peduli pandangan orang, tak peduli perasaanku sebagai istrinya yang juga sedang hamil, sama seperti Rahma!”
“Terakhir tadi pagi, aku bilang aku mulas, bang Yaka bilang ayok ke rumah sakit, aku dan dia sudah siap Ma, Pa.” Nadia menatap kedua mertuanya, mencari makan tatapan mereka.
“Baru mau ke rumah sakit, telepon bang Yaka berdering dan kembali panggilan dari Rahma, perempuan itu bilang kram perut!”
“Bayangkan Pa, Ma, istri sendiri mulas, bang Yaka lebih perhatian pada adik sahabatnya.”
“Walau berkali-kali bang Yaka bilang dia tak cinta Rahma, tapi Rahma selalu profokasi aku, dia bilang, cinta MAS NAYA lebih besar padanya daripada padaku dan anak kami.”
Nadia mengirim semua bukti provokasi Rahma padanya, berisi bagaimana Mas Naya menggendong Rahma.
“Rahma punya panggilan mesra MAS NAYA untuk Nayaka, Mama dan Papa lihat semua provokasinya untukku, mas Naya menyuapi Rahma, mas Naya menyelimuti Rahma, mas Naya mengecup kening Rahma, bahkan memakaikan sandal Rahma.”
“Dua bulan, diawal kehamilanku, aku menerima semua dalam diam Ma, Pa. Sebab setiap aku marah, bang Naya selalu beralasan hutang nyawa!”
Ikhsan Caturangga dan Fitriyani geram melihat semua data yang Nadia kirim.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Buat akta cerai atas nama Nayaka dan Nadia, data lengkap saya kirim sebentar lagi, seperti biasa, tak perlu prosedur normal,” tanpa di duga, Ikhsan langsung menghubungi stafnya dan memberi perintah tegas, tanpa minta pendapat siapa pun, termasuk Nadia, pemilik ikatan resmi dengan putra kandungnya.
Ikhsan Caturangga adalah ahli hukum terkenal Indonesia, dia punya law firm besar.
Nadia
bersyukur papa mertuanya malah punya inisiatif mengurus surat cerai baginya, dia memang tak berniat lagi meneruskan rumah tangga tak sehat dengan Nayaka.≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Sini kunci kamarmu, biar mama dan bundamu mengambil semua barang pribadi di kamarmu, barang lain gampang belakangan,” titah Ikhsan Caturangga pada Nadia. Dia sudah sangat geram, andai hanya cerita Nadia, dia mungkin masih akan berpikir panjang. Tapi saat pesta anniversary pernikahan putranya dia memang melihat sendiri bagaimana gugupnya Yaka saat mendapat telepon dari Rahma.
Sekarang ditambah bukti provokasi Rahma, juga penelantaran menantunya saat kondisi kritis, hanya karena anaknya lebih perhatian pada adik temannya, walau dia bilang tak dia cintai.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Bagaimana kalian enggak tahu nyonya kemana?” teriak Yaka saat pulang ke rumah esok paginya. Semalam dia terpaksa menemani Rahma, tidur di kamarnya. Dia sangat kasihan pada ibu hamil tanpa suami itu. Jiwanya rentan. Kasihan bayi dalam rahimnya bila ibu hamil mengalami tekanan jiwa, itu selalu jadi prinsip Yaka dalam bertindak.
“Kemarin, nyonya Hanum dan tuan Galih datang, membawa nyonya ke rumah sakit, sejak itu semua belum pulang lagi Tuan,” balas bibik terbata.
“Memang nyonya kenapa koq dibawa ke rumah sakit?” Yaka malah lupa, kemarin pagi dia berniat mengantar Nadia kedokter, sebelum telepon Rahma masuk, mengabarkan dirinya kram perut.
“Kemarin cuma ngeluh mulas aja kan?” Tanpa rasa bersalah, Nayaka akhirnya ingat, kemarin Nadia mengeluh mulas.
“Bukankah itu biasa untuk perempuan yang hamil muda?” Tanya Yaka bingung.
Nayaka mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi sejak dia meninggalkan rumah kemarin siang, nomor Nadia tak bisa dihubungi. Padahal semalam dia berniat memberi tahu istrinya kalau dia terpaksa akan menginap di rumah Rahma.
“Siaaaal, mengapa nomor telepon Nadia tak bisa aku hubungi?” Yaka memandang ponselnya, takut salah pencet nomor sehingga tak bisa terhubung dengan nomor istrinya.
“Nomornya benar koq,” Yaka memastikan dirinya sendiri.
“Saya tidak tahu Tuan, kalau nomor nyonya tak bisa dihubungi, mengapa tak tanya pada nyonya Hanum?” Balas bibik.
‘Tanya Bunda?’ Batin Yaka galau. Dia sangat ‘takut’ pada ibu mertuanya.
‘Cari mati namanya, terlebih, yang bawa Nadia ke rumah sakit adalah bunda.’
‘Tapi kenapa koq enggak pulang ke rumah ya?’
‘Apa Nadia menginap di rumah bunda Hanum?’ Pikir Nayaka cepat. Dia memikirkan pasti ibu mertuanya memaksa Nadia beristirahat di rumahnya saja, bisa dia kontrol, sebab ibu mertuanya adalah perawat.
“Baiklah, aku coba ke rumah bunda saja,” ucap Yaka, dia hendak mandi lebih dulu, lalu akan ke rumah mertuanya, melihat kondisi Nadia, dilanjut ke kantor.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Aaaah siaaaal, aku tak bisa mampir ke rumah bunda Hanum,” Yaka yang sudah rapi dengan pakaian kantor mendapat telepon kalau ada meeting mendadak.
Sekretarisnya mengatakan meeting kali ini tak bisa diwakilkan.
Tanpa bisa menghindar, Yaka melakukan mobilnya ke kantor, biar nanti sepulang kerja dia ke rumah mertuanya. Begitu niatnya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Iya Tante, aku segera kesana,” balas Yaka, saat sore sepulang kerja, teleponnya kembali berdering, panggilan dari Tante Soraya Caraka, mamanya Rahma, yang memberitahu Rahma tak mau makan bila tak disuapi Naya.
Nayaka tentu memikirkan bayi dalam kandungan Rahma yang sekarang berusia 4 bulan bila Rahma tak mau makan.
Maka sore itu tanpa menunda, tanpa ingat niatnya akan menengok Nadia, Nayaka langsung meluncur ke rumah Rahma agar ibu muda itu mau makan.
Yaka lupa, dia belum tahu keberadaan Nadia. Yang dia pikir Nadia pasti aman, sebab ada dalam tangan mertuanya.
Bunda Nadia seorang perawat senior, ayah Nadia seorang apoteker. Keselamatan akan kesehatan Nadia dan calon bayi mereka tentu aman, ditangan dua mertuanya itu.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Di kediaman Galih dan Hanum ini, sama sekali tidak ada aktivitas atau kegiatan yang heboh layaknya rumah yang akan menggelar pesta besar. Suasana rumah terasa tenang dan lengang dari riuh kepanikan, sebab seluruh rangkaian acara resepsi sepenuhnya akan dilangsungkan di hotel, mulai dari dekorasi, katering, hingga urusan tata rias.Kesibukan yang ada di dalam rumah sore itu murni hanya seputar persiapan menyambut kedatangan keluarga besar yang berjanji akan berkumpul nanti malam. Bau harum cairan pembersih lantai beraroma lavender menguar lembut ke seluruh penjuru ruangan, bercampur dengan embusan angin sore yang sejuk dari jendela-jendela besar yang sengaja dibuka lebar. Di dapur, hanya ada bunyi denting pelan dari cangkir-cangkir teh yang sedang dicuci dan ditata rapi di atas nampan kayu oleh asisten rumah tangga, disiapkan untuk menyambut obrolan hangat keluarga nanti malam.Tidak ada tenda yang terpasang di halaman, tidak ada tumpukan piring sewaan, pun tidak ada hilir mudik teta
"Dia sengaja mengundangku?! Dari mana dia dapat alamatku ini?!" pekik Rahma histeris. Tangannya gemetar hebat saat memegang selembar undangan fisik yang baru saja diantarkan ke rumahnya.Itu adalah undangan resepsi pernikahan Aditya dan Nadia yang akan diselenggarakan sepuluh hari lagi di sebuah hotel bintang lima paling bergengsi. Dari model undangannya saja sudah terlihat jelas bahwa itu adalah pernikahan super mewah. Desainnya begitu elegan, menggunakan material premium yang tebal dengan sentuhan tinta emas timbul, satu lembar biaya cetak undangan itu saja pastilah sangat mahal, mungkin setara dengan jatah belanja makannya berhari-hari.Pikiran Rahma langsung berputar liar penuh ketakutan. ‘Jadi, bukan hanya nomor ponselku saja yang selalu bocor entah ke siapa sampai aku terus-menerus diteror pesan sindiran, bahkan Nadia juga tahu keberadaan rumah kumuhku ini?’Rahma terduduk lemas di lantai, seluruh badannya gemetaran. Sungguh, dia sama
Aditya meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan ketukan yang pelan namun tegas. Dia membetulkan posisi duduknya, lalu menatap ayah, ibu dan keempat eyangnya satu per satu dengan sorot mata yang luar biasa tajam dan berwibawa."Ibu dan ayah, juga Eyang semua, saya minta dengan sangat, ini adalah pertama dan terakhir kalinya pertanyaan seperti itu terdengar di keluarga kita," ucap Aditya, memotong jalur pembicaraan dengan intonasi yang begitu dingin dan serius.Byan, ayahnya, sempat terkejut melihat reaksi putranya. "Maksudmu bagaimana, Dit? Ibu kan cuma tanya wajar,""Tidak ada yang wajar jika itu berpotensi membedakan anak-anak saya, Yah," potong Aditya cepat tanpa berniat tidak sopan, namun dia harus mengunci komitmen ini sejak dini."Bagi saya, Anya dan Angga adalah anak kandung saya. Sejak saya menjatuhkan pilihan pada Nadia, detik itu juga saya sudah mengambil tanggung jawab penuh atas kedua anak itu di hadapan Allah. Mereka darah daging s
"Tapi, penyesalan memang selalu datang di akhir. Kalau datang di awal, pendaftaran namanya," Nayaka terus mendesis sendiri, menertawakan pepatah kuno yang kini terasa begitu nyata dan kejam menghancurkan hidupnya.Pria itu benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya yang berpendidikan tinggi lulusan S2 London bisa terperosok sangat dalam ke dalam lubang kehancuran.Logikanya dulu benar-benar buta, sampai-sampai ia dengan tega mengabaikan perasaan Nadia, perempuan yang sekarang baru dia sadari sangat dia cintai, namun tak akan pernah bisa dia miliki lagi selamanya.Semua celah sudah tertutup rapat. Ikhsan, papanya sendiri, yang waktu itu turun tangan mengatur proses perceraiannya dengan Nadia hingga jatuh talak tiga. Secara hukum agama, selama Nadia belum menikah lagi dengan pria lain lalu bercerai secara sah tanpa rekayasa, maka Nayaka dan Nadia tidak akan pernah bisa rujuk atau menikah kembali.‘Tunggu, belum menikah lagi lalu b
‘Bagaimana kabar pelacvrdan anakmu? Bahagiakah kamu dengan kehidupanmu bersama keluargamu? Eh, anakmu dengan Rahma bagaimana? Apa kamu bisa bahagia seperti Nadia yang telah menikah lagi dengan seorang pemuda bujangan, yang tiga tahun berturut-turut menjadi arsitek teladan nasional dan arsitek terbaik Asean. Apa peran pendidikan S2-mu di London terhadap pola pikirmu?’Nayaka hanya bisa pasrah membaca rentetan pesan tajam yang masuk ke nomor ponselnya. Tidak ada niat, pun tidak ada sisa energi untuk membalas atau sekadar memblokir nomor-nomor yang kerap mengirimkan sindiran serupa.Di titik ini, Nayaka sungguh tidak memiliki harapan lagi untuk bangkit. Semangat hidupnya telah padam. Kadang, sempat terlintas di benaknya untuk bergerak mencari uang yang banyak. Dia tahu betul, jika ada kemauan dan kerja keras, penghasilan dari menarik taksi onlinesebenarnya sangat besar dan menjanjikan.Namun, setiap
"Sudah yuk, katanya capek," ajak Aditya lembut, menghentikan laju trolly belanjanya tepat di depan deretan produk perawatan bayi. Dia menatap istrinya dengan senyum simpul yang sarat akan arti, merujuk pada keluhan lirih yang sempat didengarnya sejak mereka turun dari mobil tadi.Nadia mendongak, wajahnya seketika merona merah mendengar sindiran halus suaminya. "Iya, ini juga sudah selesai kok," balas Nadia cepat, berusaha menetralisir kegugupan yang mendadak menyerang.Sembari meraih dua botol baby colognedengan varian wangi yang berbeda untuk Angga dan Anya, Nadia melangkah mendekati trolly. Saat meletakkan botol-botol itu ke dalam, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Aditya."Ya gimana enggak capek, kalau Mas enggak mau berhenti," bisik Nadia sangat lirih, hampir seperti desisan di antara deretan rak supermarket, melemparkan protes kecil atas 'maraton' tak terduga yang mereka lalui beberapa jam lalu.Mendengar tuduhan manja itu, Adi
“Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon
“Tidaaaaaak!!!” Yaka menutup mulutnya dengan bantal dan dia berteriak sepuas-puasnya di kamar kost.Yaka menyadari kebodohan dirinya selama 5 bulan jadi budaknya Soraya dan Rahma!Yaka sadar, semua yang kenal Rahma tentu akan mencibir kebodohan dirinya yang menyerahkan keutuhan rumah tangganya demi
Kembali dari kebingungan, Yaka memilih kembali ke rumah, ingin istirahat sambil memikirkan langkah apa yang akan dia tempuh, dan melempar lamaran kemana setelah ini.“Mengapa rumah kosong seperti ini?” Yaka kaget ketika masuk ke rumahnya semua furniture sudah tidak ada.Tidak ada sofa tidak ada nak







