Beranda / Romansa / VENDETTA / AKU MENYERAH!

Share

VENDETTA
VENDETTA
Penulis: yanktie ino

AKU MENYERAH!

Penulis: yanktie ino
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 12:29:37

“Ada apa?” tanya Fitriyani Bramantyo atau Fitri, mama Yaka kepada Hanum Suryawijaya bunda Nadia, besannya. Tumben siang, jam kantor besannya menghubungi. Dia tahu besannya sebagai suster punya jam kantor, beda dengan dirinya yang tak punya jam kantor, sebab dia hanya mengelola rumah kost.

“Aku tak bisa bicara by phone. Aku tunggu kamu aja di sini, di RSIA AYAH BUNDA tempat kerjaku, langsung ke ruang rawat paviliun anggrek kamar 207,” jawab Hanum

Fitriyani dan Ikhsan  Caturangga suaminya segera ke rumah sakit ibu dan anak AYAH BUNDA dan seperti yang Hanum pesankan, tak boleh bilang pada Yaka lebih dulu sebelum mereka tiba di rumah sakit.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

“Ada apa ini, kamu kenapa Nad?” Teriak Fitriyani histeris melihat Nadia menantu mereka terbaring lemas diinfus dan ….

DITRANFUSI!!!!

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

Lama Nadia hanya memandang mama mertuanya, sebelum akhirnya dia buka mulut.

“Aku nyerah Ma, ini batas kesabaranku, bang Yaka lebih peduli pada Rahma daripada kepadaku istri sah dan calon bayi kami,” balas Nadia lirih.

  

“Mama tahu sendiri, ini bukan yang pertama, namun selama ini aku masih toleransi.”

“Namun kali ini tidak Ma, aku tak sanggup.”

Ikhsan  Caturangga memukul pintu kamar mandi dalam ruang rawat, sementara Fitriyani tak bisa berkata-kata lagi mendengar Nadia Swastika Cayapata sang menantu menyerah sebab tak tahan akan perlakuan Nayaka Dirgantara Caturangga, anak kandungnya. 

“Pertama, saat anniversary pernikahan pertama kami, Mama tahu sendiri, begitu Rahma telepon dan bilang jatuh terpeleset di kamar mandi, bang Yaka meninggalkan pesta, membuat aku seperti ditampar.”

“Untung saat itu ada Mama dan papa, sehingga orang tak menuduhku dibuang keluarga suami, padahal kami baru menikah satu tahun.” Nadia ingat awal kejadian kelam yang dia alami. 

“Kedua, saat aku memastikan kalau aku hamil, moment besar, puncak kebahagian kami dua bulan lalu,” Nadia menjeda kalimatnya, dia sungguh tak sanggup mengingat moment kedua, saat puncak kebahagiaannya sebagai perempuan terbukti.

“Bang Yaka lebih mementingkan lari karena Rahma yang sedang hamil dua bulan kram perut, padahal saat itu, kami baru tahu aku hamil. Bisa bayangkan betapa pentingnya moment itu bagi kami, setelah satu tahun lebih kami menanti kehadiran baby, saat aku teramat bosan dan sakit bila ditanya orang, koq belum hamil?

“Seakan, kalau aku belum hamil, itu adalah aibku, itu adalah kesalahanku, itu adalah kelemahanku.”

“Dan saat aku terlepas dari kutukan itu, bang Yaka lebih memilih meninggalkanku demi Rahma!”

Dua pasang orang tua di ruang itu diam. Menanti keterangan Nadia selanjutnya.

“Yang ketiga sampai kelima , selalu saja Rahma mengganggu ditengah malam, telepon, dan bang Yaka langsung meluncur tak peduli pandangan orang, tak peduli perasaanku sebagai istrinya yang juga sedang hamil, sama seperti Rahma!”

“Terakhir tadi pagi, aku bilang aku mulas, bang Yaka bilang ayok ke rumah sakit, aku dan dia sudah siap Ma, Pa.” Nadia menatap kedua mertuanya, mencari makan tatapan mereka.

“Baru mau ke rumah sakit, telepon bang Yaka berdering dan kembali panggilan dari Rahma, perempuan itu bilang kram perut!”

“Bayangkan Pa, Ma, istri sendiri mulas, bang Yaka lebih perhatian pada adik sahabatnya.”

“Walau berkali-kali bang Yaka bilang dia tak cinta Rahma, tapi Rahma selalu profokasi aku, dia bilang, cinta MAS NAYA lebih besar padanya daripada padaku dan anak kami.”

Nadia mengirim semua bukti provokasi Rahma padanya, berisi bagaimana Mas Naya menggendong Rahma.

“Rahma punya panggilan mesra MAS NAYA untuk Nayaka, Mama dan Papa lihat semua provokasinya untukku, mas Naya menyuapi Rahma, mas Naya menyelimuti Rahma, mas Naya mengecup kening Rahma, bahkan memakaikan sandal Rahma.”

“Dua bulan, diawal kehamilanku, aku menerima semua dalam diam Ma, Pa. Sebab setiap aku marah, bang Naya selalu beralasan hutang nyawa!”

Ikhsan  Caturangga dan Fitriyani geram melihat semua data yang Nadia kirim. 

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

“Buat akta cerai atas nama Nayaka dan Nadia, data lengkap saya kirim sebentar lagi, seperti biasa, tak perlu prosedur normal,” tanpa di duga, Ikhsan langsung menghubungi stafnya dan memberi perintah tegas, tanpa minta pendapat siapa pun, termasuk Nadia, pemilik ikatan resmi dengan putra kandungnya. 

Ikhsan  Caturangga adalah ahli hukum terkenal Indonesia, dia punya law firm besar.

Nadia

bersyukur papa mertuanya malah punya inisiatif mengurus surat cerai baginya, dia memang tak berniat lagi meneruskan rumah tangga tak sehat dengan Nayaka.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

“Sini kunci kamarmu, biar mama dan bundamu mengambil semua barang pribadi di kamarmu, barang lain gampang belakangan,” titah Ikhsan  Caturangga pada Nadia. Dia sudah sangat geram, andai hanya cerita Nadia, dia mungkin masih akan berpikir panjang. Tapi saat pesta anniversary pernikahan putranya dia memang melihat sendiri bagaimana gugupnya Yaka saat mendapat telepon dari Rahma.

Sekarang ditambah bukti provokasi Rahma, juga penelantaran menantunya saat kondisi kritis, hanya karena anaknya lebih perhatian pada adik temannya, walau dia bilang tak dia cintai.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

“Bagaimana kalian enggak tahu nyonya kemana?”  teriak Yaka saat pulang ke rumah esok paginya. Semalam dia terpaksa menemani Rahma, tidur di kamarnya. Dia sangat kasihan pada ibu hamil tanpa suami itu. Jiwanya rentan. Kasihan bayi dalam rahimnya bila ibu hamil mengalami tekanan jiwa, itu selalu jadi prinsip Yaka dalam bertindak.

“Kemarin, nyonya Hanum dan tuan Galih datang, membawa nyonya ke rumah sakit, sejak itu semua belum pulang lagi Tuan,” balas bibik terbata.

“Memang nyonya kenapa koq dibawa ke rumah sakit?” Yaka malah lupa, kemarin pagi dia berniat mengantar Nadia kedokter, sebelum telepon Rahma masuk, mengabarkan dirinya kram perut.

“Kemarin cuma ngeluh mulas aja kan?” Tanpa rasa bersalah, Nayaka akhirnya ingat, kemarin Nadia mengeluh mulas.

“Bukankah itu biasa untuk perempuan yang hamil muda?” Tanya Yaka bingung.

Nayaka mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi sejak dia meninggalkan rumah kemarin siang, nomor Nadia tak bisa dihubungi. Padahal semalam dia berniat memberi tahu istrinya kalau dia terpaksa akan menginap di rumah Rahma.

“Siaaaal, mengapa nomor telepon Nadia tak bisa aku hubungi?” Yaka memandang ponselnya, takut salah pencet nomor sehingga tak bisa terhubung dengan nomor istrinya.

“Nomornya benar koq,” Yaka memastikan dirinya sendiri.

“Saya tidak tahu Tuan, kalau nomor nyonya tak bisa dihubungi, mengapa tak tanya pada nyonya Hanum?” Balas bibik.

‘Tanya Bunda?’ Batin Yaka galau. Dia sangat ‘takut’ pada ibu mertuanya.

‘Cari mati namanya, terlebih, yang bawa Nadia ke rumah sakit adalah bunda.’

‘Tapi kenapa koq enggak pulang ke rumah ya?’

‘Apa Nadia menginap di rumah bunda Hanum?’ Pikir Nayaka cepat. Dia memikirkan pasti ibu mertuanya memaksa Nadia beristirahat di rumahnya saja, bisa dia kontrol, sebab ibu mertuanya adalah perawat.

“Baiklah, aku coba ke rumah bunda saja,” ucap Yaka, dia hendak mandi lebih dulu, lalu akan ke rumah mertuanya, melihat kondisi Nadia, dilanjut ke kantor.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

“Aaaah siaaaal, aku tak bisa mampir ke rumah bunda Hanum,” Yaka yang sudah rapi dengan pakaian kantor mendapat telepon kalau ada meeting mendadak. 

Sekretarisnya mengatakan meeting kali ini tak bisa diwakilkan.

Tanpa bisa menghindar, Yaka melakukan mobilnya ke kantor, biar nanti sepulang kerja dia ke rumah mertuanya. Begitu niatnya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

“Iya Tante, aku segera kesana,” balas Yaka, saat sore sepulang kerja, teleponnya kembali berdering, panggilan dari Tante Soraya Caraka, mamanya Rahma, yang memberitahu Rahma tak mau makan bila tak disuapi Naya.

Nayaka tentu memikirkan bayi dalam kandungan Rahma yang sekarang berusia 4 bulan bila Rahma tak mau makan. 

Maka sore itu tanpa menunda, tanpa ingat niatnya akan menengok Nadia, Nayaka langsung meluncur ke rumah Rahma agar ibu muda itu mau makan.

Yaka lupa, dia belum tahu keberadaan Nadia.  Yang dia pikir Nadia pasti aman, sebab ada dalam tangan mertuanya.

Bunda Nadia seorang perawat senior, ayah Nadia seorang apoteker. Keselamatan akan kesehatan Nadia dan calon bayi mereka tentu aman, ditangan dua mertuanya itu.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • VENDETTA   TERSISA NAYAKA!

    Teman-teman satu angkatan dan rekan-rekan sejawat mendiang Bagas yang biasanya secara berkala memberikan bantuan finansial, perhatian, atau sekadar kunjungan kehormatan pada keluarga Achmad, kini mulai menarik diri secara serentak. Mereka merasa dikhianati dan tertipu oleh drama air mata yang selama ini dimainkan oleh Rahma. Di mata mereka, Bagas tetaplah seorang pahlawan yang gugur dengan terhormat, namun keluarganya kini dipandang tidak lebih dari sekelompok "hama" yang merusak nilai-nilai luhur dari kepahlawanan itu sendiri.Bahkan ikatan dărah pun tidak mampu menahan terjangan bola salju ini. Keluarga besar dari jalur Achmad maupun jalur Soraya yang turut menerima kiriman tautan video tersebut mulai merasa sangat malu memiliki pertalian dărah dengan mereka. Kerabat-kerabat dekat yang di masa lalu mungkin sempat membela Rahma secara membabi buta karena alasan "kasihan pada adik seorang pahlawan", kini berbalik arah menjadi pihak yang paling keras menghujat.Mereka tidak ingin nam

  • VENDETTA   DIKUPAS TUNTAS 

    "Buka saja, kenapa malah tanya Papa," sahut Achmad ketus seraya menekan tombol pada layarnya.Rahma memberanikan diri membuka tautan tersebut. Detik berikutnya, begitu video itu termuat dan menampilkan gambar wajah pembicara di podium, seluruh persendian Rahma terasa melosos. Wajahnya mendãdak putih pucat bagai mãyat.Di layar itu, tampak orang yang paling ditakuti oleh seluruh keluarga mereka : Profesor Ikhsan Caturangga.Ayah dari Nayaka, pria yang sejak zaman Rahma masih berseragam SMA selalu memikat hatinya dengan segala wibawa dan kekayaannya.Pria yang demi mengejarnya Rahma rela mengambil salah langkah yang fatal. Langkah nekat yang disarankan oleh Soraya dulu, yang kini justru berakhir dengan membuat hidupnya hancur lebur dan 'ngeblangsak' di rumah BTN pinggiran kota.Gara-gara gelap mata mengejar Nayaka dan merusak rumah tangga Nadia, kini dia menderita, ditinggal suami, ibunya gila, anaknya cacat, dan

  • VENDETTA   BUKAN LINK PEKERJAAN

    "Bayangkan ada seorang ‘pahlawan’. Sebut saja namanya misal Bagas ya, maaf dan mohon izin bila ada hadirin di ruangan ini yang memiliki nama yang sama, ini hanya sebuah umpama semata.” “Misalkan Bagas meninggal karena menyelamatkan nyawa orang lain.”“Itu adalah sebuah pengorbanan yang suci. Sebuah kehormatan tertinggi bagi seorang manusia."Ikhsan terdiam sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam benak para pendengar, sebelum akhirnya melanjutkan dengan penekanan yang menusuk."Namun, apa yang terjadi jika keluarga yang ditinggalkan oleh almarhum justru menggunakan 'dărah' sang pahlawan sebagai alat pemerasan emosional yang keji?” “Apa jadinya ketika seorang adik, dengan sengaja dan penuh kesadaran, menggunakan kemâtian kakaknya untuk merongrong, mengusik, dan menghancurkan rumah tangga orang lain yang sebenarnya adalah korban yang diselamatkan?"Suara Ikhsan terdengar makin berat dan mengintimidasi. "Sang adik ini, hadirin sekalian, sebenarnya tidak sedang menghormati ingat

  • VENDETTA   PESAN DARI IKHSAN

    Nayaka duduk membeku di sofa ruang tamu rumah minimalis mewahnya. Rumah satu lantai yang cukup mewah itu terasa terlampau luas dan sunyi, hanya dihuni oleh kesendiriannya. Di luar, aplikasi taksi ‘online’di ponselnya sengaja dia matikan.Hari ini, dia sama sekali tidak mengambil orderan.Energi jiwanya telah terkuras habis, menyisakan tubuh yang lemas dilingkupi penyesalan yang tak bertepi.Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan notifikasi pesan masuk dari Fitri, mama kandungnya. Sebuah video berdurasi beberapa menit mendarat di sana.Dengan jantung yang berdebar perih, Nayaka menyentuh tombol ‘play’.Detik berikutnya, layar ponselnya menampilkan suasana hangat di ruang keluarga Nadia. Nayaka tersenyum miris, sebuah senyuman yang teramat getir dan menyayat hati, menyaksikan acara kumpul bersama yang begitu bersahaja.Tidak ada tiup lilin, tidak ada potong kue tart

  • VENDETTA   BUKAN SUAMI EGOIS

    "Aaamiiiin, aaamiiiin ya rabbal alamiiiin," kalimat penutup doa bergema serempak di dalam ruangan.Begitu doa selesai, kehebohan kembali berlanjut. Kali ini agenda utamanya adalah sesi foto bersama. Aditya menyetel kamera ponselnya dengan mode otomatis, lalu berlari kecil untuk bergabung dengan formasi besar yang sudah diatur oleh Ibu Ima.Di tengah-tengah karpet, duduklah formasi lengkap yang begitu indah, Galih dan Hanum yang tersenyum penuh wibawa, Ikhsan dan Fitriyani yang memancarkan binar keharuan, Byantara dan Ima yang tersenyum lebar penuh kebanggaan, serta di posisi sentral ada Aditya dan Nadia yang masing-masing memangku Angga dan Anya.‘Cekrek!’Satu kilatan cahaya mengabadikan momen magis itu. Sebuah potret perayaan satu tahun yang sangat sederhana, tanpa kemewahan materi yang berlebihan, namun menjadi pesta doa yang teramat kaya akan limpahan kasih sayang dari enam orang kakek dan nenek.Bagi Nadia, hari ini

  • VENDETTA   TAK ADA KEMEWAHAN

    Ruang keluarga di kediaman Aditya dan Nadia pagi ini diselimuti kehangatan yang tak biasa. Tidak ada balon-balon lateks beraneka warna yang memenuhi langit-langit, tidak ada badut sewaan yang bertingkah jenaka, pun tidak ada dentum musik anak-anak yang bising.Sesuai dengan prinsip yang dipegang teguh oleh Nadia, hari lahir pertama si kembar tidak perlu dirayakan dengan pesta pora yang megah. Baginya, esensi dari bertambahnya usia Narendra Dewangga Caturangga dan Nareswari Pradnya Cayapata bukanlah riuhnya tepuk tangan orang asing, melainkan ketulusan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang terdekat yang benar-benar mencintai mereka.Maka, perayaan hari itu dikemas dalam sebuah syukuran yang teramat sederhana. Hanya ada karpet bulu tebal yang digelar di tengah ruangan, jejeran bantal besar yang nyaman, serta hidangan tumpeng nasi kuning mini beserta kudapan tradisional yang ditata apik di atas meja rendah.Namun, kesederhanaan itu justru melahirkan keh

  • VENDETTA   AKU TAK SELINGKUH!

    “Silakan masuk,” Soraya Caraka, mama Rahma mempersilakan Fitriyani sahabatnya semenjak SMA, sekaligus mama Yaka untuk masuk ke rumahnya.“Tak perlu, suruh saja Yaka keluar sebentar,” Ikhsan Caturangga, papa Yaka bersuara sangat keras, sehingga Yaka yang ada di ruang makan mendengar itu. Dan past

  • VENDETTA    BABIES 

    “Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon

  • VENDETTA   DIKUNTIT KEBENARAN DI RUMAH BARU

    “Tidaaaaaak!!!” Yaka menutup mulutnya dengan bantal dan dia berteriak sepuas-puasnya di kamar kost.Yaka menyadari kebodohan dirinya selama 5 bulan jadi budaknya Soraya dan Rahma!Yaka sadar, semua yang kenal Rahma tentu akan mencibir kebodohan dirinya yang menyerahkan keutuhan rumah tangganya demi

  • VENDETTA   KHABAR AQIQAH 

    “Apaaaaaa?” “Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir. Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status