LOGIN“Apaaaaaa?”
“Apakah itu benar?” Yaka kaget saat mendengar info, minggu lalu Nadia baru saja melaksanakan aqiqah, dan kedua orangtuanya hadir.
Secara berkala memang Yaka terus mencari info keberadaan Nadia di rumah orang tuanya mau pun di rumah mertuanya. Alasan Yaka terus mencari di rumah orang tua kandungnya sebab disana lokasi paling aman buat Nadia sembunyi dari dirinya. Bahkan Yaka juga cari di semua kamar kost mamanya, apa kah ada Nadia disalah satu kamar.
Khabar yang baru saja Yaka dengar dari satpam perumahan rumah elit mertuanya tentu membuat Yaka sangat kaget.
“Nadia kan baru menghilang 6 bulan. Kok bisa dia bikin aqiqah?”
“Artinya itu bayi yang dulu dia bilang keguguran kan.”
“Kalau dihitung-hitung waktu dia pergi itu, kan kehamilan bayi kami 2 bulan, berarti bayi tersebut lahir 7 bulan, maka minggu lalu sudah aqiqah,” ucap Yaka sendirian di pos satpam
“Bener Pak saya kan dapat kotak berkatnya masih ada nggak ya kertasnya sebentar saya cari,” ucap satpam.
“Kayaknya bayinya itu kembar Pak laki-laki sama perempuan dan namanya bagus-bagus makanya kertasnya saya simpan.”
Yaka terpana, bayi Nadia, atau lebih tepat anaknya adalah kembar.
“Nanti ya Pak saya cari dulu,” kata satpam. Dia membuka buku besar tentang tamu yang datang ke perumahan tersebut, sebab kertas itu dia simpan disana.
“Nah bener kan ada. Ini Pak,” kata satpam sambil memberikan Yaka selembar kertas tentang aqiqah dua bayi
“Ah ini jelas anak aku!” ucap Yaka sedikit menjerit bagaimana dia tidak yakin itu anaknya kalau nama kedua bayi itu menggunakan nama keluarganya dan nama keluarga Nadia.
‘Tapi kenapa ya kok bayi yang perempuan pakai nama keluarga Nadia?’
‘Kenapa nggak semuanya pakai nama keluarga aku seperti lazimnya?’ pikir Yaka cepat, bahagia sebab punya anak, dan bingung dengan nama dua anak kembar yang beda nama keluarga.
‘Apa kalau nanti nama perempuan tuh percuma, tetap ikut nama suami, jadi sengaja dibagi seperti itu?’
‘Entahlah. Tapi aku yakin sekarang dua anak itu anak aku. Nadia ternyata hamil kembar, tapi sejak awal aku tak diberi tahu,’ pikir Yaka lagi.
‘Apa Nadia sejak awal kehamilan memang sudah benci aku, sebab saat itu kan aku sudah 2 bulan terikat pada Rahma,’ pikir Yaka sambil membuat foto tulisan tersebut karena tak mungkin tulisan tersebut dia minta dari Pak satpam.
Nayaka berterima kasih pada pak satpam dan dia pamit, segera masuk kembali ke mobilnya.
“Sekarang bagaimana caranya aku bisa masuk rumah itu?”
“Bisa tanya-tanya ah nggak bukan tanya-tanya, aku mau lihat bayi itu eh bukan, bayi bayi itu.”
Yaka akhirnya bingung sendiri dia terus saja galau mengetahui bahwa ternyata bayinya masih ada, bahkan bukan satu malah dua.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Apa urusanmu?” tanya Ikhsan saat malam ini Yaka memberanikan diri ke rumah kedua orang tuanya dan menanyakan tentang bayi kembar milik Nadia.
“Ya ada lah urusannya. Mereka itu bayiku,” bantah Yaka dengan beraninya
“Bayimu?” Balas Ikhsan sinis.
“Bayimu dengan siapa?” Tanya Fitri tenang.
“Bayimu adalah bayi cacat yang dilahirkan oleh Rahma, yang nggak ketahuan siapa ayah biologisnya. Itu yang kamu nomor satukan di atas semuanya dan itu bayimu!” ucap Ikhsan dengan tegas, Rupanya dia juga tahu kalau anak yang dilahirkan oleh Rahma itu cacat.
“Bukan mensyukuri bayi itu lahir cacat apalagi mengejeknya, tapi itulah resiko kalau seorang ibu ingin membuang bayinya dengan cara sembarangan. Akhirnya si bayi mengalami kelainan akibat obat-obatan yang diminum oleh ibu hamil,” ucap Ikhsan.
“Dan kamu nggak perlu tahu juga nggak perlu uang rembuk apapun, terhadap cucu kami.”
“Bayi Nadia lahir di luar pernikahan. Artinya kamu tak punya hak apapun!”
“Bayi itu milik Nadia sepenuhnya secara hukum agama dan negara. Bayi itu mutlak milik Nadia,” ucap Ikhsan dengan tegas.
Kalau bicara hukum dengan Ikhsan tentu Yaka tidak berani membantah karena Ikhsan adalah profesor di bidang hukum dan dia juga punya law firm sangat besar di Indonesia. Siapapun tahu kredibilitas dia sebagai ahli hukum Indonesia
“Please bantu aku untuk bisa bertemu kedua bayi itu,” rengek Yaka tanpa malu.
“Kami tak punya hak apapun. Kami tak punya wewenang apapun terhadap mereka,” ucap Fitri.
“Yang punya hak sepenuhnya adalah Nadia. Bahkan Hanum pun tidak punya hak.”
“Nadia sudah mengatakan bayi itu sepenuhnya milik dia, kami tidak boleh membawanya kemanapun tanpa seizin Nadia.”
Yaka diam menerima kenyataan kalau Nadia pasang pagar teramat tinggi dan tebal guna membentengi Narendra dan Nareswari dua bayi kembarnya.
Yaka tak tahu, apa nama panggilan kedua bayi itu, dia hanya melihat nama lengkap si kembar.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Yaka memarkir mobilnya sedikit jauh dari pos satpam perumahan tempat tinggal mertuanya.
Lalu dia jalan kaki, tetap sembunyi-sembunyi untuk melihat kedua anaknya, yang pastinya tak akan pernah terjadi.
Nadia menjemur kedua bayinya di halaman belakang, yang jauh dari berisik kendaraan lewat, juga debu. Tak mungkin akan terlihat dari depan rumah.
Nayaka melakukan hal itu 4 hari berturut-turut setiap pagi, hanya pagi sebab dia tahu bayi dijemur kalau pagi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Mau kemana dia?”
“Bahkan belum 40 hari sehabis
melahirkan, dia sudah keluar rumah sendirian?” Hari ini Yaka melihat Nadia pergi menggunakan mobil pribadinya.
“Apa dia mau beli rumah?” Yaka yang menguntit Nadia dari jarak aman melihat istrinya, atau lebih tepat mantan istrinya memasuki sebuah kawasan perumahan super elit, dengan penjagaan super ketat.
Tamu yang masuk ke perumahan harus mendapat izin dari pemilik rumah yang akan dikunjungi, bukan hanya dari satpam lingkungan. Jadi tak ada tamu tak diundang.
Tamu bukan hanya meninggalkan identitas saja seperti perumahan lain.
Dan hari ini Yaka yang tak punya janji dengan pengembang, tak bisa masuk perumahan.
“Dia sengaja memilih pengembang eksklusif seperti ini, agar nanti bila dia kerja, tak ada siapa pun yang bisa datang ke rumahnya,” gumam Yaka yakin.
“Satu sisi aku suka dengan kebijakannya. Artinya anak-anakku aman, tapi di sisi lain aku sedih sebab berarti aku sama sekali nggak punya akses buat melihat anak-anak itu. Aku harus bagaimana ya?” Nayaka masih terpaku di balik gerbang perumahan elit yang Nadia masuki tanpa bisa dia ikuti.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Teman-teman satu angkatan dan rekan-rekan sejawat mendiang Bagas yang biasanya secara berkala memberikan bantuan finansial, perhatian, atau sekadar kunjungan kehormatan pada keluarga Achmad, kini mulai menarik diri secara serentak. Mereka merasa dikhianati dan tertipu oleh drama air mata yang selama ini dimainkan oleh Rahma. Di mata mereka, Bagas tetaplah seorang pahlawan yang gugur dengan terhormat, namun keluarganya kini dipandang tidak lebih dari sekelompok "hama" yang merusak nilai-nilai luhur dari kepahlawanan itu sendiri.Bahkan ikatan dărah pun tidak mampu menahan terjangan bola salju ini. Keluarga besar dari jalur Achmad maupun jalur Soraya yang turut menerima kiriman tautan video tersebut mulai merasa sangat malu memiliki pertalian dărah dengan mereka. Kerabat-kerabat dekat yang di masa lalu mungkin sempat membela Rahma secara membabi buta karena alasan "kasihan pada adik seorang pahlawan", kini berbalik arah menjadi pihak yang paling keras menghujat.Mereka tidak ingin nam
"Buka saja, kenapa malah tanya Papa," sahut Achmad ketus seraya menekan tombol pada layarnya.Rahma memberanikan diri membuka tautan tersebut. Detik berikutnya, begitu video itu termuat dan menampilkan gambar wajah pembicara di podium, seluruh persendian Rahma terasa melosos. Wajahnya mendãdak putih pucat bagai mãyat.Di layar itu, tampak orang yang paling ditakuti oleh seluruh keluarga mereka : Profesor Ikhsan Caturangga.Ayah dari Nayaka, pria yang sejak zaman Rahma masih berseragam SMA selalu memikat hatinya dengan segala wibawa dan kekayaannya.Pria yang demi mengejarnya Rahma rela mengambil salah langkah yang fatal. Langkah nekat yang disarankan oleh Soraya dulu, yang kini justru berakhir dengan membuat hidupnya hancur lebur dan 'ngeblangsak' di rumah BTN pinggiran kota.Gara-gara gelap mata mengejar Nayaka dan merusak rumah tangga Nadia, kini dia menderita, ditinggal suami, ibunya gila, anaknya cacat, dan
"Bayangkan ada seorang ‘pahlawan’. Sebut saja namanya misal Bagas ya, maaf dan mohon izin bila ada hadirin di ruangan ini yang memiliki nama yang sama, ini hanya sebuah umpama semata.” “Misalkan Bagas meninggal karena menyelamatkan nyawa orang lain.”“Itu adalah sebuah pengorbanan yang suci. Sebuah kehormatan tertinggi bagi seorang manusia."Ikhsan terdiam sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam benak para pendengar, sebelum akhirnya melanjutkan dengan penekanan yang menusuk."Namun, apa yang terjadi jika keluarga yang ditinggalkan oleh almarhum justru menggunakan 'dărah' sang pahlawan sebagai alat pemerasan emosional yang keji?” “Apa jadinya ketika seorang adik, dengan sengaja dan penuh kesadaran, menggunakan kemâtian kakaknya untuk merongrong, mengusik, dan menghancurkan rumah tangga orang lain yang sebenarnya adalah korban yang diselamatkan?"Suara Ikhsan terdengar makin berat dan mengintimidasi. "Sang adik ini, hadirin sekalian, sebenarnya tidak sedang menghormati ingat
Nayaka duduk membeku di sofa ruang tamu rumah minimalis mewahnya. Rumah satu lantai yang cukup mewah itu terasa terlampau luas dan sunyi, hanya dihuni oleh kesendiriannya. Di luar, aplikasi taksi ‘online’di ponselnya sengaja dia matikan.Hari ini, dia sama sekali tidak mengambil orderan.Energi jiwanya telah terkuras habis, menyisakan tubuh yang lemas dilingkupi penyesalan yang tak bertepi.Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan notifikasi pesan masuk dari Fitri, mama kandungnya. Sebuah video berdurasi beberapa menit mendarat di sana.Dengan jantung yang berdebar perih, Nayaka menyentuh tombol ‘play’.Detik berikutnya, layar ponselnya menampilkan suasana hangat di ruang keluarga Nadia. Nayaka tersenyum miris, sebuah senyuman yang teramat getir dan menyayat hati, menyaksikan acara kumpul bersama yang begitu bersahaja.Tidak ada tiup lilin, tidak ada potong kue tart
"Aaamiiiin, aaamiiiin ya rabbal alamiiiin," kalimat penutup doa bergema serempak di dalam ruangan.Begitu doa selesai, kehebohan kembali berlanjut. Kali ini agenda utamanya adalah sesi foto bersama. Aditya menyetel kamera ponselnya dengan mode otomatis, lalu berlari kecil untuk bergabung dengan formasi besar yang sudah diatur oleh Ibu Ima.Di tengah-tengah karpet, duduklah formasi lengkap yang begitu indah, Galih dan Hanum yang tersenyum penuh wibawa, Ikhsan dan Fitriyani yang memancarkan binar keharuan, Byantara dan Ima yang tersenyum lebar penuh kebanggaan, serta di posisi sentral ada Aditya dan Nadia yang masing-masing memangku Angga dan Anya.‘Cekrek!’Satu kilatan cahaya mengabadikan momen magis itu. Sebuah potret perayaan satu tahun yang sangat sederhana, tanpa kemewahan materi yang berlebihan, namun menjadi pesta doa yang teramat kaya akan limpahan kasih sayang dari enam orang kakek dan nenek.Bagi Nadia, hari ini
Ruang keluarga di kediaman Aditya dan Nadia pagi ini diselimuti kehangatan yang tak biasa. Tidak ada balon-balon lateks beraneka warna yang memenuhi langit-langit, tidak ada badut sewaan yang bertingkah jenaka, pun tidak ada dentum musik anak-anak yang bising.Sesuai dengan prinsip yang dipegang teguh oleh Nadia, hari lahir pertama si kembar tidak perlu dirayakan dengan pesta pora yang megah. Baginya, esensi dari bertambahnya usia Narendra Dewangga Caturangga dan Nareswari Pradnya Cayapata bukanlah riuhnya tepuk tangan orang asing, melainkan ketulusan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang terdekat yang benar-benar mencintai mereka.Maka, perayaan hari itu dikemas dalam sebuah syukuran yang teramat sederhana. Hanya ada karpet bulu tebal yang digelar di tengah ruangan, jejeran bantal besar yang nyaman, serta hidangan tumpeng nasi kuning mini beserta kudapan tradisional yang ditata apik di atas meja rendah.Namun, kesederhanaan itu justru melahirkan keh
“Hari ini sudah bulan ke empat kamu menghilang Yank,” bisik Yaka lirih. Tubuhnya makin kurus, badan tak terawat, walau pakaian masih tetap rapi, sebab dia laundry. “Ampas kopi yang menumpuk rindu itu sama dengan semut pekerja.” “Sebab, dinding yang kokoh bisa roboh karena lubang semut dibawah pon
“Tidaaaaaak!!!” Yaka menutup mulutnya dengan bantal dan dia berteriak sepuas-puasnya di kamar kost.Yaka menyadari kebodohan dirinya selama 5 bulan jadi budaknya Soraya dan Rahma!Yaka sadar, semua yang kenal Rahma tentu akan mencibir kebodohan dirinya yang menyerahkan keutuhan rumah tangganya demi
“Silakan masuk,” Soraya Caraka, mama Rahma mempersilakan Fitriyani sahabatnya semenjak SMA, sekaligus mama Yaka untuk masuk ke rumahnya.“Tak perlu, suruh saja Yaka keluar sebentar,” Ikhsan Caturangga, papa Yaka bersuara sangat keras, sehingga Yaka yang ada di ruang makan mendengar itu. Dan past
“Ada apa?” tanya Fitriyani Bramantyo atau Fitri, mama Yaka kepada Hanum Suryawijaya bunda Nadia, besannya. Tumben siang, jam kantor besannya menghubungi. Dia tahu besannya sebagai suster punya jam kantor, beda dengan dirinya yang tak punya jam kantor, sebab dia hanya mengelola rumah kost.“Aku tak







