Beranda / Thriller / Velvet Bloodline / Part 34 : Mawar layu

Share

Part 34 : Mawar layu

Penulis: Cloudberry
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 20:00:27

Ia sudah tahu soal Carl Rodin sejak lama, namun membiarkan burung-burungnya yang menyampaikan adalah cara paling elegan untuk menghancurkan dominasi Eavi Li tanpa harus mengotori tangannya sendiri.

​"Cukup, Bara, Luna. Makan kacang kalian," perintah Kesia tenang, mengeluarkan segenggam kacang dari saku gaunnya.

​Kedua burung itu berebut makanan di atas meja, sama sekali tidak peduli bahwa mereka baru saja melemparkan granat di tengah rumah tangga penguasa Kremlin.

​Lachlan berdiri perlahan, suaranya kini terdengar sangat rendah—tanda bahwa badai besar akan segera datang. "Callum, cari Carl Rodin. Bawa dia ke tempat yang sama dengan Ivan Li."

​"Lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Callum hati-hati.

​Lachlan melirik Kesia sejenak, lalu kembali menatap ke depan dengan dingin. "Beritahu ibumu... taman kita sedang butuh pemangkasan besar-besaran. Dan dia harus menyaksikan setiap tangkai layu yang akan kupotong malam ini."

​Kesia tersenyum tipis di balik gelas airnya. Strategi 'kreator' yang i
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Velvet Bloodline   Part 36 : Iblis

    Lampu-lampu kristal di koridor bawah tanah Kremlin bergoyang pelan, memantulkan bayangan jeruji besi yang dingin. Di sebuah ruangan kedap suara yang berbau anyir logam dan keringat dingin, Ivan Li tampak hancur. Stewart dan Thane telah mengerahkan seluruh teknik interogasi militer mereka, namun mulut Ivan terkunci rapat seolah-olah ketakutan pada Beijing jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik.​"Minggir," sebuah suara berat dan serak menginterupsi.​Langkah kaki yang berat menggema. Leonid Wilson, pria yang dijuluki 'Raja Neraka Rusia', masuk dengan menjinjing tas kulit panjang. Di belakangnya, Viktor berjalan dengan langkah santai, memutar-mutar gelas wiski. Leonid tidak banyak bicara. Ia mengeluarkan sebuah tongkat golf—driver baja mengkilap—dari tasnya.​CRAKK!​Suara hantaman tongkat golf itu mengenai tulang kering Ivan Li menggema memilukan. Ivan menjerit, namun Leonid melakukannya dengan presisi seorang atlet, mematahkan satu demi satu persendian tanpa membunuhnya. "Kau

  • Velvet Bloodline   Part 35 : Neraka

    Suhu masih hangat, sekitar 10-15°, langit dipenuhi cahaya kelap-kelip bintang-bintang. Ribuan lampu kristal menerangi setiap sudut Kremlin, membuat seakan malam itu adalah sebuah simfoni kemewahan yang abadi. Namun, bagi Emilia Vladimir, kemilau itu terasa seperti pedang yang siap jatuh membelah lehernya.​Dibalik pilar marmer yang dingin di koridor sayap timur, Emilia berdiri mematung. Napasnya tersengal, telapak tangannya berkeringat dingin hingga ia harus meremas gaun sutra mahalnya untuk menjaga keseimbangan. Telinganya masih berdenging oleh percakapan di dalam Ballroom yang baru saja ia curi dengar.​"Ivan Li... tertangkap," bisiknya dengan bibir gemetar.​Dunia Emilia seakan runtuh. Ivan Li bukan sekadar anggota dewan baginya. pria itu adalah sekutu terkuatnya, pion yang selalu ia dan ibunya gunakan untuk mengamankan posisi mereka di Kremlin. Melihat Ivan diseret keluar oleh para penjaga, di bawah komando dingin Stewart dan Thane, membuat lutut Emilia lemas. Selama ini, ia me

  • Velvet Bloodline   Part 34 : Mawar layu

    Ia sudah tahu soal Carl Rodin sejak lama, namun membiarkan burung-burungnya yang menyampaikan adalah cara paling elegan untuk menghancurkan dominasi Eavi Li tanpa harus mengotori tangannya sendiri.​"Cukup, Bara, Luna. Makan kacang kalian," perintah Kesia tenang, mengeluarkan segenggam kacang dari saku gaunnya.​Kedua burung itu berebut makanan di atas meja, sama sekali tidak peduli bahwa mereka baru saja melemparkan granat di tengah rumah tangga penguasa Kremlin.​Lachlan berdiri perlahan, suaranya kini terdengar sangat rendah—tanda bahwa badai besar akan segera datang. "Callum, cari Carl Rodin. Bawa dia ke tempat yang sama dengan Ivan Li."​"Lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Callum hati-hati.​Lachlan melirik Kesia sejenak, lalu kembali menatap ke depan dengan dingin. "Beritahu ibumu... taman kita sedang butuh pemangkasan besar-besaran. Dan dia harus menyaksikan setiap tangkai layu yang akan kupotong malam ini."​Kesia tersenyum tipis di balik gelas airnya. Strategi 'kreator' yang i

  • Velvet Bloodline   Part 33 : Tukang gosip

    "Berita___baru___berita baru__" Suara cempereng mengudara di langit-langit Ballroom Kremlin. Kepakan sayap yang memekakkan kembali mengisi kedinginan Kremlin, yang sempat hening sejenak. Sepasang burung berwarna hitam terbang mengitari atap dalam Kremlin, tiga atau empat kali. Sebelum ia mendarat di atas meja makan. Di mana para anggota konferensi baru saja menyelesaikan makam malam mereka. Setelah sebelumnya sempat tertunda sejenak. "Kakak___" panggil satunya, mengamati sekelilingnya mencari seseorang. "Di mana kamu?" sahut satunya lagi, melangkah pelan menolehkan kepalanya ke kanan kiri, membuat orang-orang tertawa pelan melihat tingkah keduanya. "Kok tidak ada___?" Memiringkan kepalanya bingung, menatap Alexander lamat-lamat. "Kamu tidak salah orangkan!?" Tanya satunya lagi, ragu. "Tentu tidak," berjalan miring menggeser tubuhnya perlahan, mengamati wajah setiap orang teliti. "Tidak berbohong?" Ragu satunya lagi, mulai bosan. "Kapan aku berbohong padamu,

  • Velvet Bloodline   Part 32 : Naga Timur?

    "Bukan London, Ayah. London hanya perantara yang disewa untuk mengaburkan jejak," potong Kesia cepat, sebelum Ivan benar-benar di bawa pergi, suaranya tenang namun tajam bak sembilu. "Ivan tidak akan sebodoh itu menjual informasi pada musuh lama kita jika tidak ada imbalan yang jauh lebih besar dari sekadar emas." ​Kesia menatap Ivan Li yang kini berkeringat dingin di ujung meja. "Ivan tidak bekerja untuk Britania. Dia bekerja untuk Beijing." ​Kalimat itu meledak seperti bom di tengah ruangan. Tatapan Lachlan yang tadinya membara karena amarah, kini mendingin menjadi es yang mematikan. Geopolitik adalah permainan favoritnya, dan Beijing bukanlah pemain kecil yang bisa diremehkan. ​"Beijing?" Davis Gerald mengerutkan kening, jemarinya berhenti menari di atas keyboard laptop. "Jika naga dari Timur sudah mulai mencampuri urusan domestik Kremlin, maka ini bukan lagi soal penculikan. Ini soal kedaulatan energi." ​Kesia mengangguk, ia merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah

  • Velvet Bloodline   Part 31 : Ivan Li

    Davis Gerald tidak peduli dengan tatapan menusuk itu. Baginya, kebisingan di ruangan ini mulai melampaui batas toleransi. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati berukir, melipat tangan di depan dada dengan wibawa seorang menteri yang terbiasa menjinakkan singa-singa politik di parlemen.​"Kita di sini bukan untuk melihat drama keluarga atau kompetisi harga diri," suara Davis kini merendah, namun setiap oktafnya membawa beban yang berat. "Dunia di luar sana sedang menahan napas. Britania sedang kacau, Blenheim Palace baru saja kehilangan wibawanya karena insiden 'kecelakaan' yang menimpa nona kecil kita, dan kalian masih sibuk saling menghunus telunjuk?"​Lachlan menarik napas panjang, berusaha meredam sisa-sisa amarah yang sempat meledak. Ia menatap Kesia yang kini duduk dengan anggun di sampingnya. Gadis itu tampak tenang, seolah badai yang baru saja ia ciptakan hanyalah riak kecil di kolam teh.​"Davis benar," gumam Lachlan serak. "Kesia, katakan pada mereka. Apa yang sebe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status