Home / Thriller / Velvet Bloodline / Part 36 : Iblis

Share

Part 36 : Iblis

Author: Cloudberry
last update Last Updated: 2026-01-09 21:43:42

Lampu-lampu kristal di koridor bawah tanah Kremlin bergoyang pelan, memantulkan bayangan jeruji besi yang dingin.

Di sebuah ruangan kedap suara yang berbau anyir logam dan keringat dingin, Ivan Li tampak hancur.

Stewart dan Thane telah mengerahkan seluruh teknik interogasi militer mereka, namun mulut Ivan terkunci rapat seolah-olah ketakutan pada Beijing jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik.

​"Minggir," sebuah suara berat dan serak menginterupsi.

​Langkah kaki yang berat menggema. Leonid Wilson, pria yang dijuluki 'Raja Neraka Rusia', masuk dengan menjinjing tas kulit panjang.

Di belakangnya, Viktor berjalan dengan langkah santai, memutar-mutar gelas wiski. Leonid tidak banyak bicara. Ia mengeluarkan sebuah tongkat golf—driver baja mengkilap—dari tasnya.

​CRAKK!

​Suara hantaman tongkat golf itu mengenai tulang kering Ivan Li menggema memilukan. Ivan menjerit, namun Leonid melakukannya dengan presisi seorang atlet, mematahkan satu demi satu persendian tanpa membunuhnya.

"Kau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 39 : Bayangan

    Malam di Kremlin semakin larut, namun udara dingin yang menusuk seolah membawa sisa-sisa aroma maut dari halaman belakang hingga ke lorong-lorong pribadi keluarga Vladimir. Emilia berjalan dengan langkah gontai, jemarinya yang gemetar terus meremas pinggiran gaunnya yang kini terasa berat. Bayangan jasad Ivan Li yang tercabik-cabik oleh paruh-paruh lapar itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. ​Ia butuh perlindungan. Ia butuh pelukan hangat yang biasa ia dapatkan sebelum Kesia datang dan merusak segalanya. ​Dengan napas tersengal, Emilia menyelinap masuk ke kamar Thane. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king-size milik kakak keduanya itu, menarik selimut hingga ke dagu, meringkuk bagai bayi, berharap aroma maskulin Thane bisa mengusir bayangan burung-burung hitam itu. ​Tak lama kemudian, pintu terbuka. Thane masuk dengan wajah yang tampak letih, kemeja hitamnya sedikit berantakan di bagian kerah. Hari ini sangat melelahkan. Tak di sangka malam-mal

  • Velvet Bloodline   Part 38 : Tak Tergapai?

    ​Bryer menoleh pada Stewart. "Nona Berry bukan sekadar 'jurnalis' gila, Stewart. Intelijen kami mencatat dia berada di London saat ledakan terjadi di kantor bayangan Beijing. Dia seperti burung liar yang selalu bermigrasi. Jika ingin menghadapinya kita harus membentuk jaringan, serupa. Agar dapat mengikuti pergerakannya," ​Davis Gerald, sang menteri yang sejak tadi mengamati, menyahut dengan nada skeptis. "Dan kau ingin kami percaya bahwa kau datang ke sini secara cuma-cuma untuk membantu kami menemukannya? Seorang putra Trump melakukan sesuatu tanpa pamrih? Itu lelucon paling lucu tahun ini."​Bryer tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat mirip dengan ayahnya di televisi. "Tentu saja tidak. Aku ingin pertukaran. Berikan kami akses ke data satelit Rusia di wilayah kutub, dan aku akan memberikan kunci enkripsi untuk melacak jaringan Beijing yang masih tersisa di Kremlin. Kita punya musuh yang sama. Beijing yang terlalu kuat bukan hanya ancaman bagi Moskow, tapi juga bagi Washington

  • Velvet Bloodline   Part 37 : Diplomasi?

    Suasana di halaman belakang Kremlin yang masih menyisakan bau anyir samar mendadak mendingin oleh ketegangan baru. Kehadiran Bryer Trump di tanah Rusia, tepat setelah eksekusi brutal Ivan Li, adalah sebuah anomali politik yang berbahaya.​Lachlan meremas tangan Bryer, cengkeramannya begitu kuat hingga buku jari keduanya memutih. Mata elang sang penguasa Kremlin itu berkilat penuh kecurigaan. "Putra bungsu Trump... berani sekali kau menginjakkan kaki di sini tanpa undangan resmi. Apakah ayahmu sudah bosan dengan perdamaian semu yang kita jalani?"​"Ayahku adalah seorang pebisnis, Tuan Lachlan. Tapi aku? Aku adalah seorang realis," Bryer membalas dengan senyum tipis, tidak gentar meski kini ia dikelilingi oleh para predator Kremlin.​Stewart melangkah maju, tangannya masih mengelus Glis, namun matanya mengunci Bryer dengan tatapan mematikan. "Seorang realis tidak akan menyusup ke istana orang lain di tengah malam kecuali dia ingin kepalanya berakhir seperti Ivan Li."​"Sabar, Stewart,"

  • Velvet Bloodline   Part 36 : Iblis

    Lampu-lampu kristal di koridor bawah tanah Kremlin bergoyang pelan, memantulkan bayangan jeruji besi yang dingin. Di sebuah ruangan kedap suara yang berbau anyir logam dan keringat dingin, Ivan Li tampak hancur. Stewart dan Thane telah mengerahkan seluruh teknik interogasi militer mereka, namun mulut Ivan terkunci rapat seolah-olah ketakutan pada Beijing jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik.​"Minggir," sebuah suara berat dan serak menginterupsi.​Langkah kaki yang berat menggema. Leonid Wilson, pria yang dijuluki 'Raja Neraka Rusia', masuk dengan menjinjing tas kulit panjang. Di belakangnya, Viktor berjalan dengan langkah santai, memutar-mutar gelas wiski. Leonid tidak banyak bicara. Ia mengeluarkan sebuah tongkat golf—driver baja mengkilap—dari tasnya.​CRAKK!​Suara hantaman tongkat golf itu mengenai tulang kering Ivan Li menggema memilukan. Ivan menjerit, namun Leonid melakukannya dengan presisi seorang atlet, mematahkan satu demi satu persendian tanpa membunuhnya. "Kau

  • Velvet Bloodline   Part 35 : Neraka

    Suhu masih hangat, sekitar 10-15°, langit dipenuhi cahaya kelap-kelip bintang-bintang. Ribuan lampu kristal menerangi setiap sudut Kremlin, membuat seakan malam itu adalah sebuah simfoni kemewahan yang abadi. Namun, bagi Emilia Vladimir, kemilau itu terasa seperti pedang yang siap jatuh membelah lehernya.​Dibalik pilar marmer yang dingin di koridor sayap timur, Emilia berdiri mematung. Napasnya tersengal, telapak tangannya berkeringat dingin hingga ia harus meremas gaun sutra mahalnya untuk menjaga keseimbangan. Telinganya masih berdenging oleh percakapan di dalam Ballroom yang baru saja ia curi dengar.​"Ivan Li... tertangkap," bisiknya dengan bibir gemetar.​Dunia Emilia seakan runtuh. Ivan Li bukan sekadar anggota dewan baginya. pria itu adalah sekutu terkuatnya, pion yang selalu ia dan ibunya gunakan untuk mengamankan posisi mereka di Kremlin. Melihat Ivan diseret keluar oleh para penjaga, di bawah komando dingin Stewart dan Thane, membuat lutut Emilia lemas. Selama ini, ia me

  • Velvet Bloodline   Part 34 : Mawar layu

    Ia sudah tahu soal Carl Rodin sejak lama, namun membiarkan burung-burungnya yang menyampaikan adalah cara paling elegan untuk menghancurkan dominasi Eavi Li tanpa harus mengotori tangannya sendiri.​"Cukup, Bara, Luna. Makan kacang kalian," perintah Kesia tenang, mengeluarkan segenggam kacang dari saku gaunnya.​Kedua burung itu berebut makanan di atas meja, sama sekali tidak peduli bahwa mereka baru saja melemparkan granat di tengah rumah tangga penguasa Kremlin.​Lachlan berdiri perlahan, suaranya kini terdengar sangat rendah—tanda bahwa badai besar akan segera datang. "Callum, cari Carl Rodin. Bawa dia ke tempat yang sama dengan Ivan Li."​"Lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Callum hati-hati.​Lachlan melirik Kesia sejenak, lalu kembali menatap ke depan dengan dingin. "Beritahu ibumu... taman kita sedang butuh pemangkasan besar-besaran. Dan dia harus menyaksikan setiap tangkai layu yang akan kupotong malam ini."​Kesia tersenyum tipis di balik gelas airnya. Strategi 'kreator' yang i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status