LOGINKakinya luruh ke bawah.Pantatnya terduduk menempel lemas pada lantai marmer yang dingin. Batu putih itu menyerap sisa hangat tubuhnya dengan kejam, seolah Kremlin sendiri ingin menelan setiap kelemahan yang terlihat di dalam dindingnya.Tatapan Emilia kosong.Tidak fokus pada apa pun di depannya.Tidak pada lampu kristal yang menggantung redup di langit-langit kamar. Tidak pada tirai tebal yang menutup jendela malam Moskow. Tidak juga pada meja kecil tempat gelas racun itu tadi diletakkan.Pikirannya hanya terjebak pada satu gambaran yang terus berputar tanpa henti.Kesia.Saudari angkatnya.Kesia Vladimir.Kesia Dubicki.Perempuan itu menelan racun seperti meneguk air mineral biasa.Tanpa ragu.Tanpa gentar.Tanpa bahkan mengernyitkan alis.Seolah racun yang bisa membunuh seekor kuda dalam hitungan detik itu hanyalah minuman ringan yang disajikan saat makan malam.Andai Emilia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah mempercayai cerita semacam itu.Di dun
Kakinya luruh ke bawah. Pantatnya terduduk menempel lemas pada lantai marmer yang dingin. Batu putih itu menyerap sisa hangat tubuhnya dengan kejam, seolah Kremlin sendiri ingin menelan setiap kelemahan yang terlihat di dalam dindingnya. Tatapan Emilia kosong. Tidak fokus pada apa pun di depannya. Tidak pada lampu kristal yang menggantung redup di langit-langit kamar. Tidak pada tirai tebal yang menutup jendela malam Moskow. Tidak juga pada meja kecil tempat gelas racun itu tadi diletakkan. Pikirannya hanya terjebak pada satu gambaran yang terus berputar tanpa henti. Kesia. Saudari angkatnya. Kesia Vladimir. Kesia Dubicki. Perempuan itu menelan racun seperti meneguk air mineral biasa. Tanpa ragu. Tanpa gentar. Tanpa bahkan mengernyitkan alis. Seolah racun yang bisa membunuh seekor kuda dalam hitungan detik itu hanyalah minuman ringan yang disajikan saat makan malam. Andai Emilia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah mempercayai cerita sema
"Kylie masih terlihat... fungsional untuk usianya," Viktor berkata dengan nada yang sangat kurang ajar, menatap tubuh Kylie yang gemetar. "Daripada menangisi mayat hidup seperti Nathan, kenapa Ayah tidak membawanya saja ke tempat tidur? Buatkan dia satu atau dua bayi baru di usia senjanya ini. Biarkan dia punya kesibukan baru untuk menggantikan posisi Nathan dihati kecilnya, siapa tahu bayi yang lahir lebih berguna kali ini?"Tawa Leonid pecah mendengar saran anak angkatnya. Ia kini menatap istrinya dengan pandangan penuh nafsu kekuasaan yang rendah. "Kau benar, Viktor. Kita pria Slavia, pria Rusia, punya daya tahan dan kekuatan yang berbeda. Usia hanyalah angka bagi kita. Jika pabrik lamanya masih bisa menghasilkan sesuatu yang tidak cacat moral seperti Nathan, mungkin itu ide yang bagus."Kylie membelalak, wajahnya pucat pasi mendengar percakapan itu. "Leonid... apa yang kau katakan? Kalian gila! Kalian binatang!""Binatang?" Viktor tertawa terbahak-bahak, tawanya melengking taj
Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan suara dentuman yang memecah keheningan perayaan dingin antara ayah dan anak angkat tersebut. Kylie Wilson muncul di ambang pintu, namun ia tidak berdiri tegak sebagai nyonya besar mansion ini. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusut masai, gaun tidurnya yang mahal ternoda debu dan air mata. Tanpa mempedulikan martabatnya, Kylie menjatuhkan diri ke lantai marmer yang dingin. Ia merangkak, benar-benar merangkak di atas lututnya, mendekati kursi besar tempat Leonid duduk dengan gelas wiski di tangan. "Leonid... aku mohon... hiks... ampunilah Nathan," ratapnya, suaranya pecah oleh isak tangis yang menyesakkan dada. Jemarinya yang gemetar mencoba meraih ujung sepatu kulit suaminya. "Dia membusuk di sana, Leonid! Luka-lukanya meradang, dia kesakitan! Dia putra kandungmu, darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kau merayakan kemenangan di atas penderitaan anakmu?" Leonid Wilson bahkan tidak menunduk untuk menatap istrin
Sel gelap di sudut terdalam penjara Butyrka terasa seperti peti mati yang lembap. Aroma busuk dari sisa makanan yang basi, pesing, dan keringat dingin yang menguap di udara yang pengap menciptakan atmosfer yang mampu membunuh kewarasan siapa pun. Di sana, di atas lantai beton yang retak dan berlumut, Nathan Wilson terbaring seperti onggokan sampah yang dibuang.Tubuhnya tak lagi menyerupai putra bangsawan Moskow yang dulu angkuh. Luka-luka akibat cambukan besi dan hantaman stik golf Leonid beberapa waktu lalu tidak pernah diobati dengan layak. Luka itu kini mulai meradang beberapa di antaranya membusuk, mengeluarkan aroma amis yang menarik perhatian kecoak-kecoak penjara untuk berpesta di atas kulitnya yang dulu mulus.Cairan kuning kehijauan merembes dari perban kotor yang melilit kakinya, namun Nathan masih memiliki sisa-sisa kesombongan yang menjijikkan di matanya yang cekung."Kalian semua... akan merangkak di kakiku saat Ayah menjemputku!" serak Nathan, suaranya pecah dan pa
Kaka memutar kepalanya 180 derajat, menatap Lachlan dengan mata bulatnya yang cerdik. "Kami melakukan ini demi kebaikan keluarga Vladimir, Tuan! Pikirkan tentang rekening Callum! Jika kami terus-menerus meminta logistik kelas atas dari dapur pusat, biaya operasional Kremlin akan membengkak. Tuan Bryer ini adalah donatur sukarela. Kami hanya membantu menghemat anggaran negara!""Penghematan?" sindir Lachlan, kini berdiri tepat di depan Bryer. "Menghemat anggaran dengan cara menjual informasi kepada putra presiden Amerika? Aku tidak tahu sejak kapan burung-burungku belajar tentang ekonomi makro dan pengkhianatan dalam satu suapan yang sama."Luna, si kakatua pemakan segala yang biasanya paling pendiam dan hanya genit dengan orang baru, ikut angkat bicara dengan suara parau. "Jangan menyalahkan kami jika lidah kami mulai bosan dengan rasa daging Ivan Li yang hambar dan penuh dosa itu, Tuan. Sesekali, kami butuh sesuatu yang manis untuk menetralisir rasa pahit dari rahasia-rahasia yang



![The Wedding Dress [INDONESIA]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



