LOGINSeorang korban perundungan tidak bisa lari dari masalah. Namun semakin lama masalah yang menimpanya semakin besar. Keadaan yang sudah sulit yang kini mulai merambah kepada orang terdekatnya. Semakin besar masalah itu, emosi di dalam lubuk hati terdalam menyebabkan kekuatan yang tidak disadari mulai muncul.
View MoreMay bowed her head down in shame. Her coffee, doe eyes were filled with tears of pain,
immeasurable hurting. She was trying hard not to let the tears fall as her dad's words pierced into her heart like a sharp knife."You're a disgrace to this family." he proclaimed, pointing an accusing finger at her. "Just look at yourself. Do you see how much of a mess you are? Your mom and I gave you everything you ever wanted!"
She fiddled with her wrist band. Her grandmother, Ese, had given it to her as a present. She couldn't look at her dad's face nor could she talk back. She wouldn't dare.
"We've only wanted the best for you, your mom and I. We gave you everything you needed and you pay us back is by getting pregnant from an ordinary gatekeeper's son?! At this age..?"
At the age of seventeen, still in secondary school, getting pregnant was indeed a big disgrace to the family and especially to her father's reputation.
The tears flooded from her eyes to her small, cute lips. She tasted the salty liquid and squeezed her eyes shut, wishing time would reverse so she could tell Edric, the twenty-year-old gatekeeper's son responsible for her pregnancy, that she didn't want to be his girlfriend. Then she wouldn't have to stand outside her house with a bulging stomach and her family looking at her with contempt. Especially her dad.
"For bringing shame into this family, I disown you. You are no longer my daughter."
She threw her head up with a shaky intake of breath. Her eyes were wide because she couldn't believe what she had heard.
"Father... It was a mistake." she managed to croak out.
He looked away from her and with a gesture of his hand, he ordered his securities to push
her out of his compound. As she was dragged out, she stretched her hand to her younger sister - whose hand was reaching out for her to hold, as if that was going to bring May back into the house. But the two security men forcefully held Esther back.They shoved her out, making the dirt rise with her fall. But before the big, black gate closed, she saw her mom kneeling on the floor weeping. She balled the cloth of her father's trousers in her hands, pleading with him to bring her pet back into the house.
People nicknamed May as mummy's pet.
Now that, too, would be no more. She will have to stop schooling, stop her luxurious lifestyle, and start a new life. Living with the poor gateman's son until they eventually got married. She didn't want that. She was too young for that.
She wanted her sweet life back where she could ask for anything and within minutes, it would be in her hands. Where she wouldn't have to do anything but order the maids around. She closed her eyes, weeping at the thought of how she had messed up her life.
May's head rested on the gate as she gradually drifted off to sleep, standing. But before she entered a deep slumber, someone tapped her shoulder gently, jolting her awake. She relaxed when she saw it was Mr. David, the gatekeeper.
He motioned with his head.
"Let's get going." was all he said as he started walking away, hoping she would follow.
Without thinking - there was nothing to think about anymore anyway - she followed him.
"Goodbye.." she whispered to herself, hoping the wind would send her farewell to her
beloved mother and sister.Perawat mengambil beberapa botol kosong di atas meja pasien yang semuanya merupakan prajurit perang atau pengintaian, kecuali Noah. Dilihatnya botol kaca berwarna cokelat itu tampak seperti botol minuman keras yang dijual di toko swalayan.“Kelompok yang membuatmu koma waktu itu ... datang ke tempat ini,” bisik Noah.“Yaa ... aku sudah tahu itu. Jangan kau bicarakan lagi di depanku, lukamu saja masih belum sepenuhnya sembuh karena obat itu.”Noah berdehem, dia tidak akan menyangka kalau perkataan Mr. A itu benar. Ternyata doktrin yang dibuatnya di Reddit saat itu tidak asal-asalan. Namun jujur saja, orang itu memang menyebalkan jika ditemui secara langsung.Borris dan Morrey dengan langkah lantang di ruangan itu menghampiri Noah. Wajah keduanya tampak serius—dan tidak ada keraguan sama sekali—kemudian disusul oleh Mr. A yang Noah lihat dari postur dadanya pasti sedang serius. Tidak, dengan suasana seperti itu tidak mungkin Mr. A akan bercanda.“Kami berniat untuk melakukan investigasi
“Dialah alasan kita untuk menjadi kadet berpengalaman di organisasi militer federasi.”“Crvena Kapa?” tanya Andi tertegun melihat wajah serius Noah. Bercak darah Noah di lengannya telah mengering, begitu juga dengan bibirnya akibat angin dingin malam itu. Tepat ketika bulan menampakkan wujudnya di balik awan gelap yang sempat menjadi penghambat Andi saat ingin membersihkan luka Noah yang kotor oleh tanah.“Orang itu sudah hilang entah ke mana. Bahkan jejak darahnya sudah tidak ada lagi. seperti itukah pembunuh profesional menghilangkan jejaknya?”Noah terdiam mendengar Andi yang mengoceh sendirian. Dilihatnya luka sabetan belati dan senjata api di lengan dan kakinya. Andi berdiri di depan mayat kadet berkacamata itu, kemudian menunduk sesaat. “Cepat kita bawa ke markas. Lebih baik sembunyi-sembunyi,” ucap Andi pelan dan hampir tidak bisa didengar Noah.Mayat yang sudah terbujur kaku itu diangkat dengan sembarang oleh mereka berdua, kemudian mengambil jalan terjauh untuk menghindari te
Ketika itu, malam sudah tidak lagi sunyi. Suara berisik semak dan dedaunan yang terinjak-injak—bukan, suara ringisan dua manusia yang sedang bertarung itu mengisi kesunyian malam, walaupun tidak sampai terdengar di tenda tim cokelat.Noah melancarkan serangan bertubi-tubi, selagi lawannya terdesak karena bertahan sambil memegang pistol. Lebih baik seperti itu, daripada membiarkan pria itu menodongkan pistol sekali lagi ke wajahnya.Semakin lama dia melayangkan tinju, tapi seolah Noah yang semakin terpojok. Semula dirinya mengejar pria itu dan menyerangnya, bahkan sekarang hormatnya sudah hilang karena mereka seenaknya menginjak jasad kadet berkacamata itu dengan terpaksa.“Lumayan. Tidak kusangka federasi bakal menciptakan generasi yang hebat sepertimu,” tuturnya santai sambil menangkis tinjuan Noah yang tidak sedikit pun mengenai badan pria misterius itu.Noah menggigit bibir, kemudian meningkatkan kecepatan serangannya. Kini seperti ada pertandingan tinju dunia, bahkan jika diperton
Pemuda itu melihat sepasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Bola matanya memantulkan cahaya api seolah-olah ada dua kloningan api. Dia sadar sudah salah bicara, tapi ketika mendengar sesuatu yang sepertinya familiar, otaknya langsung berfungsi dengan baik.“Di mana kau melihatnya?” tanya Noah masih dalam posisi setengah duduk. Dinginnya angin tidak bisa membuat dirinya diam beberapa saat—sangat menusuk tulang. “Sebelah barat, tidak terlalu jauh dari tenda kita, karena aku dan Elliot juga hanya mengumpulkan kayu bakar di sekitar tempat itu dan kembali,” jelas Davud.Ia mengungkapkan kalau pria itu juga muncul di tempat yang sama ketika Noah melihatnya, entah kenapa dia hanya berkeliaran di sana. “Aku akan pergi sebentar,” tegas Noah langsung bergerak dari posisinya. Tidak sampai lima detik dia sudah berada di luar gua, meninggalkan Davud yang masih setengah sadar. Dilihatnya rembulan masih tepat di atas kepala, putih bersih seolah kabut pun tak ingin menutup keindaha
Davud dan Matthew yang sudah berada di luar gua bergegas menghampiri Noah sambil menenteng gulungan tali lain untuk berjaga-jaga kalau saja ada mangsa lebih. Pemuda itu—sambil terengah-engah—hanya diam dan menatap wajah kadet di bawah lututnya.“Apa maksudmu?” dalih kadet itu. Tampak sekali wajahnya
Sosok itu terlihat sedang memegang sebuah kantung berwarna cokelat sambil seolah menunggu kedatangan seseorang. Noah memicingkan matanya, berusaha melihat sosok itu dengan jelas dari kejauhan. “Vilma?” “Instruktur Mona memberitahuku kalau kau sedang menemui Mr. A.” “Ah...” Pemuda itu melihat Vilma y
Senyuman manis dan haru mengembang di wajah wanita itu, seolah sudah lama tidak bertemu karena terakhir kali mereka berpisah di saat insiden pengeboman itu. matanya sempat berkaca-kaca namun sempat dia tahan, dan pelupuk matanya basah kemudian dia usap dengan tangannya.Noah merasa lega sel
Halo teman-teman pembaca The Deepest Emotions. Author ingin menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan, karena mulai tanggal 2 Mei 2022 sampai tanggal 9 Mei 2022, novel The Deepest Emotions akan hiatus terlebih dahulu karena Author memiliki beberapa kesibukan. Sudah dua bulan novel The Deepest E
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews