LOGINKesia terdiam sejenak di balkon apartemennya saat mendengar suara Theo yang terbata-bata menyampaikan pesan penuh ancaman dari Thom. Alih-alih merasa takut atau tegang, Kesia justru memejamkan matanya, menghela napas panjang, dan sebuah senyum tipis yang tak tertahankan muncul di sudut bibirnya. "Resep sup borsch dan katalog furnitur bekas?" Kesia mengulangi kata-kata Theo dengan nada datar yang menyimpan tawa tersembunyi. "Iya, Kesia! Thom sangat marah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak karena masa lalunya di panti asuhan diungkit melalui sampah itu. Dia pikir Eavi sedang mengejeknya!" seru Theo di seberang telepon. Kesia menyandarkan punggungnya ke pintu kaca. "Theo, katakan pada Thom untuk mendinginkan kepalanya. Eavi Li memang ular yang licik, tapi dia tidak sebodoh itu. Dia terlalu elegan untuk melakukan lelucon sekasar itu. Hanya ada dua makhluk di seluruh Kremlin yang punya selera humor seburuk itu dan cukup berani untuk menyentuh dokumen diplomatik." "Maksudmu
Luna, si kakatua hitam yang jauh lebih tenang namun memiliki kecerdasan yang jauh lebih sistematis daripada suaminya yang berisik, sudah lama mengamati tingkah Bara dari kejauhan. Dengan jambul yang melengkung anggun, ia hinggap di dahan yang sama, menatap Bara yang sedang asyik tertawa jahat sendiri. "Ngik!" Luna mengeluarkan suara pendek, sebuah teguran halus yang membuat Bara nyaris terjungkal dari dahan karena kaget. "Luna! Kau mengejutkanku! Kau ingin mencuri tiket emas biji labuku, ya?" pekik Bara sambil menyembunyikan map itu di balik sayapnya. Luna tidak menjawab dengan kata-kata—ia bukan burung yang suka banyak bicara. Namun, matanya yang hitam legam menatap map yang robek itu dengan pandangan menghakimi. Jika dokumen itu hilang begitu saja, Eavi akan segera sadar ada pengkhianat di dalam mansion dan akan memperketat penjagaan. Rencana Bara terlalu kasar, terlalu "Bara". Dengan gerakan yang sangat halus, Luna terbang kembali ke arah balkon ruang kerja Eavi. Tak lama k
Emilia melemparkan sebuah vas porselen mahal ke arah dinding marmer kamarnya. Suara pecahannya berdenting nyaring, namun itu tidak cukup untuk meredam amarah yang membakar dadanya. "Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!" teriak Emilia pada bayangannya di cermin. "Lachlan, kasih sayang para pengawal, bahkan burung-burung sialan milik Lachlan itu lebih suka menyebut namanya daripada namaku!" Eavi Li masuk ke kamar putrinya dengan langkah tenang, seolah suara pecahan porselen itu hanyalah musik latar yang biasa. Ia melihat Emilia yang napasnya tersengal-sengal. "Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Emilia," ujar Eavi dingin. "Kemarahanmu hanya menunjukkan betapa lemahnya kau di depan Kesia." "Lemah?" Emilia menoleh dengan mata merah. "Mama, dia sekarang di Nusantara, mendekati keluarga Soertja! Dia mendekati Thomas Percy! Jika dia tahu bahwa Thomas adalah anak kandung Malacy yang dulu selamat dari kebakaran itu, dan jika dia berhasil mengambil hati Opa Mingzhe... pos
Lachlan terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah laci meja yang dimaksud Bara. Itu adalah benih biji labu yang sebenarnya ingin ditanam Lachlan di kebun rahasianya—sebuah hobi kecil yang ia lakukan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, setiap kali ia mencoba menanamnya, hasilnya selalu nihil. "Kau tidak boleh mengambilnya, Bara," keluh Lachlan, suaranya terdengar sangat lelah, hampir seperti rengekan seorang pria yang kehilangan otoritas di rumahnya sendiri. "Aku sudah mencoba menanam benih itu tiga kali bulan ini. Tapi apa hasilnya? Gagal total! Semuanya hilang sebelum sempat tumbuh." Kesia, yang mendengar percakapan itu lewat telepon, tidak tahan untuk tidak menyela. "Tunggu, Lachlan. Kau mencoba berkebun lagi? Bukankah terakhir kali tanaman tomatmu juga ludes?" "Ini lebih parah, Kesia," keluh Lachlan pada putrinya. "Setiap kali aku menaruh biji itu di tanah, atau bahkan baru saja membukanya di teras, Kaka atau Kiki pasti muncul dari langit. Mereka itu kakatua Maca
Kesia menyandarkan kepalanya di sofa beludru apartemennya di Plaza Imperium Puri. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu Jakarta Barat terlihat seperti permata yang berserakan, kontras dengan kegelapan Waduk Jatiluhur yang baru saja ia tinggalkan. Di tangannya, sebuah gelas berisi teh hangat mengepulkan uap tipis. Ponselnya yang tergeletak di meja kopi bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat detak jantung Kesia sedikit melambat: Lachlan Vladimir. Kesia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Kesia..." Suara berat dan serak itu terdengar di seberang sana. Ada nada kerinduan yang sangat dalam, tipe suara yang hanya dikeluarkan sang Iblis Rusia ketika ia berbicara dengan "putrinya". "Bagaimana keadaanmu di Nusantara? Aku baru saja melihat laporan cuaca di sana... sangat panas. Apa kau baik-baik saja?" "Aku baik, Otets (Ayah)," jawab Kesia lembut, matanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Jangan khawatir. Nusantara adalah rumahku, aku tahu
Kesia melangkah masuk ke dalam koridor, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer. Ia menangkap sisa-sisa percakapan telepon Theo yang baru saja terputus. Dengan gerakan santai, ia bersandar di pilar besar, melipat tangannya di dada, dan menatap Theo dengan tatapan yang sangat meremehkan. "Sudah selesai sesi pengaduannya, Theo?" suara Kesia memecah keheningan, membuat Theo tersentak dan nyaris menjatuhkan ponselnya. Kesia melangkah mendekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menusuk. "Kau menyebutku monster di depan Thom? Menarik. Sepertinya ingatanmu sangat pendek jika menyangkut dosamu sendiri." Theo mencoba membalas tatapannya, namun matanya bergetar. "Itu... itu berbeda. Aku melakukannya karena terpaksa!" "Terpaksa?" Kesia terkekeh dingin. "Baru sebulan yang lalu, Theo. Di Blenheim Palace. Ingat? Sebelum aku sempat tiba untuk mengamankan lokasi, kau sudah lebih dulu mengotori tanganmu. Berapa orang yang kau habisi di lorong belakang i
"Berita___baru___berita baru__" Suara cempereng mengudara di langit-langit Ballroom Kremlin. Kepakan sayap yang memekakkan kembali mengisi kedinginan Kremlin, yang sempat hening sejenak. Sepasang burung berwarna hitam terbang mengitari atap dalam Kremlin, tiga atau empat kali. Sebelum ia mendar
"Bukan London, Ayah. London hanya perantara yang disewa untuk mengaburkan jejak," potong Kesia cepat, sebelum Ivan benar-benar di bawa pergi, suaranya tenang namun tajam bak sembilu. "Ivan tidak akan sebodoh itu menjual informasi pada musuh lama kita jika tidak ada imbalan yang jauh lebih besar da
Davis Gerald tidak peduli dengan tatapan menusuk itu. Baginya, kebisingan di ruangan ini mulai melampaui batas toleransi. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati berukir, melipat tangan di depan dada dengan wibawa seorang menteri yang terbiasa menjinakkan singa-singa politik di parlemen.
"Kita bisa mencobanya. Aku akan membawanya kalau kami cocok," nadanya datar, berusaha menyembunyikan sesuatu. "Berikan dia padaku," Lanjut Stewart mengulurkan tangannya, menerima Glis di tangannya. "Kakak, kamu banyak sekali berubah?!" Cibir Thane menyindir kakaknya. Entah gerangan apa yang memb







