Accueil / Mafia / Velvet Bloodline / Part 60 : Kau menjijikkan!!

Share

Part 60 : Kau menjijikkan!!

Auteur: Cloudberry
last update Date de publication: 2026-02-08 15:37:19

​"Kylie masih terlihat... fungsional untuk usianya," Viktor berkata dengan nada yang sangat kurang ajar, menatap tubuh Kylie yang gemetar. "Daripada menangisi mayat hidup seperti Nathan, kenapa Ayah tidak membawanya saja ke tempat tidur? Buatkan dia satu atau dua bayi baru di usia senjanya ini. Biarkan dia punya kesibukan baru untuk menggantikan posisi Nathan dihati kecilnya, siapa tahu bayi yang lahir lebih berguna kali ini?"

​Tawa Leonid pecah mendengar saran anak angkatnya. Ia kini menatap i
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 110 : Iblis Bersayap

    Kesia terdiam sejenak di balkon apartemennya saat mendengar suara Theo yang terbata-bata menyampaikan pesan penuh ancaman dari Thom. Alih-alih merasa takut atau tegang, Kesia justru memejamkan matanya, menghela napas panjang, dan sebuah senyum tipis yang tak tertahankan muncul di sudut bibirnya. ​"Resep sup borsch dan katalog furnitur bekas?" Kesia mengulangi kata-kata Theo dengan nada datar yang menyimpan tawa tersembunyi. ​"Iya, Kesia! Thom sangat marah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak karena masa lalunya di panti asuhan diungkit melalui sampah itu. Dia pikir Eavi sedang mengejeknya!" seru Theo di seberang telepon. ​Kesia menyandarkan punggungnya ke pintu kaca. "Theo, katakan pada Thom untuk mendinginkan kepalanya. Eavi Li memang ular yang licik, tapi dia tidak sebodoh itu. Dia terlalu elegan untuk melakukan lelucon sekasar itu. Hanya ada dua makhluk di seluruh Kremlin yang punya selera humor seburuk itu dan cukup berani untuk menyentuh dokumen diplomatik." ​"Maksudmu

  • Velvet Bloodline   Part 109 : Soup

    Luna, si kakatua hitam yang jauh lebih tenang namun memiliki kecerdasan yang jauh lebih sistematis daripada suaminya yang berisik, sudah lama mengamati tingkah Bara dari kejauhan. Dengan jambul yang melengkung anggun, ia hinggap di dahan yang sama, menatap Bara yang sedang asyik tertawa jahat sendiri. ​"Ngik!" Luna mengeluarkan suara pendek, sebuah teguran halus yang membuat Bara nyaris terjungkal dari dahan karena kaget. ​"Luna! Kau mengejutkanku! Kau ingin mencuri tiket emas biji labuku, ya?" pekik Bara sambil menyembunyikan map itu di balik sayapnya. ​Luna tidak menjawab dengan kata-kata—ia bukan burung yang suka banyak bicara. Namun, matanya yang hitam legam menatap map yang robek itu dengan pandangan menghakimi. Jika dokumen itu hilang begitu saja, Eavi akan segera sadar ada pengkhianat di dalam mansion dan akan memperketat penjagaan. Rencana Bara terlalu kasar, terlalu "Bara". ​Dengan gerakan yang sangat halus, Luna terbang kembali ke arah balkon ruang kerja Eavi. Tak lama k

  • Velvet Bloodline   Part 108 : Terhasut

    Emilia melemparkan sebuah vas porselen mahal ke arah dinding marmer kamarnya. Suara pecahannya berdenting nyaring, namun itu tidak cukup untuk meredam amarah yang membakar dadanya. ​"Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!" teriak Emilia pada bayangannya di cermin. "Lachlan, kasih sayang para pengawal, bahkan burung-burung sialan milik Lachlan itu lebih suka menyebut namanya daripada namaku!" ​Eavi Li masuk ke kamar putrinya dengan langkah tenang, seolah suara pecahan porselen itu hanyalah musik latar yang biasa. Ia melihat Emilia yang napasnya tersengal-sengal. ​"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Emilia," ujar Eavi dingin. "Kemarahanmu hanya menunjukkan betapa lemahnya kau di depan Kesia." ​"Lemah?" Emilia menoleh dengan mata merah. "Mama, dia sekarang di Nusantara, mendekati keluarga Soertja! Dia mendekati Thomas Percy! Jika dia tahu bahwa Thomas adalah anak kandung Malacy yang dulu selamat dari kebakaran itu, dan jika dia berhasil mengambil hati Opa Mingzhe... pos

  • Velvet Bloodline   Part 107 : Perampok Bersayap

    Lachlan terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah laci meja yang dimaksud Bara. Itu adalah benih biji labu yang sebenarnya ingin ditanam Lachlan di kebun rahasianya—sebuah hobi kecil yang ia lakukan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, setiap kali ia mencoba menanamnya, hasilnya selalu nihil. ​"Kau tidak boleh mengambilnya, Bara," keluh Lachlan, suaranya terdengar sangat lelah, hampir seperti rengekan seorang pria yang kehilangan otoritas di rumahnya sendiri. "Aku sudah mencoba menanam benih itu tiga kali bulan ini. Tapi apa hasilnya? Gagal total! Semuanya hilang sebelum sempat tumbuh." ​Kesia, yang mendengar percakapan itu lewat telepon, tidak tahan untuk tidak menyela. "Tunggu, Lachlan. Kau mencoba berkebun lagi? Bukankah terakhir kali tanaman tomatmu juga ludes?" ​"Ini lebih parah, Kesia," keluh Lachlan pada putrinya. "Setiap kali aku menaruh biji itu di tanah, atau bahkan baru saja membukanya di teras, Kaka atau Kiki pasti muncul dari langit. Mereka itu kakatua Maca

  • Velvet Bloodline   Part 106

    Kesia menyandarkan kepalanya di sofa beludru apartemennya di Plaza Imperium Puri. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu Jakarta Barat terlihat seperti permata yang berserakan, kontras dengan kegelapan Waduk Jatiluhur yang baru saja ia tinggalkan. Di tangannya, sebuah gelas berisi teh hangat mengepulkan uap tipis. ​Ponselnya yang tergeletak di meja kopi bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat detak jantung Kesia sedikit melambat: Lachlan Vladimir. ​Kesia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. ​"Kesia..." Suara berat dan serak itu terdengar di seberang sana. Ada nada kerinduan yang sangat dalam, tipe suara yang hanya dikeluarkan sang Iblis Rusia ketika ia berbicara dengan "putrinya". "Bagaimana keadaanmu di Nusantara? Aku baru saja melihat laporan cuaca di sana... sangat panas. Apa kau baik-baik saja?" ​"Aku baik, Otets (Ayah)," jawab Kesia lembut, matanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Jangan khawatir. Nusantara adalah rumahku, aku tahu

  • Velvet Bloodline   Part 105

    Kesia melangkah masuk ke dalam koridor, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer. Ia menangkap sisa-sisa percakapan telepon Theo yang baru saja terputus. Dengan gerakan santai, ia bersandar di pilar besar, melipat tangannya di dada, dan menatap Theo dengan tatapan yang sangat meremehkan. ​"Sudah selesai sesi pengaduannya, Theo?" suara Kesia memecah keheningan, membuat Theo tersentak dan nyaris menjatuhkan ponselnya. ​Kesia melangkah mendekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menusuk. "Kau menyebutku monster di depan Thom? Menarik. Sepertinya ingatanmu sangat pendek jika menyangkut dosamu sendiri." ​Theo mencoba membalas tatapannya, namun matanya bergetar. "Itu... itu berbeda. Aku melakukannya karena terpaksa!" ​"Terpaksa?" Kesia terkekeh dingin. "Baru sebulan yang lalu, Theo. Di Blenheim Palace. Ingat? Sebelum aku sempat tiba untuk mengamankan lokasi, kau sudah lebih dulu mengotori tanganmu. Berapa orang yang kau habisi di lorong belakang i

  • Velvet Bloodline   Part 52 : Terancam

    Dua hari sudah Nayla berbaring di ranjang rumah sakit, dengan gips di kedua kaki jenjangnya. Matanya berair mengingat kakinya kini tidak sekuat dulu lagi. Dulu kakinya bisa dengan bebas ia bawa lari kemana hatinya berkehendak. Tapi sekarang ia bahkan tidak bisa turun dari brankar, jika empat per

  • Velvet Bloodline   Part 50 : Dubicki?

    Pintu kamar Kesia yang masih terbuka menjadi saksi bisu kehancuran mental seorang putri Kremlin. Emilia masih terduduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, nampan perak di sampingnya tampak seperti sampah tak berharga. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan tajam menghantam lantai korido

  • Velvet Bloodline   Part 49 : Matrealistis

    Kesia melangkah meninggalkan lorong sayap barat yang mencekam, beralih menuju jantung pertahanan Kremlin yang tersembunyi jauh di bawah tanah. Lift pribadi membawanya turun ke area yang lebih mirip pameran otomotif masa depan daripada sekadar tempat parkir. Begitu pintu lift berdenting terbuka, a

  • Velvet Bloodline   Part 47 : Tidak Seperti Orang-orang

    Kesia menarik nafasnya pendek. Menyentuh handle kopernya, menggenggamnya lalu menariknya perlahan. Mengayunkan sepatu ke depan, keluar dari kamarnya. Seraya berkata "Ada pepatah mengatakan air tidak setenang kelihatannya, adik." Menurunkan kacamata di dahinya. Emilia mematung, matanya terbelalak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status