Share

Part 91: Rumah Impian

Penulis: Titi Chu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 18:00:03

Jalan-jalan dengan Ghozali ternyata seru.

Dia banyak bertanya seperti anak kecil, penasaran dengan semua hal atau ingin memastikan aku kuliah dengan baik.

Sehingga aku pun antusias untuk membagikan ilmu-ilmu tentang arsitektur yang kutahu. Misalnya saat kami berhenti di koridor transisi. Tak ada karya. Hanya bangku beton dan dinding abu-abu.

"Ini ruang jeda," kataku sambil duduk, membiarkan Ghozali melakukan hal yang sama di sisiku. "Secara teknis buat istirahat. Secara desain, buat napas."

"Gimana tuh?"

"Ya daritadi kan, kita lihat banyak banget karya, lukisan, pameran abstrak baru yang mengandung nilai sejarah, mata uang negara-negara zaman dulu. Di sini jadi transisi buat kita merenung apa aja yang kita lihat tadi sebelum kita lanjut melihat karya-karya lain yang lebih kece."

"Tenang ya, di sini?"

"Arsitekturnya lagi kerja." Artinya memang ini di desain untuk itu, menikmati ruang kosong, seperti halnya me time.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 114: Belly Dance

    "Mau tidur di luar, Bas?""Babe.""Joget aja lagi ama penari perut.""Boleh?"Kami tertawa.Kalau tahu menikah ternyata menyenangkan, mungkin dulu aku tidak akan menunda-nunda. Lebih tepatnya menikah dengan orang yang tepat.Meskipun sudah pacaran kurang lebih enam bulan, masih banyak yang belum kutahu tentang Bas. Sikap jayusnya, jokesnya yang bapak-bapak, dan kebiasaannya yang dulu ternyata suka banget tidur di kasur lembab.Yang terakhir aku agak shock, sampai Bas menjelaskan kalau masa kecilnya memang absurd. Dia baru bisa tidur kalau di atas kasur, tepatnya di bagian kaki itu dikasih air, jadi lembab-lembab. Tapi kemudian dia menjalani terapi dan akhirnya kebiasaan itu menghilang. Hanya saja kalau sedang lelah, kadang mendadak kebiasaan itu kembali muncul.Namun di antara semuanya, aku masih tidak menyangka kalau dia super ramah, sampai saat ditarik oleh penari perut di salah satu resto pun dia heboh sendir

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 113: Kangen

    "Apa yang dilakukan pengantin saat malam pertama, Mon? Kok aku deg-degkan banget, gimana kalau aku justru merusak malam pertama kami?" tanyaku ke Mona di antara riuh para tamu.Dia benar-benar bertingkah seperti bridesmaid. Meskipun kami menggunakan tim WO yang perhatian banget. Tapi Mona tidak kalah sibuk dan selalu standby di sisiku, baik saat akad, maupun saat aku sudah berganti gaun ke resepsi."Yakali, kayak gini aja mesti gue ajarin?" seru Mona, suaranya agak naik agar terdengar dari balik suara penyanyi hits yang menyumbang lagu di panggung. "Lo nggak akan merusak apa-apa, stop pikiran negatif kayak gitu. Sebaliknya, lo harus tanamkan ke diri lo, Kak Bas pasti menyukai lo apa adanya.""Aku nggak berpengalaman." Dan satu-satunya pengalaman yang kupunya, justru trauma buruk yang sudah berbulan-bulan lalu berusaha kulupakan."Lo pikir pengantin lain perpengalaman? Eh, semua juga sama Sa. Tapi intinya tetap bisa kan? Itu karena alami. Semuanya

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 112: Barbie

    Hari H pernikahan. Rasanya menggelisahkan, seperti mulas, tegang, bolak-balik ke kamar mandi.Bunda sudah sejak subuh standby di hotel tempat akad kami. Di antara semua keluarga justru beliau-lah yang paling rempong. Bunda Farah bertingkah seperti Ibu kandung, mungkin ini pula cara Tuhan menggantikan peran Mama yang tidak bisa memberikan perhatian maksimal dengan sosok Bunda. Meskipun aku gagal menjadi menantunya, tapi perhatian Bunda Farah tidak berkurang sedikit pun.Dia berkata. "Buka mulutnya Marsha, makan yang banyak nanti kamu pingsan." Saat aku sibuk makeup dengan MUA, dan sibuk menyuapiku hingga sepiring penuh, sadar betul aku belum sarapan.Dia pula yang cerewet mengatur photo di kamar hotelku agar terlihat aestetik. "Nanti kalau diupload di IG, pasti bagus."Atau Bunda yang ikut menangis, ketika aku berputar memamerkan penampilanku dalam kebaya ke hadapan keluarga.Beliau lebih tersedu-sedu, dibandingkan Mama yang hany

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 111: Pasang Surut Masalah

    "Aku nggak minta apa-apa selain dikasih kamar dengan view perbukitan, dan tolong jauh dari kamar Abang.""Nggak bisa request dong, Bine.""Lah, kenapa ini kan, acara Abang? Demi menjaga privasi, nggak mungkin aku yang bocil ini sanggup mendengar pasutri yang baru menikah. Tolong banget Abang."Bocil apa yang tubuhnya bongsor begitu?Keluarga Sangkara punya bibit-bibit generasi raksasa, Sabine ini salah satunya, kalau dilihat sekilas dia mengingatkanku dengan Anya Geraldine. Tinggi semampai dan penampilannya juga modis.Setelah sekian purnama enggan pulang ke Jakarta. Demi pernikahan kami, dia menyempatkan diri untuk hadir lebih awal karena sekalian liburan semester.Aku sebenarnya kasihan karena kepulangannya harus disambut dengan kemesaraan kami. "Kenapa nggak bilang kalau udah sampai, biar dijemput.""Kak Marsha, nggak perlu repot, aku udah biasa apa-apa sendiri kok." Sabine menyahut tenang, tapi sadar kalau dijemput d

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 110: Nenek-Nenek

    Kurang lebih kami sudah tidak bertemu hampir sebulan, semenjak dia pulang honyemoon, kami sempat dinner bersama dan Ruka kini kelihatan sehat, dia mengangumi gaun yang kukenakan."Bagus cocok buat kamu, Sa. Sepertinya kamu kehilangan banyak berat badan ya, sekarang makin kelihatan langsing, atau kamu menjalani diet khusus?"Oke, meskipun sudah tidak bertemu lama ternyata mulutnya belum berubah."Nggak sih—""Aku malah nggak boleh diet sama Noah, semenjak nikah, sampai naik lima kilo. Noah paling nggak suka aku kurus." Dia memuji penampilannya sendiri.Mama menyambutnya dalam pelukan sambil cipika-cipiki, dibuntuti Kak Jena. "Emberan," seru lelaki setengah matang itu. "Kamu mau kurus, mau gendut tetap kelihatan stunning kok, yang penting sehat ya, Moms, nggak ada tipes. Muka asli no oplas-oplas. Dagu runcing aselii."Ruka mengibaskan tangan. "Oh, bisa ngamuk Noah kalau aku merubah ciptaan Tuhan. Sebenarnya asalkan pintar

  • Vokalis Culas, Aku Bukan Istrimu   Part 109: 13 Angka

    "Ya?""Bas?""Ya?""Bastian, gimana mau pulang atau aku tinggal aja di sini?""Sebentar Babe."Astaga, menyebalkan.Mba Nuke melirik, lalu tersenyum lebar, sadar aku tidak sabar dan sumbu pendek. Mungkin kalau hidup dalam kartun, dari kedua telingaku sekarang sudah keluar uap asap seperti knalpot racing."Oke, makasih banyak Mba Nuke, nanti saya hubungi." Bas kemudian menyela dirinya berdiri tegak, ponsel menyala di tangannya. Aku mendelik, jadi daritadi mereka bertukar nomor ponsel?Seorang Bas?"Benar 13 angka?""Iya Kak Bas." Mba Nuke menjawab ramah. Bas seperti memastikan sekali lagi, lalu menyelipkan ponsel ke saku celana. Kemudian menarikku menjauh.Hidungku kembang kempis."Bisa nggak sih, kamu jangan bagi-bagi nomor ke sembarang orang, nanti kalau ada sesaeng fans yang nelponin mulu selama 24 jam nontsop kamu tantrum. Padahal itu karena ulah kamu juga yang suka kasih-k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status