LOGIN"Enak banget ya kamu, punya karir, dapat kesempatan manggung, dapat gaji sampai setahun ke depan. Sementara orang yang kamu tipu malah jadi pengangguran."
"Mas nggak kerja?" "Jangan pura-pura polos, setelah dari Mahadewa dan disingkirin Bas dengan fitnah, perusahaan mana yang mau nerima orang dengan reputasi buruk?" "Reputasi buruk itu kan, Mas sendiri yang bikin, bukan Bas." "Minimal adil-lah, kamu yang jelas-jelas menipu banyak orang sampai bikin Pak Galih kelabakan, kenapa malah nggak dapat balasan yang setimpal?" "Udah kok Mas, aku juga didepak." "Dengan tunjangan dan gaji? Mantep betul, hidup kamu sudah terjamin berarti?" Aku tidak menjawab, memilih merekam percakapan kami. Insting, mungkin ini bisa berguna. Lalu menyalakan lokasi ponsel sehingga kalau terjadi hal yang darurat, seseorang bisa menemukanku. "Gimana keadaan Gumi?" Sebuah manuver ob"Ya?""Bas?""Ya?""Bastian, gimana mau pulang atau aku tinggal aja di sini?""Sebentar Babe."Astaga, menyebalkan.Mba Nuke melirik, lalu tersenyum lebar, sadar aku tidak sabar dan sumbu pendek. Mungkin kalau hidup dalam kartun, dari kedua telingaku sekarang sudah keluar uap asap seperti knalpot racing."Oke, makasih banyak Mba Nuke, nanti saya hubungi." Bas kemudian menyela dirinya berdiri tegak, ponsel menyala di tangannya. Aku mendelik, jadi daritadi mereka bertukar nomor ponsel?Seorang Bas?"Benar 13 angka?""Iya Kak Bas." Mba Nuke menjawab ramah. Bas seperti memastikan sekali lagi, lalu menyelipkan ponsel ke saku celana. Kemudian menarikku menjauh.Hidungku kembang kempis."Bisa nggak sih, kamu jangan bagi-bagi nomor ke sembarang orang, nanti kalau ada sesaeng fans yang nelponin mulu selama 24 jam nontsop kamu tantrum. Padahal itu karena ulah kamu juga yang suka kasih-k
"Nggak ada orang lain yang bisa melakukan hal ini selain kamu. Kamu tahu betul itu Pj, jadi nggak ada gunanya mengelak." Aku menjawab berani meskipun tanganku gemetar hebat."Tapi kamu harus dengar dulu—" Dua petugas polisi mendorong dia maju. Pj langsung mingkem, di bawah tatapan tajam Bas, dia hanya bisa mengeram.Pria itu lagi-lagi meludahkan darah ke lantai, tepat di bawah kaki Gumi."Coba aja bawa aku ke penjara Gum, kamu nggak akan dapat apa-apa."Gumi mengangkat dagu menantang. "Itu biar jadi urusan kami nanti.""Kalian berdua sama aja ya, sama-sama brengsek dan nggak tahu diri. Gue yang udah susah payah di The Blues, tapi sejengkal juga nggak dapat komisi. Hancur hidup gue karena kalian." Dia menyumpah serapah, seseorang yang kuyakin asisten Pj melenggang masuk ke kamar.Pria malang itu melotot melihat majikannya ditangkap. Lalu buru-buru menghubungi seseorang di ponsel. Mungkin pengacara dan keluarga Pj. Mereka kemudian
'Pj di sini' terdengar seperti mantra yang mengandung racun. Di antara banyaknya orang, aku tidak bisa memastikan di mana dia duduk, rasanya menggelisahkan, mengetahui ada pria brengsek di sekitar kita tapi kita bahkan tidak bisa memantu gerak-geriknya. Acaranya cukup meriah, banyak sekali kategori yang dibacakan, The Blues mendapatkan dua pengharagaan bergengsi dari kategori Band Favorite dan Living Legend. Suasana sangat antusias, Ghozali naik ke atas panggung membacakan beberapa kategori. Kurasa tanpa nama The Blues pamornya mulai meningkat pesat. Selagi menunggu penghargaan terakhir dibacakan. Bas mendadak berdiri, memintaku melakukan hal yang sama. Aku kebingungan. "Ke mana, Bas?" Ghozali mengekori, hanya Bianca dan Rigen yang ditinggal di kursi kami. "Acaranya belum selesai." Tapi tidak ada yang bicara di antara mereka, terlebih ekspresi keduanya serupa. Sama-sama keras dan datar. "Di lantai berapa Goz?" "Dua belas, kita turun ke bawah." Sialan, aku tidak men
Menculik yang Bas maksud adalah membawaku ke Music Awards. Aku agak terkesan dengan konsep penghargaan akhir tahun untuk para pekerja seni di Indonesia, karena meski konsepnya akhir tahun, tapi acaranya sendiri justru diadakan di awal tahun, sehingga euforianya tidak terbagi. Sampai saat ini aku masih deg-degkan kalau bertemu orang banyak, efek menyamar sebagai Gumi, tapi, di satu sisi aku tidak bisa selamanya bersembunyi. Sementara itu Gumi-nya sendiri sebagai gitaris justru memilih tidak hadir. "Ini bagian kamu," jelasnya tadi selagi membantuku memilih gaun dari stylish pribadi The Blues. "Selama ini kamu yang berjuang buat band, jadi kalau mereka berhasil mendapat penghargaan, kamu yang harus merayakan di sana bukan aku." Pola pikirnya semakin berkembang, dan aku menghargai keputusannya itu. "Lagian Bas maunya datang sama kamu daripada sama aku, sih." Then, di sinilah aku—atau lebih tepatnya kami. Melenggang di atas karpet merah yang digelar ala-ala Hollywood di antara
"Mama kerja di Bali.""Iya, Gumi udah bilang.""Mama jadi guide, waktu kabar kamu datang, Mama nggak bisa cepat-cepat pulang karena masih ada kerjaan.""Nggak masalah, Ma.""Lumayan hethic tahun baru ini... Mama sibuk ngurusin rombongan dari Rusia. Ada salah satu cowok yang kami akrab banget, rencananya mau Mama kenalin sama Gumi. Biar dia dapat jodoh, gitu.""Kalau Guminya mau.""Mau, ini cakep banget.""Menikah bukan soal cakep Ma.""Insya Allah bertanggung jawab.""Tanggung jawab nggak bisa hanya dikira-kira, terlalu riskan.""Yah terus maumu apa? Gumi nggak usah menikah lagi seumur hidup gitu?""Menolak satu cowok bukan berarti aku nggak suka Gumi menikah lagi. Dia masih terapi biar sembuh maksimal. Lagian dia cuma belum menikah Ma, bukan jadi gelandangan, jadi jangan kasihanin dia apalagi jodoh-jodohin gitu. Gumi bukan barang reject yang diobral sembarangan."Mama mendesa
"Selesai juga satu minggu ya." Aku meringis mendengar sindiran Prof Daniel yang pedas. "Lebih beberapa hari Pak, kemarin saya udah datang ke sini, tapi Bapak ternyata masih di Surabaya." "Ya makanya kenapa saya suruh kumpul sebelum pergantian tahun. Coba..." Dia membuka laptopnya dan aku tahu betul apa yang sedang beliau lakukan, mengecek hasil tugas analisisku. Padahal di meja sudah ada maket sekaligus hard copynya, di usia dosen seperti Prof Daniel yang biasanya capek kalau terlalu lama menatap komputer, beliau justru ingin semua serba digital. "Wah, nggak banyak yang dikoreksi ya, jadi kamu berpikir bangunan ini sudah oke semua?" tanya beliau tajam. "Kalau untuk kenyamanan pengunjung, Galatikos udah yang paling paten sih Pak. Di sana rapi, dan transisi dari satu ruangan ke ruangan lain itu seru." Dia mengangguk-angguk kecil, lalu menscroll layar yang kuyak







