تسجيل الدخولKegelapan malam di dalam kamar tidur itu terasa begitu pekat, seolah-olah waktu telah berhenti berputar untuk menyiksa Arini dalam kesunyian. Semalaman, Arini tidak bisa memejamkan mata sedikit pun, kelopak matanya terasa berat namun pikirannya terus terjaga, memutar ulang setiap inci penghinaan Sofia Wijaya.Setiap detak jantungnya terasa seperti ketukan palu yang menghantam ulu hati, menyisakan rasa sesak yang kian mencekik pernapasan. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, membiarkan air mata yang kering meninggalkan jejak perih di pipinya yang masih menyimpan bekas tamparan.Di balik pintu kayu yang mengunci dirinya, suasana di luar kamar sangat sunyi, tidak terdengar suara langkah kaki atau gumaman apa pun. Ketidakpastian itu justru membuat batin Arini kian bergejolak, menciptakan spekulasi-spekulasi menyakitkan tentang posisi dirinya di hidup Alvaro."Aku ini siapa bagi keluarga mereka?" bisik Arini lirih, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan fajar yang mul
Lampu lorong apartemen yang temaram menyambut kedatangan Arini dengan keheningan yang mencekam. Ia memasukkan kunci kartu ke dalam lubang pintu dengan tangan yang masih gemetar hebat, sisa dari ketegangan di lobi hotel tadi.Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang solid, Arini menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin. Kesunyian ruangan itu seolah menjadi ruang hampa yang menghisap seluruh oksigen di sekitarnya hingga dadanya terasa sesak.Di sana, di tengah kegelapan ruang tamu yang belum sempat ia nyalakan lampunya, Arini sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga di depan Sofia dan Alvaro akhirnya pecah, memenuhi sudut-sudut ruangan yang sepi.Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan luka batin yang baru saja ditorehkan oleh Sofia Wijaya. Setiap kata penghinaan wanita itu terus bergema di kepalanya, berputar-putar layaknya kaset rusak yang menyiks
Arini merasakan dadanya bergemuruh hebat seolah ada ombak besar yang menghantam dinding pertahanan batinnya secara bertubi-tubi. Namun, ia segera memaksa jemarinya yang sempat mengepal sangat erat di bawah meja jati tersebut untuk perlahan-lahan mulai melemas.Ia menarik napas panjang, membiarkan pasokan oksigen yang murni itu mendinginkan suhu kepalanya yang sempat mendidih akibat hinaan sistematis dari Sofia Wijaya. Arini menyadari bahwa kemarahan yang meledak-ledak hanya akan menjadi bumerang yang merugikan posisi tawarnya di depan wanita penguasa ini.Ia tidak akan membiarkan dirinya terjatuh ke dalam amarah yang rendah dan tidak terkendali, karena hal itu hanya akan membuktikan tuduhan Sofia selama ini. Arini menolak untuk terlihat seperti wanita murahan yang tidak layak berada di lingkungan eksklusif yang sangat diagungkan oleh keluarga besar Wijaya.Arini mengangkat dagunya dengan sangat an
Sisa saus di piring telah mengering, menandakan jamuan makan malam yang tenang itu telah mencapai puncaknya. Alvaro meletakkan serbetnya di atas meja dengan gerakan perlahan, lalu menatap Arini dengan binar mata yang dipenuhi kasih sayang sekaligus kekhawatiran yang samar."Gimana, Rin? Apa ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi malam ini?" tanya Alvaro dengan suara baritonnya yang menyejukkan. "Mungkin kita bisa sekadar berkendara keliling kota untuk melihat lampu-lampu?"Arini memberikan senyum tipis, namun matanya tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang mulai menjalar di balik kelopak matanya. "Aku rasa aku sudah kenyang dan sangat lelah, Kak. Aku cuma ingin pulang dan mengistirahatkan pikiranku sebentar."Alvaro mengangguk paham, ia segera bangkit dan meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi. "Tentu. Kamu tunggu aja di lobi bawah ya, biar aku yang ambil mobil ke parkiran supaya kamu nggak perlu jalan jauh."Arini menurutinya tanpa memba
Namun, Arini segera memalingkan wajahnya dengan gerakan yang sangat halus dan memilih untuk kembali menatap lekat ke arah mata Alvaro yang menenangkan. Ia menolak keras untuk membiarkan bayang-bayang kehadiran wanita itu merusak momen makan malam yang sangat berharga dan langka bagi hubungan mereka ini."Ada apa, Rin? Apakah kamu baru saja melihat sesuatu yang cukup mengganggu pikiranmu di bawah sana?" tanya Alvaro yang sangat peka menyadari perubahan arah pandang Arini.Arini menggelengkan kepala dengan gerakan cepat, ia memaksakan sebuah senyum yang kali ini terasa jauh lebih tulus dan hangat guna menenangkan kekhawatiran Alvaro. "Nggak ada apa-apa yang penting, Kak. Aku cuma mau fokus penuh ke kamu saja sekarang, tanpa memikirkan hal lain di luar meja ini."Alvaro sedang memotong daging steak premium di piringnya dengan gerakan tangan yang sangat presisi, menunjukkan konsentrasi yang luar bia
Alvaro masih menggenggam jemari Arini dengan sangat erat, seolah ia sedang berusaha menyalurkan seluruh sisa kekuatan maskulin yang ia miliki. Ia mengusap punggung tangan Arini dengan ibu jarinya, sebuah gerakan melingkar yang sangat konsisten guna menenangkan saraf-saraf Arini yang sempat menegang hebat.Sentuhan yang lembut namun kokoh itu perlahan mulai mengurai simpul kecemasan yang sejak pagi tadi menghimpit dada Arini dengan sangat menyesakkan. Mereka duduk diam dalam posisi tersebut selama sepuluh menit penuh tanpa melakukan aktivitas lain, membiarkan keheningan ruangan kantor menjadi saksi bisu penyatuan visi mereka.Tidak ada suara lembaran berkas yang dibalik, tidak ada dering telepon yang berani mengganggu, hanya ada helaan napas yang kian lama kian teratur. Arini merasakan detak jantungnya yang semula berpacu liar kini mulai melambat, mengikuti ritme ketenangan yang dipancarkan oleh kehadiran Alvaro di sisinya.







