Beranda / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 34. PERSEMBUNYIAN DI BALIK HUJAN

Share

34. PERSEMBUNYIAN DI BALIK HUJAN

Penulis: vitafajar
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 22:29:27

Pagi itu, suasana di ruang makan terasa sangat ganjil. Cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela besar tampak begitu cerah, seolah-olah mengkhianati rencana gelap yang sedang berputar di balik tembok rumah Baskoro.

Arini duduk dengan tenang, menyesap teh hangatnya, sementara dokumen bom waktu yang telah ditukar oleh Alvaro semalam tersimpan rapi di dalam tas kerjanya yang diletakkan di kursi sebelah.

Adrian muncul dengan setelan jas abu-abu gelap, wajahnya tampak san

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   108. CAHAYA DI UJUNG BADAI

    Suasana di dalam ruang sidang mendadak menjadi sangat hening saat Hakim Ketua mengetuk palunya satu kali, menandakan ia siap membacakan poin-poin pertimbangan sela. Arini merasakan jemarinya yang saling bertautan mulai mendingin, sementara di sampingnya, Alvaro duduk dengan punggung tegak dan rahang yang mengeras tanda fokus penuh."Menimbang bukti-bukti elektronik berupa log aktivitas digital serta mutasi rekening yang telah diaudit, Majelis Hakim menyatakan seluruh bukti tersebut sah dan meyakinkan," ucap Hakim Ketua dengan suara bariton yang menggema tegas.Tak lama kemudian, Hakim Ketua mengalihkan pandangannya pada tumpukan berkas kronologi medis yang sempat menjadi perdebatan panjang di sesi sebelumnya."Hakim juga menekankan bahwa bukti keterlibatan pihak tergugat atas insiden yang menyebabkan keguguran penggugat akan menjadi variabel utama," lanjut sang Hakim sembari menatap Adrian dengan sorot mata menghakimi.Di balik meja hakim yang tinggi, pernyataan itu dijatuhkan layakny

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   107. SKAKMAT UNTUK LASTRI

    Gema bisikan di dalam ruang sidang perlahan mereda saat Alvaro kembali berdiri dari kursinya dengan gestur yang sangat tenang namun penuh intimidasi. Ia membetulkan letak mikrofon di depannya, menatap hakim dengan sorot mata tajam yang seolah siap meluncurkan serangan pamungkas."Yang Mulia, untuk memperkuat bukti manipulasi digital yang sudah saya paparkan, pihak kami telah menghadirkan seorang saksi ahli forensik IT independen," ujar Alvaro dengan nada suara yang berwibawa.Seorang pria berkacamata dengan setelan rapi melangkah masuk ke ruang sidang setelah dipersilakan oleh hakim, membawa sebuah tas laptop yang berisi instrumen teknis. Arini meremas jemarinya di bawah meja, merasakan detak jantungnya berpacu kencang saat melihat Lastri yang duduk di barisan kursi penonton mulai gelisah dan memperbaiki posisi duduknya berkali-kali."Saudara Saksi, silakan jelaskan temuan Anda mengenai keterkaitan perangkat keras yang digunakan untuk menyebarkan fitnah terhadap klien saya," perintah

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   106. RETAKAN PERCAYA DIRI

    Malam semakin larut ketika Alvaro akhirnya menutup map cokelat terakhir di atas meja kerja Arini. Aroma kopi yang sudah mendingin menguap di udara, beradu dengan ketegangan sunyi yang menyelimuti ruangan apartemen itu."Sudah, Rin. Jangan dipikirkan lagi. Semuanya sudah selesai aku siapkan dengan matang," ucap Alvaro sembari merapikan letak kacamatanya.Arini menatap tumpukan berkas yang kini tersusun rapi, namun kecemasan di matanya belum benar-benar pudar. "Tapi, Kak ... apa bukti-bukti ini cukup? Aku takut Adrian punya cara lain buat memutarbalikkan fakta lagi di depan hakim."Sambil bangkit dari kursinya, Alvaro melangkah mendekati Arini dan menepuk bahunya pelan untuk memberikan ketenangan. "Percaya sama aku. Besok bukan waktunya buat takut, tapi waktunya buat kamu mengambil kembali apa yang memang hakmu."Alvaro kemudian melirik jam tangannya yang melingkar elegan, menunjukkan angka yang sudah melewati tengah malam. "Sekarang, kamu harus istirahat. Aku nggak mau klienku tampak k

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   105. LABIRIN KEINGINAN

    Arini memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan bagaimana ciuman Alvaro menelan seluruh keraguannya dan menggantinya dengan rasa aman yang luar biasa. Tangannya yang tadi berada di pipi Alvaro kini berpindah ke pundak pria itu, meremas kain jas mahalnya sembari membalas tautan bibir mereka dengan intensitas yang sama.Di bawah bayangan pohon rindang dan saksi bisu jernihnya air danau, mereka berdua seolah larut dalam dunia yang hanya milik mereka sendiri."Mmhh ...." Sebuah desahan halus lolos dari bibir Arini saat lidah mereka saling bertautan, menciptakan simfoni gairah yang memabukkan di tengah kesunyian danau.Tidak ada lagi ketakutan akan Sofia atau bayang-bayang perceraian dengan Adrian, yang ada hanyalah dua jiwa yang saling mengikatkan janji di antara lumatan bibir yang kian dalam. Alvaro mempererat dekapannya, membawa tubuh Arini semakin merapat hingga tidak ada lagi celah udara yang memisahkan mereka.Ciuman itu terus berlanjut, semakin intens dan menuntut, seolah mereka ber

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   104. CIUMAN YANG MENENANGKAN

    Deru mesin mobil yang dikendarai Alvaro perlahan melambat, membelah keheningan jalanan setapak yang jarang dilalui kendaraan umum. Di ujung jalan tersebut, sebuah bentangan danau dengan air yang masih jernih memantulkan cahaya langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.Tanpa banyak bicara, Alvaro menepikan kendaraannya tepat di bawah pohon rindang yang dahan-dahannya menjuntai hampir menyentuh permukaan air. Suasana tenang itu seolah menjadi tirai pelindung bagi mereka, menjauhkan hiruk-pikuk ancaman Sofia dan intrik keluarga Wijaya yang baru saja mereka tinggalkan di gedung restoran.Di dalam kabin mobil, kesunyian sempat meraja selama beberapa menit, hanya menyisakan suara detak jam di dasbor yang terdengar begitu ritmis. Alvaro tidak segera mematikan mesin, ia justru membiarkan tangannya tetap berada di lingkar kemudi sembari menatap lurus ke arah riak air yang tenang di hadapan mereka.Tanpa mengalihkan pandangan, Arini bisa merasakan aura kegelisahan yang masih

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   103. REDAM DALAM DIAM

    Langkah kaki Alvaro yang panjang dan tergesa menyeret Arini menyusuri lorong restoran, menciptakan gema yang beradu dengan detak jantung Arini yang tidak keruan. Di balik punggung tegap itu, Arini cuma bisa pasrah mengikuti tarikan yang terasa begitu kaku dan penuh amarah yang tertahan.Lantaran emosi yang meluap, wajah Alvaro terlihat sangat tegas dengan rahang yang mengunci rapat. Ia seolah merasa satu tarikan napas saja bisa meledakkan segala amarah yang sejak tadi ia bendung. Ketegangan yang memancar dari tubuh pria itu begitu pekat sampai Arini tidak berani sekadar buka mulut untuk menginterupsi langkah mereka.Sama halnya dengan kemarahan di wajahnya, tanpa disadari Alvaro, cengkeraman jemarinya di lengan atas Arini makin menguat seiring deru amarah yang berkecamuk di dalam kepalanya. Rasa panas dan perih mulai menjalar di kulit Arini yang sensitif.Karena tekanan itu, Arini refleks meringis pelan saat cengkeraman Alvaro terasa mulai menyentuh tulang. Ia ingin bicara, tapi aura

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status