Beranda / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 55. JEBAKAN TERAKHIR UNTUK ADRIAN

Share

55. JEBAKAN TERAKHIR UNTUK ADRIAN

Penulis: vitafajar
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-19 16:53:27

Alvaro tidak melepaskan dekapannya meski Arini sudah mulai tenang. Ia membiarkan keheningan itu menyelimuti mereka selama beberapa menit lagi, seolah ingin memastikan bahwa sumpah yang baru saja ia ucapkan benar-benar meresap ke dalam sanubari wanita itu. Arini adalah miliknya, bukan sebagai aset, melainkan sebagai belahan jiwa yang sempat hilang.

"Ayo, kita sarapan. Kamu butuh energi untuk menghadapi apa yang akan terjadi siang nanti," ucap Alvaro sembari bangkit dari ranjang.

Berbeda dengan A
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   102. AMBANG BATAS

    Serangan balik itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik yang ia terima tadi, karena Arini tepat membidik titik terlemah dalam ego seorang Sofia Wijaya. Sofia mundur selangkah, napasnya mulai tidak beraturan karena ia tidak menyangka wanita yang dianggapnya lemah ini memiliki taring yang begitu tajam."Satu hal lagi, Tante. Saya datang ke sini bukan karena saya takut Alvaro akan hancur jika saya nggak muncul," ucap Arini sembari merapikan pakaiannya dengan gerakan yang sangat anggun.Arini menatap Sofia dengan sorot mata penuh belas kasihan, sebuah tatapan yang benar-benar menjatuhkan martabat Sofia ke titik terendah pagi ini. "Saya datang karena saya ingin melihat seberapa jauh Tante rela jatuh hanya untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah lama hilang dari genggaman Tante."Lalu, Arini mengambil tasnya yang tergeletak di meja, bersiap untuk meninggalkan ruangan yang kini terasa sangat sempit bagi seorang Sofia Wijaya. Ia tidak lagi merasa kecil atau tidak p

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   101. JAMUAN LUKA

    Getar ponsel di atas nakas apartemennya terasa seperti lonceng kematian bagi Arini. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenalyang ia yakini adalah Sofia Wijaya, membuat napasnya tercekat seketika."Datanglah jika kamu tidak ingin melihat Alvaro benar-benar hancur tidak bersisa," begitu bunyi teks yang terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan.Di dalam taksi menuju pusat kota, Arini menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang mulai dibasahi rintik gerimis.‘Apa aku benar-benar pembawa sial, seperti yang mereka katakan?’ batinnya sembari meremas jemari yang terasa sedingin es.Ia teringat bagaimana Alvaro mengorbankan segalanya, memutus akses dari keluarganya, dan berdiri di depan hukum hanya untuk melindunginya.Ketakutan terbesar Arini bukanlah pada ancaman Sofia, melainkan pada kemungkinan bahwa keberadaannya memang merusak masa depan pria yang ia cintai.‘Jika harga kebebasanku adalah kehancuran karir dan hidup Kak Alvaro, apakah aku sanggup menanggung rasa bersalah itu

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   100. KEMARAHAN KELUARGA

    Suasana di kediaman utama keluarga Wijaya pagi itu terasa mencekam, seolah oksigen di dalam ruangan luas itu telah tersedot habis oleh kemarahan yang membara. Di atas meja marmer yang dingin, sang ayah membanting koran pagi dengan tenaga yang cukup kuat hingga menciptakan suara debuman yang menggema ke seluruh penjuru aula.Berita di halaman utama menampilkan foto Alvaro yang sedang melangkah keluar dari pengadilan dengan wajah tenang. Di bawah tajuk berita itu, terpampang kemenangan gemilang kasus komersial dan progres gugatannya yang mematikan."Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya! Berani-beraninya dia memamerkan kemenangan di saat kita sedang mencoba memberinya pelajaran!" geram pria paruh baya itu dengan napas memburu.Sama halnya dengan kakek Alvaro, pria tua yang duduk di kursi kebesarannya itu hanya terdiam dengan rahang mengeras. Matanya menatap kosong ke arah koran tersebut. Beliau merasa otoritas absolut keluarga Wijaya yang telah dibangun puluhan tahun kini diinj

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   99. KEMENANGAN MUTLAK ALVARO WIJAYA

    Lastri menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin, wajahnya yang biasa dipenuhi riasan mahal kini tampak pucat dan kuyu. Ia menatap pengacaranya dengan tatapan putus asa, seolah pria di hadapannya itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra masalah yang sedang menenggelamkannya."Sebutkan berapa pun biayanya, saya nggak peduli. Gimana caranya supaya saya sama anak saya bisa benar-benar bebas dari jeratan hukum sialan ini?" tanya Lastri dengan suara gemetar yang berusaha ia buat tetap angkuh.Pengacara tersebut menghela napas panjang sembari merapikan tumpukan berkas yang semakin tebal di atas meja. Ia menggelengkan kepala perlahan, memberikan kenyataan pahit yang sejak tadi coba ia sampaikan melalui bahasa hukum yang rumit."Jujur saja, Ibu Lastri, situasinya sangat sulit bagi kita sekarang. Bukti-bukti yang dikumpulkan tim Alvaro Wijaya terlalu solid, mulai dari rekaman CCTV, audit keuangan, sampai keterangan saksi kunci," ujar sang pengacara dengan nada rendah.Adria

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   98. DARI KEBANGGAAN MENJADI PECUNDANG

    Alvaro menggelengkan kepala perlahan, mencoba mengusir sesak yang sempat mampir di dadanya setelah Arini melangkah pergi. Ia tahu, menjaga jarak adalah satu-satunya cara untuk mematikan amunisi fitnah yang lagi dikumpulkan Adrian, namun membiarkan Arini benar-benar sendirian adalah hal yang mustahil baginya.Di dalam kesunyian kabin mobil, Alvaro mengambil ponsel dan menekan sebuah nomor yang hanya ia hubungi untuk urusan paling krusial. Tak butuh waktu lama sampai suara berat di seberang sana menyahut, menunggu instruksi dengan kesigapan profesional."Pantau apartemen Arini dua puluh empat jam mulai detik ini. Perketat penjagaan, pastikan nggak ada satu pun orang asing, termasuk Lastri atau wartawan, yang bisa melewati lobi tanpa sepengetahuan saya!" perintah Alvaro. Nada suaranya dingin dan tak terbantahkan.Ia terdiam sejenak, menatap menatap foto Arini. "Jangan sampai dia merasa terganggu atau sadar lagi diikuti. Cukup pastikan dia aman, dan lapor ke saya setiap tiga jam."Setelah

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   97. PEMBERSIHAN JEJAK

    Tanpa memedulikan teriakan terakhir Adrian, Alvaro berdiri dengan tenang dan merapikan kancing jasnya. Baginya, suara pria di hadapannya hanyalah kebisingan latar yang tidak berarti. Ia segera memberikan isyarat kepada Arini untuk bangkit, memastikan tubuh tegapnya menjadi penghalang alami agar Adrian tidak bisa mendekati wanita itu lagi."Ayo, Rin. Kita nggak perlu buang energi lebih banyak buat hadapi orang yang lagi kehilangan kendali diri sendiri," bisik Alvaro. Nada suaranya terdengar sangat menenangkan di telinga Arini.Sambil menggenggam erat tali tasnya, Arini melangkah keluar dari ruang mediasi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia meninggalkan Adrian yang masih bersitegang dengan kuasa hukumnya sendiri. Arini merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat karena setidaknya, untuk hari ini, konfrontasi yang menguras batin itu telah berakhir.Tak lama kemudian, pintu jati ruang sidang tertutup rapat. Di dalam sana, Adrian terduduk lesu sembari meratapi kenyataan bahwa semua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status