Masuk"Arini! Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka nggak?" suara Alvaro terdengar parau, sarat akan kepanikan yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar.Dekapannya begitu erat, seolah ia ingin menyembunyikan seluruh tubuh Arini di balik dadanya yang bidang.Arini bisa merasakan deru napas Alvaro yang memburu di puncak kepalanya. Getaran hebat yang merambat dari tubuh pria itu akibat lonjakan adrenalin yang luar biasa juga bisa ia rasakan.Wanita itu mengerjap perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang tersapu angin ketakutan. Bau tanah basah dan aroma khas keramik pecah menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengingatkannya pada bahaya yang baru saja melintas.Ia mendongak perlahan, menatap wajah Alvaro yang kini berada tepat di depan matanya. Wajah yang biasanya tenang dan terkendali itu kini tampak pucat, dengan rahang yang terkatup rapat menahan sesuatu yang Arini yakini adalah rasa sakit yang sangat hebat."A-aku ... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Arini dengan su
Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan keanggunan yang mengintimidasi setiap pasang mata yang melihatnya. Di dalam kabin yang kedap suara, ketegangan masih terasa sangat pekat, seolah oksigen di sana ikut menegang mengikuti suasana hati penumpangnya.Arini duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan untuk menahan gemetar halus yang sesekali muncul. Blazer putih tulang yang ia kenakan memberikan kesan bersih dan berwibawa, namun di balik itu, ia masih merasakan sisa-sisa pegal yang luar biasa dari malam panjang mereka.Alvaro duduk di sampingnya, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengeras sempurna. Aura predator yang terpancar dari suaminya masih sangat kuat, sisa dari perang yang baru saja ia deklarasikan terhadap klan Wijaya di jalanan tadi.Keheningan itu pecah ketika ponsel Alvaro yang diletakkan di antara mereka bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar. Aditya Wijaya.Alvaro terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat pa
Kamar utama apartemen itu kini dipenuhi aroma kopi yang kuat dan harumnya roti panggang, kontras dengan sisa-sisa aroma gairah yang masih tertinggal di setiap sudut ruangan. Arini masih terdiam di atas ranjang, bibirnya mengerucut sebal meski tangannya tetap menerima suapan omelet dari Alvaro.Setiap kali ia mencoba bergerak untuk membetulkan posisi duduknya, ia kembali meringis tertahan. Rasa pegal di pinggang dan pangkal pahanya benar-benar menjadi pengingat yang nyata betapa "buasnya" Alvaro semalam saat mereka berada di balik pintu tertutup."Pelan-pelan makannya, Rin. Nanti kamu tersedak," ucap Alvaro dengan nada suara yang begitu lembut, kontras dengan kekuatannya yang luar biasa beberapa jam lalu."Habisnya Kakak sih ... ahh, sudahlah! Aku bener-bener kesal," gerutu Arini sembari mengunyah. "Kakak kelihatan seger banget, sedangkan aku merasa tulangku mau lepas semua. Ini nggak adil!"Alvaro terkekeh rendah, suara tawa baritonnya yang renyah memenuhi seisi kamar. Ia meletakkan g
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menciptakan garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas kelopak mata Arini. Wanita itu mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya yang sangat berharga.Namun, begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk sekadar berbalik posisi, sebuah rasa nyeri yang tumpul menjalar dari pinggang hingga ke seluruh ujung kakinya. Sensasi pegal yang luar biasa itu seolah mengunci pergerakannya di atas kasur."Aduh ...," rintih Arini pelan sembari meringis menahan perih.Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan yang sudah terang. Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menyentuh kulit bahunya yang polos di balik selimut sutra yang berantakan.Arini menoleh ke sisi ranjang di sebelahnya, berharap menemukan sosok pria yang menjadi alasan seluruh tubuhnya terasa seperti habis dihantam ombak besar. Namun, s
Dinding-dinding walk-in closet yang elegan itu seolah tidak lagi mampu menampung energi panas yang meledak di antara keduanya. Di bawah temaram cahaya lampu yang kuning keemasan, Alvaro masih menggendong Arini dalam posisi yang sangat intim dan menuntut kekuatan fisik yang luar biasa.Keringat mulai bercucuran dari pelipis Alvaro, mengalir turun melewati leher dan membasahi kemeja putihnya yang kini sudah tidak lagi rapi. Namun, kekuatan otot lengannya seolah tidak memiliki batas, ia tetap menopang berat tubuh Arini sembari terus melakukan gerakan memaju-mundurkan pinggulnya dengan tenaga yang kian liar."Nngghhh ... Kak ... pelan-pelan ... ahh! Kita mau ke mana sih?" rintih Arini di sela-sela desahannya yang tersengal hebat.Kepalanya terkulai lemas di bahu kokoh Alvaro, namun kedua tangan Arini masih meremas kain kemeja suaminya dengan sangat erat. Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata, fokusnya sepenuhnya tercurah pada rasa nikmat yang menghantam setiap sel tubuhnya saat ini.Deng
Suasana di dalam walk-in closet yang mewah itu semakin memanas, oksigen seolah menipis tertutup oleh kabut gairah yang begitu pekat. Alvaro tidak lagi memberikan celah bagi Arini untuk sekadar menarik napas panjang. Dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat pinggul Arini, ia semakin memaju-mundurkan pinggulnya dengan ritme yang kian kencang dan bertenaga.Bunyi gesekan kulit dan deru napas yang memburu menjadi satu-satunya melodi yang memenuhi ruangan kedap suara itu."Nngghhh ... Kak ... ahh! Kak Alvaro!" desahan Arini pecah, suaranya bergetar hebat saat ia merasakan setiap dorongan Alvaro yang semakin dalam dan menuntut.Mata Alvaro yang gelap dan tajam tetap terkunci pada pantulan tubuh mereka di cermin besar di depan mereka. Ia ingin melihat setiap reaksi Arini, ingin merekam bagaimana wanita itu menyerah sepenuhnya di bawah kendalinya.Dengan gerakan yang kasar namun penuh damba, Alvaro menurunkan tali lingerie sutra merah di bahu kanan Arini. Kain tipis itu meluncur jatuh, memb
Lampu-lampu lobi hotel yang temaram memantulkan bayangan Alvaro yang bergerak cepat melintasi lantai granit yang dingin. Segera setelah meninggalkan apartemen Arini dengan duka yang masih menggantung di udara, ia langsung menghubungi tim hukumnya untuk memastikan tidak ada satu pun celah yang tersi
Cahaya lampu apartemen yang berpendar hangat menyambut kepulangan Arini malam itu, memberikan kontras yang nyata dengan dinginnya ubin ruang sidang yang baru saja ia tinggalkan. Kemenangan mutlak atas drama digital Lastri dan penahanan Adrian seolah menjadi oksigen baru yang mengisi paru-parunya se
Bunyi jeruji besi yang beradu dengan bingkai pintu menciptakan dentuman logam yang memekakkan telinga, mengakhiri sisa-sisa harapan Adrian pagi ini. Langkah kakinya terseret gontai saat petugas kepolisian mendorong bahunya dengan kasar masuk kembali ke dalam sel yang pengap.Aroma pesing yang berca
Suasana di dalam ruang sidang mendadak menjadi sangat hening saat Hakim Ketua mengetuk palunya satu kali, menandakan ia siap membacakan poin-poin pertimbangan sela. Arini merasakan jemarinya yang saling bertautan mulai mendingin, sementara di sampingnya, Alvaro duduk dengan punggung tegak dan rahan







