بيت / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 130. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

مشاركة

130. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

مؤلف: vitafajar
last update تاريخ النشر: 2026-03-12 11:25:47

"Laporannya sudah masuk, Pak. Pihak kepolisian sudah di lokasi buat pastiin semua aset keluar dari daftar kepemilikan Adrian Baskoro sore ini juga," ucap sekretaris itu sembari menyerahkan draf laporan final.

Arini hanya mengangguk pelan menanggapi kabar tersebut tanpa ada keinginan sedikit pun untuk datang langsung ke lokasi penyitaan. Ia tidak lagi tertarik untuk melihat bagaimana rumah penuh kenangan buruk itu dikosongkan karena baginya tempat tersebut sudah mati sejak lama.

Sama halnya deng
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   186. MEMBASUH LUKANYA

    Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu. Keheningan yang tercipta seolah menjadi ruang bagi Alvaro untuk meredam sisa-sisa amarahnya. Alvaro akhirnya menoleh pada Kael. Asisten setianya itu masih berdiri mematung setelah menyaksikan badai pertengkaran hebat antara majikannya dengan sang ayah.“Siapkan mobil, kita pulang ke apartemen sekarang,” perintah Alvaro. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di sana.Arini mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya. “Masih ada masalah yang harus aku selesaikan di sini, Kak. Kita nggak bisa pulang begitu saja,” protes Arini pelan. Pikirannya masih tertinggal pada tumpukan berkas dan kekacauan di ruang rapat tadi.Namun, Alvaro hanya menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. “Kita pulang. Kamu percayakan saja urusan perusahaan sama aku, hmm?”Alvaro mengusap puncak kepala Arini, mencoba menyalurkan keyakinan. Arini masih terlihat tidak rela, bibirnya terkatup

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   185. PELINDUNG DI BALIK LUKA

    Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   184. SINGGASANA BERDARAH

    Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   183. PERISAI SANG KAISAR

    Sofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   182. SINGA YANG TERLUKA

    Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   181. SERANGAN TAK TERDUGA

    "Arini! Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka nggak?" suara Alvaro terdengar parau, sarat akan kepanikan yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar.Dekapannya begitu erat, seolah ia ingin menyembunyikan seluruh tubuh Arini di balik dadanya yang bidang.Arini bisa merasakan deru napas Alvaro yang memburu di puncak kepalanya. Getaran hebat yang merambat dari tubuh pria itu akibat lonjakan adrenalin yang luar biasa juga bisa ia rasakan.Wanita itu mengerjap perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang tersapu angin ketakutan. Bau tanah basah dan aroma khas keramik pecah menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengingatkannya pada bahaya yang baru saja melintas.Ia mendongak perlahan, menatap wajah Alvaro yang kini berada tepat di depan matanya. Wajah yang biasanya tenang dan terkendali itu kini tampak pucat, dengan rahang yang terkatup rapat menahan sesuatu yang Arini yakini adalah rasa sakit yang sangat hebat."A-aku ... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Arini dengan su

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   26. LUKA YANG BERTERIAK

    "Betul sekali, Pak Alvaro," sahut Arini manis. "Terkadang aku merasa Mas Adrian ini terlalu percaya diri sampai tidak sadar kalau tanah yang dia injak sebenarnya sudah mulai bergeser. Dia terlalu sibuk dengan asistennya yang ... ya, kalian tahu sendiri, asisten yang mengurus segala kebutuhannya sam

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   25. MAKAN MALAM KOLEGA

    Mobil BMW hitam milik Adrian meluncur tenang membelah kemacetan Jakarta yang mulai mereda di malam hari. Di dalam kabin yang senyap dan harum aroma kayu cendana, Arini duduk bersandar sembari menatap lampu-lampu kota yang berpendar di balik jendela. Adrian, yang duduk di sampingnya, sesekali meliri

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   24. RETAKAN SEMAKIN DALAM

    "Mas, kasihan Mbak Sumi. Dia sudah mengabdi di rumah ini bertahun-tahun," ucap Arini dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, memecah keheningan yang tegang setelah bentakan Adrian di dapur tadi.Arini melangkah mendekat, seolah-olah ia harus menopang tubuhnya sendiri pada meja makan aga

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   23. TEROR PSIKIS UNTUK DEWI

    Taksi yang membawa Arini berhenti sekitar seratus meter dari gerbang rumah. Arini segera turun, payung lipat kecil yang ia beli di minimarket dekat taman tadi hanya mampu menahan sebagian terpaan hujan yang kini mulai mereda menjadi gerimis tipis.Ia berjalan cepat, mencoba mengatur napasnya yang m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status