بيت / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 134. HADIAH TAK TERDUGA

مشاركة

134. HADIAH TAK TERDUGA

مؤلف: vitafajar
last update آخر تحديث: 2026-03-14 21:56:53

Hingga akhirnya, makanan penutup berupa cokelat lava yang masih hangat disajikan sebagai penutup manis dari rangkaian jamuan makan malam mereka. Arini merasakan sensasi cokelat cair yang lumer di lidah, memberikan rasa bahagia yang seolah melengkapi kemenangan besar yang ia raih hari ini.

"Cokelatnya juara sih ini. Kayaknya aku bisa deh makan ini setiap hari kalau rasanya seenak ini," gumam Arini dengan binar mata yang terlihat sangat puas.

Alvaro hanya tersenyum sembari menopang dagu dengan ta
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   135. TARIAN SANG ANGSA

    Arini merasakan sesak di dadanya perlahan menghilang dan digantikan oleh rasa haru yang amat sangat mendalam karena merasa begitu dipahami oleh pria ini. Ia menyadari bahwa Alvaro tidak sedang mencoba mengikatnya dengan rantai baru, melainkan memberinya sayap untuk terbang lebih tinggi."Makasih ya, Kak. Makasih karena selalu tahu apa yang aku butuhin tanpa aku harus minta atau jelasin panjang lebar," bisik Arini sembari menatap cincin berlian tersebut dengan mata berkaca-kaca.Mendengar penjelasan Alvaro yang begitu dewasa, Arini merasakan setetes air mata haru jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. Ia merasa sangat tersentuh karena Alvaro tidak hanya mencintainya, tetapi juga menghormati proses pemulihan batinnya yang masih membutuhkan waktu.Alvaro tersenyum lebar dan segera mengambil cincin tersebut dari kotaknya lalu memasangkannya di jari manis Arini dengan gerakan yang sangat lembut. Ia memperlakukan tangan wanita itu seolah-olah sedang menyentuh porselen paling berharga yang

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   134. HADIAH TAK TERDUGA

    Hingga akhirnya, makanan penutup berupa cokelat lava yang masih hangat disajikan sebagai penutup manis dari rangkaian jamuan makan malam mereka. Arini merasakan sensasi cokelat cair yang lumer di lidah, memberikan rasa bahagia yang seolah melengkapi kemenangan besar yang ia raih hari ini."Cokelatnya juara sih ini. Kayaknya aku bisa deh makan ini setiap hari kalau rasanya seenak ini," gumam Arini dengan binar mata yang terlihat sangat puas.Alvaro hanya tersenyum sembari menopang dagu dengan tangan kanan, matanya tidak lepas memperhatikan setiap ekspresi yang muncul di wajah Arini. Ia merasa bahwa melihat Arini bisa tertawa lepas dan menikmati makanan dengan tenang adalah sebuah pencapaian yang jauh lebih besar daripada memenangkan kasus apa pun."Boleh aja kalau mau makan ini tiap hari, asal kamu siap aku culik ke sini setiap malam pulang kerja," balas Alvaro dengan nada suara yang rendah namun penuh dengan keseriusan.Arini tertawa renyah menanggapi rayuan Alvaro yang kian berani se

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   133. MAKAN MALAM ROMANTIS

    Arini segera menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya dengan gerakan yang anggun. Seketika itu juga, pemandangan di depan pintu apartemen mendadak membeku saat sosok Arini muncul dengan segala kemewahan yang ia pancarkan.Alvaro berdiri kaku dengan mulut yang sedikit terbuka, matanya tidak berkedip sedikit pun saat menyapu penampilan Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria yang biasanya sangat fasih bicara di depan hakim itu mendadak kehilangan seluruh kosakatanya, seolah lidahnya kelu karena pesona yang tidak terduga ini."Kak? Kenapa diam aja? Ada yang salah ya sama dandananku? Apa gaunnya nggak cocok?" tanya Arini sembari memiringkan kepalanya karena bingung melihat reaksi Alvaro.Alvaro berdeham berkali-kali guna menetralkan kegugupan yang mendadak menyerang sistem sarafnya dengan sangat hebat. Ia mengerjapkan matanya, mencoba kembali ke dunia nyata setelah sempat tersesat dalam kecantikan wanita yang kini

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   132. PERAYAAN KECIL

    "Aku ke sini bukan buat jenguk kamu kayak yang kamu bayangin, Mas. Aku cuma mau kasih 'hadiah' terakhir dariku," ujar Arini dengan nada datar.Adrian segera meraih map tersebut dan membukanya dengan tangan gemetar karena rasa takut yang masih tersisa di dalam benaknya. Matanya menyapu deretan kalimat di dalam draf tersebut hingga wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat menyadari arti dari dokumen yang ia pegang."Rin, tolong jangan lakuin ini. Ini satu-satunya sisa hartaku buat bertahan hidup nanti pas keluar ... kenapa kamu sekejam ini sama aku?" rintih Adrian sembari menangis deras.Arini mendekatkan wajahnya ke arah kaca sembari menatap tepat ke dalam manik mata Adrian yang kini dipenuhi oleh keputusasaan yang sangat dalam. Ia merasakan luka lamanya berdenyut kembali, namun kali ini ia menjadikannya sebagai bahan bakar untuk memberikan pembalasan yang setimpal."Kejam? Kamu bicara soal kekejaman setelah apa yang kamu sama ibumu lakuin ke aku selama bertahun-tahun, dan perselingkuh

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   131. HADIAH TERAKHIR

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela apartemen dan menyinari meja makan tempat Arini serta Alvaro sedang menikmati kopi mereka. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah sedikit tegang saat Arini meletakkan cangkirnya sembari menatap Alvaro dengan binar mata serius."Kak, hari ini aku mau pergi sebentar. Aku mau nemuin Mas Adrian di Lapas," ucap Arini dengan nada suara yang diusahakan terdengar kasual.Seketika itu juga, Alvaro yang sedang menyesap kopinya tersedak pelan hingga matanya membelalak lebar seolah Arini baru saja mengabarkan berita kiamat. Ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar ke atas meja, lalu melipat tangan di dada dengan bibir yang mendadak maju beberapa sentimeter."Mau apa lagi ketemu dia? Kan, semuanya udah selesai, Rin. Nggak ada alasan lagi buat kamu deket-deket sama orang itu!" cetus Alvaro dengan nada suara ketus.Arini mengerutkan kening sembari menahan senyum saat melihat ekspresi pengacara hebat di depannya yang kini just

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   130. PENYESALAN YANG TERLAMBAT

    "Laporannya sudah masuk, Pak. Pihak kepolisian sudah di lokasi buat pastiin semua aset keluar dari daftar kepemilikan Adrian Baskoro sore ini juga," ucap sekretaris itu sembari menyerahkan draf laporan final.Arini hanya mengangguk pelan menanggapi kabar tersebut tanpa ada keinginan sedikit pun untuk datang langsung ke lokasi penyitaan. Ia tidak lagi tertarik untuk melihat bagaimana rumah penuh kenangan buruk itu dikosongkan karena baginya tempat tersebut sudah mati sejak lama.Sama halnya dengan penyelesaian tugasnya, sekretaris itu kemudian merapikan berkas-berkas di tangannya dan memberikan senyum sopan ke arah Arini serta Alvaro. Ia menyadari bahwa suasana di ruangan itu sangat intim dan tenang sehingga ia tidak ingin berlama-lama mengganggu momen tersebut."Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu. Saya bakal koordinasikan sisa administrasi di meja depan biar Bapak sama Ibu nggak terganggu lagi," pamit sekretaris itu dengan santun.Tanpa menunggu balasan panjang, ia segera melang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status