LOGINSi Cally Del Silvia ay kilala bilang isang dalagang arogante ngunit mapagmahal na apo sa kanyang Lolo Frederico. Dahil nag-iisa lang na apo si Cally sa kanilang pamilya ay sapilitan na siyang pinag-aasawa ng kanyang Lolo base sa kanyang tipo. Dahil dito, nakaisip si Cally na mag-hire ng lalaking willing magpabayad sa kanya para maging groom. Makikilala ni Cally si Vin Lycan Devarra na siya palang magiging solusyon sa problema niya. Si Vin ang lalaking ipapakilala ni Cally sa kanyang Lolo upang mapangasawa. Ngunit, paano kung si Vin pala ay may lihim na totoong pagkatao? Matanggap kaya ito ni Cally? May mamuo kayang pagmamahalan sa pagitan nila kung simula umpisa pa lang alam na nilang kasinungalingan lang ang lahat?
View More“Sial! Kenapa gue harus kebagian tempat yang jauh sih?!” umpat Dimas saat melihat surat pengantar PKL (praktek kerja lapangan) dari sekolahnya.
Ia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai, dan saat ia akan ke area parkiran dua sahabatnya sudah menunggu. “Dim! Lo PKL kemana?” tanya Dodo sahabatnya. Dimas menunjukan surat yang ia terima dari wali kelasnya kepada Dodo. Begitu Dodo membacanya ia terkejut, sambil tertawa terbahak-bahak. “Buset! Serius? Jauh amat Dim? Nggak salah nih, Pak Eko ngirim lo ke Surabaya? Kita kan ada di Jakarta,” ucapnya sambil menyerahkan kembali surat PKL milik Dimas itu. Dimas hanya mendegus kesal sambil duduk di jok motor miliknya. “Mana tau gue, lagian Pak Eko kan bisa cari bengkel lain, kenapa harus ke surabaya? Arrgh! Kampret emang,” umpatnya sambil menyalakan motor sport miliknya. *** Tak berselang lama Dimas sampai di rumahnya, rumah yang cukup sederhana. Ia anak dari pasangan bernama Bagas Wijaya dan Maria Ozawa. Keduanya sama-sama bekerja sebagai PNS yang cukup di kenal di komplek perumahannya. “Ma, Papa belum pulang?” tanya Dimas kepada sang ibu. “Belum, Kayaknya Papamu pulang besok,” jawab Maria. Dimas mengeluarkan kertas pengantar dari sekolah dan memberikannya kepada sang ibu. Begitu Maria meraih kertas itu dan membacanya. Ia terkejut. “Hah?! Surabaya Dim?” tanya Maria dengan ekspresi terkejut. Dimas mengangguk sambil bersandar malas ke kursi. “Iyaa, mau gimana lagi. Mana besok harus berangkat,” jawab Dimas. Bukannya khawatir, Maria justru senang. Karena alamat bengkel yang tertera di surat itu sama dengan alamat adiknya, yaitu Tante dari Dimas, Vania. “Bagus dong!” seru Maria sambil menandatangani surat pengantar itu. Sontak Dimas melotot saat ibunya menandatangani surat itu. “Yah! Ma! Apaan sih... kenapa di tandatangan?” tanya Dimas sambil mengacak rambutnya sampai berantakan. Maria menoleh sambil menatap tajam ke arah anaknya. “Lho, kenapa memangnya?” “Tapi kan Mama bisa nolak, terus ajuin tempat PKL baru buat Dimas, biar tetep disini...” “Nggak! Pokonya kamu harus tetep ke surabaya. Nggak ada tapi-tapi lagi, lagian disana juga ada tante kamu, dan biar hemat biaya selama disana. Kamu tinggal di rumah tante Vania, dan nggak usah ngekos!” potong sang ibu sambil memasukkan kembali lembaran surat pengantar itu ke dalam amplop berlogo sekolahnya. “Lagian kalo kamu disini, Mama nggak bakalan izinin kamu yang hobinya keluyuran malam,” pungkas ibunya sambil melangkah pergi dari meja makan. Sementara itu Dimas hanya bisa mendengus kesal lalu terdiam menatap amplop di tangannya itu. “Aaiissh! Kenapa harus rumah tante Vania sih,” keluh Dimas. *** Surabaya... “Aduh! Hati-hati dong Mas!” protes gadis itu saat sikut Dimas tak sengaja menyenggol kepala gadis mungil itu. Dimas langsung menurunkan koper dengan hati-hati sambil meminta maaf kepada gadis itu. “Ma-maaf mbak, saya nggak sengaja,” ucapnya Sopan. Sementara gadis itu terdiam beberapa saat begitu Dimas menatap ke arahnya. “Ganteng juga nih orang?” pikirnya. “Lain kali hati-hati Mas,” balasnya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya. Lalu gadis itu berlalu pergi sambil menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan. Begitu sampai di loby stasiun, Dimas yang sedang menyeret kopernya langsung di hampiri seorang gadis, yang tak lain adalah Rere, sepupunya. “Lo Dimas kan?” ucapnya tanpa basa-basi. Dimas mengangguk, “Mbak Rere?” ucapnya pelan. Rere tidak menjawab ia langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi sambil berkata, “Ya udah buruan, gue lagi buru-buru.” Melihat sikap sepupunya itu Dimas sedikit kesal, namun ia ingat bahwa ini bukan tempatnya. Dan dia harus mengingat pesan ibunya, "Harus menjaga sikap, dimanapun kamu berada." Meskipun Dimas sedikit urakan dan terkenal nakal, ia tetap patuh kepada kedua orang tuanya. Setelah sampai di parkiran Dimas menyimpan kopernya di bagasi. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah tantenya, suasana di dalam mobil benar-benar hening. Tak ada obrolan apapun, hingga Dimas baru menyadari bahwa Rere, hanya memakai hotpant yang membuat paha mulusnya jelas terlihat meskipun Dimas melihatnya dari sudut mata, ia tetap bisa melihatnya dengan jelas. “Gue kira, penampilan cewek disini bakalan beda sama di jakarta,” batin Dimas. Sesampainya di depan gerbang sebuah rumah, mobil yang di tumpangi Dimas berhenti. Rere langsung menyuruhnya turun dari mobil. “Lo masuk aja, Mama udah nunggu di rumah,” jelas Rere sebelum Dimas turun. Rere lalu menekan klakson mobilnya sekali. Dimas mengangguk lalu turun tanpa banyak bicara lagi, setelah Dimas membawa koper di dalam bagasi, Rere langsung memutar balik mobilnya dan pergi meninggalkan Dimas yang berdiri tepat di depan gerbang rumah berwarna coklat itu. Dimas menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya ia melangkah ke arah gerbang itu. Pintu gerbang terbuka perlahan, tampak seorang satpam langsung tersenyum ke arahnya. “Mas Dimas yak? Monggo masuk Mas, Ibu Vania udah nunggu dari tadi,” ucapnya. Dimas mengangguk sopan lalu melangkah masuk, halaman rumah itu cukup luas dan ada satu mobil hitam terparkir disana. Serta bangunan dua lantai itu berdiri megah dengan taman yang tertata rapih, membuat Dimas berdecak kagum. “Silahkan masuk, Mas,” ucap Pak Udin sambil membungkuk sopan dan melangkah pergi. Dimas membuka pintu perlahan, terakhir kali ia bertemu dengan tantenya itu saat usia dia sekitar enam tahun, namun kini usianya telah beranjak dewasa tujuh belas tahun sudah kini usia pemuda itu. Begitu pintu terbuka lebar, Dimas langsung di sambut senyuman hangat tantenya. Yaitu, Vania yang langsung berdiri dan menghampiri Dimas lalu memeluknya. “Ya ampun! Dimas! Kamu sudah besar?” seru Tante Vania. Dimas masih terdiam, ada sesuatu yang menekan dadanya. Empuk, dan menonjol. “I-iya Tante...” “Sial! Mana gede lagi!” batinnya. “Ya ampun, Tante sampe pangling lihat kamu, ternyata makin ganteng aja keponakan tante ini!” ucap Tante Vania sambil menarik lengan Dimas dan membawanya ke ruang santai. “Ya udah sana, Kamu mandi dulu, terus istirahat. Kamu pasti capek kan? Tante, mau kabarin Mama mu dulu,” ucapnya sambil tersenyum, “Kamar mu, ada di atas udah di siapin dari kemarin. Di sebelah kamar Rere, yang paling pojok,” lanjutnya. “Iyaa Tante, terimakasih,” Jawab Dimas. Dia pergi ke lantai atas, sambil menarik kopernya itu. Suasananya sedikit berbeda dengan rumah yang ada di jakarta. Lebih tenang, dan sejuk, Dimas juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang akan dia tinggali beberapa bulan ke depan. “Halah, bakalan repot ini mah,” gumam Dimas sambil membuka kamar yang cukup luas itu. Disana juga sepertinya Tante Vania sudah menyiapkan banyak hal, peralatan mandi, televisi, playstation dan lainnya. Dimas sudah tak heran lagi, karena tantenya itu memang terkenal royal dan baik, meskipun seorang janda tantenya seorang yang sangat tekun dan memiliki usaha yang cukup sukses. Terlebih tantenya itu masih sangat cantik, walau umurnya kini sudah sekitar tiga puluh lima tahun, badannya juga masih terawat sangat baik. Dimas membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terlihat sangat lelah itu. *** Esok harinya bengkel di samping rumah tante Vania... Ia menarik napas panjang begitu sampai di halaman, udara pagi yang sejuk menyentuh wajahnya, namun rasa panas di dadanya belum sepenuhnya hilang. Ia menggelengkan kepalanya pelan, berusaha membuang bayangan penampilan kedua wanita itu dari pikirannya. “Fokus Dimas! Lo kesini buat praktek, bukan buat mikirin hal-hal gitu! Jangan jadi cowok rendahan!” tekadnya dalam hati, lalu ia berjalan menuju bengkel mobil yang letaknya hanya beberapa langkah dari rumah itu. Bengkel itu cukup luas, dengan deretan alat-alat bengkel yang tertata rapi di rak dinding, dan beberapa mobil yang sedang dalam perbaikan terparkir di area terbuka. Begitu ia melangkah masuk, seorang pria paruh baya dengan wajah ramah dan tangan yang penuh noda oli segera menyambutnya. Pria itu adalah Pak Haris, pemilik bengkel sekaligus pembimbing praktek Dimas selama empat bulan ke depan. “Kamu Dimas ya?” tanya Pak Haris sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangannya yang kasar namun hangat. “Saya sudah dikabari oleh sekolahmu kemarin. Silakan, selamat datang di bengkel saya. Semoga selama di sini kamu bisa belajar banyak hal, bukan sekedar duduk diam saja,” ucapnya dengan nada tegas namun tetap bersahabat. Dimas tersenyum lega, menjabat tangan pria itu dengan sopan. “Siap, Pak! Saya janji akan belajar sungguh-sungguh dan tidak bermalas-malasan,” jawabnya dengan semangat yang baru saja ia bangkitkan, berusaha menghapus sisa-sisa kegelisahan yang dibawanya dari rumah. Hari itu berjalan cukup baik di awal. Pak Haris mengajaknya berkeliling bengkel, mengenalkan nama-nama alat, jenis oli, serta cara mendiagnosis kerusakan mesin mobil hanya dengan mendengarkan suara mesinnya. Dimas mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk dan bertanya hal-hal yang ingin ia ketahui lebih dalam. Ia merasa tertarik sekali, bahkan lupa sebentar dengan hal-hal yang tadi pagi mengganggunya di rumah. Hingga menjelang siang, saat Pak Haris menyuruhnya mengambil kunci pas yang jatuh di bawah mobil yang sedang diperbaiki. Dimas berjalan mendekati mobil itu, namun saat ia melangkah, telapak kakinya yang mengenakan sepatu bot kerja itu tak sengaja menginjak tumpahan oli hitam yang licin di lantai semen bengkel itu. Tanpa sempat bereaksi, kakinya tergelincir ke belakang dengan cepat. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dalam sekejap. Dimas berusaha meraih tepian mobil untuk menahan jatuh, namun tangannya hanya menyapu udara. Dengan suara benturan yang keras, bagian belakang kepalanya membentur sudut balok besi yang menonjol di dudukan mesin. “Akh!” rintihnya pelan, sebelum pandangannya seketika menjadi gelap. Tubuhnya yang tinggi besar itu jatuh terjerembap ke lantai bengkel yang keras, lalu tak bergerak lagi. “Dimas!” teriak Pak Haris yang melihat kejadian itu, segera berlari mendekati tubuh pemuda itu. Beberapa mekanik lain juga berhenti bekerja dan berkumpul dengan panik. Namun tak ada satu pun dari mereka yang menyadari... di saat yang sama, di dalam kesadaran Dimas yang sedang gelap, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. Di ruang kesadarannya yang semula kosong dan gelap, tiba-tiba muncul cahaya kebiruan yang lembut namun menyilaukan. Cahaya itu berdenyut perlahan, seolah memiliki detak jantung sendiri. Bersamaan dengan itu, suara mekanis yang terdengar tenang dan jelas, tanpa nada sedikit pun, bergema di seluruh ruang pikirannya. Ding! [SISTEM TERVERIFIKASI. MENYINKRONKAN DATA HOST DENGAN SISTEM LUNA... 10%... 35%... 68%... 92%... SINKRONISASI SELESAI.] [SELAMAT DATANG, HOST! SISTEM LUNA TELAH DI AKTIFKAN!]"Lolo... I-I'm s-sorry... I didn't mean to—" hindi na naituloy ni Cally ang sanang sasabihin niya nang putilin siya ng kanyang Lolo."No, it's okay. Tama naman ang sinabi mo hija, I was the one who's always in control of our marriage kaya nasakal na ang Lola mo sa 'kin, kaya ikaw, palagi mong ipaglalaban ang kung anong karapatan mo, para hindi dumating ang araw na parehas kayong magsisi," malungkot na sabi ni Frederico sabay tayo at tumalikod na.Naiwan mag-isang nakatulala si Cally habang nakatanaw sa papalayong pigura ng kanyang Lolo, miski siya nagulat sa sinabi niya at hindi niya intensyon sagiin ang damdamin nito.Labis siyang nilukob ng kunsensya kaya napasabunot na lang siya sa kanyang sarili sabay sandal sa sandalan ng silya, nawalan na siya ng ganang kumain kaya tumayo na rin siya para magpallt ng damit.Wala sana siyang balak pumasok ng office ngayon kahit kaka-day off niya lang kahapon, pero dahil siguradong masama ang loob sa kanya ng kanyang Lolo ay hindi muna siya magpap
Nagising si Cally mula sa masarap na tulog, bumangon siya at nag-inat ngunit nang imulat niya ang kanyang mga mata ay nagulat siya nang mapagtanto niyang umaga na pala.Ang huling natatandaan niya ay nakatulog siya sa sasakyan ni Vin kagabi habang nasa biyahe sila pauwi. Ganu'n ba siya ka-pagod kaya hindi na siya nakaramdaman ng kamalayan?Tumayo na siya at dumiretso sa banyo upang gawin ang pang-umagang routine, humarap siya sa salamin at sabay hawak sa suot niyang damit simula pa kahapon."Hindi man lang ako nakapag-linis ng katawan at nakapagpalit ng damit," sabi niya sa sarili.Agad na niyang hinubad ang suot at sumalang sa shower, may kalahating oras siyang naligo at agad na tinapos. Kinuha niya ang bathrobe at isinuot, saka siya lumabas para magbihis.Nang masigurado niyang maayos na ang sarili ay bumaba na siya ng kanyang silid para mag-breakfast. Pagkarating niya sa dining room ay agad siyang binati ng mga servant at ng kanyang Lolo."Kamusta ang naging tulog mo?" tanong ni F
"You know how to do house chores?" manghang tanong ni Cally."Of course, ilan taon din kaming magkasama ni Ryan sa iisang condo, madalas ako naiiwan palagi kaya ako ang gumagawa lahat," sagot ni Vin na ikinabigla ng dalaga kaya nanlalaki ang mga mata nitong tinapunan siya ng tingin."Magkakilala kayo ni Ryan?!" gulantang na tanong ulit ni Cally na ikinatango nito."Yes, we have known each other since we were little," pag-amin ni Vin kaya hindi ito makapaniwalang tiningnan siya."Bakit ngayon mo lang sinabi??" angil ng dalaga."For some reason, alam mo naman kung bakit. Ngayon wala na 'kong dahilan para ilihim pa, ayoko nang mag-sikreto sa 'yo," paliwanag ni Vin."Mabuting sinabi mo na hangga't maaga hindi 'yung ako pa mismong makakaalam lalo lang akong magagalit sa 'yo dahil may inililihim ka na naman sa 'kin," sabi ni Cally at kumalma na."Last na 'yan, wala na 'kong tinatago. Buong identity ko alam mo na, disorder ko alam mo na rin," pagtatapat ni Vin ng lahat."Meron pa," hirit ng
Napahinto sila sa paguusap nang biglang may mag-door bell sa labas ng condo ni Ellise kaya nagkatinginan silang dalawa."May iba ka pa atang bisitang inaasahan?" tanong ni Cally ngunit umiling lang ito."Wala, pati anong oras na," sagot ni Ellise sabay tumayo na para tingnan kung sinong nasa labas.Tiningnan niya ang intercom at laking gulat niya nang makita si Vin na matiyagang nakatayo sa labas ng pinto."Vin! Naparito ka?" Nakangiting bungad na tanong ni Ellise pagbukas niya ng pinto sabay kaway nito sa kanya."Nandito ako para sunduin si Cally," sagot ni Vin kaya nilawakan ni Ellise ang pakakabukas ng pinto para papapasukin ito."Pasok ka, nando'n siya sa may living room," pagpapatuloy ni Ellise sa binata kaya naman dumiretso na ito papasok."Nandito ang boyfriend mo, sinusundo ka na, anong oras na kasi hindi ka pa umuuwi," sabi ni Ellise nang makarating na sila sa living room kasunod si Vin.Agad namang napalingon si Cally at nanlaki ang mga mata niya nang makita si Vin sa condo
Palabas na sila ng Club Solitas para sana umuwi na nang may isa na namang kakilala si Vin ang humarang sa kanila nang patungo na sila sa exit."Vin? Is that you?" may gulat na tanong ni Nat, ang lalaking minsan nang nakainitan ni Vin noon, ilan taon na ang nakakalipas."Woah, ikaw nga... Kamusta na pa
Pagkapasok nina Vin at Cally sa loob ng shop ay agad na bumungad sa kanila ang mga staff suot ang disente at pormal nilang uniporme.May lumabas na isang binabae mula sa isang opisina at agad na umaliwas ang mukha nito nang makita sila."Good morning Sir Vin! Kay sarap mo namang bungad sa umaga," bati
"Tanggap mo 'kong ganito? Hindi ka ba natatakot?" tanong ni Vin habang nakatingin siya sa kamay niyang hawak pa rin nito."You're the first man that accepted all my flaws, aside from my grandpa, and now, why would I stay away from you just because you have a mental illness?" tanong din ni Cally na pa
Tumigil sila sa tapat ng malaking lumang mansion, nagtaka si Cally nang may makita siyang mga mga construction workers na tila ni-re-renovate ang buong lugar."It looks like they are renovating the whole mansion," wala sa loob na sabi ni Cally habang nakatanaw sa mga trabahador."Muka nga Ma'am," pags












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews