Share

WARUNG SOTO MBOK KARSIEM
WARUNG SOTO MBOK KARSIEM
Penulis: Eri Setiani

bab 1

WARUNG SOTO MBOK KARSIEM

"Wuidih, rame banget warung sotonya, Mbok!" Ucapku kepada Mbok Karsiem.

"Iya, Na. Dari pagi sampai malam rame terus, sampai enggak kober narok pantat." Ucap Mbok Karsiem berkelakar sambil melayani pesanan yang minta di bungkus.

"Banyak pembelinya kenapa masih Mbok sendiri yang menyiapkan? Kan karyawan Mbok ada banyak!" 

"Hadeh, Na. Mbok enggak percaya menyerahkan meracik soto sama karyawan, nanti enggak enak malah aku yang repot. Mereka cuma mengantar pesanan saja kepada pembeli."

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mbok Karsiem. Pasti sotonya enak, buktinya banyak pembeli yang ngantri. 

"Mbok, aku pesen empat. Di bungkus ya!" Ucapku kepada Mbok Karsiem.

"Iya."

"Mbok," Murni, anak bungsu Mbok Karsiem memanggil.

"Ada apa, Nduk?" Mbok Karsiem menjawab tanpa menoleh.

"Tolong aku sebentar, Mbok!" teriak Murni.

"Tunggu sebentar, ya, Na."

"Iya, Mbok." Aku mengangguk, mataku terus mengikuti langkah Mbok Karsiem menjauh.

Mbok Karsiem cukup lama di dalam sana, membuat aku tidak sabar. Pesanan sotoku hanya tinggal ditambahkan kuah.

Aku berinisiatif menuangkan kuah soto kedalam plastik-plastik pesananku.

Aku membuka panci penutup soto, kuaduk-aduk kuah soto, aku akan mengambil kuahnya, tapi yang kudapat bukannya kuah soto, melainkan celana dalam dengan banyak bercak darah, seperti darah perempuan menstruasi.

"Lanc*ng!" Suara Mbok Karsiem menggelegar di belakangku.

Sontak aku menjatuhkan pengaduk yang aku pegang.

"Siapa suruh kamu membuka-buka panci itu?" tanya Mbok Karsiem sengit.

"Maaf, Mbok."

"Awas, minggir!" Mbok Karsiem menyenggol tubuhku hingga aku hampir terjatuh. sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dari pertama aku datang tadi. 

Mbok Karsiem mengambil kuah soto dan memasukkannya kedalam plastik.

"Ini!" Mbok Karsiem menyerahkan soto kepadaku, wajahnya muram, tidak ada senyum sedikit pun.

"Berapa semuanya, Mbok?"

"Sudah bawa saja, tidak perlu bayar. Lain kali jangan datang ke warungku lagi!" Usir Mbok Karsiem.

.

.

.

.

.

Soto dari Mbok Karsiem aku buang ke pinggir jalan, rasanya jijik membayangkan apa yang ada di dalam kuah soto itu. Perutku mual, bagaimana mungkin penjual makanan memasukkan celana dalam bekas menstruasi kedalam kuah soto?

"Huek..huek...huek," aku muntah mengingat tadi aku sempat mencicipi soto yang di beli Bapak dari warung Mbok Karsiem. Tanpa aku sadari ada sepasang mata yang memperhatikanku dari jauh.

Aku pulang dengan tangan kosong, tanpa membawa apa pun di tanganku.

Ibu dan Bapak duduk di teras ketika aku pulang.

"Mana sotonya, Na?" tanya Ibu.

"Aku buang, Bu." 

"Di buang?" Bapak mengerutkan kening.

"Iya, Pak. Jijik aku makan sotonya Mbok Karsiem."

"Jijik kenapa?"

"Masa di kuah soto yang berada dalam panci ada celana dalamnya, mana bekas menstruasi lagi." Ucapku sambil bergidik.

"Ah, ngawur kamu, Na!" Ibu tidak percaya.

"Bener, Bu. Ngapain juga aku berbohong." Aku lalu duduk di samping Bapak.

"Ee, apa Mbok Karsiem melakukan semacam pesugihan ya?" gumam Bapak.

"Pesugihan, Pak?"

"Semacam itu lah, apa benar yang kamu lihat di dalam kuah soto benar-benar celana dalam?" 

"Bener, Pak," ucapku mantap.

"Hih, mana Ibu sering banget beli soto di warung Mbok Karsiem lagi," timpal ibuku.

****

Malam ini aku di rumah sendirian, Bapak, Ibu dan Aska pergi ke rumah Bude Parni. Aku tidak ikut karena harus mengerjakan pekerjaanku menulis novel yang tertunda beberapa hari ini. Tiba-tiba lampu mati.

"Pakai acara mati lampu segala," gerutuku.kuhidupkan lampu flash ponsel dan mulai mencari lilin.

Wushh..hembusan angin menerpa tubuhku, aku merasa sedang diawasi oleh sesuatu. Setelah mendapatkan lilin aku kembali ke ruang tengah, tadi laptopku aku letakkan di sana.

Kembali aku mengerjakan pekerjaanku.

Blup...baru saja aku mau bekerja, lilin yang aku bawa padam. Aku kembali meraba-raba mencari ponselku.

Apa ini? Basah dan lengket. Lama kelamaan tercium bau anyir darah.

 Aku terus meraba-raba diantara benda basah dan lengket itu. Akhirnya aku menemukan ponselku, segera kuhidupkan kembali lampu flash dan betapa terkejutnya aku, di depanku berdiri sosok berambut gimbal dengan lidah panjang menjulur ke meja sampai menyentuh lantai, wajahnya sangat mengerikan, mata mahluk itu hitam legam.

Ya Allah mahluk apa ini? Aku membaca doa, namun aku sampai lupa doa apa yang kuucapkan.

Tok...tok..tok, terdengar suara ketukan di pintu. Itu pasti Bapak pulang, gegas aku berdiri, aku berjingkat-jingkat melewati lidah mahluk menyeramkan ini.

Aku berlari membuka pintu, jantungku seakan mau lepas dari tempatnya melihat siapa yang berdiri di depanku

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status